Kamuflase Cinta Sang CEO

Kamuflase Cinta Sang CEO
BAB 54 999 Tangkai Mawar Merah


__ADS_3

Derap langkah Elena tidak terdengar karena kalah dengan suara para karyawan yang sedang berbisik penuh dengan kekaguman dan ke-irian pada Elena. Dia menghampiri meja kerjanya yang penuh dengan bunga mawar, entah berapa banyak mawar yang tergeletak di sana. Elena menatap bingung ke sekeliling dan mencoba bertanya pada Daniar. “Dari mana asal bunga mawar ini?”


“Entahlah, sudah ada di sana semenjak kami tiba,” lirih Daniar.


“Apa yang harus aku lakukan dengan bunga mawar ini?” gumam Elena.


“Kamu bawa pulang saja,” usul Daniar.


“Aku tidak bawa mobil.” Elena mencoba mencari kartu si pemberi. Namun, tidak ada ucapan kartu apapun, merapikan bunga mawar tersebut ke samping, jika bertengger di meja kerjanya, maka dia tidak akan bisa kerja. “Bagi kalian yang menginginkan bunga mawar, silakan ambil saja!” teriak Elena.


“Tidak perlu, jika di lihat yang memberi nanti kamu akan dikira tidak menghargai pemberian orang,” ucap salah satu rekan kerja.


“Iya, kamu bawa pulang saja,” ujar Daniar.


Arka datang kemeja kerja Elena. “Wah, banyak sekali mawarnya, sepertinya aku memilki saingan!” ucap Arka dengan nada sedih.


“Kamu ada di sini?” tanya Elena bingung dengan kedatangan Arka yang tiba-tiba.


“Iya, ada sedikit yang perlu aku bahas dengan Bastian, karena masih terlalu pagi aku berkunjung ke tempatmu dulu.” Mata Arka masih melihat bunga mawar yang ada di meja Elena.


“Benar bukan kamu yang memberi mawar ini?” tanya Elena memastikan.


“Bukan, jika kamu mau, akan aku berikan lebih banyak bunga lagi, aku akan memberikan 999 tangkai mawar merah. Sepertinya, ini hanya seratus tangkai.”


“Tidak perlu, terima kasih.”


‘Apa Merrik yang memberikannya?’ monolog Elena dalam hati.


“Baiklah, aku naik dulu ke tempat Bastian. Nanti siang aku datang lagi untuk mengajakmu makan siang.” Setelah bicara Arka melangkah pergi tanpa mendengar persetujuan Elena mau atau tidak makan siang dengannya.


Setelah kepergian Arka, Daniar menghampiri Elena. "Sepertinya penggemarmu banyak! Terima saja Pak Arka, dia terkenal pria baik-baik." Elena hanya tersenyum mendengar perkataan Daniar. Dia akui Arka memang baik, tapi hatinya sudah milik Merrik.


Arka melangkah ke ruang Merrik, hatinya tidak enak. Sepertinya ia harus bergerak cepat sebelum Elena ada yang mendekati. “Hei,” sapa Arka setelah sampai di ruang Merrik. Mereka tidak terlalu kaku dalam menjalankan bisnis, sehingga pembicaraan mereka seperti pembicaraan antar teman.


“Kau sudah tiba? Sebentar lagi ya kita meeting-nya, Jakson belum memberiku dokumen,” ujar Merrik.


“Tidak masalah, hari ini aku punya banyak waktu. Kamu santai saja.” Arka menggaruk leher belakangnya. “Apa kamu tau pria yang sedang mengejar Eleanor selain aku?” tanya Arka.


Merrik membeku, ingin sekali ia mengatakan bahwa dirinyalah suami Elena, namun dia dilarang memberitahu orang lain tentang hubungan mereka oleh Elena. “Tidak, kenapa?”


“Tadi aku ke meja kerjanya dan sedang heboh karena meja kerja Elena banyak bunga mawar.”


“Bunga mawar?” tanya Merrik mengeraskan rahangnya, ternyata yang mendekati istrinya bukan hanya Arka.


“Ia, aku pikir kamu tahu.”

__ADS_1


“Tidak, aku tidak tau. Tapi akan ku coba mencari tahu.”


“Wah terima kasih, ternyata kamu tidak sedingin yang aku pikirkan.”


“Aku bukan melakukan karena dirimu, namun karena peraturan perusahaan tidak boleh menjalin hubungan asmara antar rekan kerja.”


“Artinya aku tidak masuk dalam kategori, aku ‘kan bukan karyawanmu. Lagi pula, aku yakin El akan menjadi milikku.”


“Kenapa begitu yakin?” tanya Merrik.


“Karena aku sudah mengantongi restu orang tua!” ucap Arka tersenyum.


Merrik hanya terdiam mendengar perkataan Arka. Ya, dia tau bahwa ia akan sulit untuk mendapatkan restu orang tua Elena.


