Kamuflase Cinta Sang CEO

Kamuflase Cinta Sang CEO
BAB 81 The End


__ADS_3

Merrik tidak pernah menyangka hidupnya telah berubah bahagia, dia tidak pernah tahu mengapa Elena bisa begitu mencintainya. Tidak ada nilai lebih pada dirinya sampai seorang gadis muda dan cantik bisa tergila-gila padanya, entah Merrik yang terlalu percaya diri atau memang Elena yang bodoh? Gadis yang selalu dengan mudah memaafkan kesalahan dari seorang pria brengssek seperti dirinya.


Merrik sudah tidak mau ambil pusing, perjuangannya tidak sia-sia, yang terpenting dia dan Elena saling mencintai. “Apa kamu lelah?” tanya Merrik. Mereka sedang ada di taman belakang.


“Sedikit,” jawab Elena.


Merrik dengan sigap mengambil kursi roda untuk Elena, dia hamil anak kembar dan membuat dirinya kesulitan bergerak. “Duduk di sini.”


Elena sempat kesal pada Merrik, ia berkeinginan menunda kehamilan. Ingin merasakan pengantin baru dan juga masih ingin mengejar karir. Namun, Merrik dengan banyak akal bisa menghamili Elena. "Ini semua karena Kakak!"


"Yang penting 'kan ada suaminya. Lagi pula aku juga memang pengen punya banyak anak, kamu dan aku anak tunggal, orang tua kita senang memiliki banyak cucu."


"Tapi 'kan Kakak nggak ngerasain hamil, apalagi melahirkan!" cerocos Elena.


"Kamu menyesal? Kalau bisa gantikan akan aku gantikan, aku juga tidak tega melihatmu kesusahan."


"Tidak menyesal, hanya saja terasa berat karena kembar."


Merrik beralih menghadap Elena, berlutut di depan Elena. "Maafkan aku yang tidak bisa menggantikan mu. Kalau bisa, aku mau memikul kesulitan yang kamu alami, aku akan vasektomi agar kamu tidak kesusahan lagi."


"Tidak begitu, Kak! Bukan maksudku seperti itu. Jangan lakukan itu, aku tidak kesusahan kok, 'kan ada Kakak yang selalu menjagaku." Elena panik, dia tahu Merrik sekarang sangat memanjakan nya, apapun permintaannya akan Merrik kabulkan.


"Benar seperti itu?" tanya Merrik.


"Iya."


"Baguslah, aku berniat menambah dua anak lagi."


"Apa?" ucap Elena terkejut. "Kakak pikir aku mesin produksi anak? Aku lagi hamil anak kembar, tiga anak tidak cukup kah?"


"Aku mau lima!" ucap Merrik santai. Bukan bualan, Merrik bersungguh-sungguh atas perkataan nya.


"Kakak!" teriak Elena.


Merrik mendorong kursi roda Elena untuk masuk kedalam rumah, hari ini mereka menginap di kediaman Steven, saat baru diambang pintu berpapasan dengan Amel keluar dari dalam rumah, ia akan menjemput Melena les piano, melihat ada yang salah dengan wajah Elena. “Ada apa?” tanya Amel pada Elena.


Elena meringis. “Perutku sakit ….”


“Sakit! Kenapa bisa sakit?” tanya Merrik panik, dia terkejut dan bingung harus berbuat apa.

__ADS_1


Amel menyadari air ketuban Elena sudah mengalir di kedua kakinya. “Ya, Tuhan. Sudah mau lahir! Cepat siapkan mobil!” perintah Amel pada Merrik.


“Elena kamu tenang saja, ada aku di sini. Aku akan selalu menemanimu, sekarang kita akan pergi ke rumah sakit ya!” ujar Merrik tidak ada henti.


“Ya, aku percaya! Cepat bawa mobilnya, aku sudah tidak tahan!” teriak Elena. Dia kesal Merrik terlalu banyak bicara bukannya bertindak cepat.


Ini adalah pertama kalinya Merrik melihat wanita akan melahirkan, terlebih wanita yang akan melahirkan adalah istrinya sendiri. Rumah menjadi kacau, Merrik terburu-buru membawa Elena ke rumah sakit, pot kecil di depannya pun dia tendang tanpa ragu karena menghalangi jalannya.


Merrik menggenggam tangan Elena yang sedang menahan tangis. “Cepat bawa aku ke rumah sakit!” teriak Elena.


“Ini dalam perjalanan sayang, kamu tenang yah!” Merrik menoleh ke sopir. “Lebih cepat lagi berkendaranya!” perintah Merrik.


“Ah ….! Aku tidak tahan, sudah mau keluar, sudah mau keluar!”


“Sayang sabar, sebentar lagi sampai!” ucap Merrik menenangkan.


Hingga mereka sampai di rumah sakit namun Elena sudah tidak tahan lagi, dengan sigap Elena di pindahkan ke brankar dorong dan di masukan ke ruang persalinan. Selama proses melahirkan secara normal, Merrik menyaksikan dengan kedua matanya dan setelah menunggu kurang lebih dua jam, akhirnya dua jagoan Merrik terlahir.


