
Entah mengapa ada perasaan tidak enak dihati Arka, dia terus berjalan menuju ke kerumunan. Ingin sekali dia berlari namun langkah kakinya mengapa sangat berat, tangannya mulai bergetar. Hingga tibalah dia di tempat kerumunan, lutut Arka semakin melemas saat melihat jas dokter yang terkena darah. Semua Arka lihat dari sela kaki para orang yang berkerumun, tidak lama Arka luruh berlutut. “Aisley!” teriak Arka. Dia langsung mengangkat kepala Aisley kepangkuannya, air mata Arka mengalir tanpa sadar. Tidak peduli dengan pria tidak boleh menangis. “Sayang, bangunlah!” ucap Arka bergetar.
Ambulance datang dan membawa Aisley ke rumah sakit, Arka ikut beranjak dan ikut masuk ke dalam ambulance. “Anda siapa?” tanya seorang perawat.
“Aku suaminya!” ujar Arka.
Mereka tiba dirumah sakit Aisley berdinas karena memang lokasi kejadian tidak jauh dari rumah sakit. Arka selalu menemani Aisley yang tidak sadarkan diri. Aisley langsung ditangani oleh para dokter begitu tiba di rumah sakit.
...****...
Arka memegang tangan Aisley yang terbaring lemah, air mata Arka sudah mulai mengering. Namun, kesedihan masih merundungnya. Kenyataan pahit harus diterimanya, baru kemarin dia mengetahui bahwa Aisley hamil anaknya dan kini harus menerima kenyataan bahwa dia kehilangan anak mereka.
Aisley masih terbaring lemah, dia kembali tak sadarkan diri saat mengetahui bahwa dirinya keguguran, kehamilannya memang merupakan awal dari kesalahan. Namun, bayi itu tidak bersalah, mereka mengharapkan kehadiran calon bayi namun takdir tidak berpihak pada mereka.
Perlahan Aisley menggerakkan tangannya, kesadarannya mulai kembali, rasa sedih kembali mengisi hatinya, matanya menangkap Arka yang sedang menunduk sambil memegang tangannya. Arka merasakan pergerakkan, dia mendongakkan kepalanya, melihat mata Aisley yang terbuka sedang menatapnya. “Kau sudah sadar?”
“Pergilah!” lirih Aisley.
Arka hanya menggelengkan kepalanya. Dia tetap menggenggam tangan Aisley dengan erat seolah Aisley bisa kabur kapan saja. “Aku tidak akan pergi, aku akan selalu di sampingmu!”
Aisley menarik tangannya untuk melepas dari Arka namun tenaganya masih belum terkumpul. Ingin rasanya berdebat dengan lelaki yang sedang menunduk ini. Namun, diurungkan karena diri sendiri masih lemah.
Akhirnya Aisley memilih untuk diam, memejamkan matanya. Merutuki kebodohannya yang menyebrang jalan sembarangan tanpa melihat situasi, memang bukan sepenuhnya kesalahannya, sopir bus juga sedang terpengaruh alkohol dan sudah ditindak oleh pihak berwajib. Namun, jika saja dirinya lebih berhati-hati mungkin dia bisa menghindar dari kecelakaan itu.
Hari-hari terus berlanjut, Arka setia menemani Aisley di rumah sakit, beruntung tidak ada cedera berat lainnya. Aisley selalu menolak makanan dari Arka. “Makanlah dulu,” bujuk Arka.
“Pergilah!” ucap Aisley.
“Baiklah.” Arka menaruh makanan di meja dan meninggalkan Aisley dikamar.
Setelah Arka keluar, Aisley mengambil makanan tersebut, tangan kanannya diinfus sehingga harus menggunakan tangan kirinya untuk makan. Dia bukan orang kidal sehingga menyulitkan dirinya menggunakan sendok dengan tangan kirinya. Namun, Aisley terus berusaha memakan makanannya disertai dengan air mata yang mengalir. Meminta Arka pergi, lelaki itu langsung pergi, hatinya begitu sakit.
__ADS_1
Arka tidak pergi, melihat dari kaca di pintu, melihat gadisnya kesulitan mengambil makanannya sambil berurai air mata. “Apakah nasinya menjadi lebih enak jika dicampur air mata?” tanya Arka yang tiba-tiba masuk kedalam kamar.
“Kenapa masih di sini?” tanya Aisley menoleh.
“Sudah ku bilang aku tidak akan pergi.” Arka mengambil sendok Aisley dan mulai mengambil alih untuk menyuapinya. “Buka mulutmu.” Aisley malah menutup rapat mulutnya. “Setidaknya kamu harus kuat untuk memakiku!”
...***...
