
Sehari setelah Clara bertemu Elena. Clara datang menemui Rose. "Tante, ada yang ingin aku bicarakan."
"Clara, sudah lama tidak bertemu denganmu." Rose memeluk Clara penuh kasih sayang. "Duduklah." Rose mempersilakan Clara, mereka duduk di ruang tamu kediaman Ricci.
"Emm, pertama aku mau meminta maaf pada Tante karena aku tidak bisa mempertahankan hubunganku dengan Merrik. Aku selingkuh di belakangnya." Clara menundukkan kepalnya karena malu.
Rose menggenggam tangan Clara. "Tante tau itu, Om Ricci sudah cerita pada Tante bahwa kamu menjalin hubungan dengan Pras."
"Tante tidak marah?" Clara mendongakkan kepalanya.
"Untuk apa Tante marah padamu. Kalian bebas memilih siapa yang kalian cintai. Memang salahmu, kamu tidak memutuskan hubungan dengan Merrik terlebih dahulu. Nasi sudah menjadi bubur, kamu pun berhak bahagia."
"Iya, karena itu sampai sekarang Merrik belum memaafkan aku dan Pras. Sebelum aku menerima cinta Pras, aku sudah mencoba mempertahankan hubunganku dengan Merrik, aku selalu menanamkan pada diriku bahwa dia akan mencintaiku, tapi selama empat tahun ini tidak pernah ada cinta Merrik untukku hingga akhirnya Pras datang padaku."
"Sudah tidak usah dipikirkan. Nanti juga Merrik akan memaafkan kalian, jika sudah menemukan cintanya. Kamu kesini hanya untuk memberitahu hal ini saja?" tanya Rose.
"Tidak, aku kemarin bertemu dengan Merrik dan juga kekasih barunya."
"Kekasih baru?" tanya Rose antusias.
"Iya, seorang gadis yang baru lulus SMA."
"Benarkah? Itu artinya dia sudah bisa memaafkanmu, dia sudah memiliki pengganti dirimu."
"Aku harap seperti itu. Tapi ...." Clara ragu untuk melanjutkan perkataannya.
"Kenapa?" Rose melihat keraguan di wajah Clara.
Clara menatap Rose lekat. "Mereka tinggal bersama dan sepertinya sudah melakukan layaknya hubungan suami istri."
"Apa?" ucap Rose terkejut.
"Bagaimana mungkin, aku mendidiknya untuk menjaga kehormatan perempuan."
"Selama bersamaku Merrik tidak pernah melakukan hal di luar batas."
"Apa mungkin Merrik sudah menemukan cinta sejatinya?"
"Aku harap dia tulus, gadis itu bernama Elena. Merupakan mahasiswa baru di kampus kami kuliah, dia hidup sebatang kara, Merrik membawanya dari desa dan mereka tinggal bersama. Aku dapat informasi dari mulut Elena langsung."
"Jika seperti yang kamu bicarakan, aku akan bilang pada Om Ricci. Biar sekalian mereka menikah saja."
"Tante tidak keberatan jika Merrik menikah dengan gadis desa yang miskin seperti Elena?"
"Untuk apa keberatan! Yang terpenting adalah kebahagiaan Merrik. Aku pun bukan dari kalangan atas."
__ADS_1
"Aku berharap Merrik benar-benar mencintai nya, aku takut dia hanya memanfaatkan cinta Elena saja!"
"Apa maksudmu?" tanya Rose heran.
"Emm, Tante tau Merrik sangat membenci Tante?"
"Tentu saja aku tau, aku berharap suatu saat Merrik dapat menerimaku sebagai Ibunya."
"Merrik tidak saja membencimu. Namun, dia menyamaratakan setiap gadis miskin adalah pencari kekayaan yang menghalalkan segala cara."
"Jadi maksudmu?" tanya Rose.
"Aku takut Merrik tidak tulus mencintai Elena dan hanya mengambil keuntungan dari Elena."
Rose terkejut mendengar perkataan Clara, dia tau Merrik sangat membencinya karena mengaggap Rose adalah penyebab perceraian kedua orangtuanya. Tapi dia tidak pernah berpikir, Merrik akan merusak masa depan seorang gadis. "Terima kasih atas informasinya."
"Maafkan aku Tante, dulu aku juga ikut membencimu karena Merrik selalu bilang kamu penyebab kehancuran keluarganya. Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, tapi setelah Tante menolongku, aku yakin Tante adalah orang yang baik."
"Tidak apa, tidak perlu di pikirkan."
