
Sebuah kisah yang diawali dengan kesalahan seorang pria, yang menjadikan takdir dua insan dalam ikatan pernikahan siri. Diawali dari suatu kebohongan dan sukses memberikan harapan palsu kepada si pemeran utama wanitanya. Di bohongi dan rasa kecewa menyeruak di dalam hati si pemeran wanita, begitu pula dengan si pemeran pria, rasa bersalah yang teramat meninggalkan penyesalan. Sifat pemaaf dari sang wanita memberi harapan baru bagi masa depan mereka. Mengikat janji untuk saling bersama, merakit banyak mimpi sebagai masa depan, menceritakan berbagai kisah dibawah langit senja pegunungan. Tetapi, kisah yang telah mereka rangkai dipaksa berhenti oleh keadaan. Sang pemeran pria memilih menyerah, memilih mundur, menyudahi semua harapan dan melepas sang wanita. Mereka mencoba melupakan pelangi yang pernah ada, yang mereka lihat hanya bias yang tidak bisa digapai, melupakan untuk saling menyapa dan mencoba melupakan semua senda gurau yang telah mereka lewati.
Kini masa telah bergulir, sudah ratusan hari mereka lewati tanpa saling menyapa, namun takdir mempertemukan mereka kembali tanpa harus mencari. Kuatnya cinta dari sang wanita, memberikan keberanian bagi sang pria yang sudah teramat menyerah. Merangkai kembali untuk meraih harapan yang mereka tahu akan sulit untuk di wujudkan. Kini mereka tertawa lepas, tidak ada kecanggungan diantara mereka, dengan perasaan bebas tanpa beban mengekspresikan apa yang ingin mereka lakukan. Meskipun, semua masih tampak transparan, dengan suka duka sebagai pengiringnya, sang pemeran pria tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama yaitu menyerah dan melepas wanitanya. Dia tidak akan pernah menyudahi harapan yang mulai mereka rangkai kembali. Kini, sang pria lah yang akan membuktikan bahwa cintanya tidak kalah kuat dari sang pemeran wanita.
Untaian puisi mewakili kisah Merrik dan Elena, dua pasang sejoli yang kini sedang berusaha untuk meraih mimpi untuk bersama. Merrik bangun lebih awal, seperti biasa dia akan memandang wajah wanitanya tanpa rasa bosan. “Jangan menatapku terus!” ujar Elena, dia sudah terbiasa dengan kelakuan Merrik setiap pagi. Jika dikatakan bucin, mungkin itu kata yang tepat untuk Merrik.
Merrik mencium kening Elena. “Bangunlah! Seorang CEO harus disiplin agar menjadi contoh karyawannya!”
Elena membuka matanya. “Apa kamu tidak mau kembali lagi bekerja? Jabatan CEO tidak cocok untukku.” Elena mencubit hidung Merrik. “Aku adalah designer, bukan seorang leader, aku kurang memiliki jiwa leadership. Aku takut malah menghancurkan perusahaan.”
“Kamu baru dinobatkan tapi sudah menyerah, lagipula perusahaan sedang stabil, Jakson juga akan membantumu, dia adalah orang yang bisa di percaya.” Merrik berpikir sejenak. “Tunggu, dia tidak mencoba menggodamu bukan? Bagaimanapun, ia seorang pria meskipun aku tidak pernah melihatnya berkencan!”
“Kalau khawatir, jangan tinggalkan aku! Bekerja lagi saja, kamu bisa memantau ku dari cctv, bukan?” ucap Elena santai.
Wajah Merrik berubah menjadi canggung, tidak menyangka perilaku menguntitnya di ketahui oleh Elena. “Jangan asal bicara! Mana ada aku memantau dirimu!” tolak Merrik.
“Tidak usah berpura-pura lagi! Aku sudah tahu, jika kamu memantau semua orang yang ada di ruanganku tidak mungkin kamu menyimpan rekaman yang hanya ada diriku saja!” cibir Elena.
Merrik menyerah, dia akhirnya mengaku. “Ya, aku memang memantaumu, dari awal kamu ikut kompetisi, aku tidak tahu kamu ikut audisi, saat itu bertepatan kamu terlambat. Jadi, aku berpikir untuk mengeliminasi dirimu, namun Jakson menyebut namamu, saat aku melihat cv-mu ternyata benar dirimu.”
