
Steven masuk ke dalam kamar Elena, pintu kamar yang sedikit terbuka membuatnya menatap anaknya yang sedang melamun menatap keluar jendela. Steven mencoba mendekatinya. "Eleanor." Panggil Steven.
Elena menoleh. "Ya, Dad."
Steven duduk di samping Elena. "Merrik masih ada di depan gerbang, dari kemarin tidak meninggalkan rumah ini."
Elena menoleh, teringat semalam hujan lebat. "Dari kemarin tidak pulang?" tanya Elena.
Steven hanya menganggukkan kepalanya. "Apa keputusanmu? Memaafkannya atau melepaskannya?"
Elena terdiam, bimbang harus memilih memaafkan atau melupakannya. Dia masih sangat mencintai Merrik tapi juga membencinya. Tanpa sadar mengelus perutnya. Teringat janin di dalam perutnya.
Steven melihat Elena tidak berbicara. "Kamu pikirkan dulu, aku akan menyuruhnya pulang. Jika sudah ada jawaban beritahu Daddy." Tanpa menunggu jawaban Elena, Steven meninggalkan kamar Elena menuju pintu gerbang. Steven melihat Merrik yang masih berdiri dengan wajah yang pucat. "Merrik!" Panggil Steven.
Merrik menoleh. "Om."
"Pulanglah!"
"Aku ingin bertemu Elena. Aku tidak akan pulang sebelum bertemu dengannya."
"Kamu ingin bertemu dengannya seperti ini?" Steven menunjuk Merrik dengan dagunya.
"Maksud Om, aku diperbolehkan bertemu dengan Elena?" tanya Merrik tidak percaya.
"Aku tidak bilang seperti itu! Tapi, El sedang mempertimbangkannya. Aktifkan saja ponselmu, jika dia bersedia menemui mu, dia akan menghubungimu. Sekarang pulanglah!" Steven berbalik dan meninggalkan Merrik sendiri. Berpikir apakah tindakan yang dia lakukan benar adanya. Dia akan memberikan keputusan mutlak di tangan Elena. Namun, jika Merrik menyakiti Elena lagi dia pasti tidak akan pernah memaafkan nya.
Merrik berlari menuju hotel tempat dia menginap, mengambil charger ponselnya dan mengisi baterai ponselnya. Dia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, memesan makanan untuk mengembalikan staminanya. Dia terlalu bahagia mendapat kabar Elena akan mempertimbangkan hubungan mereka.
...*********...
"Dari mana saja?" tanya Amel saat melihat Steven masuk.
"Menemui Merrik."
"Untuk apa menemuinya?"
__ADS_1
"Menyuruhnya pulang."
"Terus dia mau?"
"Aku bilang, jika El akan mempertimbangkan hubungan mereka."
"Tidak bisa! Aku tidak ingin El kembali padanya! Sayang, cepat kita pergi menjauh dari pria itu! Aku tidak mau El menderita lagi, anak kita terlalu polos!" Amel tetap pada pendiriannya untuk tidak menerima Merrik.
"Amel, kita sudah pernah gagal melindungi El. Dia hidup tanpa kita selama belasan tahun, selama itu, Eleanor tidak merasakan kasih sayang orangtuanya. Apa kamu ingin cucu kita juga mengalami sepeti yang El alami?" ucap Steven.
"Apa kamu lupa apa yang telah dilakukan pria itu pada El?" jelas Amel.
"Dari cerita El, Merrik tidak pernah melakukan kekerasan fisik padanya."
"Tapi kamu harus ingat, dia meracuni anak kita! Dia memperlakukan anak kita hidup bagai di penjara."
Steven terdiam. "Bagaimana jika kita minta El yang memutuskannya saja."
"Tidak perlu minta El yang putuskan! El itu lugu, dia bisa di bohongi oleh pria brengsek itu. Aku tidak mau tau, kita harus pergi secepatnya!" Keputusan Amel sudah bulat untuk menjauhkan Merrik dari Elena. Dia sangat membenci Merrik. Bahkan untuk menyebut namanya saja Amel tidak sudi.
"Kamu sudah siap?" tanya Amel pada Elena.
"Berapa lama kita akan tinggal di Australia?" tanya Elena.
"Kita akan menetap di sana dan tidak kembali lagi ke sini."
