
Elena menolehkan pandangannya, tidak ingin terlalu lama bertatapan dengan Merrik.
"Ayo!" Ajak Merrik.
Dengan terpaksa Elena mengikuti Merrik, mereka naik lift khusus milik CEO. Elena baru tau alasan mengapa selama ini dia tidak pernah bertemu dengan Merrik. Saat di basement Elena teringat ponselnya tertinggal di meja kerjanya. "Ponselku tertinggal," ujar Elena.
"Dimana?" tanya Merrik.
"Meja kerjaku."
"Tunggu di sini, aku akan ambil."
Elena masuk ke mobil Merrik dan duduk di kursi penumpang. Elena memejamkan matanya, menahan nyeri di perutnya.
Merrik ke lantai 16, tempat para designer bekerja. Ruangan sudah kosong, tidak ada yang lembur, Merrik terus melangkah ke meja Elena, Merrik langsung menemukan dimana meja Elena terletak, karena selama ini dia sering menatap Elena dari rekaman CCTV.
Mengambil ponselnya, melihat sekilas panggilan telepon yang tidak terangkat dengan nama kontak 'My Love' Merrik menekan tombol di sisi ponsel, hingga layar menjadi hitam. Perasaannya campur aduk, senang jika melihat Elena bahagia namun sulit untuk melihat pria lain di dekat Elena.
Merrik kembali ke basement, menuju mobilnya terparkir. Melihat Elena tidak berada di dalam mobil. "Kenapa di luar?" tanya Merrik sambil memberikan ponsel pada Elena.
Elena menerima ponselnya. "Aku bawa mobil, lebih baik aku pulang sendiri."
Merrik membuka pintu mobil dan mendorong Elena ke kursi depan penumpang. "Tidak baik berkendara saat kurang sehat. Biar aku antar saja." Merrik langsung memutari mobil dan masuk ke kursi pengemudi.
Elena ingin membantah namun memang perutnya sakit jadi dia hanya menuruti perkataan Merrik. Elena kesal dengan dirinya sendiri yang masih dengan mudah mematuhi perintah Merrik.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, Elena mengeluarkan ponselnya, berencana untuk mengalihkan pikiran dari Merrik. Melihat notifikasi dari Melena membuatnya tersenyum.
Membaca semua pesan dari Melena yang menceritakan keseharian gadis itu, membuatnya tidak berhenti tersenyum. Sengaja sedikit memiringkan ponselnya agar Merrik tak mencuri baca di ponselnya. Ingin sekali menyentuh icon call, namun di urungkan karena ada Merrik di sampingnya.
Merrik melihat Elena tersenyum dengan wajah menatap layar ponsel. 'Apa dia sudah menemukan pengganti ku?' batin Merrik.
Mobil terus melaju hingga sampai ke apartemen Elena, dia melihat sekeliling. "Sudah sampai?"
"Ya," jawab Merrik.
"Perasaan aku belum memberitahu alamatku?" tanya Elena.
Merrik terdiam sedetik, dia tau alamatnya dari CV Elena dan pernah juga membuntuti Elena saat pulang kerja. "Seperti nya kamu lupa! Saat aku menjalankan mobil kamu sudah memberitahu."
"Benarkah?" tanya Elena mengerutkan dahinya. Dia tak merasa memberi tahu Merrik.
"Tentu. Jika tidak, bagaimana aku bisa tau."
"Baiklah , terima kasih." Elena membuka pintu mobil, Merrik ikut keluar dari mobil. "Kenapa ikut keluar?"
"Aku antar sampai masuk."
"Tidak usah, aku bisa sendiri."
"Aku harus pastikan karyawan ku tidak apa-apa, baru setelah itu aku akan pergi." Merrik menekankan kata karyawan agar Elena tidak menolaknya.
__ADS_1
Elena mau menolak, namun sudah tidak tahan dengan rasa sakit di perut bagian bawahnya. Setiap haid pasti akan mengalami dismonere namun saat dulu bersama Merrik, dia tidak pernah mengalami dismenore, akibat mengkonsumsi pil KB yang membuatnya tidak menstruasi.
Hingga setelah melahirkan baru mengalami haid secara normal kembali. Jika Elena mengingat kembali apa yang di lakukan Merrik sungguh sangat kejam dengan membodohinya dengan pil KB.
Mereka masuk ke dalam apartemen, Elena masuk ke dalam kamar mandi. Merrik beralih ke dapur, mencari informasi di ponselnya dan menggeledah dapur Elena untuk mencari bahan yang di cari dan mulai merebus sesuatu.
Elena selesai dengan urusannya di kamar mandi, melangkah menuju kamarnya. Dia melihat Merrik belum juga pulang. "Kamu belum pergi?"
"Istirahat lah. Aku buatkan air kunyit, jahe dan gula merah, katanya bisa meredakan nyeri haid." Merrik membawa secangkir minuman dan memberikan kepada Elena.
