
Merrik memeriksa sekeliling, memastikan Elena tidak pergi. Dia beralih ke dalam kamar tidur Elena, Lemari pakaian yang di dalamnya masih tersusun rapi baju-baju. Tidak ada barang yang hilang, Merrik yakin Elena masih tinggal di rumah ini. Matanya tertarik pada benda yang ada di atas meja. Merrik mengambil gelang yang ada di atas meja. Menyentuh setiap ukiran yang ada di gelang tersebut. "Melena!" gumam Merrik.
Merrik memakai gelang tersebut, tersenyum membaca ukirannya, teringat akan obrolannya bersama Elena tentang anak. Dia merindukan Elena. Kembali lagi ke meja belajar, ada sebuah buku diary. Perlahan Merrik membukanya, langsung membuka kebagian pembatas buku yang terbuat dari daun kering. Memulai membaca isi di dalam buku tersebut.
*Namaku Elena, Nenekku baru meninggal enam bulan lalu. Kepergian Nenek membuatku harus lebih mandiri, terlebih orang tuaku sudah meninggal tanpa aku pernah bertemu mereka. Aku harus menghemat pengeluaran, sore ini aku putuskan untuk mencari jamur di hutan. Terlalu lama tinggal di hutan menjadikan diriku mengerti tanaman beracun atau tidak. Disaat asik mencari jamur aku melihat seseorang tergeletak di tanah. Aku bingung menghampirinya atau tidak. Dari penampilannya seperti pendaki gunung. Namun, di gunung ini sangat jarang ada pendaki. Gunung di sini bukanlah gunung yang terkenal untuk pendakian.
Aku takut dia tewas di tengah hutan . Aku mencoba mendekatinya. "Apa kamu butuh bantuan?" tanyaku.
Dia tidak menjawab pertanyaan ku. Dia hanya melebarkan matanya. Aku berlutut untuk memastikan apakah dia sekarat. "Paman, apa kamu baik-baik saja?" Aku menyentuh nya, agak panas. "Paman tunggu disini, aku akan cari bantuan." Saat akan beranjak dia menarikku hingga terjatuh.
“Ah! Paman, apa yang kamu lakukan?” jeritku.
“Siapa Kau? Apa kamu seorang wanita penggoda?” tanyanya.
“A—ku Elena, seorang yang tinggal di sekitar kaki gunung ini dan aku bukan penggoda. Aku hanya mencari jamur di sekitar sini.” Aku terbata menjawab pertanyaannya.
Aku hanya ingin membantunya, namun dia malah bilang apakah aku wanita penggoda? Apakah aku memanfaatkanya? Sepertinya aku harus menjauh dari pria ini. Aku mulai beranjak pergi, lagi-lagi dia menarikku. Aku terkejut, dia mencoba menciumku. Ciuman yang dingin tanpa perasaan, ciuman pertamaku. Dia mencurinya! Tangannya semakin tidak tentu arah, aku panik, takut, dia tetap membungkam mulutku dengan mulutnya. Saat bibirnya turun kebawah, memberiku kesempatan untuk menjerit. Aku tau hutan ini sepi, tapi apa salahnya jika aku berusaha. Kepanikan ku mulai bertambah saat bajuku mulai terkoyak. Disaat putus asa karena perlawananku sia-sia. Beberapa orang datang menghampiri kami.
Otakku seperti kosong, aku hanya tau pria yang mencoba menodaiku dipukul oleh warga. Dia menatapku penuh sendu, memintaku untuk berkata kami saling menyukai. Aku takut akan tatapan matanya, aku hanya ingin masalah ini cepat selesai, terpaksa aku menuruti perintahnya. Naas! Keputusanku salah, kami dibawa ke balai desa untuk dinikahkan. Menikah dengan orang yang mencoba menodaiku, bukankah sesuatu yang konyol? Apakah ini takdir kami?
Tidak kusangka setelah beberapa hari kami menikah, suamiku bernama Merrik sangat baik padaku. Dia bahkan mengajariku mengerjakan soal, ternyata dia pandai dan juga tampan. Aku sangat bahagia mendapat cara mudah mengerjakan soal dan aku mulai nyaman di dekatnya. Hingga, ada yang menyentuh rambutku, aku menoleh, Kak Merrik menyentuh rambutku. Wajahnya mulai membesar di pupil mataku, aku mencoba mudur agar dapat melihat wajahnya dengan jelas, dia menarik tengkukku dan mulai menciumku. Ciuman yang hangat, sangat berbeda dari sebelumnya terlebih saat dia memintaku untuk membuka mulutku. Ah, kali ini aku menikmatinya.
