Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Takut kehilangan.


__ADS_3

Tidak lama kemudian setelah kepergian Marsel, Diah keluar dari kamar mencari Marsel keseluruh Vila, namun tidak ada batang hidungan. Diah kemudian menuju dimana Lita sedang bermain mungkin ia ada di sana.


"Lita... mainya nanti dilanjutkan lagi ya, sekarang sudah siang Nak, istirahat dulu" titah Diah menghampiri Lita. Namun matanya clingukan mencari suaminya.


"Iya Ma" sahut Lita, kemudian berhenti main prosotan.


"Bersih-bersih dulu sama Mbak Mar, setelah itu... makan, terus bobo" Diah memegang pundak Lita.


"Okay..." Lita mengacungkan jempol. Marni menuntun Lita ingin ke Vila, namun tanganya ditahan oleh Diah.


"Ada apa Non?" Marni balik badan.


"Lihat Papanya Lita nggak?" tanya Diah agar tidak terdengar oleh Lita.


"Oh, tadi Tuan jalan ke arah sana Non, mungkin ke Danau" jawab Marni. Diah mengangguk lalu membiarkan Marni masuk kedalam Vila.


Diah menyusuri jalan setapak banyak para wisatawan yang berlalu lalang rata-rata menggandeng anak dan istri mereka.


*******


Sementara di tepi danau buatan, pria tampan sedang duduk termenung melihat ikan berwarna merah berlompatan


Tampak para pengunjung bersantai di tepi danau, diantara mereka rata-rata anak muda yang sedang membawa pasangan.


"Hanya sendirian Bang?" tanya seorang gadis berperawakan langsing, dan berpakaian minim, tiba-tiba duduk di sampingnya.


"Iya" ucapnya dingin, menoleh sekilas ke arah wanita yang sok akrab itu, kemudian bergeser menjaga jarak.


"Eh, abang. Abang bukanya pengusaha tajir yang tadi ada di televisi?" wanita yang berdandan menor itu semakin merapat.


Marsel sama sekali tidak menanggapi wanita itu, hal semacam ini sering ia hadapi.


"Kenalkan Bang?" wanita itu mengulurkan tangan, tapi Marsel tidak merespon. Wanita itu menarik tanganya kembali.


"Ayo dong Bang, jalan-jalan, kita kan sama-sama jomblo" rayunya.


Sombong sekali ini cowok, tapi gw semakin penasaran, akan gw dekati dia.


Marsel merasa kesal lalu berdiri, meninggalkan tempat itu akan lebih baik. Pikirnya. Namun, belum sampai melangkah.


Bruk!


Wanita itu merarik lengan Marsel hingga terjatuh, tubuh kekar itu menimpa wanita itu.


"Kurang ajar kamu!" Marsel berusaha bangun, tapi kaosnya di cengkram wanita itu.


Mereka tidak tahu sepasang mata yang melihat drama itu sejak awal menatap mereka geram. Ia melangkah mendekat.


"Eheemm" orang itu ternyata Diah tiba-tiba berdiri di belakang mereka. Marsel menoleh tau siapa yang datang segera mendorong tubuh wanita itu hingga terjengkang.


Marsel kemudian mendekati Diah, menyeringai takut, menangkap tatapan Diah yang ingin menelannya mentah-mentah.


"Aduh! sakiit..." wanita itu berusaha berdiri, sedangkan Diah dan Marsel hanya menonton saja. Wanita itu seketika menoleh sambil mengibas bajunya yang kotor.

__ADS_1


"Kamu?" Wanita itu menunjuk Diah.


"Kamu?" Diah balik menunjuk.


Seketika suasana menjadi hening, wanita itu merasa takut kepada Diah. Sementara semua orang yang berada di situ merasa geli menonton drama tersebut.


"Shelly?"


"Diah? loe Diah, bukan sih... kok loe berubah religius begini?" wanita itu ternyata Selly teman amburadul Diah ketika masih remaja.


"Iya, gw Diah, dan ini laki gw, kalau mau nggait cowok, lihat-lihat dulu dong" Diah mencebik.


"Ahaha... shorry" Selly tersenyum kikuk.


Marsel hanya termangu menatap keduanya.


"Apa kabar loe Diah?" Shelly menjadi bingung entah bagaimana harus bersikap.


"Alhamdulillah... gw baik, sini duduk dulu kita ngobrol" Diah bersikap santai. Membuat Marsel bernapas lega.


"Loe hebat Diah, pandai menggait cowok tajir, memang laki loe yang dulu kemana?" Shelly berbisik.


"Diam! gw bukan Diah yang dulu, tahu!" Diah mengacungkan tinju.


"Haha, gw tahu, loe ternyata sudah insyaf" seloroh Selly.


Setelah berbincang-bincang beberapa saat, Selly pergi menemui geng amburadulnya yang berada di Vila. Meninggalkan Diah yang masih duduk berdua dengan Marsel di tepi danau.


"Teman kamu aneh begitu?" Marsel tersenyum miring menoleh Diah di sebelahnya.


"Hais, suaminya yang seperti apa dulu dong," Marsel tersenyum.


"Seperti mu lah! Itu buktinya, baru sepuluh menit menghilang dari pandangan istri, sudah mau mencari target baru?!" Diah mlengos kesal. Tapi Diah tahu siapa Selly pasti Selly yang kurang ajar dalam hal ini Diah tidak mempermasalahkan.


