Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Masalah tiada akhir.


__ADS_3

"Bagaimana keadanya Nyonya Laura, Tuan?" tanya bibi ketika Marsel sampai di kediamanya. Ternyata Marsel bukan pulang ke apartement melainkan ke rumah mommy.


"Belum ada perkembangan, Bi" jawab Marsel lemah. Lalu menjatuhkan bokongnya di sofa.


"Ya Tuhan... yang sabar, Tuan" Bibi turut bersedih. "Sebaiknya Tuan sarapan dulu" titah bibi sambil mengunci pintu depan dari dalam.


"Bi, jahe instan yang di bawa Mommy dari Indonesia masih ada tidak?" Marsel membayangkan minum jahe hangat-hangat mungkin membuat badanya terasa segar.


"Oh, ada Tuan, ditunggu ya" bibi menyeduh jahe instan. Tak lama kemudian kembali, sambil membawa cangkir dalam nampan.


"Silahkan di minum, Tuan" kata bibi. Setelah meletakkan jahe, di depan Marsel yang sedang memejamkan mata, bibi beranjak berniat melanjutkan pekerjaannya.


"Terimakasih. Tunggu Bi" cegah Marsel. Bibi memutar tubuhnya pelan.


"Duduk Bi" Marsel menunjuk Sofa di depan-nya. Namun, bibi bukan duduk di sofa, melainkan bersimpuh di lantai. Tangannya yang montok karena gemuk masih mendekap nampan.


"Kenapa Mom sampai sakit separah ini Bi, selama ini Mom tidak pernah mengeluh sakit?" Marsel merasa ada yang janggal.


Deg deg deg. Jantung bibi berdebar kencang. Pertanyaan ini yang bibi takutkan, dan ketakutannya kini menjadi kenyataan. Sebenarnya bibi ingin jujur. Tapi bagaimana dengan ancaman wanita itu? Bibi menggigit bibir bawahnya.


"Bi" Marsel mengulangi.


"Sa-saya ti-tidak tahu, Tuan" Bibi gemeteran.


"Tidak tahu Bi? Bukankah sehari-hari Mom hanya berdua dengan Bibi," Marcelo menatap wajah bibi lekat.


"Benar Tuan, tapi yang namanya penyakit, kadang datangnya tiba-tiba," entah kekuatan darimana bibi menjawab lancar.


"Benar juga kata Bibi" Marsel tidak lagi mencecar bibi. "Ya sudah Bi, saya mau istirahat di kamar dulu" Marsel beranjak.


"Silahkan Tuan..." bibi bernapas lega menatap Marsel dari belakang. "Maaf Tuan" gumam bibi.


Marsel masuk ke dalam kamar yang sudah hampir satu tahun tidak ia tiduri. Ia mengerlingkan mata, keseluruh sisi kamar masih terawat dengan baik.


Marsel membuka lemari pakaian berniat ambil baju ganti. Sebelum tidur mandi akan menyegarkan tubuhnya. Pikir Marsel.


Benar saja setelah mandi dan menghabiskan jahe instant yang ia bawa ke kamar. Marsel kemudian tidur nyenyak di pagi hari.

__ADS_1


*******


Tiga hari berlau Diah sudah lebih baik, ia pergi ke salon karena pagi ini, akan konferensi pers ditemani papi Efendi dan juga Aditya sang kakak.


"Oh, jadi ini? Wanita yang beritanya membuat geger, kayaknya wajahnya biasa saja" sinis wanita yang sedang di creambath oleh pegawai salon. Terasa pedas memang terdengar di telinga Diah. Namun, bagi Diah sudah tidak di ambil pusing. Biarkan saja di bicarakan orang tentang kejelekannya sudah biasa. Jika iklas, justeru mengurangi dosa. Begitulah yang Diah pikirkan kini, hingga riasan wajah pun selesai.


"Waah... kamu cantik banget Diah..." Mawar tampak panling ketika menjemput Diah di salon bersama suaminya.


"Kak Mawar, bisa saja" jawab Diah, malu-malu. Diah segera naik ke mobil duduk di jok tengah. Sementara Mawar, menemani suaminya yang sedang menyetir. Mobil meluncur hingga sampai di salah satu hotel mewah yang di pesan oleh papi Efendi.


Sampai di ballroom hotel tampak papi Efendi, mami Desty, sudah berada disana. Diah kemudian duduk di samping papi Efendi, di susul Adit dan Mawar. Para wartawan pun berdatangan.


"Assalamualaikum"


Diah tidak ada rasa gentar sedikitpun walaupun ratusan pasang mata tertuju kepadanya. Dengan memegang mikrofon, Diah tidak grogi seperti pertama kali ketika di wawancarai bersama Marsel dulu.


