Kamuflase Cinta Sang CEO

Kamuflase Cinta Sang CEO
BAB 58 Percobaan kedua


__ADS_3

Elena menyentuh lengan Merrik, dia tahu lelakinya sedang tidak nyaman dengan keberadaan Jimmy. “Kami permisi,” ucap Elena dengan menggandeng Merrik. Baru beberapa langkah sudah mendengar Jimmy bicara.


“Aku pikir kamu pria baik-baik yang hanya setia dengan istrimu, ternyata sama saja masih bermain dengan jallang!” ujar Jimmy.


Bugh! Merrik meninju Jimmy tanpa peduli dengan sekitar. Jimmy yang berbadan gembul harus rela tersungkur di lantai. “Tidak ada yang boleh menghina istriku!”


Seketika hal layak ramai mengelilingi Merrik dan Jimmy, meskipun tidak banyak orang yang mendengar perkataan Merrik, Jimmy sangat jelas mendengar bahwa Elena adalah istrinya. Jimmy kesulitan untuk bangkit karena tubuhnya yang gembul. Dia menatap Merrik tajam. “Tunggu saja kehancuranmu!” ancam Jimmy.


Security datang menghampiri mereka, Jimmy pergi setelah mengancam Merrik. Namun, yang di ancam tidak ada rasa takut sama sekali. “Apa tanganmu sakit?” tanya Elena pada Merrik.


“Tidak!”


Elena menghembuskan nafasnya pelan. “Syukurlah! Ayo kita jalan.”


Mereka duduk di tempat yang sudah di sediakan untuk mereka. Elena berbisik di telinga Merrik. “Lain kali jangan menyelesaikan masalah seperti itu! Tidak perlu menggunakan kekerasan, seperti anak sekolah saja yang menyelesaikan masalah tanpa kepala dingin.”


“Aku akan hilang kontrol jika mengenai dirimu!” ucap Merrik tegas tanpa melirik Elena.


Elena hanya menatap Merrik, acara di mulai. Ada beberapa jenis perhiasan yang akan di lelang. Sang pembawa acara memulai acara lelang, sudah dua perhiasan yang berhasil di pinang oleh peserta lelang. Namun, Merrik sama sekali tidak tertarik melakukan penawaran. Hingga di terakhir, barang yang di lelang, Merrik mengangkat papannya untuk melakukan penawaran. Satu buah kalung berusia lebih dari seratus tahun, kalung yang dibuat sebelum perang dunia pertama. Kalung milik salah satu bangsawan di Eropa. Meskipun sudah berusia lebih dari seratus tahun namun masih tampak indah, kalung klasik yang elegan. Sang pembawa acara menawarkan kalung dari digit nol berjumlah 8, terus meroket, para peserta lelang saling tawar menawar hingga akhirnya Merrik lah yang berani memberikan penawaran tertinggi dan mendapatkannya. “Kenapa kamu membeli kalung tersebut? Apa untuk inspirasi produk baru?” tanya Elena pada Merrik.


“Tidak, hanya ingin membelinya karena cantik seperti pemiliknya.”

__ADS_1


“Siapa pemilik kalung itu?”


“Kamu.”


“Hei, jangan bercanda!” protes Elena.


“Aku tidak bercanda, aku memang membelikannya untukmu.”


Elena menatap Merrik. “Terima kasih.”


Mereka kembali pulang, saat di pintu keluar, melihat Jimmy sedang menatap mereka. Elena mengeratkan pegangan tangannya pada Merrik, tidak ingin ada perkelahian lagi. Sepanjang perjalanan Merrik diam, memikirkan mengapa banyak pria yang menatap istrinya. Mereka tiba di apartemen, Elena mengerti mengapa Merrik masih bersikap seperti itu, lalu mendekatinya. “Kamu masih kesal?” tanya Elena lembut.


“Tentu saja. Siapa yang tidak kesal saat istrinya di bilang jallang!” ucap Merrik masih dengan kemarahan.


Merrik menatap Elena dengan sendu, sekarang dia merasakan apa yang dirasakan Elena saat itu. “Maaf.”


“Lupakanlah.”


Setelah membersihkan diri, Merrik ke duduk di ruang tv dengan laptop di depannya, menyelesaikan beberapa pekerjaan yang belum terselesaikan. Elena di dalam kamar sedang mempersiapkan diri. Hari ini dia ingin meredakan amarah Merrik karena Jimmy dan juga ingin mencoba peruntungan dalam membantu Merrik, membuka lemari pakaiannya dan mulai memilih pakaian dinasnya. Selama bersama Merrik, ia sudah tau apa saja yang di sukai Merrik. Elena mulai membuka pintu kamar, melihat Merrik yang serius menyelesaikan pekerjaannya. Elena berjalan menuju Merrik dengan rambut yang di gerai, dibiarkan apa adanya, dia berharap lelakinya berubah menjadi binatang buas seperti sebelumnya, berdiri tepat di depan Merrik.


