Kamuflase Cinta Sang CEO

Kamuflase Cinta Sang CEO
BAB 45 Tempat Konseling Happiness 2


__ADS_3

Setelah tidak berhasil mendapat informasi di tempat konseling, Elena menggunakan hari minggunya untuk merancang satu set perhiasan untuk nantinya diserahkan kepada Merrik untuk produk baru.


Hari senin tiba, Elena sengaja datang lebih cepat untuk menyelesaikan rancangannya, sebelumnya dia harus diskusi terlebih dahulu pada timnya, karena setiap perancang memiliki gaya masing-masing dalam berkarya.


“Daniar, bisa kita meeting kecil sebentar bersama para perancang lainnya?” tanya Elena.


“Tentu.”


Para perancang sedang berkolaborasi menyempurnakan rancangan mereka untuk produk baru. Setelah mendapat hasil. Elena pergi untuk menemui Merrik.


“Pagi, Pak. Saya membawa rancangan untuk produk baru.” Elena meletakan hasil rancangan di atas meja kerja Merrik.


“Selesai lebih cepat dari yang dijadwalkan,” ucap Merrik.


“Iya, kami mengusahakan mempercepat rancangan agar bisa masuk proses produksi.”


Merrik melihat design dari para designer, melihat satu set perhiasan dengan kalung tema kepalsuan harapan milik Elena. “Akhirnya kamu menggunakan kalung ini?”


“Ya, seperti yang Bapak katakan, memintaku untuk memikirkan kalung tersebut untuk bisa dikenal lebih banyak orang. Aku rasa tidak ada salahnya memasarkan kalung tersebut. Hanya saja, aku takut tidak akan ada yang membeli jika mengetahui tema dari perhiasan tersebut.”


“Kenapa?” tanya Merrik.


“Biasanya perhiasan digunakan oleh wanita, selain karena modelnya yang cantik tetapi juga karena memiliki makna khusus dari perhiasan itu. Bisa karena orang yang memberikan adalah orang yang spesial atau juga karena makna dari sang perancang yang membuat dengan harapan-harapan.” Elena menghembuskan nafasnya pelan dan melanjutkan perkataannya. “Tema kalung ini adalah kepalsuan harapan. Saya rasa, setiap orang ingin memiliki cinta yang abadi dan bukanlah suatu kepalsuan cinta dengan berbalut harapan-harapan yang tidak menjadi nyata. Bahkan ada beberapa perhiasan yang memiliki mitos jika menggunakannya maka cinta mereka akan abadi. Aku hanya takut kalung ini pun akan menjadi sebuah kutukan yang membuat orang yang menggunakannya hanya mendapat kepalsuan cinta dari pasangannya.”


“Tidak ada yang namanya barang kutukan!” Tegas Merrik. Perkataan Elena seperti tertuju padanya.


“Ya, mungkin Anda benar. Namun, terkadang sugesti lah yang menjadi kutukan pada diri sendiri. Yang seharusnya berjalan normal, karena adanya sugesti yang buruk maka akan berjalan menjadi tidak baik. Jika sudah mengetahui bahwa tema dari perhiasan ini adalah kepalsuan harapan dan masih tetap menggunakannya, lalu terbangun stigma bahwa perhiasan tersebut adalah sebuah kutukan maka secara otomatis akan mempengaruhi psikis yang menggunakannya.”


“Kepalsuan bukan berarti suatu keburukan, bahkan aku pernah mendengar kebohongan untuk kebaikan.”


“Kejujuran yang pahit lebih baik daripada satu titik kebohongan.” Jelas Elena.


“Aku rasa tergantung konteksnya sendiri. Seperti yang kamu bilang, kalung ini indah tampak depan namun jika kita lihat di belakang tidak sehalus yang terlihat dari depan. Ini memang sesuai dengan tema. Bisa dikatakan usaha keras di belakang untuk menampilkan ke indahan di depan. Biarkan orang lain hanya melihat sisi keindahannya. Namun sisi buruk di belakang tertutupi oleh sisi yang indah tersebut,” jelas Merrik.

__ADS_1


Elena diam, tidak ingin melanjutkan bahasan kepalsuan dan kejujuran. Dia hanya ingin menyelesaikan tugasnya. Merrik masih terus melihat draft yang diberikan oleh Elena. “Aku sudah setuju dengan design ini. Hanya tinggal kalian sempurnakan saja beberapa part-nya. Antingnya perlu dibuat lebih sederhana agar tampak sesuai dengan kalung dan cincinnya.”


“Baik, kami akan secepatnya menyelesaikan rancangan.”


“Kamu sudah boleh pergi.”


“Saya permisi.” Elena pergi meninggalkan ruangan Merrik dan menuju ke ruangannya. Membuat meeting kecil lagi untuk menyempurnakan rancangan mereka. Tidak terasa jarum jam menunjukan pukul 12 siang. Elena berencana untuk pergi mencari tau apa yang Merrik sembunyikan. Ya, dia yakin Merrik menyembunyikan sesuatu padanya. Pasti ada hal yang tidak bisa Merrik katakan padanya.