“Gimana perasaanya saat pertama melihatku lagi?” tanya Elena penasaran.
Merrik menarik Elena dan menciumnya, lembut dan dalam. “Seperti ini rasanya, aku ingin langsung memelukmu dan menciummu!”
“Pasti sangat tersiksa karena tidak bisa terlaksana ‘kan?” ejek Elena. Tidak peduli jika dikatakan narsis, karena dia sangat yakin bahwa Merrik teramat mencintainya.
__ADS_1
“Tidak usah ditanya, sangat tersiksa!”
“Ya sudah bangun, aku mau siap-siap ke kantor!” Elena mencoba mendorong Merrik yang ada di atasnya.
Merrik bangkit, memberi ruang untuk Elena bersiap untuk ke kantor. Dia ikut mobil Elena ke kantor. “Aku tidak akan menjemputmu,” ujar Merrik.
“Baik.”
“Tidak akan menghubungi ataupun menemuimu juga, seperti yang kamu katakan, tidak akan berhubungan denganku sebelum mendapat restu!”
“Baiklah!” Elena hanya menganggukkan kepalanya.
Mereka masih sama-sama diam di dalam mobil padahal mereka sudah sampai di basemen kantor El Sunshine. Setelah sekian terdiam, Elena mengeluarkan kata dari mulutnya. “Aku pergi dulu.”
“Ya,” jawab Elena.
Setelah itu Elena keluar dari mobil, begitupula dengan Merrik yang ikut keluar namun arah mereka berbeda, Elena pergi masuk ke dalam perusahaan sedangkan Merrik beralih ke mobilnya yang memang sudah ada terparkir di basemen perusahaan. Merrik melajukan mobilnya kesuatu tempat, berkendara dengan sangat hati-hati karena pikirannya sedang berkelana mencari jalan keluar dari permasalahannya.
Tibalah ia di tempat tujuan, mengetuk pintu dan menunggu di bukakan pintu oleh sang pemilik, setelah ketukan ketiga, pintu terbuka. “Siang,” ucap Merrik saat pintu telah terbuka dan disambut oleh pemilik rumah.
...***...
Merrik menepati janjinya pada Elena bahwa ia tidak akan menghubungi atau menemuinya. Ada rasa jengkel di hati Elena, mengapa menelpon pun tidak, selama beberapa hari ini waktu Elena hanya dihabiskan untuk masalah pekerjaan. Setelah pulang kerja ia akan kembali ke apartemen, menghabiskan waktu sendiri di dalam apartemennya, sering kali rasa rindu melanda hatinya. Hari jum’at pun tiba, waktunya Elena kembali ke rumahnya. Dia mengendarai mobilnya sendiri, dengan lelah masuk kedalam rumah, dia ingin cepat bertemu Melena, setidaknya saat melihat Melena akan mengurangi rasa lelahnya, terlebih lagi dia tidak bertemu Merrik beberapa hari ini yang membuatnya jengkel.
Elena mendengar suara Melena yang ada di kamarnya, sedang tertawa renyah, dia mendekati kamar anaknya, tawa Melena tidak sendiri, ada seseorang yang ikut tertawa bersama dengan putrinya. Perlahan Elena membuka pintu kamar Melena, ia terkejut di dalam kamarnya ada Merrik yang sedang bermain dengan Melena di atas kasur. “Kamu?” ucap Elena terkejut.
__ADS_1
“Sudah pulang?” tanya Merrik balik.
“Mommy sudah pulang? Kenapa lama sekali baru pulang? Tidak seperti Daddy yang menemani Melena setiap hari!” protes Melena.
“Setiap hari?” tanya Elena.
“Iya, Daddy tinggal di sini sudah beberapa hari!” ucap Melena jujur.
Elena hanya melebarkan matanya, menatap Merrik tidak percaya, tidak menduga hal ini terjadi dan yang ditatap hanya memberi senyum penuh kebanggaan.
...💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖...
Jangan lupa untuk like, love, vote n giftnya yach… 💖👍🌹
Jangan lupa untuk komentarnya.. 😊
Jangan segan memberi saran Age yach… 😁
Semoga kita semua dalam keadaan sehat..🙏
Salam Age Nairie 🥰😘😘😘
Cus kepoin novel temen Age di bawah ini 👇
__ADS_1