
Keesok harinya Aisley kembali bekerja, masih dengan Arka yang mengantarnya ke rumah sakit. "Nanti dijemput jam berapa?" tanya Arka sebelum Aisley turun dari mobil.
"Aku bisa pulang sendiri!" jawab Aisley datar.
"Aisley?"
"Aku serius, jam kerjaku tidak bisa di tentukan, bisa jam berapapun pulangnya!" tutur Aisley.
"Baiklah, kabari aku jika sudah selesai."
Aisley membuka pintu mobil dan langsung keluar tanpa membalas ucapan Arka.
"Kenapa dia jadi dingin seperti itu?" gumam Arka.
Aisley masuk ke dalam rumah sakit, menjalankan tugasnya sebagai dokter umum. "Kamu jadi ikut menjadi relawan?" tanya Arsenio saat Aisley sedang mengambil minum.
"Owh, iya!" jawab Aisley.
"Bukankah kamu sedang hamil?" tanya Arsenio lagi.
"Tida apa."
"En, keberangkatannya diundur seminggu lagi, kemungkinan jadi tiga minggu lagi baru berangkat," jelas Arsenio.
"Benarkah?" tanya Aisley tidak percaya, dia ingin secepatnya pergi dari tempat ini, ingin secepatnya meninggalkan Arka. Dua minggu sudah cukup lama bagi Aisley sekarang malah diundur menjadi tiga minggu.
Arka terus saja menelpon Aisley di jam makan siang namun tidak sekalipun Aisley berkeinginan mengangkat telepon tersebut. Hingga sore, Arka datang ke rumah sakit untuk menemui Aisley. "Kenapa menghindar dariku?" tanya Arka saat melihat Aisley keluar dari ruang prakteknya.
"Aku tidak menghindar, aku hanya sibuk!" jawab Aisley. "Kenapa di sini?" tanya Aisley.
"Tentu saja menjemputmu!" jawab Arka.
"Memang CEO seperti mu tidak ada pekerjaan bisa sampai menjemputku?" tanya Aisley sarkas. Dia ingat, Arka tidak pernah menjemputnya, bahkan rumah sakit tempat dia berdinas pun Arka tidak mengetahuinya. Selalu Aisley yang datang ke kantor Arka, dengan tidak tahu malunya selalu mengikuti lelaki itu. Begitu dahsyat efek dari kehamilannya yang membuat Arka perhatian padanya.
Bukannya Aisley cemburu pada janin yang ada di dalam perutnya yang bisa merebut perhatian Arka. Namun, Aisley tidak ingin jika hubungan mereka dilanjutkan hanya sebatas rasa tanggungjawab. Dia menginginkan cinta dalam rumah tangga. Dia pun tidak akan menghalangi Arka jika kelak nanti Arka ingin bertemu anaknya. Mereka masih bisa bertanggung jawab tanpa harus terlibat dalam pernikahan.
"Ya, aku sedang longgar!" jawab Arka bohong. Dibalik waktu senggang Arka mengurus masalah pribadinya, ada yang berkerja lebih keras karena pelimpahan pekerjaan. Arka sudah melaksanakan tugas inti sebagai CEO namun untuk hal-hal lainnya sudah di serahkan pada asistennya.
__ADS_1
"Baiklah, sebaiknya kita bicara untuk menyelesaikan masalah kita!" ucap Aisley tegas. Dia berjalan mendahului Arka.
Arka hanya menatap punggung Aisley, mengingat sebulan lalu, gadis ceria yang selalu mencari perhatian padanya, menempel bagai gurita dan selalu mengganggu hari-harinya kini telah hilang bak ditelan bumi.
Wajah yang sama namun Aisley yang sekarang bagaikan memiliki dua sifat yang berbeda, Arka merindukan kegaduhan yang Aisley buat.
Mereka tiba disebuah restoran, Arka dan Aisley duduk berhadapan. Jika dulu, Aisley akan langsung duduk di samping Arka. Aisley memesan minumannya sendiri, dia tidak memesan sekalian untuk Arka. "Pesankan aku sekalian!" titah Arka saat Aisley hanya memesan satu minuman.
"Aku tidak tahu apa yang kamu suka, pesan saja sendiri!" ujar Aisley setelah itu sibuk dengan ponselnya. Dia tidak akan bertindak bodoh seperti dulu, bahkan Arka tidak pernah menyentuh makanan yang dia bawa untuk Arka, meskipun Aisley tahu makanan yang ia bawa adalah makanan yang dia beli di restoran dan bukan hasil dari masakannya.
Arka berbicara pada waiters dan memesan minuman. "Apa kamu mau pesan makan?" tanya Arka pada Aisley.
"Tidak," jawab Aisley singkat.
