
Seluruh korban mobil jatuh sudah di UGD dan segera di tangani oleh dokter. Delapan korban kecelakaan tersebut 5 orang diantaranya dinyatakan meninggal oleh dokter. Sementara tiga orang lainya masih dalam keadaan kritis termasuk bu Reny, supir, dan juga salah satu penumpang yang paling muda.
Bu Reny kemudian di bawa ke ruang operasi akan membedah tulang paha.
"Kak Mawar... Kak Adit... Ibu Kak. Hiks hiks hiks," tangis Diah pecah. Ia melepas pelukan Marsel yang sejak tadi menenangkan dirinya, kemudian beralih memeluk Mawar yang baru datang bersama Adit suaminya.
"Diah... bagaimana keadaan Ibu?" Adit menatap Diah yang masih menangis sesegukan di dada Mawar, dalam hati Adit menerka-nerka, pasti ibu tirinya itu terluka parah.
"Ibu kritis Kak, saat ini sedang di tangani dokter," Marsel yang menjawab. Sebab Diah sudah tidak mampu untuk berkata-kata.
"Ya Allah..." Adit kemudian mengusap punggung adik tirinya. "Diah, kita doakan Ibu, semoga tidak mengalami hal yang buruk setelah sadar nanti." Adit menghibur Diah, walapun sebenarnya, Adit pun tak kalah khawatir.
"Iya Dek, lebih baik kita berdoa untuk kesembuhan Ibu," sambung Mawar saat ini mereka menunggu di depan pintu operasi. Sebab hasil rontgen bu Reny mengalami patah tulang paha tidak hanya itu, benturan di kepala membuatnya belum sadar dari pingsannya.
"Kamu tahu darimana Dit?" tanya pak Renggono, yang duduk lemas, separuh nyawanya kini hampir menghilang.
"Bu Riska yang memberi tahu Pak," jawab Adit. Ketika pak Renggono di jemput Marsel dan Diah. Diah tidak menemukan Adit dan Mawar karena mereka sedang tidak berada di rumah sehingga menitipkan pesan kepada bu Riska yang sedang menggendong anak kedua Melati.
"Maafkan Ibumu, Adit... Diah..." Lirih pak Renggono beliau lantas menyusut air matanya.
"Tentu saja Pak, Bapak jangan banyak berpikir. Ingat, jaga kesehatan Bapak," Adit pun berpikiran sama dengan Diah, walaupun ibu tirinya selalu ngeyel jika di beritahu, namun beliau yang sudah merawatnya sejak kecil, dan juga menyayanginya, tentu Adit akan memaafkan bu Reny.
Adit menatap sendu wajah bapaknya. Baru kali ini pak Renggono sesedih sekarang.
"Bapak menyesal Dit, seharusnya tadi malam, tidak memarahinya." Beliau menyesal malam sebelum istrinya pergi, pak Renggono sempat marah kepada istrinya, hingga memicu pertengkaran. Hingga saat berangkat pun bu Reny masih malas bicara padanya.
Jika tahu akan begini jadinya, tentu pak Renggono akan memberi tahu istrinya dengan cara yang lebih halus. Walaupun semuanya tahu, bu Reny tipikal orang yang keras kepala, jika sudah punya kemauan tidak mau diberi saran orang lain.
Pak Renggono hanya ingin masa tua istrinya bisa berubah lebih baik dan bisa memperbaiki sifat buruknya selama ini.
Jika sudah terjadi begini, pak Renggono hanya bisa berdoa dan pasrah, semoga dengan kejadian ini akan ada hikmah yang bisa di petik. Istrinya diberi kesempatan untuk bertaubat.
__ADS_1
"Bapak, nggak boleh sedih, maksud Bapak baik, hanya ingin menasehati Ibu," Marsel yang masih merangkul pundak Diah menambahkan.
Ceklak.
Dokter keluar dari ruang operasi seketika Adit dan Marsel menghadangnya. "Bagaimana keadanya Ibu saya Dok?" tanya Adit dan Marsel bersamaan.
