
"Kak, katanya kita mau honeymoon?" protes Elena.
"Ini kita lagi honeymoon," ucap Merrik masih sibuk dengan kegiatannya.
"Apa bedanya dengan di rumah?" ucap Elena mendorong Merrik dari atas tubuhnya.
Dorongan Elena tidak membuat Merrik merubah posisi. "Kalau di rumah akan ada Melena yang menggangu kita."
Merrik beralih mencium wajah Elena. "Kita sudah tiga hari hanya di dalam kamar hotel! Aku mau jalan-jalan! Untuk apa jauh-jauh ke keluar negri tapi tidak menikmati."
"Bagiku honeymoon ya seperti ini," dengus Merrik.
"Dasar messum!" protes Elena.
"Kalau aku tidak mesum, kita tidak mungkin seperti sekarang." Elena bertanya dan Merrik menjawab namun tidak ada jawaban yang menyenangkan Elena.
"Bisakah kita jalan-jalan? Ke pantai Kak, kita sudah di Hawaii, untuk apa ke sini jika tidak ke pantai!" protes Elena mengangkat kepala Merrik dari dadanya.
"Baiklah, baiklah. Kita pergi siang ini, tapi satu ronde dulu ya."
Elena hanya bisa pasrah, namun Merrik menepati janjinya, membawa Elena ke pantai. "Mana baju renangku? Perasaan aku sudah memasukkan ke dalam tas!" gumam Elena membuka tas saat mereka sudah sampai pantai.
"Sudah aku keluarkan, kamu mau renang pakai bikini?"
"Memang mau pakai celana jeans untuk berenang!" protes Elena.
"Siapa yang mengizinkanmu berenang di tempat umum, kalau mau renang di rumah saja, aku sudah siapkan kolam renang untukmu."
Elena memutar bola matanya jengah, ke pantai tapi tidak boleh berenang. Untuk apa membawanya ke pantai. Namun, ia malas berdebat dengan Merrik, mereka hanya mengelilingi pantai dengan sesekali bermain pasir dan hanya bisa menikmati pemandangan.
Merrik menyadari kekecewaan Elena, dia memutuskan menyudahi honeymoon mereka di hawaii dan kembali lebih awal. Tidak ada protes dari Elena, dalam benaknya lebih baik pulang dan bermain dengan Melena dari pada honeymoon tapi tidak bebas melakukan apapun.
Namun saat tiba di bandara, sudah ada Dion yang menunggu mereka. "Mobilnya sudah siap?" tanya Merrik.
"Sudah, aku sudah siapkan sesuai dengan perintah mu," jawab Dion.
"Baik, terimakasih!" ucap Merrik.
Elena dan Merrik menaiki mobil, mata Elena mengedar, menyadari saat mobil Merrik tidak mengarah ke rumah mereka. "Kita mau ke mana, Kak?"
"Honeymoon," jawab Merrik santai dan terus melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Bukankah kita baru selesai honeymoon?" tanya Elena penuh kebingungan.
"Kita akan honeymoon yang sesungguhnya," ucap Merrik.
"Apa?"
"Kamu santai saja dulu, aku akan membawamu ke tempat yang indah."
Elena hanya menganggukkan kepalanya. "Oh ya Kak, apakah Kak Dion normal? Kenapa aku tidak pernah melihatnya dengan wanita?"
Merrik menatap sinis Elena. "Jangan bicarakan pria lain di depanku!"
"Aku hanya bertanya, dia itu 'kan temanmu. Aku kasihan jika dia menjadi perjaka tua."
"Memang kamu tahu dia perjaka atau tidak! Jangan bahas lagi, dua bulan lagi dia akan menikah."
Elena tidak bertanya apapun lagi, dia tahu suaminya pencemburu. Sampailah mereka di tempat tujuan, mereka tiba di sebuah desa. Elena membuka pintu mobil menghirup udara segar di desa tersebut. "Di sini ada penginapan?" tanya Elena.
"Kita tidak perlu penginapan," ucap Merrik, dia berjalan ke bagian belakang mobil dan membuka bagasi.
"Lalu, kita menginap di mana?"
"Sana!" ucap Merrik menunjuk gunung di depan mereka.
Merrik mengambil dua tas carrier dari bagasi dan memberikan pada Elena. "Pakai ini! Tubuhmu cukup kuat bukan untuk mendaki gunung, secara kamu besar di pegunungan."
Elena menerima tas tersebut. "Pantas Kak Dion ke bandara, ternyata sudah Kakak persiapkan! Kenapa tidak mendaki di desaku saja, setelah turun gunung kita bisa menginap di rumah nenekku."
"Ada yang ingin ku tunjukkan padamu, yang tidak ada di desamu itu."
