Kamuflase Cinta Sang CEO

Kamuflase Cinta Sang CEO
BAB 56 Apa kamu membuangku?


__ADS_3

Merrik menatap lekat pada pria di depannya, seorang kepala departemen pemasaran di perusahaannya. “Aku hanya mengagumi Nona Eleanor, Pak.” Russen menjawab pertanyaan Merrik.


“Bukan kah kamu tahu, perusahaan tidak memperbolehkan menjalin hubungan antara sesama rekan kerja!” ucap Merrik.


“Saya tahu Pak, dan saya tidak melanggar peraturan perusahaan. Saya hanya sebatas mengaguminya, sampai detik ini pun kami tidak menjalani hubungan spesial. Jadi, tidak ada peraturan yang saya langgar.”


“Lalu apa ini?” ujar Merrik dengan memberikan seberkas dokumen pada Russen.


Russen menerima berkas tersebut, bukan hanya nota pembelian bunga namun photo-photo Russen yang diam-diam menguntit Elena, mulai dari kantor hingga Elena pulang ke apartemennya. Semua itu di dapat Merrik dari rekaman CCTV di kantornya dan dari sekitar apartemen Elena. Merrik membayangkan Russen mengikuti Elena hingga masuk ke apartemennya. Ya, meskipun hanya menatap pintu Elena, itu cukup membuat muak Merrik. Beruntung saat Elena pulang ke apartemen Merrik tidak terendus Russen. “Apa kah tindakan ini bukan di sebut penguntit?” tanya Merrik.


Wajah Russen mengeras, ia sadar dirinya memang menguntit Elena. “Aku akui aku menguntitnya, tapi tidak sedikitpun melakukan sebuah tindak kejahatan.”


“Menguntit adalah Kejahatan yang disebut pelecehan kriminal dan tindakanmu membuat orang dia tidak nyaman!”


“Bagaimana Anda tahu, dia tidak nyaman?” tanya Russen menelisik.


“Tentu karena adanya laporan!”


“Baik, saya akan berhenti, selama ini aku pun tidak melakukan yang merugikan atau kejahatan pada Nona Eleanor.”


“Berhentilah menguntitnya!”


“Baik, Pak.”


“Keluarlah!”


Russen keluar dari ruangan Merrik. Setelah itu Jackson datang. “Pindahkan dia ke daerah yang jauh dari sini!” titah Merrik pada Jakson.


“Baik.”


“Buat alasan yang masuk akal untuknya.”

__ADS_1


“Baik, Pak.”


Setelah itu Jakson meninggalkan ruangan, Merrik merenungkan dirinya, dia tidak bisa memberi sanksi pada Russen karena memang tidak melakukan kejahatan pada Elena. Dia hanya bisa menjauhkan Russen dari Elena. Ya, Russen tidak berbeda dengan dirinya yang memantau Elena dari CCTV dan selalu diam-diam memperhatikannya. Merrik memijat kepalanya, baru satu orang yang ketahuan menguntit istrinya, apakah ada orang lain lagi seperti Russen? Belum lagi Arka yang terang-terangan mengejar Elena. Ingin rasanya ia mempublikasikan hubungannya dengan Elena secepatnya.


Elena bersiap untuk pulang. Ia sudah sepakat pada Merrik untuk pulang bersama, tentu dengan cara diam-diam agar tidak terlihat oleh orang lain. Selama tiga hari ini mereka tinggal bersama tanpa adanya mencoba melakukan hubungan layaknya suami istri. Mereka hanya berpelukan dan berciuman saja.


Elena biasa pulang setelah rekan kerja meninggalkan ruangan, setelah sepi Elena bersiap untuk membereskan barangnya. Tiba-tiba Lala masuk ke dalam ruangannya, dan berdiri di depan Elena. “Ada apa?” tanya Elena.


Lala hanya menatapnya penuh ketidaksukaan. “Apa kamu sudah tahu penyakit Pak Bastian?” tanya Lala sinis.


Elena tersendak, bukan karena pertanyaan dari Lala, melainkan mengapa ada orang lain selain dirinya yang mengetahui penyakit Merrik. Apakah Lala sangat penting untuk Merrik?


“Iya, aku mengetahuinya. Lalu kenapa?” tantang Elena.


“Bukan kah aku sudah memperingatimu untuk menjauh dari hidupnya? Kau hanya akan membuatnya semakin tersiksa! Kenapa dengan seenaknya mencampuri kehidupan pribadi orang lain? Tidak bisa kah kau melihat beberapa hari ini suasana hatinya buruk! Apakah kamu sudah puas?” Lala bisa melihat bahwa Merrik sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Merrik masih belum mau mencoba lagi dengan Elena karena takut mengecewakan dan itu sangat menyiksanya.


