Kamuflase Cinta Sang CEO

Kamuflase Cinta Sang CEO
BAB 74 Awal Perjuangan


__ADS_3

Flashback


Setelah mengantar Elena ke kantornya, Merrik langsung mengemudikan mobilnya ke rumah Elena. Mengendarai mobilnya secara pelan, memikirkan cara agar bisa meluluhkan orang tua Elena. Tibalah ia di tempat tujuan, mengetuk pintu dan menunggu di bukakan pintu oleh sang pemilik, setelah ketukan ketiga, pintu terbuka. “Siang,” ucap Merrik saat pintu telah terbuka.


“Merrik,” ucap Steven yang kebetulan ada di rumah.


“Om, saya ingin bertemu Melena.”


“Dia masih sekolah, Amel sedang menjemputnya.”


“Boleh saya menunggu?”


“Tentu, kamu bisa ke sini memangnya tidak bekerja?” tanya Steven sambil berjalan ke arah ruang tamu yang di belakangnya ada Merrik yang mengikutinya.


“Aku pengangguran sekarang, Om.” Merrik mengucapkan kata pengangguran tanpa rasa malu.


Steven duduk di kursi ruang tamu. “Kenapa kamu memberikan perusahanmu pada Eleanor?” Steven tidak perlu berpura-pura tidak tahu akan kabar itu. Beritanya sudah tersebar luas seantero negri. Bohong jika ia tidak mengetahuinya. Terlebih, dia juga merupakan seorang CEO.


“Tanpa Arka yang meminta, perusahaan itu memang aku persembahkan untuk Elena, cepat atau lambat memang itu akan menjadi miliknya,” ucap Merrik pasti.


“Kamu melakukan ini untuk meluluhkan hati anakku agar dia mau bersamamu, begitu?” tanya Steven. Dia tidak begitu tersanjung dengan perpindahan perusahaan El Sunshine ke tangan Elena, tanpa dari Merrik pun ia bisa memberikan lebih banyak dari sekadar El Sunshine.


“Tidak! Meluluhkan hati Elena tidak perlu dengan uang atau harta. Dia hanya membutuhkan cinta yang tulus!” ucap Merrik tanpa ragu.


“Apa kamu bisa menjamin bahwa cintamu tulus?” tanya Steven.


“Tidak ada yang bisa menjamin apapun di dunia ini. Tapi, yang jelas aku sangat mencintainya.”


“Mudah sekali kamu bilang cinta, pasti dulu hanya dengan kata cinta yang membuatnya luluh padamu.”


“Kalau itu aku tidak tahu, harus ditanya ke Elena dulu,” ujar Merrik tersenyum, dia memang tidak tahu mengapa Elena bisa mencintainya, tidak tahu pula mengapa wanita cantik itu bisa dengan mudah memaafkannya. Mengingat kembali apa yang telah ia lakukan dulu, bukankah dia sangat beruntung bisa mendapatkan Elena? Seorang wanita penuh maaf!

__ADS_1


“Apa kau yakin bisa membahagiakan putriku?” tanya Steven, dia mengingat penyakit yang di derita Merrik. Meskipun dia mengerti perasaan seorang pria. Namun, dirinya juga seorang Ayah, dia juga menginginkan anaknya bahagia lahir dan batin. Dia tidak ingin seumur hidupnya, Elena hanya mengurus seorang lelaki.


“Aku tidak bisa berjanji, namun yang aku yakin, dia bahagia bila bersamaku!”


Steven berpikir sejenak, mengetukan jarinya ke pegangan kursi. “Jika Elena tidak secantik sekarang, tidak sehat seperti sekarang, apa kamu masih bersedia bersamanya?” Steven lebih memilih kata pengandaian, jika Elena yang sakit, dari pada harus bertanya penyakit Merrik.


“Ya, aku tidak akan meninggalkannya apapun keadaannya.”


Belum sempat Merrik berkata lebih lanjut sudah ada suara anak kecil yang menggema. “Aku pulang!” teriak Melena sambil berlari, langkahnya terhenti saat melihat pria yang duduk di ruang tamu. “Daddy!” ucap Melena terkejut dan langsung berhambur ke dalam pelukan Merrik.


Merrik menyambut pelukan hangat putrinya, dia mengangakat Melena dan menggendongnya, matanya sedikit mengembun, dia memang sangat merindukan putri kecilnya. “Daddy kangen Melena!”


“Mel juga kangen Daddy!”


