
Elena memeluk tubuh Merrik, membenamkan kepalanya di tubuh suaminya. “Aku sudah tau, tau semua yang terjadi padamu, tidak apa-apa, bagiku kamu adalah pria yang sempurna. Hanya kamu yang ada di hatiku. Aku akan membantumu keluar dari masalah ini.”
Merrik membeku, mengendurkan pelukan dan menatap Elena, dengan hati yang sakit bertanya, “Bagaimana kamu bisa tau?”
“Karena aku yakin, laki-laki yang bersedia kehujanan semalaman hanya untuk menunggu diriku tidak akan mungkin melupakanku dengan mudah. Meskipun enam tahun kita berpisah, aku yakin kamu masih sangat mencintaiku, diam-diam selalu memberi perlindungan dan perhatian.”
Perkataan Elena meluluhkan hati Merrik yang dingin dan putus asa, Merrik menunduk dan menangis, di menarik Elena, bergantian dialah yang masuk dalam dekapan dada Elena. Layaknya seorang anak kecil yang menangis karena tidak diberikan permen oleh ibunya. Di tengah tangisnya, Merrik mencoba untuk berkata meskipun terbata. “Ini adalah karma atas apa yang telah aku lakukan padamu! Aku pantas mendapatkannya.”
Elena mengusap lembut rambut hitam Merrik, rambut yang masih hitam sempurna meskipun sudah di usia lebih dari tiga puluh tahun. “Jangan bersedih, dulu kamu melakukan itu karena membenci Ibu tiri mu, tapi aku yakin saat melakukannya denganku kamu tulus dengan perasaanmu. Kamu melarang ku bertemu dengan pria lain bahkan hanya sekedar berteman. Kamu mengurungku di dalam apartemen ini agar tidak ada pria lain yang menatapku. Kamu selalu perhatian padaku, kamu akan khawatir jika aku sakit dan kamu rela menanggung penderitaan sendiri agar aku mendapat kebahagian lain.” Elena ikut meneteskan air mata. Dua insan yang saling mencintai menangis bersama, karena kesalahan Merrik, kebersamaan mereka yang hanya dua bulan harus dibayar dengan perpisahan selama enam tahun.
Elena masih mengusap lembut rambut Merrik dengan sesekali menghapus air matanya sendiri. “Mulai sekarang serahkan dirimu padaku, tidak perlu lagi menutupi apapun dari ku, kamu boleh tidak mengatakan pada orang lain tapi tidak denganku. Cukup sudah kamu membohongiku, apapun itu, katakanlah padaku.”
“Elena.” Merrik mengangkat kepalanya. “Apa aku bisa? Aku sudah tidak mengharapkan apapun pada diriku selama enam tahun ini. Sudah kucoba berbagai pengobatan namun hasilnya nihil. Sekeras apapun usahaku tidak ada yang membuahkan hasil. Aku tetap tidak bisa membuat diriku bangkit.”
“Tidak, kamu pasti sembuh! Percayalah.” Elena menatap Merrik dengan yakin entah dari mana keberanian itu, dia hanya menginginkan kesembuhan Merrik. Dia percaya pada dirinya sendiri bahwa dia bisa membantu penyembuhan Merrik. Mereka masih saling tatap, Elena memberikan tatapan seolah berkata, ‘Ayo kita coba’.
Merrik hanya mengangguk kecil dan berkata, “Matikan lampu ya?”
“Baik.” Elena menarik tali di samping sofa, bekerja sama dengan semua permintaan Merrik, mereka tidak peduli jika saat ini mereka bukan berada di ranjang, asalkan bisa membuatnya kembali seperti dulu, Elena bersedia melakukan apapun.
Lampu pu padam, hanya ada bayangan dua orang yang saling berhadapan yang disinari cahaya bulan dari arah balkon, dengan gugup dan bergetar tangan Merrik menyentuh kancing piyama Elena. Dia seperti remaja yang baru akan mencoba hal baru, membuka perlahan kancing piyama Elena.
__ADS_1
Elena membiarkan apapun yang Merrik lakukan padanya, dia menyentuh lengan Merrik dan mengusap lembut untuk membuatnya sedikit tenang. Merrik mulai mendekatkan dirinya untuk mulai mencium Elena, perlahan nan lembut. Memperlakukan Elena bagaikan kaca yang rapuh, ciuman tanpa tuntutan dan hanya ada kerinduan di dalamnya.