"Dengan adanya berita yang simpang siur, dan menyudutkan saya. Saya akan meluruskan. Jujur, saya merasa tidak nyaman karena di cap sebagai, wanita perebut suami orang."


"Memang benar, anggapan masyarakat, bahwa Marcello suami Arabella. Tapi itu dulu, sudah sekitar 6 bulan yang lalu, mereka sudah bercerai secara agama, dan secara hukum, surat gugatan yang di ajukan Marcello, kuasa hukum beliau yang akan meluruskan."


Diah menyerahkan mikrofon kepada kuasa hukum Marsel.


"Mbak Diah, lalu kenapa saudara Marcello sendiri, tidak hadir disini?" cecar wartawan.


"Oh iya, saya juga akan menjelaskan dimana keberadaan suami saya saat ini, beliau sedang berada di Negara B, karena Ibu mertua saya sedang sakit." Diah mengakhiri penuturanya.


*****


"Duh... kasihan juga ya Al, sama Diah" di perusahaan Siska dan Aldo sedang menonton acara tersebut.


"Bukanya loe benci banget sama Diah? Kok tumben, loe kasihan" Aldo menautkan kedua alisnya.


"Awalnya iya, tapi setelah dekat dan sering ngobrol, ternyata orangnya enak juga sih, lebih menghargai sesama, jika di bandingkan Bella" Skretaris cantik itu berpendapat.


"Makanya loe! Jangan suka menilai orang dari cover. Tak kenal maka tak sayang" Aldo meledek.


"Bodok Ah, mendingan kita lanjut kerja." Siska melengos. Lalu melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


"Oh iya, gw mau mengabari Tuan Marsel, jangan-jangan... bos tidak tahu berita ini" Aldo kemudian menghubungi Marsel melaporkan kinerja para karyawan, sekaligus memberitahu tentang masalah yang di alami istrinya.


*****


Deeerrtt... deerrrtt.


"Assalamualaikum..."


"Mas... apa kabar, kamu disana sehat kan, terus, bagaimana juga keadaan Mommy, sudah sadar belum?" cecar Diah setelah menggeser layar ternyata Marsel vidio call.


"Honey..." Marsel tidak menjawab pertanyaan istrinya, justeru menatapnya lekat. Ternyata istrinya menghadapi masalah. Marsel merasa bersalah di saat sepeti ini tidak ada dirinya di samping istrinya.


"Mas kok diem sih..." Diah menopang dagu saat ini sedang duduk di ranjang.


"Kamu ada masalah seperti ini, kenapa tidak mengabari aku?" Marsel balik bertanya.


"Masalah apa?" Diah pura-pura tidak tahu.


"Bella membuat masalah lagi kan?" Marsel terlihat marah. "Maaf, aku tidak sempat melihat internet karena terlalu memikirkan Mommy, jadi tidak tahu kalau kamu menghadapi masalah berat," yang awalnya marah, tatapan Marsel kini berubah sendu.


"Masalahnya sudah selesai kok Mas, kan ada papi yang membantu aku menyelesaikan masalah ini." tutur Diah. "Sekarang bagaimana keadaan mommy?" Diah mengulangi pertanyaan.


"Masih belum sadar" lirih Marsel. Keduanya ngobrol panjang lebar membicarakan tentang mommy Laura.


"Mas kok, kurusan sih?" Diah merasa kasihan menatap suaminya pipinya tirus, mata cekung, dan terlihat lelah.


"Kamu juga kurus, Yank" Marsel pun tidak kalah memperhatikan istrinya baru di tinggal sebentar sudah kurus. Keduanya saling membicarakan masalah mereka, dan yang terakhir. Diah membicarakan tentang Lita yang di bawa pergi Bella menyusul Marsel.


"Apa? Jadi Bella membawa Lita kemari?" rahang Marsel mengeras marahnya sudah sampai puncak.


"Iya Mas, aku pikir, Bella sudah menemui kamu, terùs... bagaimana dong? Jangan-jangan... Lita nggak betah Mas?" Diah meremas rambutnya gusar.


"Sudah ya, aku tutup dulu, kamu yang tenang, aku akan mencari keberadaan mereka" Marsel mengakhiri vidio call.


"Astagfirlullah... ada apa lagi sih ini? Mengapa masalah seolah tiada akhir" gumam Diah. Diah pun bergegas menemui Marni. Hanya Marni yang bisa nyambung jika di ajak bicara tentang Calista.


.

__ADS_1


__ADS_2