
Tok tok tok
Ceklak
Bruk
Tuan," mang Ade terperangah saat membuka pitu kamarnya, Marsel jatuh tersungkur di depanya.
"Tuan kenapa?" Mang Ade segara membantu Marsel bangun.
"Tolong antar saya ke rumah sakit segera Mang," lirih Marsel sambil meringis memegangi perutnya.
"Baik Tuan," Mang Ade meninggalkan Marsel setelah membantunya duduk di tempat tidur kamarnya. Mang Ade segara membuka garasi mengeluarkan mobil ke halaman, kemudian membuka pagar.
"Mari Tuan" Mang Ade segara kembali memapah Marsel. "Pelan-pelan Tuan" Mang Ade membantu merebahkan Marsel di jok mobil.
"Mang Ade ada apa?" mendengar pagar di buka, Marni segera keluar.
"Tuan sakit Mar, aku mau bawa kerumah sakit," sahut mang Ade lalu masuk kedalam mobil yang sudah menyala.
"Aku ikut Mang," tanpa menunggu jawaban, Marni segera masuk duduk di depan bersama kekasihnya.
Mang Ade tancap gas, bagusnya jalanan lancar wajar karena masih jam tiga pagi.
Sampai rumah sakit mang Ade segara minta tandu ke petugas menggotong Marsel ke UGD.
"Kanapa Pak?" tanya perawat menghampiri Marsel yang sudah tak berdaya.
"Tuan saya sakit perut, Sus," Marni yang menjawab. Dokter jaga kemudian memeriksa Marsel.
*******
Mendengar sayup-sayup adzan subuh Diah membuka mata meraba ranjang di sebelahnya kosong. Ia pikir suami tampanya ke kamar mandi. Hingga beberapa menit Diah menunggu tidak juga ada tanda-tanda suaminya keluar dari kamar mandi. Diah kemudian menyusul. Namun ketika pintu kamar mandi terbuka juga kosong.
"Oh, mungkin ke masjid," Diah bicara sendiri lalu mandi. Selesai mandi, ambil air wudhu, Diah ke kamar sebelah membangunkan Calista, berniat mengajaknya shalat.
"Sayang.... bangun, shalat subuh dulu yuk," Diah usap-usap pelan pipi cubby Lita agar bangun.
"Hoaaam.... masih ngantuk..." jawab Calista manja, masih kelihatan mengantuk.
__ADS_1
"Lita..." Diah mengulangi.
"Iya..." suara Lita serak kas bangun tidur, ia kemudian ke kamar mandi ambil air wudhu.
"Loh... kok nggak langsung mandi?" Diah heran biasanya Calista tidak usah di suruh, jika hendak shalat langsung mandi.
"Sholat dulu saja Ma, mandinya nanti, dingin," Lita bersedekap menahan dingin Diah pun merasa kasihan walaupun setiap mandi Lita pakai air hangat.
"Papa nggak ikut shalat bareng Ma? Biasanya kan jadi imam?" kata Lita saat mereka sudah berdiri mengenakan mukena.
"Papa ke masjid." Diah masih yakin jika Marsel shalat di sana.
"Oh" hanya itu jawaban Lita. Mereka pun akhirnya shalat. Selesai shalat Lita bermanja-manja bobo di pangkuan Diah.
"Kok dedek di perut Mama nggak gede-gede, Ma?" polos Lita sambil menyusup ke perut Diah menciumnya, memang masih rata.
"Belum kelihatan, kan belum ada 4 bulan, kalau sudah 6 bulan keatas... baru deh, buncit," Diah terkekeh. "Seperti Mom Bella, besar kan perutnya, apa lagi di perut Mom, ada dua baby boy," tutur Diah.
"Kalau di perut Mama, dedeknya cowok apa cewek, Ma?" Lita masih mengusap perut Diah.
"Lita maunya apa?" Diah balik bertanya.
"Apa saja" Jawab Lita. Membuat Diah tersenyum. Setiap shalat Diah memohon agar mendapatkan anak laki-laki, bukan karena menggadang-gadang putranya kelak menjadi penerus perusahaan keluarga Adiwilaga.
"Oh iya sayang, sebentar lagi kan Mommy Bella melahirkan. Kata Papa... lusa kita harus kesana, sekalian menjenguk Oma." tutur Diah. Lita mendadak bangun.