Amel yang berdiri di belakang Melena menatap tajam ke arah Merrik dan bergantian menatap suaminya. Namun, dia masih memiliki adab untuk tidak menunjukkan di hadapan Melena. Dia melangkah kan kakinya menuju ruang kerja suaminya, Steven yang melihat itu segera mengikuti Amel.


“Aku permisi dulu, kamu bisa bersama Melena,” ujar Steven setelah itu pergi meninggalkan Ayah dan Anak yang sedang melepas rindu.


“Dia ingin menemui anaknya. Apa kamu lupa, kita sudah sepakat memperbolehkan Merrik bertemu dengan putrinya!” jelas Steven.


Amel adalah orang yang keras namun dia selalu menepati janjinya. Karena itu, dia sulit untuk memaafkan Merrik, dulu ia pernah bilang pada Elena, jika Merrik menyakitinya maka pintu maaf akan tertutup bagi Merrik. Bahkan Amel pernah bersumpah bahwa dia tidak akan pernah memaafkan Merrik, meksipun Merrik berlutut padanya. Amel keluar dari ruang kerja suaminya, dia tidak memperdulikan Merrik yang berada di rumahnya.


Hingga senja menyapa, tidak ada tanda-tanda Merrik pergi dari kediaman Steven, Amel semakin geram melihat Merrik yang tidak tahu malu mondar mandir di kediamannya bermain dengan Melena. “Merrik,” sapa Amel dengan lembut. Ya, bagaimanapun yang Melena tahu Neneknya seorang yang berhati lembut.


“Ya, Mom!” jawab Merrik.


Amel menggigit bibirnya saat mendengar Merrik memanggilnya Mom, sejak kapan dia memiliki anak setua Merrik! “Kamu tidak pulang? Hari sudah mulai gelap.”


“Daddy akan menginap di sini Grandma, Daddy bilang sekarang Daddy punya banyak waktu untuk Melena, benar ‘kan Dad?” Merrik hanya memberi senyuman pada Melena.


“Daddy-mu harus bekerja besok, benar ‘kan Merrik?”

__ADS_1


“Aku sudah menjadi pengengguran, jadi aku bebas!” ucap Merrik halus.


“Tuh ‘kan Grandma! Daddy nganggur, biarkan Daddy menginap ya?”


“Tidak bisa! Daddymu punya rumah sendiri!” tolak Amel.


Melena mulai meneteskan air matanya, merengek untuk Merrik menginap. “Grandma … hiks … tolong izinkan Daddy menginap ya?” Melena terus meneteskan air matanya, dia tidak menangis histeris seperti anak kecil kebanyakan. Namun, tangisan yang seperti di tahan membuat setiap orang yang melihatnya tidak tega.


Amel melihat tangis Melena akhirnya, luluh. “Baiklah!” Setelah berkata dia meninggalkan Merrik dan Melena.


Melena langsung tersenyum bahagia menatap Merrik. Mereka bersekutu dan membuat rencana agar Merrik bisa menginap. Namun, yang tidak Merrik duga, Melena sampai meneteskan air matanya, rencana mereka sebenarnya hanya di tahap membujuk. Merrik menatap anaknya yang pandai berakting, pandai memposisikan dirinya. Apakah sifat Merrik menurun pada Melena?


...***...


"Bisa kita bicara?" tanya Amel saat Melena sudah tertidur.


Merrik bangun dari tidurnya dan mengikuti kemana Amel pergi. "Ada apa Mom?" ujar Merrik, mereka duduk di dapur.


Amel menghembuskan nafasnya. "Pertama, aku bukan Ibumu, jadi berhenti memanggilku Mom! Dan yang kedua, berhenti mendoktrin Melena, dia memang anakmu tapi kamu bukan menantu di rumah ini!"


Merrik menundukkan kepalanya. "Apa tidak bisa memberi ku kesempatan?" mohon Merrik.


"Apa kamu lupa bahwa aku sudah memberikan kamu kesempatan saat di bandara! Aku sudah bilang padamu bahwa itu kesempatan terakhir mu. Tapi, apa? Kamu mengecewakan lagi! Aku bukan Eleanor yang mudah memaafkan , aku hanya seorang Ibu yang hatinya sudah sangat terluka dan tidak akan membiarkan anaknya tersakiti lagi! Jangan kamu kira dengan memberikan perusahaan mu pada El bisa merubah keputusan ku!"


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


...Jangan lupa dukung Age dengan cara like, love,vote, gift nya.. Di tunggu komentarnya 😊😊😊😊😊😊...


...Salam Age Nairie 🥰🥰🥰🥰😘😘😘😘...


Cus kepoin novel teman Age dibawah ini 👇

__ADS_1



__ADS_2