Clara sempat membenci Rose karena cerita Merrik yang menuding Rose perusak rumah tangga orang tuanya. Namun, pada saat Clara hampir tertabrak mobil, Rose mendorongnya dan akhirnya Rose yang terluka sampai harus dibawa ke rumah sakit. Dari sana Clara mengubah pandangannya terhadap Rose dan diam-diam mereka sering bertemu.
...****...
Elena duduk di coffee shop tempatnya menunggu Merrik menjemput, yang tidak ia ketahui bahwa orang tua Merrik sedang memperhatikannya di pojok ruangan.
"Iya, Ini lihat sama 'kan? Aslinya lebih cantik dari photonya," ujar Rose tersenyum menunjukan ponselnya pada suaminya. Dia sudah meminta orang suruhannya untuk mengikuti Elena.
"Sudah berapa lama mereka tinggal bersama?"
"Aku tidak tau, Clara hanya bilang Merrik tinggal bersama dengan seorang remaja."
"Kamu tidak keberatan jika bukan Clara yang menjadi istri Merrik?"
"Bagiku kebahagian Merrik lebih penting. Clara anak yang baik, dia pun tulus mencintai Merrik. Namun, anak kita yang tidak bisa mencintai Clara, hingga Clara menemukan cintanya bersama Pras."
"Akupun tidak masalah Merrik mau menikah dengan gadis manapun, asalkan dia bahagia. Tapi, Merrik tidak pernah menunjukan gadis itu, pada saat aku ke kantornya pun tidak menyinggung gadis itu."
"Ayo kita ke sana, aku mau mengenal lebih jauh gadis itu."
Ricci dan Rose mendekati Elena. "Boleh kami duduk di sini?" ucap Ricci.
Elena melihat sepasang paruh baya di depannya, maniknya melihat sekeliling, masih banyak kursi kosong. Dia bingung kenapa dua orang tua di depannya meminta duduk bersamanya. "Silakan Paman, Bibi." Elena tidak bisa menolak permintaan orang yang lebih tua.
Ricci dan Rose duduk di depan Elena, mereka memberi senyum padanya. "Hai, Elena," ucap Rose.
__ADS_1
"Bibi, tau namaku?" tanya Elena terkejut.
"Kami orang tua Merrik," ujar Ricci.
"Oh, maafkan aku Bibi, Paman karena tidak mengenali kalian." Elena gugup bertemu dengan mertuanya. Baru terpikirkan kenapa selama ini dia tidak menanyakan keluarga Merrik.
"Tidak perlu minta maaf, Merrik pun belum memperkenalkan dirimu pada kami." Ujar Rose.
"Bagaimana Paman dan Bibi tau aku di sini?" tanya Elena.
"Tidak sulit untuk kami tau keberadaanmu!" ucap Ricci. "Sudah berapa lama kalian tinggal bersama?" tambah Ricci dengan nada yang sangat serius. Rose mencubit pinggang Ricci. "Jangan membuatnya takut," ucap Rose pada Ricci.
"Elena, kami tidak masalah Merrik menjalin hubungan dengan siapapun asalkan dia bahagia, itu sudah cukup untuk kami. Tapi kami tidak membenarkan jika Merrik melakukan hubungan bebas, seatap tanpa ikatan pernikahan." ujar Rose.
"Sebenarnya ...." Perkataan Elena terhenti saat suara Merrik memotong perkataannya.
"Untuk apa kalian ke sini?" ucap Merrik menatap tajam pada Rose.
"Merrik," lirih Rose.
Merrik langsung mendekat pada Elena dan menarik lengannya "Kak, mereka orang tua Kakak. Sopanlah." Merrik tidak menggubris perkataan Elena tetap menarik lengannya.
"Merrik berhenti! Kamu bisa menyakitinya!" ujar Ricci.
"Itu bukan urusanmu, Yah."
"Kita bisa bicara baik-baik, duduklah."
"Tidak ada yang perlu di bicarakan!"
Merrik tetap menarik lengan Elena, hingga mereka dalam posisi berdiri.
"Kenapa kamu seperti ini? Kenapa kamu tidak bilang pada kami kalau kamu tinggal bersama dengannya? Kenapa tidak memperkenalkannya?" ucap Ricci.
"Karena aku tidak berniat memperkenalkannya!"
"Apa maksudmu?" tanya Ricci.
Merrik tersenyum smirk. "Kamu tau maksudku, Yah!" Merrik pergi membawa Elena tanpa menoleh pada orang tuanya.
...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...
Jangan lupa like, love, vote dan komentarnya 😊😊😊
Terima kasih 🙏🙏🙏
__ADS_1
Salam Age Nairie 🥰🥰🥰