
Setelah percobaan kedua yang gagal membuat Merrik merasa tidak percaya diri. Dikarenakan perusahaan sedang mengalami kesibukan yang luar bisa karena sudah mulai memproduksi perhiasan terbaru, Elena dan Merrik tidak melakukan percobaan kesembuhan lagi.
El Sunshine tidak hanya mengeluarkan perhiasan yang limited edition namun ada pula yang di produksi secara masal. Hampir satu bulan ini semua orang disibukan, meskipun ada bagian produksi namun Elena harus terjun langsung untuk memantau. Elena memasuki ruangannya, peluncuran produk baru tinggal dua minggu lagi, riuh para karyawan menggema di seluruh ruangan. “Ada apa?” tanya Elena pada Daniar.
“Jewel Bright siang ini akan mengeluarkan perhiasan terbaru dan itu milik kita, katanya ada penyusup lagi di kantor ini!”
“Lagi? Yang benar saja. Kita sudah sangat berhati-hati bahkan setiap designer tidak mengetahui secara menyeluruh perhiasaan apa saja yang akan di keluarkan!”
“Ya, hanya ada beberapa orang yang tahu design menyeluruh. Dirimu, Pak Bastian, Asisten Jakson dan Sekertaris Lala,” ujar Daniar.
“Sekertaris Lala?” ucap Elena membeku. Daniar hanya menganggukkan kepala seakan mengerti pikiran Elena.
Setelah kejadian penyusup, Merrik membuat sistem kerja Dual Control and Segregation of Duty. Setiap bagian produksi, setiap tim-nya memiliki tugas masing-masing tanpa mengetahui tugas tim yang lainnya. Yang ada dipikiran Elena sama dengan rekan lainnya yang beranggapan bahwa Lala lah yang membocorkan, karena semua karyawan tahu bahwa Lala di pecat oleh Merrik.
Elena datang ke ruangan Merrik. “Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Lala bisa membocorkan rahasia perusahaan?” Dalam benak Elena, apakah ini yang di katakan Lala bahwa kehadirannya akan memberi masalah untuk Merrik? Apakah karena kecemburuan, membuat Lala menjadi berbuat hal yang merugikan Merrik?
“Aku kira masalah apa, belum tentu apa yang di keluarkan Jewel Bright sama dengan kita,” ujar Merrik santai.
“Tapi isu-nya seperti itu.”
Merrik menyalakan TV di ruang kerjanya dan mencari chanel konferensi pers peluncuran produk baru Jewel Bright, dia juga menelpon Jakson untuk para karyawan tidak panik dan ikut menonton acara konferensi pers Jewel Bright. Elena tidak habis pikir dengan apa yang di pikirkan Merrik. Jimmy mengeluarkan produk baru dan memasarkannya terlebih dahulu, tidak masalah jika memang hasil perusahaan sendiri namun ini adalah kedua kalinya Jewel Bright mengambil milik El Sunshine, hasil kerja keras dari para karyawan. Berapa banyak kerugian yang akan di tanggung oleh perusahaan karena sudah masuk dalam proses produksi.
Merrik melihat Elena panik. “Duduklah, bersantai saja.”
“Mana mungkin aku bisa santai!”
Merrik hanya memberi senyum, hingga acara konferensi pers dimulai, Elena di kejutkan dengan produk yang di keluarkan berbeda dengan design mereka, nama dari perhiasan yang sama dengan milik mereka namun sangat berbeda design-nya. Elena dan tim memang mengajukan dua nama produk dan Merrik lah yang menentukan nama perhiasaan tersebut. “Kenapa begini?” tanya Elena.
“Lihat saja apa yang akan terjadi,” ujar Merrik.
__ADS_1
Selama berjalannya siaran konferensi pers, Jimmy begitu sumringah memamerkan produknya namun kebahagian itu hanya sebentar karena pihak berwajib datang menghampirinya. Jimmy bukanlah orang baru dalam dunia bisnis dia sadar bahwa dirinya telah di jebak. Elena menggelengkan kepalanya, menatap Merrik bingung.
Merrik mengerti tatapan Elena. “Aku lah yang menjebaknya, design yang di terima Jewel Bright adalah hasil dari designer perhiasan ternama dari Eropa, enam tahun lalu sudah pernah launching. Jimmy ingin menghancurkan dengan menyuap Lala untuk bekerjasama dengannya. Jimmy baru kembali dari Jerman dua tahun ini, dia tidak mengetahui bahwa design itu sudah pernah ada enam tahun lalu di pasar Asia.”