"Kita kesana Ma? tapi Lita takut sama Mommy Bella, Lita kan kemarin pergi nggak bilang-bilang," Lita terlihat panik.
"Nggak kok, tenang saja, kali ini kan perginya nggak sendiri," Diah memegang pundak Lita.
"Iya Ma, tapi kalau nanti Lita ketemuan sama Mommy Bella, Mama ikut kan?" ada gurat trauma di wajah Lita.
"Pasti dong... sekarang sudah jam setengah enam, sebaiknya Lita mandi ya, nanti sekolahnya terlambat," titah Diah. Lalu di angguki oleh Lita. Lita bergegas ambil handuk kemudian masuk ke kamar mandi.
Sedangkan Diah mulai bingung sudah setengah enam suaminya belum juga pulang dari masjid. Ia bergegas ke kamar ambil handphone menghubungi suaminya. Namun terdengar getar ponsel Marsel yang masih tergeletak di sofa. Itu artinya suaminya tidak membawa ponsel.
Diah segera mencari ke ruang kerja tapi kosong.
"Bi, lihat Marsel tidak?" Diah menghampiri bibi yang sedang membuat sarapan.
__ADS_1
"Tidak tahu Non, kayaknya Tuan pergi pagi-pagi sekali sama mang Ade, sebab mobilnya tidak ada" jawab bibi.
"Duh kemana ya Bi?" Diah tampak gusar, mulai berpikir yang tidak-tidak.
"Sepertinya Tuan terburu-buru, Non. Soalnya pagarnya tidak di tutup," bibi bertutur seperti apa yang ia lihat. "Tapi anehnya, Marni juga tidak ada Non" kata bibi. Membuat Diah semakin bingung.
"Coba telepon Marni sama Mang Ade, Bi," titah Diah.
"Mereka tidak membawa ponsel Non, tadi Bibi sudah hubungi," pungkas Bibi.
Diah kembali ke lantai atas ambil kerudung bergo lalu keluar rumah.
"Non, mau kemana?" tanya bibi, yang sedang membersihkan garasi.
"Mau mencarinya Bi, siapa tahu berada di dekat sini."
"Non, Tuan, kan bertiga, kalau ada- apa pasti salah satunya memberi tahu Non Diah. Tenang Non, jangan panik," bibi menghiburnya walaupun bibi sendiri pun merasakan hal yang sama.
"Betul juga ya Bi," Dengan perasaan campur aduk, Diah kembali ke kamar. Tidak biasanya suaminya itu pergi tidak memberi tahu dirinya. Tapi Diah mencoba untuk tenang, lebih baik bersiap-siap mengantarkan Lita ke sekolah.
"Ma" panggil Lita dari luar kamar.
"Iya Nak, bentar," Diah ambil tas slempang, lalu membuka pintu kamar, mendapati Lita sudah rapi memakai seragam.
"Sudah rapi ya, Lita sarapan dulu," Diah mengambil alih tas dari tangan Lita lalu mengajaknya ke bawah.
"Non Diah, mau sarapan apa?" tanya bibi. Sedangkan Lita sudah minum sereal.
"Nanti saja Bi, belum kepingin," mana mungkin Diah nafsu makan sedangkan keberadaan suaminya belum jelas.
"Ya sudah Non, minum susu hamil saja," bibi meletakkan susu hamil, minuman yang paling tidak suka itu. Namun Diah menghargai bibi, kemudian meminumnya.
"Bi, aku berangkat ya, kalau Marsel sudah pulang suruh telepon saya," pungkas Diah lalu menjalankan motornya mengantarkan Lita.
Diwaktu yang sama di rumah sakit, Marsel sudah dipasang infus. Ia sedang di periksa oleh dokter.
"Bagaimana keadaan Tuan Marsel, Dok?" tanya Aldo.
"Tuan Marsel, sepertinya beberapa hari tidak menjaga pola makan Mas," dokter menjelaskan. Memang benar, selama di Negara B. Marsel, beberapa hari makan tidak teratur. Hingga menyebabkan infeksi di usus besar.
__ADS_1
Namun, begitu makan, Marsel makan yang terlalu pedas, bersantan, hingga mengalami gangguan pencernaan.
.