Merrik menangis haru saat anak mereka terlahir, dia tidak bisa membayangkan bagaimana perjuangan Elena melahirkan Melena seorang diri. Elena kelelahan setelah proses melahirkan yang membuang banyak tenaga. “Sayang, boleh aku lihat bayi kita?” pinta Elena.


Merrik mengendong salah satu anak mereka. “Lihat anak kita bule banget! Benar-benar terbukti.”


“Terbukti bahwa cinta Mommy-nya lebih besar dari Daddy-nya!” ucap Merrik tertawa.


“Cih! Pede! Kamu jangan salah, aku ini meskipun sudah pernah melahirkan tapi aku masih muda dan cantik, aku yakin masih banyak pria di luar sana yang menunggu jandaku!”


“Apa yang kamu katakan? Jangan bicara sembarangan! Jangan harap kamu bisa menjadi janda!”


“Habis suami ku cinta-nya tidak lebih besar dariku!”


“Omong kosong! Tentu aku sangat-sangat mencintaimu, yang tadi hanya gurauan saja.”


“Cinta tidak hanya di mulut namun juga harus di buktikan!”


Cup! Merrik mencium Nay. “Aku tahu aku tidak sempurna, akupun tidak mengerti kenapa kamu mau menerimaku kembali. Namun, aku akan berusaha sekeras mungkin untuk membuktikan bahwa cintaku hanya untukmu.”


Elena hanya tersenyum, dia berharap apa yang di katakan oleh Merrik benar adanya. Merrik menarik dagu Elena, mencium lembut bibir yang membuatnya candu.


...***...

__ADS_1


Empat tahun berlalu, Melena semakin besar, anak mereka yang kembar pun menjadi anak yang lucu-lucu. Keluarga adalah tempat ternyaman dari tempat manapun. Mereka sering mengadakan kumpul keluarga dan hari ini adalah pesta ulang tahun si kembar yang ke tiga. Semua orang berkumpul merayakan ulang tahun si kembar, Edsel dan Edward. Merrik sebenarnya ingin menambah anak lagi, namun ia melihat Elena kelelahan dan kesulitan dalam melahirkan menjadikan dirinya tidak tega.


"Sayang, kapan anak-anak besar?" tanya Merrik saat dia dan Elena bersantai di taman belakang.


"Edsel dan Edward baru saja berusia tiga tahun, kamu bisa hitung sendiri berapa lama lagi mereka besar. Memangnya kenapa?"


"Aku lelah bekerja, ingin memberikan saja semua ke anak-anak, setelah itu kita tinggal bulan madu saja." Elena sudah tidak menjadi CEO, semua di handle oleh Merrik.


"Tidak usah bulan madu, tiap malam juga sudah dinas!" ejek Elena. "Kak, apa kamu tidak pernah bosan?"


"Enggak! Kalau bosan baru bermasalah!" Merrik mengedarkan matanya sekeliling. “Ikut aku!”


“Kemana?” tanya Elena.


Merrik menarik tangan Elena untuk keluar, sebelum pergi ia menghampiri Rose dan berbisik. “Eomma, aku titip anak-anak. Aku dan Elena tidak akan pulang malam ini.”


Elena tak menduga ia akan di bawa ke taman bermain, Merrik menyewa seluruh tempat. “Maafkan aku baru bisa melaksanakan ini sekarang!” ujar Merrik. Keinginan Elena yang sudah sangat lama yang belum Merrik penuhi dan kini Merrik menepati janjinya.


Elena menoleh menatap Merrik, ia berhambur ke pelukan suaminya. “Terima kasih!” ucap Elena berurai air mata, dia tidak menyangka Merrik mengingat janjinya yang dulu.


Elena dan Merrik bagai remaja yang sedang berpacaran, menikmati semua wahana, tampak sangat bahagia di wajah mereka. Setelah lelah bermain, Merrik tidak membawa Elena pulang, ia tidak khawatir dengan anak-anak mereka karena akan ada dua nenek dan dua kakek yang menjaga anak mereka.


“Kenapa ke sini?” tanya Elena saat tiba di hotel.


“Menikmati malam kita berdua!” Merrik menarik tangan Elena masuk ke dalam kamar hotel, baru menutup pintu ia sudah mulai mencium Elena. Bak gayung bersambut, Elena sangat bekerja sama dengan Merrik, membalas setiap ciuman Merrik. Di dalam kamar, mereka melepas rindu dan gairrah, bagaikan sudah terpisah sekian abad, padahal mereka hampir setiap malam melakukannya.


“Kamu adalah milikku sepenuhnya, jadi jangan berpikir bisa lari dariku. Jika pun kamu berlari, aku akan mengejarmu, menangkapmu kembali!” ucap Merrik sungguh-sungguh.


“Begitupun dirimu! Tidak akan kubiarkan kamu berpaling dariku!”


Cinta memang datang tak terduga, awal pertemuan yang buruk bukan berarti memiliki akhir yang buruk pula. Merrik dan Elena telah membuktikannya, meskipun harus melewati berbagai macam rintangan.


Hargai lah miliki sendiri, sebelum terlambat menyadari bahwa yang kita miliki sangatlah berharga.


The End.


Terima Kasih 🙏🙏🙏🙏🥰🥰🥰😘😘😘


Yuk Ah, siapa yang belum baca semua karya Age.. cus baca yuk, dah pada tamat semua.. 👇

__ADS_1



__ADS_2