__ADS_1
Sejak ciuman itu, kami semakin dekat. Dia sangat protektif padaku, dia tidak memperbolehkan diriku berteman dengan pria lain, bahkan tidak mengijinkan ku keluar rumah tanpanya. Segala sesuatu yang di awali dengan hal yang tidak baik belum tentu memiliki akhir yang tidak baik juga. Kami bahagia dengan keluarga kecil kami. Setiap hari aku akan menunggu suamiku pulang kerja bersama dengan dua anak kami di teras rumah. Rumah sederhana dengan taman bunga di pekarangan, dan kebun sayuran kecil di belakang rumah. Rumah yang berisi empat anggota keluarga. Aku, suamiku dan kedua anakku.*
Merrik menutup diary Elena, dia luruh terduduk di kursi, sudut matanya mengeluarkan cairan bening. Betapa Elena mencintainya, menulis kisah mereka yang di awali kesalahannya. Namun, tidak sedikitpun Elena menulis keburukan Merrik di diary tersebut. Bahkan menciptakan ending yang bahagia.
...***************...
Elena tiba di penthouse milik orang tuanya, mereka di kota, dimana Elena dan Amel bertemu. Dia tercengang melihat kemewahan di depan matanya, tidak disangka orang tuanya begitu kaya. Dia pikir apartemen Merrik sudah sangat bagus.
"Eleanor, sini. Mommy tunjukan kamarmu," ujar Amel.
Elena mengikuti Amel, sampailah di kamar tujuan, Elena membulatkan matanya, kamar bak princess untuknya, terlihat seperti kamar anak yang mulai tumbuh menjadi remaja. "Ini kamarku, Bi?" tanya Elena.
"Mommy."
"Ya, seperti itu. Kamu memang memanggilku Mommy, mungkin kamu lupa, kamu di culik saat usia tiga tahun!" ujar Amel.
Elena hanya tersenyum, wajahnya pucat, kepalanya pusing. Sudah dua hari ia tidak makan, selama patah hati hanya air yang masuk ke tubuhnya. Amel melihat wajah pucat Elena. "Wajahmu pucat sekali, El?" tanya Amel.
"Owh, mungkin karena belum makan, dua hari ini aku hanya minum air putih," jawab Elena jujur.
Amel memandang Elena, dia tidak tau penyebab anaknya tidak makan karena patah hati. Jadi, dia mengira anaknya kesulitan hanya untuk makan, hatinya sakit saat mendengar Elena hanya meminum air putih. Dia berjanji akan membuat Elena bahagia dan tidak akan membuatnya menderita sedikitpun. "Ayo kita makan, Nak!"
__ADS_1
Elena dan Amel menuju ruang makan, belum juga duduk, Elena sudah luruh ke lantai. Dia pingsan. "Eleanor!" Jerit Amel.
Steven mengangkat Elena dan memindahkan ke kamar, Amel menelpon dokter untuk memeriksa Elena.
Dokter memeriksa kondisi tubuh Elena. "Tidak ada masalah serius, hanya kurang nutrisi. Setelah di infus tidak akan ada masalah. Hanya saja untuk saat ini, Nona Eleanor harus menjaga makannya, tidak boleh diet ketat lagi, apalagi sampai tidak makan dua hari. Kasian bayi yang ada di kandungnya!" jelas Dokter.
"Ba—yi?" ucap Amel terkejut. Begitu juga dengan Steven yang tidak kalah terkejut, dia tidak mendapat informasi jika Elena hamil atau menikah.
Mereka menunggu Elena siuman, setelah Elena sadar mereka memberikan Elena makan terlebih dahulu. Kesehatan Elena lebih penting dari pertanyaan mereka.
Setelah makan, Elena merasa kurang nyaman dengan tatapan orang tuanya, dia memberanikan diri untuk bertanya. "Mommy dan Daddy mengapa menatapku seperti itu?"
Tanpa basa-basi Amel langsung melontarkan pertanyaan pada Elena. "Siapa yang menghamilimu?"
"A—ku hamil?" ucap Elena terbata.
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
Jangan lupa tinggalkan jejak 👍❤️🌹vote dan komentarnya 😊😊😊😊
Salam Age Nairie 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1