
Amel tidak akan tinggal diam, saat pelayannya memberitahu bahwa Merrik datang, awal rencana yang seharusnya hanya Steven yang akan menghadapi Merrik tinggallah sebuah rencana. Amel akan memaki langsung pria brengsek yang merusak anaknya. Dia berjalan menuju ruang tamu dengan hati yang panas. Elena, dia tinggal di taman belakang, meminta para pelayan untuk menemaninya.
"Apakah ada seorang suami yang dengan teganya menyebut istrinya jallang? Apakah ada seorang suami yang tega meracuni istrinya?" ucap Amel yang tiba-tiba datang ke ruang tamu dengan kemarahan yang jelas terpancar.
Merrik tercengang, sepertinya Elena sudah menceritakan semuanya pada orang tuanya. Dia yakin, wanita yang berbicara dengan kemarahan di depannya adalah Ibu Elena. "Aku minta maaf, aku bersalah. Tapi, aku mohon pertemukan aku dengan Elena." Merrik hanya bisa memohon, dia sadar kesalahannya sangat besar.
"Apa kamu pikir dengan maaf bisa menyembuhkan luka pada anakku? Lebih baik kamu pergi dari hadapan kami, jangan pernah tampakkan dirimu di hadapan kami!" ucap Amel.
"Tante aku mohon, aku yakin Elena masih mencintaiku, Aku janji akan meresmikan pernikahan kami. Aku akan bertanggung jawab."
"Meresmikan? Kemana saja kau kemarin?" Amel mengambil pil KB dari saku bajunya membuka botol dan mengeluarkan isinya. Amel melempar pil-pil KB tersebut ke wajah Merrik. "Apa ini yang disebut tanggungjawab? Menjadikan racun sebagai vitamin? Usia anakku masih sangat belia, saat menikah denganmu usianya belum genap tujuh belas tahun. Tapi kamu tega berbuat seperti itu padanya, kau hanya menjadikannya pelampiasan nafsu bejatmu itu!" Jerit Amel, tidak peduli lagi untuk menjaga sikapnya. Pembawaan Amel yang sebelumnya selalu tenang, saat ini tidak berlaku. Hati seorang ibu mana yang tidak sakit saat mengetahui anaknya dijadikan pelampiasan nafsu bejat seorang lelaki yang tidak ingin bertanggung jawab.
Wajah Amel memerah bukan karena merona, melainkan kemarahan yang sudah tidak tertahan. Tidak di sangka anaknya mengalami kehidupan yang menyedihkan. Hidup dalam serba kekurangan dan harus berjualan untuk kelangsungan hidup, dan sekarang menjadi pemuas nafsu seorang laki-laki yang membohonginya.
Satu fakta lagi yang Merrik tau, usia Elena ternyata masih sangat belia, dia ingin memperbaiki segalanya. Dia tidak ingin kehilangan Elena. "Bolehkah aku menjelaskan? Om, Tante? Aku tau, awal niatku dengan Elena hanya sekedar untuk memanfaatkannya, Tapi aku menyadari bahwa aku benar mencintainya. Aku ingin memperbaikinya." Ucap Merrik putus asa.
"Apa aktingmu sebagus ini saat kau membohongi anakku?" tanya Amel sinis.
"Sungguh Tante, aku benar-benar minta maaf. Tolong pertemukan aku dengan Elena."
"Pergi kau dari sini! Jangan menampakan diri mu dihadapan anakku!"
"Tidak Tante, Aku tidak akan pergi sebelum bertemu dengan Elena."
"Pengawal! Seret orang ini keluar!"
__ADS_1
Merrik mulai panik, dua orang pengawal menghampirinya dan menarik lengan Merrik. Dia tetap dalam pendiriannya, tidak mau meninggalkan rumah itu sebelum membawa Elena pulang. "Om, Tante, Aku harus bertemu Elena, bagaimanapun dia istriku."
"Istri kamu bilang? Bukan kah kamu sendiri yang tidak mengakuinya sebagai istrimu? Kau sendiri yang meminta El untuk tidak bilang tentang pernikahan kalian! Jadi, biarkan saja seperti itu!" Amel memberi isyarat pada para pengawal untuk menyeret Merrik keluar.
"Om, Tante, aku mohon pertemukan aku dengan Elena. Aku akan memperbaiki kesalahanku!" Teriak Merrik.