Selama seminggu dirawat, akhirnya Aisley diizinkan pulang dari rumah sakit. Keluarga mereka tidak ada yang tahu tentang kehamilan dan kecelakaan yang dialami oleh Aisley, semua itu permintaan dari Aisley sendiri. “Aku bisa pulang sendiri!”
“Biar ku antar!” tegas Arka.
Selama Arka menjaga Aisley di rumah sakit, tidak ada obrolan yang berarti, hingga mereka sampai di apartemen pun masih didominasi oleh keheningan. Mereka seperti hidup di dunia jika bicara dikenakan biaya sehingga berhemat untuk mengeluarkan kata. Aisely masuk ke dalam apartemennya. “Pulanglah!”
“Tolong beri aku kesempatan?” pinta Arka.
“Kesempatan apa?” tanya Aisley.
“Kesempatan memperbaiki segalanya.”
“Aisley, aku mohon menikahlah denganku!” mohon Arka.
Aisley hanya tertawa mendengar permintaan Arka untuk menikah. “Kemarin kamu memintaku menikah karena rasa tanggung jawab karena aku hamil, sekarang kamu memintaku menikah apakah karena rasa bersalah?” cecar Aisley.
“Aku tahu aku salah, aku tahu aku terlambat menyadari. Sekarang aku yakin akan perasaanku padamu, bahwa aku mencintaimu!” ucap Arka.
“Sudahlah.” Aisley memijat keningnya. “Lebih baik kita tidak bertemu lagi.” Aisley tidak percaya akan pernyataan cinta Arka padanya, dia yakin Arka mengatakan itu hanya karena rasa bersalah.
“Sayang, aku serius!” tegas Arka.
Kata sayang yang terlontar dari mulut Arka akan sangat membahagiakan jika itu dikatakan sebulan yang lalu, namun kata sayang yang saat ini terlontar lebih bermakna ke kasihan bagi Aisley. Dia sudah mulai merelakan Arka, dia pun tidak ingin mengikat pria hanya dengan rasa kasian. “Arka, aku mohon padamu untuk pergi dari hadapanku, anggaplah tidak pernah mengenalku!”
__ADS_1
Aisley mendorong Arka keluar dan menutup pintu. “Aisley, kumohon buka pintunya!” gedor Arka.
Aisley tetap tidak membuka pintu tersebut, memutuskan untuk melupakan Arka. Keesok harinya, Aisley kembali ke rutinitasnya menjadi dokter, mengabdikan dirinya kepada pasien, tidak ada Arka yang mengganggunya satu hari ini. Hingga di tengah malam, tetangga di depan apartemennya melakukan renovasi, begitu sangat mengganggu karena suara yang sangat bising. Suara bor dan alat pertukangan lainnya terdengar, di pagi hari barang-barang baru mulai dimasukkan ke dalam apartemen di depan Aisley. “Sepertinya orang kaya yang akan menjadi tetangga baruku!” gumam Aisely melihat perabotan yang dimasukkan kedalam apartemen itu begitu mewah.
“Aisley, kamu tetap mendaftar untuk menjadi relawan?” tanya Arsenio.
“Ya,” jawab Aisley.
“Bukannya kau akan menikah?” pancing Arsenio. Selama Aisely kembali ke rumah sakit, dia tidak pernah melihat pria yang mengaku sebagai tunangan Aisley.
“Batal!”
“Oh.”
“Kenapa? Kamu pasti menganggapku wanita liar bukan? Hamil diluar nikah dan gagal menikah!” tutur Aisley. Dia tidak peduli dengan omongan orang lain, dia pun tahu bahwa dirinya menjadi pergunjingan karena kasus kehamilan diluar nikahnya.
“Tidak, aku tidak pernah menganggapmu seperti itu,” ucap Arsenio dengan penuh senyum.
Pasien cukup banyak hari ini, Aisley dengan lelah pulang ke apartemennya, saat dia keluar dari lift ke lantai unit apartemennya berada, lift disebelahnya pun terbuka, dia melihat pria yang sudah dua hari ini tak dilihatnya. “Kenapa kamu di sini?” tanya Aisley sarkas.
“Apartemen ini bukan milikmu saja!” ujar Arka berjalan mendahuluinya, berjalan ke arah unit apartemen Aisley.
“Hei, apa maksudmu? Siapa yang mengijinkanmu ke apartemenku ….” Ucapan Aisley terhenti saat melihat Arka membuka unit apartemen di depan unit apartemennya.
...🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️...
...Terimakasih masih setia dengan kisah Arka dan Aisley.🙏🙏🙏...
...Jangan lupa like, love, gift dan komentarnya yach 😊...
...Jangan lupa untuk mampir juga ke Backstreet dan Samudra Nayna 😁🥰🥰...
__ADS_1
...Salam Age Nairie 🥰🥰🥰🥰...
...Salam sehat semua 😊😊😊🥰🥰🥰...