Elena hanya menunduk, matanya mulai berkaca-kaca. Tidak tau apakah keputusannya benar atau tidak. "Kuatkan dirimu, Mommy janji akan membuatmu dan anakmu bahagia." Tegas Amel.
Steven melihat anak dan istrinya. "Sudah siap?"
"Ya," ucap Amel.
Mereka masuk ke dalam mobil, sang sopir melajukan mobil nya menuju bandara. Steven duduk di samping sopir, Elena dan Amel ada di kursi penumpang belakang.
Merrik masih setia menunggu di depan gerbang. Melihat pintu gerbang terbuka, Semakin dekat mobil berjalan menuju keluar. Mencoba menerka siapa orang yang ada di dalam mobil. Saat mobil melewatinya, tepat saat Elena bertatapan dengan Merrik. Merrik langsung reflek mendekat pada mobil. Memukul kaca mobil dan meneriakkan nama Elena. "Elena, kita harus bicara, keluarlah!" Mobil terus berjalan melambat.
__ADS_1
"Apa aku harus berhenti, Tuan?" tanya sang sopir pada Steven.
"Lanjut saja!" Amel menggantikan Steven menjawab pertanyaan sang Sopir.
Elena melihat dari kaca spion yang menampakan Merrik mengejar mobilnya. Elena meneteskan air matanya lagi.
Merrik berhenti berteriak, dia masuk ke dalam mobilnya dan mulai mengikuti arah mobil Elena. Merrik mencoba menjaga jarak aman selama proses pengejaran. Hatinya mulai panik saat melihat mobil yang ia kejar menuju ke sebuah bandara. Hatinya tidak karuan, takut sesuatu yang buruk akan terjadi.
Elena beserta orangtuanya turun dari mobil dan mulai memasuki lobby bandara. Merrik berlari mengejar Elena. "Elena!" panggil Merrik dengan nafas yang memburu.
Setelah mendengar namanya dipanggil, Elena menoleh mencari sumber suara. Dia melihat Merrik sedang mengatur nafasnya. Kakinya maju selangkah, namun lengannya dicekal oleh Amel.
"Elena!" Panggil Merrik lagi, dia tidak akan membiarkan Elena pergi darinya. "Kumohon, dengar penjelasanku dulu!"
"Sudah tidak ada yang perlu di jelaskan lagi," ucap Elena.
"Tidak, banyak yang harus kamu dengar! Tolong dengarkan aku. Aku mencintaimu, jangan pergi!" ucap Merrik memelas.
"Jangan dengarkan dia, jika salah memilih keputusan, kamu akan menyesal!" ujar Amel menatap Elena.
"Dengar kan kata hatimu! Dia layak atau tidak dimaafkan." Tambah Steven.
"Pria jika sudah sekali berbohong maka akan ada kebohongan selanjutnya." Bisik Amel. Seperti sudah mengakar, Amel benar-benar menganggap Merrik sampah masyarakat dan tidak ingin Elena berhubungan dengannya lagi.
Elena mulai melangkahkan kakinya berbalik dan berniat meneruskan langkahnya menuju pintu masuk bandara. Langkahnya terhenti kembali saat Merrik meneriakkan namanya lagi.
Merrik terus memanggil namanya sampai Elena kembali menoleh pada nya. "Elena, jangan membohongi dirimu bahwa kamu mencintai ku. Jika kamu tidak mencintaiku maka kamu tidak akan memakai gelang itu!" ucap Merrik tegas, dia sangat yakin bisa meluluhkan hati Elena kembali.
Elena langsung terdiam, menyentuh gelang yang melekat pada tangan kirinya. Melihat ukiran nama Melena, nama untuk anak perempuan mereka. Perlahan Elena berbalik kembali menatap Merrik.
Ada senyum di wajah Merrik, dia mengangkat pergelangan tangannya, menunjukan bahwa ia juga memakai gelang yang serupa. Merrik berjalan perlahan mendekati Elena. "Tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku tau aku bersalah, tapi pernikahan itu nyata, banyak saksi yang mengetahui kita adalah pasangan suami istri." Merrik menatap penuh harap pada Elena dan bukan lagi tatapan mengintimidasi.
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
...Salam Age Nairie 🥰🥰🥰...
__ADS_1