
Merrik menolehkan kepalanya ke samping, tidak berani untuk memandang Elena lebih lama. Ia takut pertahanannya akan runtuh. Biarlah dia di katakan egois. Elena masih muda, masih bisa menyongsong masa depan yang indah, tidak akan dia biarkan Elena menderita bersama dirinya.
Elena mencoba berjalan walaupun berat untuk melangkah. Setapak demi setapak Elena mencoba mendekat pada Merrik, tidak ada air mata yang keluar dari mata indahnya. Entah apa yang ia rasakan saat ini. "Apa tidak ada yang ingin Kakak katakan?"
"Aku rasa semua sudah cukup jelas! Kita tidak menikah secara resmi. Jadi, aku tidak perlu mengirimkan surat cerai padamu!" ucap Merrik dengan melihat ke arah Elena, namun dia hanya melihat ke alis Elena, tidak berani untuk menatap matanya. Jika sedikit saja Merrik menurunkan pandangnya maka netra hitamnya akan bertemu dengan netra hijau milik Elena dan hal itu pasti akan membuatnya luruh.
"Kak, kamu pasti lagi bercanda 'kan?" tanya Elena ragu namun memaksa menyinggung kan senyuman. Dia mencoba menyangkal dari apa yang ia dengar. Tidak mungkin dia harus mengalami kedua kali yang menyakitkan. Perpisahan di depan apartemen Merrik yang memilukan harus terjadi lagi.
"Aku tidak sedang bercanda! Clara memutuskan kembali padaku. Aku sudah pernah bilang bukan, alasan aku mendaki gunung di daerah desamu!" jelas Merrik.
Elena teringat penjelasan Merrik saat itu, mereka berpacaran selama empat tahun, perselingkuhan Clara dan sekarang mereka kembali lagi. Semua ingatan terkumpul di kepala Elena. Bahkan percakapan terakhir antara Clara dan Merrik saat di depan kampus. Semua ucapan Clara kembali teringat jelas bagai baru terjadi kemarin.
...Aku tidak akan membiarkan dirimu menyakiti Elena! Lepaskan dia jika kamu tidak mencintainya!...
Jadi apa yang Clara katakan waktu itu benar adanya. Merrik hanya memanfaatkan dirinya karena Clara dulu meninggalkan nya. Sekarang wanita itu kembali pada Merrik dan Elena sudah tidak dibutuhkan lagi.
"Apa Kak Merrik tidak pernah mencintaiku?" tanya Elena.
"Aku pikir aku bisa mencintaimu namun aku salah. Aku belum bisa melupakan Clara."
Elena teringat akan bayi yang di kandungnya. "Jadi selama ini hanya kebohongan? Perkataan cinta Kakak, janji-janji Kakak, bahkan kita sampai pernah membahas nama anak."
__ADS_1
"Kita akhiri saja hubungan kita hari ini. Aku akan memulai kembali dengan Clara!" ujar Merrik.
Elena mati-matian menahan air matanya. Sudah tidak ingin terlihat lemah lagi di depan Merrik. Dia akan menjadi Ibu, meskipun usianya masih sangat muda, dia terpaksa harus menjadi dewasa sebelum waktunya.
"Baiklah, Kak. Aku tidak akan menuntut apapun padamu. Tidak akan mengemis cinta padamu! Akan ku buat rasa cinta ini sebagai sebuah kesalahan dan aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi. Semoga Kakak bahagia!" Ucapan Elena hanya tertuju pada Merrik, dia seperti tidak menganggap ada Clara di sana. Bagaimanapun yang berhubungan dengannya langsung adalah Merrik.
Permasalahan Elena hanya pada Merrik. Jika Merrik tulus mencintainya, meskipun Clara mengemis untuk kembali padanya, Merrik tidak akan merubah rencananya. Namun, kenyataan begitu menyakitkan. Recana yang sudah tersusun sempurna harus hancur tidak tersisa. Hatinya sakit seperti tertusuk sebuah tombak tak kasat mata dan meninggalkan bekas luka seumur hidup. Pertama jatuh cinta harus mengalami penderitaan karena cinta, hal ini membuatnya tidak akan mudah percaya terhadap laki-laki.
