Kamuflase Cinta Sang CEO

Kamuflase Cinta Sang CEO
BAB 51 Pulang


__ADS_3

...Happy reading 🥰...


...Seperti biasa Age mau ingetin untuk dukung Age dengan cara like, masukan ke daftar favorit, bintang 5, vote , gift dan komentar ya 😊...


...Terima Kasih 🥰🥰🥰...


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


“Ayo kita pergi! Sudah selesai bukan?” tutur Merrik.


“Sudah,” jawab Elena.


Mereka kembali ke kantor masih menggunakan mobil Merrik, tidak ada obrolan di antara mereka. Hingga ponsel Elena berbunyi. “Hallo Mom,” ujar Elena.


“Bagaimana kabarmu? Apa Arka memperlakukanmu dengan baik?” tanya Amel.


“Iya, baik.”


“Mommy tidak mengganggumu ‘kan?”


“Tidak, ini jam istirahat. Aku baru selesai makan siang dengan Arka,” ucap Elena. Merrik diam-diam mencuri dengar obrolan Elena dengan Ibunya.


“Bagus kalau begitu! Dia adalah pria baik. Apa dia sedang bersamamu saat ini?”


“Tidak, dia baru saja pergi, ada urusan mendadak di kantornya.”

__ADS_1


“Owh, begitu. Ya sudah jika seperti itu. Aku harap kamu bisa membuka hatimu lagi dan menerimanya menjadi suamimu.”


“Akan aku pikirkan, Mom.”


“Ya sudah, lanjutkan lagi kerjamu.”


“Iya.” Elena mematikan sambungan teleponnya, Merrik menggenggam erat kemudi, mendengar semua percakapan antara Elena dan Ibunya, jarak mereka dekat dan keadaan mobil sunyi, hingga membuat Merrik bisa mendengar semua ucapan Amel yang berharap Elena menikah dengan Arka.


“Kamu berencana menikah lagi?” tanya Merrik.


“Berencana menikah lagi? Bukan menikah lagi, tapi ada rencana untuk menikah.” Pancing Elena.


“Maksudmu?” tanya Merrik.


“Sebagai wanita yang belum menikah tentu saja ada keinginan untuk menikah!”


Elena menoleh pada Merrik. “Aku tidak ingat aku pernah menikah! Dan satu lagi, namaku Eleanor!” Elena kembali menatap ke arah depan.


Merrik menepikan mobilnya. “Kamu jangan menyangkal bahwa kamu itu istriku!” Merrik sudah mencoba menahan dirinya, semakin Elena ada di dekatnya semakin ia tidak rela untuk melepasnya. Kini Merrik menatap manik Elena. Mata yang tidak berani ia tatap saat melepasnya di rumah sakit.


“Apa buktinya kalau aku adalah istrimu?” tantang Elena. Merrik diam tidak berkutik, mereka memang tidak menikah secara resmi, tidak ada bukti apapun kecuali orang-orang yang menjadi saksi pernikahan mereka. Merrik kembali mengalihkan pandangannya ke arah depan, tidak ingin menatap mata Elena terlalu lama. Otak Merrik merasa kacau, jika ia memilih untuk mengejar Elena, ia tidak akan bisa memberi kebahagian pada Elena. Namun, jika melepasnya membuat dirinya sendiri begitu menderita.


“Buktikan bahwa kamu adalah suamiku?” Elena melihat ada kesempatan untuknya membantu Merrik.


Merrik tidak menjawab pertanyaan Elena, mereka berhenti di tepi jalan yang sepi. Hanya terdengar hembusan nasfas dari dua orang di dalam mobil. Merrik memejamkan matanya sebentar, ia sadar dirinya telah mulai goyah dengan terang-terangan cemburu, dia mencoba untuk menyalakan mesin. Namun, aksinya di hentikan oleh Elena, Elena menarik dasi yang digunakan oleh Merrik dan tanpa aba-aba dia mulai menciumnya. Elena mencium bibir Merrik lembut. Merrik dengan terkejut membuka matanya lebar-lebar, dia hanya terdiam namun tidak menghalangi aksi Elena.

__ADS_1


Pikiran Merrik kacau, perlahan melepas sabuk pengaman, menarik tengkuk Elena dan mulai membalas ciumannya. Ciuman Merrik tidak seperti dulu yang menciumnya secara gila, tapi terus bergelut di bibir dan lidah Elena.