Merrik di seret keluar rumah, Steven hanya melihat tanpa berkomentar, dia membiarkan istrinya melampiaskan kemarahannya dulu pada Merrik. Dalam benak Steven, dia hanya memikirkan kebahagian Elena, dia harus mencari jalan keluar atas masalah ini dengan cara yang bijak. "Dimana Elena?" tanya Steven pada Amel.
"Dia ada taman belakang," jawab Amel.
Elena pergi menuju kamarnya, dia melihat semua kejadian di ruang tamu. Dia bersembunyi di sudut, saat Amel meminta ijin pada Elena, Elena diam-diam mengikutinya. Dia merindukan Merrik, namun hatinya masih sakit terhadap Merrik hingga tidak ada keberanian untuk menemui Merrik. Elena duduk di atas ranjangnya. Steven dan Amel datang ke kamar Elena setelah mencari di taman belakang tidak menemukannya. "El." Panggil Steven.
"Daddy," ucap Elena. Dia sudah mulai membiasakan dirinya untuk menggunakan panggilan Daddy dan Mommy untuk Steven dan Amel.
"Merrik datang ke sini!" ucap Steven.
"Aku tau dan melihat semuanya!" ucap Elena.
"Jadi apa keputusanmu?" tanya Steven pada Elena.
"Keputusan apa? Kita akan tetap pada rencana kita. Kita akan pindah ke Australia."
"Amel tenang dulu, kita cari jalan keluarnya dengan kepala dingin, saat ini Eleanor sedang hamil." ujar Steven. Walaupun dia marah pada Merrik, Steven juga butuh pendapat Elena langsung dan memikirkan kebahagian anak dan cucunya kelak.
"Apa yang harus dipikirkan? Tanpa laki-laki itu, kita bisa membiayai anak dan cucu kita!" ujar Amel.
__ADS_1
"Bukan materi, tapi kasih sayang seorang ayah yang akan hilang. Cucu kita akan kehilangan sosok Ayah."
"Cucu kita tidak akan kekurangan kasih sayang, kita akan berikan kasih sayang yang melimpah untuknya!"
Elena melihat perdebatan orangtuanya. "Mom, Dad, aku ingin beristirahat, bisa tinggalkan aku?"
"Tentu, istirahatlah." Ucap Steven. Steven dan Amel keluar dari kamar Elena.
Merrik di tarik hingga keluar gerbang. Dia berdiri di luar gerbang, tidak berniat meninggalkan tempat itu, dia tidak akan menyerah sebelum bisa membawa istrinya pulang. Tidak lama Dion menghampirinya. "Bos, lebih baik kita kembali dulu, besok kita bisa ke sini lagi." Bujuk Dion.
Merrik tetap tidak mau meninggalkan tempat itu, dia menunggu hingga Elena keluar rumah, dia akan menggunakan kesempatan itu untuk menemuinya. Hingga larut malam, Merrik masih tetap berdiri. "Kamu pulanglah, aku tidak bisa mengurus perusahaan saat ini."
Dion menatap sendu pada bos-nya, Baru pertama kali dia melihat Merrik sekacau ini. Mengingat masih banyak urusan kantor yang belum terselesaikan, Dion mematuhi perintah Merrik, dia meninggalkan Merrik sendiri.
Hari semakin larut, Merrik masih setia menunggu kesempatan untuk bertemu Elena, perlahan tetesan air turun dari langit, gerimis menemaninya di tengah malam. "Tuan, Tuan Merrik masih menunggu di depan pagar." Lapor seorang pelayan pada Steven, yang kebetulan Amel juga sedang berada di samping Steven.
"Biarkan saja!" ucap Amel sarkas dengan tatapan ke layar TV.
Tidak lama, suara hujan terdengar semakin kencang. Gerimis berubah menjadi hujan lebat. Seorang yang berdiri di tengah hujan masih dalam keadaan berdiri tegap, tekadnya sudah bulat untuk memperjuangkan hubungannya dengan wanita yang dicintainya.
Malam berganti pagi, pagi berganti siang. Hujan pun sudah berhenti, pakaian basah yang melekat pada tubuh mulai mengering. Merrik tampak lesu, wajahnya mulai pucat, perutnya belum terisi makanan sejak kemarin.
Steven masih mendapat laporan bahwa Merrik masih menunggu di luar. "Apakah dia serius mencintai El?" gumam Steven.
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
__ADS_1
Salam Age Nairie 🥰🥰🥰