Elena telah memikirkan matang-matang. Seharusnya ia tidak gegabah saat itu, sebelum terjadi kecelakaan, Merrik sangat antusias dengan rencana pesta pernikahan mereka. Pada saat setelah terjadi kecelakaan pun mereka masih baik-baik saja. Namun setelah pemeriksaan menyeluruh, sikap Merrik berubah padanya. Elena baru terpikirkan sekarang. Apakah dirinya dibuang atau sengaja dilepaskan?


Elena harus segera menyelesaikan urusannya dengan Merrik, meskipun sudah tidak mungkin bersama setidaknya harus berpisah dengan jelas. Elena mencoba menanyakan tentang Merrik pada rekan kerja yang sudah terlebih dulu bekerja di El Sunshine. Namun hasilnya nihil, mereka benar-benar hanya mengetahui bahwa Merrik telah menikah, selebihnya tidak ada hal lainnya. Elena harus mencari tau sendiri, bahkan Dion pun tidak mengetahui apapun tentang Merrik.


Elena berdiri di depan lift, teleponnya berbunyi, Dion menghubunginya.


“Elena, aku mendapat informasi bahwa setiap dua minggu sekali pada hari sabtu. Merrik pergi ke tempat konseling."


“Sudah berapa lama Merrik menjalani konseling?” tanya Elena.


“Apa yang terjadi hingga konseling?”


“Tidak mendapat informasi apapun, klinik tersebut sangat menjaga privasi pasiennya. Aku hanya tau Merrik sempat mengalami depresi.”


“De—presi?”


“Ya.”


“Baiklah.” Elena menutup teleponnya. Dibelakang terdengar suara Lala.


“Jangan memasuki urusan pribadi orang lain. Meskipun kamu mantan istrinya kamu sudah tidak berhak lagi mencampuri urusannya. Jangan mencari tahu apapun.”


Elena membalikan tubuhnya, “Kalau begitu apa hak-mu berkata seperti itu padaku?”


Merasa terganggu dengan gadis di depannya. Gadis yang menurutnya tak punya kepentingan.

__ADS_1


“Aku adalah satu-satunya orang yang mengerti kehidupannya selama beberapa tahun ini. Aku yang berada di sisinya selama ini. Nona Elena, tolong jangan mencoba masuk ke dalam kehidupan Direktur Bastian lagi, karena rasa penasaranmu sangat mungkin membuatnya lebih menderita lagi.”


“Kenapa aku membuatnya menderita?” tanya Elena menaikan sebelah alis.


“Aku tidak bisa memberitahu banyak hal padamu, aku hanya ingin memperingatkanmu. Jika tidak ingin melihatnya menderita maka jauhi dia.”


“Kamu tidak tau apapun tentang kami! Kamu hanyalah pihak luar yang tidak sengaja masuk kedalam kehidupan Merrik!” Setelah berkata Elena pergi meninggalkan Lala.


Dengan percaya diri mengatakan Lala hanyalah orang luar yang tidak sengaja masuk kedalam kehidupan Merrik. Seolah Elena lah yang masih menjadi hal terpenting untuk Merrik.


Elena ijin keluar kantor menuju tempat konseling harapan. Sepanjang perjalanan memikirkan perkataan Lala tentang dirinya yang akan menjadi penderitaan Merrik. Hal itu semakin membuat Elena penasaran.


Sampailah di tempat tujuan, Elena membuka pintu. Didalam terdapat ruangan tidak terlalu besar maupun kecil, hanya perasaan nyaman di dalamnya, suasananya cukup sepi tidak ada orang didalamnya. Ada lemari buku dibelakang meja kerja, kemungkinan tersimpan riwayat para pasien. “Ada yang bisa dibantu?” Tiba-tiba terdengar suara dibelakangnya.


Elena pun menarik nafas, dia sedikit terkejut tiba-tiba mendengar suara di belakangnya dan berkata, “Apakah ada pasien bernama Merrik Sebastian Harvey?”


Seorang pria paruh baya tersebut terdiam, dan bertanya, “Untuk apa kamu ingin tau masalah ini?”


“Tolong beritahu aku, ini sangat penting untukku!” ucap Elena memelas.


“Iya, memang ada pasien ini.”


“Apa penyakitnya?” Elena tidak sabar untuk bertanya.


“Maaf, ini adalah privasi pasien, kami tidak bisa memberitahukan kepada Anda.”


“Dokter, tolong beritahu aku,” mohon Elena.


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


...Jangan lupa like, love,vote, gift nya.. Di tunggu komentarnya 😊😊...


...Salam Age Nairie 🥰🥰🥰🥰😘😘😘😘...

__ADS_1


__ADS_2