Sepasang tangan Elena melepas tarikannya pada dasi Merrik, beralih memegang jas yang Merrik gunakan, enam tahun mereka berpisah, ternyata Merrik masih sangat penting di hatinya. Gairah Elena ikut terbakar. Merrik mendorong Elena, hingga Elena terhimpit antara kursi dan dirinya. Melepas sebentar ciuman mereka, Merrik memegang wajah Elena, menatapnya sekilas dan mulai menciumnya kembali, mereka semakin memperdalam ciuman mereka, kalau bisa semakin mengeratkan. Dua orang yang saling merindukan, saat ini sedang melampiaskan dengan sebuah ciuman.


Elena tidak peduli mereka sedang berada di pinggir jalan, dia hanya menemukan saat yang tepat. Selain ingin membantu, tidak bisa di pungkiri bahwa dirinya juga merindukan setiap sentuhan Merrik, semakin lama nafasnya semakin berat, sudah tidak puas hanya dengan sebuah ciuman. Tanpa sadar Elena menyodorkan tangannya pada ikat pinggang Merrik dan mencoba untuk melepasnya. Tubuh Merrik langsung berubah membeku, tatapan matanya menjadi dingin, dia menarik dirinya sendiri. Menatap sedih ke arah depan, menarik rambutnya dengan kasar lalu menyalakan mesin dan melaju dengan kecepatan tinggi.


Tidak ada obrolan lagi, Elena merasa sakit dihatinya, bukan karena penolakkan Merrik melainkan tidak tega pada Merrik yang sudah mengidap pobia ****. Mereka tiba di kantor, masuk ke dalam ruangan masing-masing. Elena tanpa sadar meneteskan air matanya, harus dengan cara apa dia menolong pria yang ia cintai?


Merrik masuk ke toilet yang ada di ruang kerjanya. Menatap dirinya di cermin, mengepalkan tangannya dan meninju cermin hingga pecah. Hingga jam pulang kerja, ada sopir yang menunggu Elena, Merrik tidak mengantar Elena pulang namun masih dengan perhatian memberikan layanan antar jemput untuknya.


Empat hari berlalu, setiap hari Elena akan ada orang yang antar jemput dirinya, selama itu dia tidak pernah bertemu dengan Merrik. Merrik memang sengaja menghindarinya namun masih setia menontonnya dari rekaman CCTV, dia akan pulang setelah melihat Elena pergi, tidak jarang juga waktunya ia gunakan untuk lembur.


Hari ini Elena putuskan untuk tidak kembali ke apartemennya. “Ketempat tinggal Pak Bastian ya Pak,” ucap Elena pada sang sopir.


Dalam cinta tidak peduli siapa yang akan mengalah dan menunduk terlebih dahulu. Cinta sejati adalah berharap orang yang dicintai bisa hidup dengan baik.


Sang sopir merasa heran, Elena langsung menjelaskan. “Pak Bastian menyuruhku mengambil berkas.”


“Baik Non.” Sang sopir mengantar Elena ke apartemen Merrik. Elena sibuk dengan ponselnya hingga tidak memperhatikan jalan yang mereka lalui, yang ia tau perjalanan cukup memakan waktu. Tidak habis pikir kenapa Merrik memilih tempat tinggal yang jauh dari kantornya. Elena keluar dari mobil, tidak menyangka tempat tinggal Merrik adalah apartemen yang sama saat mereka masih bersama. Elena perlahan melangkah masuk. Menuju unit apartemen yang telah menjadi rumahnya dulu. Mencoba memasukan kata sandi, berharap masih sama seperti dulu dan ternyata benar, Merrik tidak pernah mengubah kata sandinya.


Kakinya sedikit bergetar saat masuk ke dalam, suasana yang masih sangat sama seperti dia meninggalkannya, terus melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang berfungsi juga sebagai ruang TV, mengingat kembali saat mereka menonton bersama sambil berpelukan. Beralih ke kamar tidur mereka, memandang ranjang yang menjadi saksi bisu penyatuan mereka. Elena berjalan ke lemari pakaian, membukanya perlahan dan menemukan semua pakaiannya masih tersusun rapih di dalam sana. Cairan bening menetes dari mata hijaunya, dia meyakini Merrik masih sangat mencintainya.


Elena menunggu kedatangan Merrik, membuka kulkas dan memasak beberapa jenis makanan lalu menunggunya di depan TV. Lelah menunggu ia tertidur di depan TV. Hingga pintu terbuka, Elena mendengar ada yang datang. “Kamu sudah pulang?” ujar Elena.


“Sedang apa kamu di sini?” tanya Merrik.

__ADS_1


...Salam Age Nairie 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2