Merrik dan Arka selesai membahas kerja sama, hingga jam makan siang tiba. “Kamu mau langsung pergi?” tanya Merrik.


“Tidak, aku akan ke tempat Eleanor dan mengajaknya makan siang.” Arka tersenyum. “aku pergi dulu ya.”


Merrik mengangkat gagang telepon di mejanya memanggil Jakson ke ruangannya. “Iya, Pak,” ujar Jakson.


“Cari tahu siapa yang memberi bunga pada Eleanor!” titah Merrik.


“Ya?” tanya Jakson dengan bingung. Pertama kalinya bos-nya memberi tugas yang di luar dari pekerjaan.


Wajah Jakson kembali lebih santai, mengerti maksud dari Merrik. “Baik, saya akan mencari tahu.”


Merrik memijat kepalanya, baru akan memulai dari awal dengan Elena sudah ada dua masalah lagi di depannya, tidak hanya ada Arka yang terang-terangan mengejar istrinya namun ada pengagum rahasia istrinya juga. Tidak salah jika dulu ia melarang Elena keluar rumah. Mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Elena.


{Merrik : Makan siang dimana?}


{Elena : Di Galaxy light café, aku bersama Arka, tidak enak menolak permintaannya. Maaf 🙏}


Merrik tidak membalas lagi pesan dari Elena. Dia melaju ke restoran dimana Elena dan Arka makan siang. Mengedarkan matanya dan melihat dua sosok yang dicarinya. “Kalian makan di sini?” ucap Merrik saat sampai di meja Elena dan Arka.


“Ais, ganggu saja!” protes Arka.


Merrik seperti tidak mendengar ocehan Arka, langsung duduk dan memesan makanan, mereka makan siang bersama, tidak lama ponsel Arka berdering. “Hallo, Iya Mom, kami akan pulang hari ini. Aku pastikan itu.” Arka menutup teleponnya.


“Sejak kapan kamu memanggil Ibumu Mom? Bukannya kamu bilang Ayahmu yang bule itu hanya mau di panggil Ayah?” tanya Elena tersenyum mengingat cerita Arka tentang orang tuanya.


“Siapa bilang yang menelpon Ibuku,” ucap Arka.


“Kau punya dua Ibu?” tanya Elena.


“Iya, yang menelpon calon Ibu mertuaku. Mommy Amel.”

__ADS_1


Deg! Elena dan Merrik langsung tersedak. “Bagaimana bisa kamu bisa begitu akrab dengan Mommy-ku?” tanya Elena.


“Aku sering ke rumahmu untuk bertemu dengan Mommy Amel dan juga si cantik ….”


“Kenapa tidak bilang padaku?” Elena langsung memotong perkataan Arka, dia tau Arka akan bilang tentang Melena, dia belum siap untuk bilang pada Merrik tentang Melena, ia ingin memastikan dulu hubungan mereka.


“Salah satu trik untuk mendapatkanmu, jika restu sudah didapat, aku tinggal mengejarmu.”


“Arka, aku ….”


“Sudah habiskan makananmu, aku janji dengan Tante Amel untuk mengantarmu pulang hari ini.”


Arka memotong omongan Elena, tidak ingin mendengar penolakan Elena, dia bisa melihat sendiri bahwa Elena tidak memiliki perasaan apapun padanya, ia hanya ingin berusaha untuk meluluhkan hati Elena. Jika sudah berusaha namun masih belum bisa meluluhkan, maka ia akan mundur.


Mereka kembali ke kantor saat selesai makan siang. Merrik meminta Elena untuk datang ke kantornya dengan alasan pekerjaan. Elena duduk di depan Merrik. “Ada apa?” tanya Elena.


“Kamu mau pulang dengannya?”


“Ya, tadi Mommy telepon memintaku sekalian pulang dengan Arka.”


“Kamu setuju?”


“Ya.”


“Bagaimana dengan hubungan kita? Kita baru memulai kembali.”


“Aku akan menyelesaikan masalahku dengan Arka terlebih dahulu. Aku pun tidak pernah memberi harapan padanya.”


“Kamu pulang denganku, biarkan aku menemui orang tuamu!” ucap Merrik tegas, dia tidak akan membuang waktu lagi.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


...Hai, terima kasih masih setia dengan kisah Merrik dan Elena, kawal sampai akhir yach.. 🥰🥰🥰🥰...


...Yuk, ah yang belum baca SAMUDRA NAYNA. Bacalah.. Layak kok ceritanya untuk di ketahui 😊😊😊😊...


...Jangan lupa tinggalkan Jejak Like love vote dan komentarnya 😊😊😊...


...Salam Age Nairie 🥰🥰🥰🥰😘🥰😘😘😘😘...


...



...

__ADS_1


__ADS_2