Perlahan mendorong Elena hingga terbaring di sofa dengan bibir mereka yang saling terkait, tangan Merrik memulai menyentuh ke segala arah, ciuman yang hanya di bibir turun ke bawah, Merrik mulai memberi tanda kepemilikan pada Elena dan terus menjalankan aksinya hingga …. “Ah?” Elena mengeluarkan suara, suara kebahagian dari Elena karena Merrik sudah mulai mencoba keluar dari bayangan hitam hidupnya. Namun, hal buruk pun terjadi, kebahagian yang di rasakan Elena begitu singkat. Sangat, sangat singkat. Tubuhnya baru mulai merasakan, Merrik langsung melemah.
Suasana menjadi sangat senyap, Elena menatap sendu pada Merrik. Lelaki yang tampak sangat sedih, membuat Elena sangat tidak tega, menyodorkan tangan dan memeluknya. “Tidak apa-apa, ini merupakan kemajuan yang sangat bagus. Kita coba lagi ya?”
Merrik menggelengkan kepalanya pelan, dengan lelah berkata, “Lain kali saja yah? Aku lelah.”
Elena tidak ingin memaksakan kehendak, ia tau harus memberi ruang pada Merrik, dia mengerti akan kesedihan Merrik. “Iya, kita istirahat yah?”
Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi, mereka berbaring di sofa yang muat di tiduri oleh dua orang. Elena memejamkan matanya berusaha untuk terlelap namun tidak bisa, jadi hanya memejamkan mata dan berpura-pura tertidur. Merrik yang ada disampingnya bangkit dan mencium dahi Elena. “Elena, maafkan aku, maaf telah membuatmu kecewa.”
Ingin sekali ia membuka matanya dan berkata langsung pada Merrik bahwa ia tidak kecewa namun diurungkan. Jika, ia langsung mengutarakan bahwa ia tidak keberatan, dikhawatirkan Merrik akan merasa semakin bersalah dan mungkin saja akan menolak bantuannya lagi.
Elena mendengar suara tidak nyaman dari sebelahnya. Merrik mengeluarkan dessahan kesakitan, lalu bangkit dan berdiri di balkon, menyalakan seputung rokok namun tidak di hisap. Satu putung habis, menyalakan satu putung lagi, berdiri di malam hari di temani sinar api dari rokoknya seperti mengerti kesedihan Merrik. Benar, harga dirinya sebagai seorang laki-laki sudah sangat terpukul, sudah sekuat tenaga berusaha namun hasilnya tetap mencapai kegagalan. Ini membuat Merrik merasa sangat sedih.
Elena melihat semua pergerakan Merrik di balkon, menatap bayangan kesedihan itu. Air matanya tidak bisa di kontrol dan terus mengalir, ingin dia bangkit dan memeluk Merrik dari belakang, menyuruhnya untuk tetap berusaha dan jangan putus asa terhadap dirinya sendiri. Namun, ia urungkan, Elena akan memberikan ruang bernafas untuk Merrik. Dia tidak ingin terburu-buru dan akan membuat Merrik memiliki ruangnya sendiri agar mendapatkan hasil yang di inginkan.
Malam ini Elena tertidur di sofa, menjelang subuh Merrik baru bergabung dengan Elena, merebahkan dirinya disamping Elena dan membekapnya ke dalam pelukannya.
Mereka kembali ke kantor keesok harinya, berangkat satu mobil bersama. “Berhenti,” ucap Elena sebelum sampai di kantor.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Merrik bingung.
“Di kantor tidak ada yang mengetahui hubungan kita, jadi kita sembunyikan dulu hubungan kita.”
“Kenapa memangnya jika orang lain tahu?”
“Orang lain tidak masalah jika tahu, namun jadi masalah jika orang tuaku tahu.”
Merrik hanya terdiam, apa yang Elena katakan benar adanya. Pasti orang tua Elena sangat membenci dirinya. Merrik memenuhi permintaan Elena dan menurunkannya, Elena memberhentikan taxi untuk dirinya.
Setibanya di kantor, Elena dikejutkan dengan meja kerjanya penuh dengan bunga mawar. Semua karyawan menatap iri pada Elena yang diperlakukan romantis.
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
Hai, terima kasih masih setia dengan kisah Merrik dan Elena, kawal sampai akhir yach.. 🥰🥰🥰🥰
Yuk, ah yang masih bandel belum baca SAMUDRA NAYNA. Bacalah.. Layak kok ceritanya untuk di ketahui 😊😊😊😊
Salam Age Nairie 🥰🥰🥰🥰😘🥰😘😘😘😘
__ADS_1