
Elena mengambil ponselnya, mencari nomor yang akan ia hubungi. Tidak perlu menunggu lama untuk terhubung. "Hallo," terdengar suara dari seberang telepon.
“Kak, besok aku akan di lamar oleh Arka.” Elena tidak membuang waktu dengan langsung mengutarakan maksudnya.
“Apa?” ucap Merrik terkejut.
“Bagaimana bisa?” tanya Merrik.
“Mommy tahu aku kembali bersamamu. Aku tidak bisa menolak permintaan Mommy, jika aku memilih bersamamu maka aku harus rela meninggalkan rumah ini dan …,” ucapan Elena terputus, Merrik memotong ucapan Elena. Elena yang sebenarnya ingin mengatakan tentang keberadaan Melena harus tertunda karena Merrik langsung memutuskan sambungan telepon.
“Aku akan ke sana.” Tanpa pikir panjang Merrik langsung menutup teleponnya, setelah mendengar penuturan Elena yang akan di lamar oleh Arka, membuatnya harus bertindak, ia tidak akan membuat kesalahan yang sama lagi. Dia akan memperjuangkan Elena. Dia mengambil kunci mobilnya, melaju ke mansion miliki Steven. Apapun resikonya akan ia tanggung, Merrik mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Elena keluar dari ruang kerja Ayahnya, berusaha untuk tegar dan menyerahkan semuanya pada keadaan. Dia akan pasrah menerima takdirnya. Dia tidak akan membuat orang tuanya kecewa lagi dan dia tidak ingin menjadi anak yang tidak berbakti. Waktu bergulir dengan cepat tidak terasa senja menyapa, Elena duduk di teras depan melihat Melena yang sedang bermain sepeda dengan Steven.
Steven sukses memerankan Ayah dan Kakek untuk Melena, ia sangat menyayangi Melena, selama ini Melena tidak menanyakan keberadaan Ayahnya, karena Steven selalu ada untuk Melena. Steven mendekati Elena yang sedang menatap kosong, dia duduk di samping anak kesayangannya. “Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Steven.
“Selama ini aku tinggal bersamanya Dad. Selama itu pula aku menyembunyikan Melena.”
“Lalu? Kamu mau bilang pada Daddy bahwa Melena membutuhkan sosok Ayah?”
“Ya,” jawab Elena pelan.
“Lalu, kenapa kamu tidak memberitahunya?”
“Karena aku tidak tahu kami bisa bersama atau tidak. Jadi, lebih baik ia tidak tahu.”
“Bukan karena kamu juga meragukan cintanya?” tanya Steven.
“Dulu, saat aku belum tahu penyakitnya, sebelum tahu bahwa ia juga sempat depresi. Sekarang aku yakin akan cintanya.” Elena menatap Melena yang sedang tertawa renyah, seandainya dulu ia tidak bertemu dengan orang tuanya, apakah mungkin ia bisa membesarkan Elena dengan baik saat Merrik meninggalkannya? Akankah Melena mendapatkan kebahagian dan juga fasilitas yang baik? Elena ingin berterima kasih pada orang tuanya. "Daddy pasti sayang sekali pada Melena!" gumam Elena.
“Tentu, dia cucuku. Bagimana, apa kamu sudah mengambil keputusan?”
“Ya, aku akan mengikuti kemauan kalian, anggap saja sebagai bakti ku sebagai anak,” lirih Elena.
__ADS_1
“Kau bicara seperti itu karena ingin berbakti atau karena kecewa tidak bisa bersamanya? Semua pilihan ada di tanganmu.”
“Kalian memberikan pilihan yang sulit. Namun, saat ini aku tidak hanya mengambil tindakan berdasarkan hati namun juga dengan logika.”
“Apa selama kamu bersamanya dia memperlakukanmu dengan baik?”
“Ya, dia selalu memperlakukanku dengan baik dari awal kami menikah.” Elena berkata seakan menjelaskan bahwa mereka tidak pernah bercerai.
“Kamu tidak bilang padanya bahwa kamu akan dilamar oleh Arka?”
“Sudah, aku memberitahunya.” Elena menundukkan kepalanya, dia sudah pasrah. Dia sudah memberi tahu Merrik dan bilang akan datang namun sampai senja menyapa dia tak kunjung datang.
“Apa tanggapannya?”
“Dia bilang akan datang.”