"Baiklah, ayo berangkat."
Elena dan Merrik mulai melakukan pendakian, sepanjang jalan mereka mengobrol, terkadang Elena bernyanyi. Lagu dari Aron Pabio, penyanyi yang pernah membuat Merrik murka karena telah memeluk Elena. Namun, Merrik tidak mengetahui lagu siapa yang di nyanyikan oleh Elena sehingga tidak membuat Merrik cemburu.
Setelah melantunkan lagu Aron Pabio, Elena beralih ke lagu anak-anak, dia sering menemani Melena menonton film kartun sehingga secara tidak langsung banyak lagu anak-anak yang di hafalnya, saat ini dia melantunkan lagu Ninja Hatori. "Mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra, bersama teman bertualang ...." Nyanyian Elena terhenti saat Merrik bersuara.
"Hentikan!" titah Merrik dengan nada serius.
"Kenapa?" tanya Elena, dia mengambil ranting untuk pegangannya.
"Lagunya absurd!" ujar Merrik.
__ADS_1
"Absurd bagaimana?" tanya Elena bingung.
"Mendaki gunung lewati lembah! Benar-benar nggak jelas!"
"Bukankah sangat cocok dengan apa yang kita lakukan sekarang? Mendaki gunung!"
"Kenapa tidak sekalian mendaki gunung kembar," ucap Merrik santai, namun tidak sesantai hatinya, otaknya sudah travelling saat mendengar Elena bernyanyi.
Elena menyadari maksud perkataan Merrik, dia memukul lengan Merrik dengan ranting. "Benar-benar otak messum!" Setelah itu dia berjalan mendahului Merrik, tidak habis pikir mengapa memiliki suami super messum seperti itu.
Merrik hanya menatap punggung Elena yang berjalan mendahului nya. 'Sial! Kenapa ingin menerkamnya lagi?' batin Merrik.
Merrik memang memiliki gairah tinggi namun dia bukan tergolong hypers*ex yang tidak tahu akan waktu dan tempat untuk menyalurkan hasratnya. Merrik masih bisa melihat kondisi, tempat dan waktu. Saat gairah sedang tinggi namun jika Melena ingin bermain dengannya maka dia akan memilih bermain dengan Melena.
Mereka terus mendaki, diselingi oleh istirahat untuk mengisi perut, setelah itu melanjutkan perjalanan. Langkah Elena terhenti saat melihat pemandangan di depan matanya. "Indah sekali," gumam Elena.
Merrik berdiri di samping Elena. "Aku yakin kau pasti menyukai nya."
Elena menoleh pada Merrik. "Bagaimana kamu tahu tempat ini?"
"Aku pernah ke sini, dan teringat saat kamu meminta berenang di tempat umum." Merrik menatap danau kecil di depannya, sangat jernih dan indah. "Apa kamu ingat pertama kali aku mengajakmu menginap di hotel? Saat aku membawamu ikut dinas pekerjaan!" tutur Merrik.
Elena mencoba mengingat kenangan lama itu. "Ya, aku ingat."
"Aku berjanji mengajakmu ke hotel yang ada private pool bukan, namun sekarang kurasa tempat ini lebih private."
"Boleh aku renang?" pinta Elena. Dia tidak sabar untuk menceburkan diri ke dalam danau.
"Tentu, kamu bebas berenang di sini," ucap Merrik pasti. Dia tahu, tidak ada orang selain mereka di tempat itu. Memang masih sedikit yang tahu tempat ini namun bukan berarti tidak ada yang tahu, Merrik sudah mengatur orang untuk tidak ada pendaki lain melewati tempat dia dan Elena berada. Tentu, semua atas bantuan dari teman dekatnya, Dion.
Tanpa ragu Elena membuka pakaiannya dan hanya menyisakan two piece pakaian dalamnya. Dia langsung menceburkan dirinya ke dalan danau dan berenang, begitu pula dengan Merrik yang ikut menceburkan diri bersama Elena. "Apa kau bahagia?" tanya Merrik memeluk Elena di dalam danau.
Tbc
...💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖...
...Hai, ada yang kangen nggak dengan Merrik dan Elena.? Age tambahin Boncap untuk kisah Merrik dan Elena, maaf baru bisa kasih sekarang 🙏🙏🙏...
...Semoga suka 🥰🥰🥰 cuma cerita sederhana saja sih.....
^^^Salam Age Nairie.. 😘😘😘😘🥰🥰🥰🥰🥰^^^
__ADS_1
^^^Oh ya jangan lupa like n komennya yach, tetap simpan di rak buku untuk mengetahui notif boncap selanjutnya 😊😊😊😊^^^