Kamuflase Cinta Sang CEO

Kamuflase Cinta Sang CEO
BAB 26 Rasa ini akan kusimpan seumur hidupku


__ADS_3

Elena kembali ke unit apartemen, dalam perjalanan dia selalu meyakinkan dirinya bahwa Merrik mencintainya. Memasuki lift menuju lantai unit apartemennya. Sampailah, tiba di lantai tujuan, langkah Elena terhenti sebelum tiba di depan pintu apartemen Merrik, dia melihat orang tua Merrik dan bersembunyi di balik dinding. Bukan tidak ingin bertemu dengan kedua orang tua Merrik. Namun, lebih karena dia merasa tidak baik bertemu dengan orang tua Merrik dalam keadaan kacau seperti sekarang.


Elena menyadarkan punggungnya di balik dinding, berencana tidak akan menampakkan dirinya sampai kedua orang tua Merrik pergi. Namun, kenyataannya dia harus menerima sesuatu yang menyakitkan. Semua percakapan Merrik dan kedua orangtuanya terdengar sangat jelas di telinga Elena, hingga sampai akhirnya Merrik mengatakan bahwa dirinya hanyalah seorang jallang peliharaannya.


Elena langsung menampakan dirinya, ingin memastikan bahwa dia salah mendengar. Pasti dia salah mendengar! Itu yang dia paksa untuk mempercayainya. Dengan jiwa yang labil dan tergesa, langsung menghampiri Merrik tanpa pikir panjang.


"Apa yang Kakak bilang tadi bohong 'kan?" tanya Elena dengan mata yang membengkak dan berurai air mata. Baru juga meyakinkan dirinya bahwa Merrik tulus mencintainya namun kenyataannya tidak sesuai dengan harapannya.


Merrik cukup terkejut melihat kedatangan Elena namun dia masih menampilkan mimik wajah yang tenang, ingin terlihat bahwa apa yang di dikatakannya benar adanya. Ingin melihat wajah kecewa Ayahnya, ingin juga merendahkan Rose serendah-rendahnya. Meskipun itu harus menyakiti Elena.


Elena mendekatinya, menyentuh lengan Merrik. Mata bengkaknya menandakan betapa pilu kesedihannya. "Kak, kumohon katakan sesuatu, tolong jangan diam saja. Katakan kau mencintaiku!"


"Aku tidak akan berbohong lagi padamu, aku tidak pernah mencintaimu, semua yang kamu dengar benar adanya." Semua perkataan yang Merrik ucapkan tanpa melihat mata Elena. Dia tidak ingin terlihat lemah saat ini.


"Hiks ... Kakak berbohong ... Hiks ... Aku mencintaimu Kak!" Pernyataan cinta yang diucapkan lebih condong pada permohonan. Elena menangis layaknya seorang remaja yang memang belum tumbuh dewasa. Isak tangis disertai sesenggukan membuat Merrik mulai melemah, ingin sekali dia memeluk erat tubuh Elena, menghapus air mata yang tak henti. Memasukan gadis kecil ini ke dalam jiwanya. Namun, egonya mengalahkan rasa cintanya. Rasa ingin menyakiti Ayah dan juga Ibu sambungnya lebih berarti dari isak Elena.


"Aku akan melepasmu. Kau bebas sekarang! Kau bisa mencari pria yang lebih kaya dariku."


Elena menggelengkan kepalanya, hingga sulit terucap satu katapun, sangat ingin menyangkal dengan apa yang terjadi hari ini. Kemiskinan hidup yang dilaluinya tidak pernah sesakit apa yang dia rasakan hari ini. "Cukup! Kamu menyakitinya!" ujar Ricci


"Itu balasan yang pantas untuk seorang wanita yang hanya mengejar kekayaan!" ucap Merrik yang sebenarnya lebih tertuju pada Rose. Namun, sekarang posisinya ada Elena di depannya. Beruntung kondisi sepi, sehingga tidak menjadi tontonan layaknya sebuah drama keluarga.

__ADS_1


Elena melepas tangannya pada Merrik, mengeluarkan pil KB dari kantung bajunya. Meletakan di atas telapak tangan Merrik. "Terimakasih atas perlakuan baik Kakak selama ini, rasa ini akan ku simpan seumur hidupku. Terimakasih juga atas pil pencegah kehamilan ini ..." Elena menghisap hidungnya karena isak tangis masih menguasai. "Apa yang Kakak lakukan memang sudah terencana dengan baik. Selamat, Kakak berhasil!" Menatap sejenak mata Merrik lalu berbalik badan untuk menghilang dari jangkauan pandangan Merrik.


Bibir Merrik bergetar, Apakah benar dia akan kehilangan gadis ini? Bisakah? Sanggupkah? Elena beranjak pergi meninggalkan tempat yang selama ini menjadi penjaranya.


Rose dan Ricci melihat seorang gadis yang begitu rapuh karena terluka, mereka tidak tega dengan gadis itu. "Elena kamu mau kemana?" tanya Rose.


Elena menoleh sedikit ke arah suara yang memanggilnya. "Aku akan kembali ketempat seharusnya aku berada."