"Semoga kamu juga bahagia." Ucapan doa yang terlontar dari mulut Merrik terdengar tulus di telinga. Namun, bagi Elena itu bagaikan sebuah ejekan.
"Aku harap kita tidak pernah bertemu lagi!" ucap Elena.
Pintu kamar rawat terbuka, percakapan Elena dan Merrik terdengar jelas ditelinga Amel, dia menahan diri untuk masuk. Amel ingin melihat sendiri bagaimana anaknya menyikapi masalah. Dia tidak ingin di bilang mempengaruhi Elena jika saat itu dia langsung masuk dan memaki Merrik.
Dia akan menjauhkan Elena dari Merrik, tidak akan pernah membiarkan Merrik mendekati Elena lagi. Dia tau anaknya masih remaja labil. Namun, sekarang Elena ada dibawahnya, akan dia didik Elena sebagai wanita yang mandiri dan tegas. Amel menyesali kecerobohannya saat Elena diculik, dia tidak bisa mengasuh anaknya sendiri selama ini. Sehingga Elena bisa bertemu pria brengsek seperti Merrik.
Tidak ada keributan di dalam ruang rawat inap Merrik, tidak ada teriakan, tiada makian dan juga tidak ada tangisan sendu. Perpisahan ini sangat berbeda dengan terakhir kalinya saat Elena pulang ke desa. Hanya ada ketenangan seperti cara orang dewasa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Namun, tidak ada yang tau bagaimana berkecamuknya di dalam hati.
Elena dan Amel keluar dari ruang rawat inap tanpa suara. Elena menundukkan kepalanya dengan mata yang memerah seperti terbakar senja yang datang menyapa. Bulir-bulir air mata mulai menetes, sudah tidak dapat di tampung lagi di pelupuk mata. Tangisan tanpa suara menemani langkahnya keluar dari rumah sakit.
Mereka kembali ke mansion, Steven melihat anak dan istrinya datang dengan wajah yang sedih. Elena berlalu menuju kamarnya meninggalkan orang tuanya. "Apa yang terjadi?" tanya Steven pada Amel.
__ADS_1
"Pernikahan Eleanor dan Merrik batal! Merrik memilih kembali pada mantan pacarnya!"
"Apa!" ucap Steven terkejut. Dia tidak menyangka Merrik sekali lagi menyakiti putrinya.
"Lebih baik kita pergi ketempat kita semestinya. Tempat di awal kita tinggal saat baru menikah, sekaligus tempat kelahiran El. Menjauhkan El dengan Merrik adalah yang terbaik." Usul Amel.
"Baiklah. Apa Merrik mengetahui kehamilan Elena?" tanya Steven.
"Dia tidak tau dan tidak perlu tau!" ujar Amel.
...*********...
"Merrik, sebenarnya ada apa denganmu? Kalau hanya lumpuh sementara bukan berarti akan lumpuh permanen! Kedokteran sudah sangat canggih, aku yakin kamu bisa berjalan lagi. Tidak perlu kamu mengorbankan cinta kalian! Ini tidak sebanding!" Clara sudah tidak bisa mengontrol dirinya.
Merrik melirik pada Clara. "Aku tidak tau kapan aku bisa berjalan lagi. Aku tidak mau membebaninya," jawab Merrik.
"Elena pasti bisa menerima keadaanmu. Aku yakin tidak lama lagi kamu bisa berjalan normal." Lanjut Clara.
Merrik hanya terdiam tidak menjawab perkataan Clara. 'Seandainya hanya seperti itu, aku pasti tidak akan melepasnya.' batin Merrik.
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak 👍❤️🌹vote dan komentarnya 😊😊😊😊
Salam Age Nairie 🥰🥰🥰🥰