“Jadi Lala terlibat? Bukankah dia tahu design yang asli? Kenapa memberikan design milik orang lain?”
“Tentu saja karena perintah ku!”
“Jadi maksudmu? Sengaja membuat Lala di pecat untuk mengelabui Jimmy? Dan bukan karena diriku Lala di pecat?”
“Keduanya, seandainya kamu tidak cemburu pun Lala akan aku pecat, ini sudah di rencanakan saat kejadian penyusup kala itu.”
“Lalu bagaimana dengan nasib Lala? Jika, seperti ini bukannya nanti dia yang akan menjadi incaran Jimmy?”
“Tidak usah pikirkan Lala, Jimmy akan sibuk untuk memikirkan dirinya sendiri agar terbebas dari hukum. Dan Lala, dia ku kirim ke luar negri untuk kuliah. Jika, pun Jimmy punya dendam, ia akan mencari diriku.”
Elena hanya terdiam, ini kali pertama ia bekerja di perusahaan, tidak menyangka dunia bisnis begitu kejam. “Apakah bisnis apapun akan seperti ini?”
“Tolong beri aku waktu sedikit lagi, setidaknya sampai peluncuran produk baru. Bukannya kamu sendiri yang bilang, tidak boleh menjalin hubungan sesama rekan kerja? Aku mau fokus dulu dengan peluncuran, ini pertama kalinya aku bekerja di perusahaan.”
“Baiklah. Aku tunggu di tempat bisa saat jam pulang kerja.” Elena keluar ruangan Merrik, kembali ke ruangannya. Semua karyawan bisa bernafas lega, mereka tidak perlu bekerja keras lagi.
Jam pulang kerja tiba, Elena menunggu Merrik di tempat biasa tidak lama mobil Merrik berhenti di sampingnya. Elena seperti biasa akan melihat ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada yang melihatnya lalu masuk ke dalam mobil. Setelah masuk kedalam mobil, Merrik menarik tengkuknya dan mellumat beberapa kali bibir manis Elena. Elena mendorong Merrik. “Ih, ini di tempat umum!” Elena kesal dengan Merrik yang sering menciumnya di dalam mobil, kebiasaanya tidak pernah berubah.
“Aku lakukan di dalam mobil,” kekeh Merrik.
“Tapi, kaca mobil kamu tembus pandang!”
“Tidak ada yang lihat.”
__ADS_1
“Cih.” Elena mendengus.
...***...
Keesok harinya, ponsel Elena berbunyi, ada pesan dari Lala memintanya untuk bertemu. Saat makan siang, Elena mendatangi tempat janjian mereka. Rasa jengkel pada Lala sirna setelah apa yang telah Lala lakukan pada Merrik. Lala sudah sampai terlebih dahulu, masih dengan wajah yang tidak bersahabat pada Elena.
“Hai,” sapa Elena.
“Duduklah," ujar Lala.
Elena duduk di depan Lala, baru saja menempel di kursi, Lala sudah bersuara. “Aku akan langsung saja! Aku mengajakmu bertemu bukan untuk berpamitan padamu! Aku ingin mengeluarkan isi di hatiku!” Lala membenarkan duduknya. “Bagaimana dengan pengobatan Direktur Bastian? Apa ada peningkatan?”
Elena merasa tidak perlu menjawab pertanyaan Lala, hanya dia dan Merrik yang boleh tahu. “Maaf, sepertinya aku tidak bisa memberitahumu.”
“Dari bicaramu sepertinya belum berhasil! Apa bedanya denganku jika belum berhasil? Padahal aku sudah memakai pakaian yang diinginkannya. Kata Dokter Kyat, tingkat keberhasilan bisa lebih tinggi jika di lakukan dengan orang yang di cintai, tapi sepertinya sama saja!” dengus Lala.
Mata Elena langsung membulat, nafasnya tercekat, pikiran Elena berkecamuk. Apa yang sedang Lala katakan? Apakah selama ini Lala dan Merrik melakukan pengobatan seperti yang ia lakukan?
...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...
Jangan lupa like, love, vote dan komentarnya berikan banyak masukan untuk Age yach 🙏🙏🙏🙏
Jika suka dengan cerita ini, boleh banget loch rekomendasi kan pada kerabat, teman atau keluarga 😊😊😊
Kawal terus Cerita Merrik dan Elena 😊
Salam Age Nairie 🥰 🥰🥰
Rekomendasi Novel teman Age hari ini, cus kepoin 👇
__ADS_1