"Ikutlah dengan kami," ujar Ricci. Dia merasa harus bertanggung jawab atas tindakan dari putranya. Ricci bisa melihat bahwa Elena hanyalah gadis baik-baik yang terlalu lugu.


"Tidak, kehidupan di kota tidak cocok untukku, aku ingin kembali ke kehidupanku yang dulu." Setelah berucap Elena pergi tanpa menoleh, dia sudah bertekad untuk menjauh dari kehidupan Merrik. Meskipun telah mengetahui Merrik telah menipu dirinya, di dalam hati Elena masih tersimpan rasa cinta untuk Merrik yang kini bercampur rasa kecewa yang sangat besar.


Ricci dan Rose melihat kepergian Elena dengan rasa luka, Elena menghilang dari pandangan mereka. Rose melangkah ke hadapan Merrik. "Cepat bawa dia kembali Merrik!"


"Aku tau, sebenarnya perkataanmu itu tertuju padaku. Dia tidak bersalah Merrik, kenapa kamu begitu kejam!" Rose mengambil pil KB dari tangan Merrik. "Kau tidak hanya mempermainkan hatinya tapi meracuninya Merrik."


"Aku kejam? Lalu apa dirimu? Seharusnya kamu pergi menjauh dari dunia ini!" Setelah berkata dia masuk ke dalam tanpa peduli orang tuanya berada diluar. Merrik tidak sanggup lagi berpura-pura, cinta, benci, kecewa, ego yang tinggi, gengsi semua bercampur aduk.


"Merrik! Buka pintunya, kita harus bicara!" Ricci terus menggedor pintu, namun Merrik tidak ada niatan membuka pintu.


"Sebaiknya kita pergi dulu, besok kita kembali lagi. Apa kau siap memberitahu Merrik yang sesungguhnya?" Rose menyentuh lengan Ricci untuk menenangkannya. Mereka pergi meninggalkan apartemen Merrik.

__ADS_1


Merrik termenung di balkon, di matanya hanya ada bayangan Elena. Mengambil benda pipih berwarna hitam untuk menghubungi Dion. "Hallo bos." Sapa Dion setelah mengetahui yang menelpon adalah bosnya.


"Cari Elena, jangan membuatnya terkejut, lindungi dia diam-diam." Setelah berkata Merrik menutup teleponnya. Hanya itu yang bisa ia lakukan, tidak bisa kembali padanya setidaknya dia memberikan perlindungan pada Elena.


Elena menaiki bus menuju desanya, rumah Nenek yang sederhana namun sangat nyaman dirasakan oleh Elena. Kelenjar air mata Elena masih terus berproduksi seakan dibanjiri oleh pesanan pelanggan di hari raya. Hingga sampailah di rumah neneknya. Setelah masuk dalam ruangan, air mata bukannya berhenti melainkan semakin deras mengalir, Elena sudah tidak menahan tangisnya, dia menangis dengan suara yang cukup keras, mencoba untuk meringankan sesak di hatinya. Dia teringat kembali masa-masa awal bertemu dengan Merrik.


Seharusnya dia tau, awal mereka bertemu Merrik sudah berniat tidak baik padanya. Seandainya waktu bisa berputar dia akan menempuh jalur hukum saat Merrik mencoba menodainya, atau seharusnya dia tidak mendekati Merrik saat melihatnya terkapar di tanah atau mungkin seharusnya dia tidak datang ke hutan pada hari itu.


Di sekian banyak kata seharusnya, sudah tidak dapat merubah keadaan. Kata seharusnya sudahlah tidak berarti lagi, hanya menjadi untaian kata pengandaian.


Hatinya sudah hancur dan meninggalkan rasa sakit yang membekas seumur hidup. Awal mencintai seorang pria yang dibalas dengan sebuah kebohongan. Dia yang terlalu bodoh? Atau Merrik yang terlalu cerdik dalam berkamuflase?


Siapa yang tidak tertipu jika selama ini di perlakukan dengan baik! Bagaikan sebuah keindahan pelangi di pagi hari setelah hujan, begitu nyata terpampang namun kenyataannya hanyalah sebuah bias yang tidak bisa di sentuh.


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


Jangan lupa like,love,vote,bunga dan juga komentarnya... Age sangat menerima kritik dan sarannya 🙏🙏🙏


Terima kasih masih setia membaca kisah Merrik dan Elena, Age juga sedang berusaha untuk bisa up lebih sering, tapi Age juga harus menjaga alur cerita agar tidak melenceng, tidak mau buat alur yang diluar konteks hanya demi memperpanjang BAB. Dimohon pengertiannya 🙏


Oh ya, bagi yang belum baca novel pertama Age si SAMUDRA NAYNA boleh donk di tengok dan yang sudah membaca, Age ucapkan terima kasih 😘😘

__ADS_1


Semua komentar yang masuk sangat membangun, selama menulis selalu mendapat reader yang baik-baik dan mendukung, lope-lope yang tak terhingga buat kalian para readers ❤️❤️❤️❤️❤️❤️



__ADS_2