
Arka menatap dalam mata indah kekasihnya, seakan Aisley akan menghilang jika dia berkedip. "Jangan tatap aku seperti itu!" ucap Aisley, dia tidak nyaman ditatap seperti itu.
"Aku takut kamu tiba-tiba menghilang jika aku mengalihkan pandanganku." Tegas Arka.
Aisley tersenyum. "Kamu pikir aku hantu yang datang hanya untuk berpamitan?"
"Bukan, hanya ... tidak menyangka saja kamu tiba-tiba ada di depanku."
Aisley mengecup sekali lagi bibir Arka, dahi, mata, hidung, pipi. "Apa masih terasa seperti mimpi?" tanya Aisley.
Arka menangkap kepala Aisley. "Tidak! Kamu benar-benar nyata!" Kembali Arka yang mengembalikan Aisley hujan kecupan di wajah.
...***...
Hari pernikahan tiba, Arka tidak menunggu waktu lama untuk menikah, di bulan yang sama saat Aisley kembali, dia ingin secepatnya mengikat Aisley. Sempat membuat terkejut kedua orang tua mereka karena yang orang tua mereka tahu, Arka dan Aisley sudah lama tidak menjalin hubungan setelah pembatalan pernikahan sebelumnya. Namun, keterkejutan itu menjadi kabar bahagia karena mereka benar-benar menjadi besan.
Arka dan Aisley sepakat mengadakan pesta kebun agar tercipta suasana kekeluargaan tanpa pengantin harus dipajang di pelaminan.
Mereka memutuskan hanya mengundang kerabat dan teman dekat. "Selamat atas pernikahanmu," ucap Elena tulus pada Arka dan Aisley.
"Terima kasih El, sudah bersedia hadir." Arka menoleh pada Merrik. "Terima kasih Bastian!"
"Semoga bahagia," ucap Merrik tulus.
"Kemana Melena? Kenapa tidak membawa anak-anak kalian?" tanya Arka lagi.
"Kamu memberi undangan tiba-tiba, Melena dan adik-adiknya sedang diajak berlibur ke Korea oleh Kakek Neneknya!" imbuh Elena.
"Aku ragu mau mengundangmu atau tidak, aku takut Bastian tidak mengijinkan!" kekeh Arka.
"Cih, aku lah yang senang dengan pernikahanmu! Setidaknya kamu tidak akan karatan karena terlalu lama sendiri!" ejek Merrik, yang dia tahu Arka adalah pria baik yang tidak sembarangan dengan wanita.
Arka hanya terkekeh mendengar ocehan Merrik, dia tidak akan menceritakan aib-nya yang pernah menghamili Aisley sebelum menikah. Meskipun sebuah kesalahan namun Arka dan Aisley menyayangi anak mereka meskipun anak tersebut tidak tertolong.
__ADS_1
"Kak, istri Arka bernama Aisley itu bukankah wanita yang datang di pernikahan kita dulu?" tanya Elena saat mereka berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang.
"Tidak tahu!" jawab Merrik acuh.
"Benar Kak! Itu wanita yang diajak Arka pas kita nikah! Saat itu wajah Arka seperti sangat terganggu dengan kehadiran wanita itu. Tapi, sekarang sepertinya Arka bucin sekali dengan istrinya. Dari tadi Arka tidak pernah lepas kontak fisik dengan Aisley. Entah itu menggenggam tangan, merengkuh pinggang dan terkadang mencium sekilas wanitanya. Benar-benar sudah tergila-gila dengan istrinya!" ucap Elena kagum dengan Arka.
Elena menoleh menghadap Merrik, dia lupa akan suaminya yang tidak pernah suka jika dirinya membicarakan pria lain. "Sudah bicaranya?" ucap Merrik mengeraskan rahangnya. "Seperti aku tidak tergila-gila denganmu saja!" dengus Merrik.
Entah mengapa Merrik sangat benci jika Elena membicarakan pria lain, dulu Dion, Arka bahkan artis sekalipun seperti Aron Pabio. "Aku 'kan hanya berkata saja, tidak ada maksud apapun," jelas Elena.
"Kau bersedih karena Arka sudah tidak mencintaimu lagi?" cecar Merrik.
Elena membulatkan matanya, sulit sekali memiliki suami posesif seperti Merrik. Kadang kala seorang wanita ada keinginan membicarakan orang lain. Bukan karena ingin mencampuri urusan orang lain, melainkan wanita ada rasa keingintahuan yang tinggi.
Elena melihat sekeliling, masih jauh dari tempat mereka menginap. Saat ini mereka duduk di bangku belakang, dia menutup pembatas dengan sopir. Elena langsung menghampiri Merrik dan duduk kepangkuan Merrik hingga mereka berhadapan. "Merrik, kadar cemburumu harus diturunkan, karena aku sudah benar-benar tidak bisa lepas darimu. Jadi, jangan karena aku membicarakan pria lain kamu langsung salah mengartikan!" terang Elena, Merrik mengangkat alisnya sebelah, dia benci jika Elena hanya memanggil namanya saja.