Elena pun tahu penderitaan Merrik, hatinya pun sedih melihat keadaan suaminya. Namun, dia tidak perlu menjelaskan panjang lebar pada Lala. “Ini adalah masalah kami, tidak perlu untuk kamu mengurusnya!” Elena mengambil tas dan pergi meninggalkan Lala sendiri.


“Tidak ada.”


“Lalu kenapa wajahmu seperti itu? Bicaralah?”


Elena hanya berlalu tanpa menjawab pertanyaan Merrik, dia memilih untuk membersihkan dirinya. Merrik mencoba memberi waktu pada Elena, mungkin dia membutuhkan waktu untuk nantinya bercerita.


“Sayang, buatkan aku kopi. Ada pekerjaan yang harus ku selesaikan malam ini,” ucap Merrik saat Elena berada di meja riasnya.


“Kenapa jadi sering minum kopi?”


“Karena aku baru tahu, kopi buatanmu sangat enak," ucap Merrik tersenyum lalu berlalu ke ruang kerja. Merrik dulu bukanlah pecinta kopi, dulu tidak pernah meminta Elena untuk membuat kopi. Namun, setelah kepergian Elena, dia menjadikan kopi sebagai pengganti minuman beralkohol. Dia menepati janjinya untuk berhenti meminum minuman beralkohol.


Elena datang menuju ke ruangan Merrik dengan membawa secangkir kopi dan meletakannya di meja Merrik. Merrik menarik lengan Elena ketika dia akan pergi. “Ada apa?” tanya Merrik.

__ADS_1


Elena ingin diam saja tanpa ada keinginan memberitahu Merrik. Namun, dia juga tidak ingin memendam terlalu lama rasa sedihnya. Akhirnya Elena membuka suara. “Aku tahu penyakitmu sangat penting dan berhubungan dengan harga diri seorang laki-laki. Kamu mencoba untuk menyembunyikan dari semua orang. Kamu menyembunyikan dari ku mati-matian dan memilih melepas ku. Kamu menyembunyikan dari orang tua yang membesarkanmu dan juga menyembunyikan dari Dion sahabatmu. Namun, kenapa hal yang penting bisa di ketahui oleh Lala? Apakah dia bergitu penting untukmu? Apa kamu merasa dia sangat mengerti dirimu dari pada kami semua?” Elena mengeluarkan semua batu di hatinya.


Merrik hanya melihat wajah Elena yang memerah karena kemarahan, menghembuskan nafasnya pelan dan berkata, “Apa kamu keberatan?”


“Tentu saja! Sangat, sangat keberatan! Apa sebenarnya hubungan kalian? Aku jadi curiga hubungan kalian tidak murni hanya hubungan atasan dan bawahan!” teriak Elena setelah itu meninggalkan Merrik sendiri di ruang kerja dengan sedikit membanting pintu kerja Merrik.


Keesok harinya, Merrik mengajak Lala untuk makan siang bersama, Merrik menyewa seluruh restoran. Lala melihat meja yang penuh dengan banyaknya makanan dan hanya ada mereka berdua saja. “Wah, seperti makan siang romantis saja,” ucap Lala berbinar.


“Kamu ini seperti aku tidak pernah traktir dirimu saja,” ucap Merrik penuh canda.


“Makan bersama sih sering, tapi tidak sampai me-reservasi seluruh ruangan!” Sedetik kemudian hati Lala menjadi tidak tenang, merasa akan ada sesuatu yang datang. “Jangan-jangan kamu akan mengucapkan perkataan yang menyakitkan untukku?” tanya Lala terbata.


“Makanlah!” Mereka makan siang bersama, setelah selesai, Lala perlahan berkata, “Apa kamu masih pergi ke tempat konseling?”


“Iya, masih.”


“Kenapa tidak menghubungiku jika pergi ke sana? Bagaimana jika kita ubah cara terapinya dengan menggunakan cara langsung seperti yang di sarankan oleh Dokter Kyat, aku akan membantumu.”


“Lala, aku mengajakmu makan bersama, karena Elena sudah mengetahui masalahku, untuk kedepannya kamu tidak perlu membantuku. Elena yang akan membantuku.”


Wajah Lala berubah sedih, matanya berembun. “Apa kamu membuangku?”


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


...Jangan lupa tinggalkan jejak 👍❤️🌹vote dan komentarnya 😊😊😊😊...


...Semoga sehat selalu 😘🥰🥰😘😘🥰😘...


...Salam Age Nairie 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_1


__ADS_2