Elena duduk di atas ranjang, menerima minuman pemberian Merrik dan mulai menyesapnya. "Jas-mu akan aku kembalikan setelah ku cuci."
"Ya." Merrik pergi meninggalkannya sesaat, kembali dengan membawa sebuah kantong kompres penghangat. "Aku menemukan ini di dapur, sudah aku isi air panas. Gunakanlah di perutmu."
Elena menerima kantong kompres penghangat itu, dia berbaring dan meletakkan kantong tersebut di perutnya.
"Apa sering seperti ini jika haid?" tanya Merrik.
"Ya. Namun, tidak jika aku mengkonsumsi Pil KB. Aku tidak akan merasa sakit karena memang tidak haid!" ucap Elena santai namun beda ditangkap di telinga Merrik. Dia tahu Elena sedang menyindir kelakuannya dulu.
"Maaf," ucap Merrik.
"Pergilah, aku mau istirahat!" ujar Elena.
"Baik. Besok akan ada sopir yang menjemput mu." Setelah berucap, Merrik pergi meninggalkan apartemen Elena, dia duduk di dalam mobilnya, menatap gedung di depannya dengan banyak hal di kepalanya.
Dua hari berlalu, Merrik tiba di ruangannya. Di meja kerjanya ada sebuah paper bag dan melihat ada jas di dalamnya. "Bahkan dia tidak mengembalikan langsung padaku," gumam Merrik. Hari-hari berjalan seperti biasa, tim design sudah memberikan rancangan sesuai dengan hasil meeting sebelumnya.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Merrik pada Jakson.
"Sepertinya ada penyusup yang membocorkan rancangan kita!" jawab Jakson.
"Cari tau orangnya!" Perintah Merrik
"Baik."
"Suruh Eleanor ke tempatku."
"Baik."
Merrik sedang berpikir siapa penyusup di perusahaan nya, yang menyimpan design hanya bagian perancang dan Elena sebagai kepalanya. Namun, tidak mungkin jika Elena penyusupnya. Dia yakin Elena tidak sepicik itu.
Elena mengetuk pintu Merrik, setelah mendapat jawaban dia pun masuk.
"Siang, Pak."
"Bisa kamu jelaskan yang sedang terjadi?" tanya Merrik.
Elena berdiri di depan meja kerja Merrik. "Mohon maaf, aku tidak tau. Tapi aku akan mencoba mencari siapa yang membocorkan design perusahaan kita." Jelas Elena.
"Kemarilah." Pinta Merrik menggeser sedikit monitor komputernya agar Elena bisa ikut melihatnya.
__ADS_1
Elena duduk dan melihat layar monitor tersebut. "Coba kamu perhatikan baik-baik. Apa perbedaan dengan design kita?"
Elena melihat lebih dekat memperhatikan secara detail gambar perhiasan yang di keluarkan Jewel Bright, memperhatikan dengan sangat serius, hingga menggigit bibirnya ke dalam.
Merrik pun dengan serius memperhatikan pemandangan indah di depannya, wajah yang dulu dengan mudahnya ia sentuh, bibir yang dulunya bisa ia gigit, kini hanya bisa dilihat dengan mencuri pandang.
"Ah, sepertinya aku tau siapa orangnya!" gumam Elena.
"Kamu tau bedanya, bukan?"
"Iya. Di sisi ini tidak ada detail yang aku tambahkan dan yang tau design terakhir hanya aku dan Daniar karena rencananya akan aku berikan padamu hari ini!" ucap Elena yakin. "Akan aku bawa penyusupnya padamu." tambah Elena.
"Sudah ada bukti?" tanya Merrik.
"Bukti?"
"Jangan asal menuduh sebelum ada bukti. Kita cari buktinya dulu, kita cari mulai dari CCTV."
"Baik."
"Buatkan aku kopi."
"Apa?"
"Aku tidak ingin mengantuk saat memperhatikan rekaman CCTV."
"Baiklah."
Elena pergi ke pantry di lantai yang sama, mulai mengambil gelas dan menaruh kopi dan gula.
"Cukup satu sendok teh gulanya, Elena!" Suara Lala terdengar di telinganya.
"Baik," jawab Elena. "Apa kamu bilang?" tanya Elena heran.
'Mengapa dia memanggilku Elena?' batin Elena.
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
...Jangan lupa like, love,vote, gift nya.. Di tunggu komentarnya 😊😊...
...Mohon maaf belum bisa up banyak, Real Life sangat menyita waktu hari-hari menjelang lebaran 🙏🙏🙏...
...Yuk, yang belum baca SAMUDRA NAYNA silakan di baca selagi nunggu up KAMUFLASE CINTA SANG CEO, Yang udah baca Age ucapkan terima kasih 🥰...
...cover baru nih Sam dan Nay 😁...
...Salam Age Nairie 🥰🥰🥰🥰😘😘😘😘...
...
__ADS_1
...