Waiters pergi meninggalkan mereka, hanya ada keheningan sebelum minuman tersaji, Aisley memulai pembicaraan setelah minuman sudah ada di depan mereka. Dia mengangkat gelasnya dan menyedot minuman jus alpukat tersebut. "Dengar aku, ini memang anakmu!" ucap Aisley.
"Ya, aku tahu," jawab Arka.
"Tapi aku tidak akan menikah denganmu!"
"Kenapa?" tanya Arka bingung.
"Bagaimana dengan anak kita? Aku ingin pernikahan tetap dilaksanakan!"
"Kamu ingin menikahiku karena apa?"
"Karena ...."
"Karena rasa bersalah? Atau rasa tanggung jawab?"
"Aisley, aku tahu aku bersalah, bisakah memberiku kesempatan untuk memperbaiki?"
"Memperbaiki apa? Tidak ada yang salah, hati tidak bisa dipaksa! Tanggung jawab tidak harus menikah, aku tidak akan melarangmu menemui anak ini tapi tidak dengan pernikahan!"
"Tapi, dia tidak akan tumbuh dengan keluarga yang lengkap!" jelas Arka.
"Untuk apa lengkap jika tidak ada cinta di dalamnya! Aku bisa memberikan kasih sayang pada anakku dan kamu bisa memberinya kasih sayang juga padanya. Aku rasa itu sudah cukup!"
__ADS_1
"Tetap saja akan berbeda! Aisley, kita bisa sama-sama mencoba memperbaiki ini semua ..."
"Satu bulan!" ucap Aisley. Arka menatap Aisley dan menunggu Aisley melanjutkan perkataannya. "Satu bulan aku merendahkan diriku sendiri sebagai perempuan, satu bulan aku mengejarmu seperti orang bodoh! Dan selama satu bulan tidak bisa menggerakkan hatimu! Cukup bagiku satu bulan berjuang! Dan setelah satu bulan, hatiku sudah mati untukmu!"
Deg! Ada rasa sakit di hati Arka setelah mendengar penuturan Aisley. Semua yang dikatakan oleh Aisley benar adanya, hanya kalimat terakhir yang merupakan sebuah kebohongan, dia masih mencintai Arka namun sedang mencoba mengikis cinta tersebut.
"Kita bisa mulai dari awal!" tegas Arka.
"Apa kamu mencintai ku?" tanya Aisley.
Arka terdiam, dia pun tidak tahu hatinya sendiri, yang jelas dia tidak ingin kehilangan Aisley.
Aisley melihat diamnya Arka, dia berdiri. "Aku rasa semua sudah sangat jelas, kita lakukan seperti apa yang kukatakan!" Setelah berkata, Aisley meninggalkan Arka sendiri.
Aisley kecewa, Arka sama sekali tidak mengejarnya, kemungkinan besar memang tidak ada cinta Arka untuknya. Aisley terus berjalan dengan hati yang terluka, beberapa kali tangannya mengusap air mata yang jatuh tanpa permisi. Sudah di tahan namun tetap saja lolos dengan mudah, hatinya sakit, perutnya mual dan kepalanya pusing. Namun, dia masih berusaha untuk tegar, terus berjalan, sudah tidak mengharapkan Arka untuk mengejarnya, dia menyebrang jalan untuk kembali menuju apartemennya sendiri.
Arka masih terdiam di tempat, mencerna apa yang telah Aisley katakan padanya, dia tidak ingin kehilangan Aisley namun tidak juga berjuang untuk mempertahankannya.
Bukankah hanya seorang pengecut yang tidak memiliki keberanian untuk mengejar cintanya!
"Cinta!" lirih Arka.
Arka bangkit dari duduknya, meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia mulai mencintai Aisley, Arka mengeluarkan beberapa lembar uang dan menaruhnya di atas meja. Dia mulai berlari untuk mengejar cintanya.
Arka tersenyum lebar, mulai sekarang, dialah yang akan mengelilingi Aisley. Senyumnya mulai pudar sesaat dia keluar dari restoran, banyak orang berkerumun di tengah jalan.
Terdengar suara dari orang sekitar bahwa ada korban kecelakaan, kaki Arka melemah, selangkah demi selangkah dia menuju ke kerumunan.
...🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️...
...Terimakasih masih setia dengan kisah Arka dan Aisley.🙏🙏🙏...
...Jangan lupa like, love, gift dan komentarnya yach 😊...
...Jangan lupa untuk mampir juga ke Backstreet dan yang belum baca SAMUDRA NAYNA, baca donk 😁🥰🥰...
...Salam Age Nairie 🥰🥰🥰🥰...
__ADS_1
...Salam sehat semua 😊😊😊🥰🥰🥰...