Merrik mendongak menatap Elena, jakunnya bergerak ke atas dan ke bawah. “Sedang apa kamu?” bertanya dengan nada datar namun pandangannya tidak sedikitpun terlepas dari Elena. Mulai berdiri dari duduknya, sulit bagi Merrik menelan air liurnya sendiri, Elena semakin mendekat pada Merrik yang posisinya sudah di depannya, tercium aroma khas Elena yang begitu menggodanya. “Aku bertanya, kamu sedang apa? Kenapa berpakaian seperti ini?" tanya Merrik lagi.

__ADS_1


“Terlihatnya seperti apa?” Elena tersenyum. “Aku sedang menggodamu!” ucap Elena menghembuskan nafasnya di samping telinga Merrik. Setelah itu ia menarik diri memberi jarak diantara mereka dan memberi senyuman menggoda.


Elena memainkan peran seakan dia sudah sangat ahli dalam menggoda pria, siapa yang tahu bahwa di dalam hatinya berdebar sangat cepat. Begitupun dengan Merrik. “Elena aku ….” Belum sempat Merrik melanjutkan perkataannya, Elena sudah mellumat bibir Merrik, dia tahu Merrik akan menolak ajakannya. Mendapat ciuman dan sentuhan dari Elena membuat Merrik bergairrah, Merrik mendorong Elena ke dalam kamar dan menutup pintu. Ini adalah kali kedua mereka mencobanya, Elena merasakan ada suatu perubahan di tubuhnya, menyusuri jalan dari ruang tv sampai ke kamar tanpa sadar mereka telah melepas pakaian mereka masing-masing.


Hingga akhirnya sampai ke ranjang dengan keadaan polos, Elena merasakan perubahan pada tubuhnya dan saat Merrik menyusuri leher jenjang Elena, tanpa sadar Elena berkata, “Ayo berusahalah, jangan putus asa.” Merrik langsung membeku, gairrahnya yang menggebu meroket harus turun kembali, yang beberapa saat sebelumnya dia benar-benar sudah melupakan penyakitnya namun semua berubah karena perkataan Elena yang tanpa sadar mengungkit penyakitnya kembali.


Elena mengeluarkan suara dessahan. “Kamu hebat, kamu pasti bisa!” setelah berkata, Elena merasakan perubahan lagi pada diri Merrik. Wajah penuh gairrah hilang, meninggalkan ekspresi dingin tak berdaya. Elena menggigit bibirnya, seharusnya dia hanya tinggal menikmati tanpa bicara. Semakin berharap, semakin membuat Merrik tertekan.


Elena tahu kesalahannya, mengapa ia harus bilang pasti bisa, seakan apa yang dilakukannya hanya sebatas untuk kesembuhan Merrik saja. Elena mendekati Merrik yang posisinya sudah berbaring di samping Elena. Menatap Merrik dengan wajah putus asa membuat dirinya bersedih. “Maaf,” ucap Elena tanpa berani menatap Merrik. “Aku tahu aku salah, kita coba sekali lagi ya?” usul Elena.


“Aku lelah, tidurlah!” Merrik tidur menyamping membelakangi Elena. Melihat Merrik seperti itu membuat Elena merasa kesal akan dirinya sendiri. Perkataannya bagaikan menghancurkan Merrik, jelas-jelas tadi sudah hampir berhasil. Namun, kenyatannya tidak sesuai dengan harapan. Tidak ada yang tidur di antara mereka, hingga dua jam berlalu, Elena mendekatkan dirinya pada Merrik dan memeluknya dari belakang. “Aku mencintaimu!” Merrik mendengar itu semua, hanya saja dia tidak membalas penyataan cinta Elena dan hanya bisa termenung.


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


...Jangan lupa like, love, vote dan komentarnya berikan banyak masukan untuk Age yach 🙏🙏🙏🙏...


...Jika suka dengan cerita ini, boleh banget loch rekomendasi kan pada kerabat, teman atau keluarga 😊😊😊...


...Kawal terus Cerita Merrik dan Elena 😊...


...Salam Age Nairie 🥰 🥰🥰...

__ADS_1


Rekomendasi Novel teman Age hari ini, cus kepoin 👇



__ADS_2