"Kita tunggu setelah operasi Tuan, pasien sedang di tangani, semoga Ibu Anda tidak mengalami cedera yang serius.," jawab dokter kemudian berlalu.
"Astagfirlullah..." Diah yang awalnya berdiri kembali menjatuhkan bokongnya di kursi. Saat ini pikiranya sedang kacau. Walaupun selama ini bu Reny ibu yang egois, dan tidak pernah mendengarkan kata anak-anak, dan suami, tapi walaupun begitu, bu Reny tetaplah ibunya.
"Ya Allah... berilah kesembuhan pada Ibu," tubuh Diah bergetar memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Aku yang salah Kak Adit, sudah lalai, tidak menjaga Ibu," ucapanya di sela-sela isak tangis. Diah menatap pintu ruang operasi dengan tatapan kosong.
Selama ini Diah tidak memperhatikan ibunya. Jika sampai terjadi apa-apa, Diah tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Yang sabar Diah, jangan menyalahkan diri sendiri, justeru aku yang salah, karena aku yang tinggal dekat dengan Ibu" kata Adit.
"Aku takut, Mas," Diah kembali menangis.Takut akan kehilangan ibunya, di tambah lagi bu Reny belum sempat bertaubat ke jalan Allah.
*******
Keesokan harinya, bu Reny di ruang ICU, di temani suster. Kepalanya di perban hanya mulut dan mata yang terlihat.
Bu Reny mengangkat tanganya memegang kepalanya yang terasa sakit. Tanpa suster sadari bu Reny telah sadar dari pingsan.
"Saya dimana?" lirih bu Reny nyaris tak terdengar, saat ia benar-benar telah tersadar dari pingsan.
"Tenang bu. Saat ini, Ibu sedang di rumah sakit," perawat menjawab kemudian menghubungi dokter.
"Suster... kenapa badan saya sakit semua," keluh bu Reny meringis merasakan tubuhnya yang terasa ngilu semua.
__ADS_1
"Tunggu ya Bu, sebentar lagi dokter akan datang dan memeriksa Ibu," Suster membetulkan posisi tidur bu Reny.
Tidak lama kemudian dokter datang memeriksa anggota tubuh bu Reny.
"Apa yang Ibu rasakan?" tanya dokter sambil memeriksa keadaan bu Reny.
"Rasanya sakit semua Dok," bu Reny berbicara sambil menahan sakit, terutama di bagian kaki dan kepala. Beliau mencoba menggerakkan kakinya.
"Ow! sakiiit..." pekiknya.
"Dok, kenapa kaki saya sakit sekali," bu Reny mencoba bangun dari tidurnya.
"Yang sabar ya bu, kaki Ibu memang lukanya terlalu parah," dokter menjelaskan hati-hati, padahal kaki bu Reny mengalami kelumpuhan sebelah, tetapi dokter tidak mengatakan yang sebenarnya.
Dengan sigap suster membantu bu Reny duduk.
Bu Reny menggerakkan kakinya, tetapi hanya yang kanan yang bisa bergerak, sementara yang kiri sama sekali kaku dan luar biasa sakit.
"Suster, kenapa kaki saya tidak bisa digerakkan?" bu Reny menatap suster dan dokter bergantian.
"Maaf ya Bu, untuk sementara ini kaki Ibu tidak bisa untuk berjalan," dokter menyampaikan dengan kata yang lebih santai, agar tidak mengejutkan pasien di depanya yang tampak risau.
"Apa?!" Bu Reny ternyata bisa menangkap dengan cepat maksud dokter, kemudian membuka selimut penutup kaki.
"Tidaaaaaaakkkk...."
Bu Reny mengeluarkan sisa suaranya walaupun tetap saja tidak kuat. Ia menangis histeris, hancur sudah kini hidupnya.
"Saya mau mati saja! Saya tidak mau hidup," katanya di sela-sela isak tangis. Hidup pun kini tidak berguna dan sudah pasti akan menyusahkan orang lain.
"Ibu yang sabar ya, sekarang tenang dulu, kami akan pindahkan Ibu ke kamar rawat inap," suster memandangi wajah Ibu setengah tua itu sedih.
__ADS_1
.