“Tapi sampai sekarang dia belum datang! Apa kamu tidak berpikir dia kecelakaan lagi?” ujar Steven datar. Elena hanya menunduk, ia sempat menelpon Merrik namun di reject, seandainya kecelakaan maka pasti tidak bisa dihubungi atau akan ada orang lain yang mengangkatnya. Elena sudah pasrah, seperti yang Ayahnya bilang, biarkan Merrik yang berjuang, jika memang Merrik sungguh-sungguh maka ia tidak akan mengecewakannya lagi.
“Aku tidak tahu, aku sudah lelah, akan kuserahkan semua pada keadaan, jika pun kami berjodoh maka kami akan bersatu kembali.”
“Aku datang!” suara Merrik yang memburu tiba-tiba terdengar di telinga Steven dan Elena.
“Kamu sudah datang?” tanya Elena tidak percaya, dia pikir Merrik akan menyerah.
“Maaf, tadi ada urusan,” ucap Merrik sungguh-sungguh, dia harus negosiasi terlebih dahulu pada seseorang.
“Kalian masih di luar? Ayo masuk, hari sudah mulai gelap …,” ujar Amel yang keluar dari dari dalam dan ucapannya terputus saat melihat Merrik ada di depannya. “Sedang apa kamu di sini?” Amel menatap tajam Merrik.
“Mommy!” Melena datang menghampiri Elena, memeluknya dan menoleh pada Merrik. “Om, siapa?” tanya Melena menatap Merrik penuh tanda tanya.
Merrik menatap Melena, menelisik segala yang ada pada Melena. Dia teringat akan perkataan Elena yang akan memberikan kejutan saat pernikahan mereka. Namun, hal itu tidak pernah terjadi karena dirinya yang melepas Elena. Jadi inilah yang di maksud Elena tentang kejutan itu. “Apa dia …” Elena hanya mengangguk, mengerti maksud perkataan Merrik yang terputus.
...***...
__ADS_1
Mereka duduk di ruang tamu, Amel ingin sekali memaki Merrik, namun ia masih memiliki kesadaran bahwa tidak baik jika melakukannya di depan Melena. Oleh sebab itu, Melena dibawa pergi oleh pengasuh ke dalam kamar. Merrik duduk gelisah, tidak menyangka selama ini dia memiliki anak dari Elena.
“Apa maksud kedatanganmu ke sini?” tanya Amel tajam.
Merrik langsung menghampiri Amel dan berlutut. “Aku datang untuk memohon maaf dari Tante dan Om. Aku berniat kembali pada Elena. Aku tahu kesalahanku sangat besar, tapi aku sungguh-sungguh menyesalinya.”
“Kalian bisa bersama!” ucap Amel. Merrik menatap Amel, ada secercah kebahagian menghampiri hatinya namun hanya sekilas karena ucapan Amel selanjutnya menghancurkan secercah harapan itu. “Kalian bisa bersama, tapi tidak dengan Melena dan anggap saja kami sudah mati.” Setelah berucap Amel meninggalkan Merrik yang berlutut. Begitupun dengan Steven yang meninggalkan Merrik dan Elena di ruang tamu.
Merrik menatap Elena. “Mengapa tidak memberitahuku?” ucap Merrik berembun, pikirannya kacau, dia sudah menggebu datang untuk memperjuangkan Elena dan sekarang di kejutkan dengan anak yang tiba-tiba hadir. Merrik bahkan hanya sekilas melihat anaknya dan belum sempat memeluknya.
“Karena aku tidak tahu apakah kita bisa bersama.”
“Apa maksudmu? Bukannya kita sudah sepakat bahwa kita akan kembali. Seharusnya kamu bilang padaku!” ucap Merrik lemah.
Elena hanya menundukan kepalanya. “Aku ingin berbakti pada orang tuaku. Tanpa restu dari mereka aku tidak akan kembali lagi padamu.”
“Aku akan mengejar restu dari orang tuamu.”
“Bagaimana caranya? Besok keluarga Arka akan datang untuk melamar dan aku tidak mungkin lari denganmu.”
“Kamu hanya perlu diam di tempat. Biar aku yang mengejarmu!” ucap Merrik tegas.
...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...
...Jangan lupa like, love, vote dan komentarnya berikan banyak masukan untuk Age yach 🙏🙏🙏🙏...
...Jika suka dengan cerita ini, boleh banget loch rekomendasi kan pada kerabat, teman atau keluarga 😊😊😊...
...Kawal terus Cerita Merrik dan Elena 😊...
...Salam Age Nairie 🥰 🥰🥰...
Rekomendasi Novel teman Age hari ini, cus kepoin 👇
__ADS_1