"Maaf" Marsel memeluk pundak Diah, menarik napas panjang, masalah ribut tadi belum selesai sudah menambah masalah baru.


"Jangan peluk-peluk" Diah menyingkirkan lengan Marsel.


"Biarin" Marsel justeru mengeratkan pelukanya hingga menempel di pundak Marsel. Diah membiarkan saja.


"Jadi suami sih, ngambekan! bukanya menyelesaikan masalah justeru kabur" omel Diah.


"Berarti kita memang cocok punya istri ngambekan juga" Marsel terkekeh. Keduanya kembali membaik.


"Perutku lapar nih" kata Marsel.


"Ya sudah kita kembali ke Vila menjemput Lita terus mencari makan siang" kata Diah keduanya bergandengan tangan menuju Vila.


*********


Dua hari kemudian tepatnya hari senin. "Mas, nanti siang biar aku yang menjemput Lita." kata Diah sambil menyisir rambut Marsel.


"Kok sekarang jadi kamu yang sering menjemput Lita, biasanya kan Marni" Marsel menatap Diah dari pantulan cermin.

__ADS_1


"Mas, kamu punya handphone dua ya?" Diah menarik satu kursi lagi, lalu duduk di sampingnya.


"Iya, kenapa?" Marsel menoleh Diah dengan dahi berkerut, tidak biasanya Diah menanyakan itu.


"Waktu kita ke Bali, Lita sama Marni kan tidur di sini, terus handphone kamu terus bergetar, karena berisik, Lita terpaksa mengangkatnya walaupun dilarang Marni"


"Terus" Marsel tampak kaget kemudian memutar kursinya berhadapan dengan Diah.


"Nah, yang telepon kamu itu ternyata perempuan, kira-kira siapa ya Mas, soalnya kata Lita aneh gitu Mas, mengajak Lita ketemuan, minta nomor handphone, bla-bla, bla" Diah menceritakan semuanya. Diah menatap Marsel ingin tahu jawabanya. Setelah mendengar cerita Lita Diah sudah bisa menyimpulkan, bahwa si penelepon itu adalah Bella.


"Nomor hp wanita yang aku simpan banyak yang, terus apa Maksudnya?"


"Kalau menurut pemikiran aku, pasti orang itu Mommy Lita" pada akhirnya Diah mengatakan pemikiranya.


"Kenapa kalian tidak bilang, memang tanya apa wanita itu, mungkin saja wanita itu hanya iseng" jawab Marsel santai.


"Nanti aku bicarakan dengan Aldo sekarang kita sarapan dulu" Marsel kemudian ke luar diikuti Diah.


"Aku panggil Lita di kamar, Mas ke bawah dulu" Diah masuk ke kamar Lita di sebelah setelah di iyakan Marsel.


"Belum selesai pakai bajunya? kita sarapan dulu yuk" Diah mendekati Lita.


"Rambut Lita susah disisir Ma, kusut banget" ucapnya manyun.


"Sini, Mama bantu" Diah menuntun Lita, mereka duduk di sofa. Perlahan-lahan Diah menyisir rambut anak sambungnya itu, agar tidak sakit hingga rambut yang kusut kembali lurus.


"Yey... lurus lagi..." Lita lalu bercermin seperti orang dewasa.


Diah menatap Lita ada rasa senang dan sedih. Senang saat ini masih bisa bersama menyisir rambutnya seperti sekarang. Sedih karena suatu saat nanti Lita pasti memelih ibu kandunganya, daripada dirinya yang hanya ibu tiri. Biar bagaimana Lita mempunyai ibu kandung yang lebih berhak atas Lita.


Mata Diah menjadi buram karena tertutup air.


"Mama, Lita cantik nggak?" Lita sudah berdiri di depanya memudarkan lamunan Diah.


"Cantik" sahutnya cepat, seraya menyusut air matanya.


"Mama kok nangis... kenapa?" Lita melebarkan seragam bawahnya, lalu duduk di pangkuan Diah berhadapan.


"Nggak apa-apa kok" Diah menyembunyikan kegelisahan lalu mengalungkan tangannya ke tengkuk Lita.


"Lita... Mama mau tanya, seandainya suatu saat nanti, Mommy kandung Lita kembali, kemudian menjemput Lita, apakah Lita akan melupakan Mama?" Diah menahan tangis.


"Mommy kandung itu apa?" tanya Lita polos.


"Mommy kandung itu, yang mengandung Lita, dan melahirkan Lita" terang Diah.


"Mommy yang melahirkan Lita sudah ke Surga Ma, mana mungkin, orang yang sudah ke Surga bisa kembali lagi?" Lita ternyata sudah bisa berpikir sejauh itu.


"Kata siapa, kalau Mommy Lita sudah ke Surga?" selidik Diah.


"Kata teman Lita, dia kan nggak punya Mama, terus... katanya Mama Dia, ke Surga, berarti Mama Lita kesurga juga kan" polos Lita.


"Oh gitu... sekarang jawab pertanyaan Mama, seandainya Mommy Lita datang menjemput Lita, jangan lupakan Mama ya Nak" Diah merekatkan tubuh Diah ke dadanya.

__ADS_1


"Non, Tuan menunggu" Marni menyusul ke kamar.


.


__ADS_2