Cup! Elena mengecup bibir Merrik sekilas, hidup beberapa tahun dengan Merrik, dia sudah tahu bagaimana meredakan amarah suaminya. "Aku tahu perbedaan usia kita cukup jauh, cara pandang kita juga berbeda. Terkadang aku juga memiliki pemikiranku sendiri. Dan aku semakin yakin, usia bukan menentukan kedewasaan seseorang. Kadang saat kau cemburu melebihi kecemburuan seorang remaja yang baru mengenal cinta!" lanjut Elena.
"Kau menyesal menikah denganku?" tanya Merrik.
"Suka tidak suka. Menyesal tidak menyesal jangan harap lepas dariku!" tegas Merrik.
"Kalau seperti itu tidak usah bertanya lagi!"
"Tapi aku tidak suka jika kamu membicarakan pria lain!"
"Seharusnya kamu bersyukur aku menganggapmu tidak hanya sebagai suami, melainkan juga sahabat yang kapanpun bisa mengobrol, mendengarkan dan saling sharing! Daripada aku harus mencari orang lain hanya untuk curhat," ucap Elena dengan mengelus rambut Merrik.
Elena sudah menemukan cara berdialog dengan suaminya, dengan kontak fisik seperti ini lebih memudahkan meredakan amarah Merrik dan memudahkan mereka mencari solusi di setiap ada gesekan rumah tangga mereka.
Merrik merengkuh pinggang Elena. "Maafkan aku yang selalu cemburu jika kamu membicarakan pria lain. Aku selalu tidak percaya diri jika berhadapan dengan pria lain, terlebih jika lebih muda dariku!"
Elena menatap suaminya, dia tahu Merrik selalu merasa kurang percaya diri, seolah dirinya bisa meninggalkannya karena pria lain. "Kak Merrik," ucap Elena lembut. "Kita sudah beberapa tahun bersama. Kita sudah membuktikan kekuatan cinta kita, meskipun perbedaan umur yang cukup jauh, tapi tidak sedikitpun aku merasa terganggu dengan itu! Karena yang aku tahu aku mencintaimu! Jangan pernah tidak percaya diri akan dirimu, karena Elena hanya untuk Merrik!" ucap Elena dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
"Terima kasih, entah kebaikan apa yang pernah kuperbuat hingga memiliki istri sempurna sepertimu!"
"Aku bukan wanita sempurna, hanya saja sudah terlalu mencintaimu!"
Elena turun dari pangkuan Merrik, dia kembali ke posisi duduk awalnya di samping Merrik. "Kenapa berpindah?" tanya Merrik kecewa.
"Karena kita sudah menyelesaikan kesalahan pahaman."
"Oh, jadi mendekatiku karena ingin meredam amarahku! Gadis nakal!" Merrik langsung mendorong Elena lalu menciumnya, menyesap bibir candu istrinya.
"Kak, ini di dalam mobil!" ucap Elena di sela ciuman mereka.
"Lalu?" Merrik masih sibuk dengan usahanya membuka pakaian Elena.
"Kita lanjutkan di hotel saja!" Elena memang tidak pernah menolak Merrik.
"Tidak mau! Kau sudah memulainya, jadi tuntaskan saja di sini!" Merrik tidak peduli mereka sedang ada di mobil, baginya Elena sudah membangkitkan gairahnya. Pelajaran setelah apa yang telah Elena dan Merrik alami, Merrik menganti kaca mobilnya menjadi tidak terlihat dari luar dan Merrik sekarang lebih sering menggunakan sopir.
"Sayang, nanti lanjut di hotel lagi ya!" ujar Merrik setelah menuntaskan yang harus dituntaskan.
"Tidak usah bertanya, memangnya aku punya pilihan tidak!" protes Elena yang masih lemah dalam pelukan suaminya.
"Tapi kamu dengan sukarela 'kan melakukan denganku?"
"Tentu saja! Karena aku sudah terjerat akan cintamu!"
"Akupun!" jawab Merrik pasti sembari mencium pundak Elena.
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
...Terima kasih yang masih setia membaca 🙏🙏🙏🙏...
...Sebenarnya kisah Aisley dan Arka sudah berakhir saat Aisley kembali tapi kayaknya ada yg kurang kalau mereka belum menikah, jadi Age tambah Bab dengan kehadiran Merrik dan Elena... Masih ada satu bab lagi ya......
__ADS_1
...Salam Age Nairie 😘😘😘...
...Salam Sehat semua 🥰🥰🥰🥰🥰...