
Merrik dan Elena terkejut mendengar terikan dari Amel, yang dengan otomatis melepaskan ciuman mereka. Amel menghampiri Elena. “Jadi ini, maksud mu untuk tidak berhubungan dengannya?” tanya Amel.
“Mom, bukan begitu ….” Elena berusaha menjelaskan.
“Buktinya sudah cukup jelas El! Kamu membohongi Mommy, Mommy kecewa sama kamu. Pergilah dari rumah ini bersamanya!” ucap Amel keras dengan menjambak rambutnya sendiri.
Elena dan Merrik panik mendengar pengusiran Amel, Merrik berdiri di depan Amel. “Ku mohon Mom, restui kami,” ucap Merrik.
“Aku bukan Ibumu!” bentak Amel.
“Ada apa ini ribut-ribut?” tanya Steven tiba-tiba.
“Tanyakan pada anakmu!” ucap Amel setelah itu meninggalkan dapur.
...***...
Kini mereka semua berpindah ke ruang tamu, Amel masih dalam keadaan marah, menatap ke arah Elena dan Merrik. “Aku tidak akan mengahalangi kalian, jadi pergilah dari rumah ini!”
“Amel!” lirih Steven. Dia merasa masih bisa memberikan kesempatan pada Merrik.
“Mom, aku tidak akan keluar dari rumah ini,” ucap Elena memelas. Dia tidak akan bisa meninggalkan Amel, dia tahu Ibunya sangat menyayanginya.
“Kalau begitu putuskan hubunganmu dengannya!” ucap Amel.
“Baik,” jawab Elena tanpa ragu.
“Tidak!” ucap Merrik. Dia langsung berlutut di kaki Amel. “Mom, tolong jangan pisahkan kami, aku sangat mencintainya. Apa Mommy rela jika Elena hamil sendiri lagi tanpa suami?” ucap Merrik tanpa pikir panjang, dia hanya berpikir telah berhubungan badan dengan Elena tanpa alat pencegah kehamilan. Dalam benak Merrik, pasti Elena akan hamil anaknya lagi.
“Apa yang kamu bilang?” ucap Amel terkejut mendengar perkataan Merrik lalu menoleh ke arah Elena. “Kamu hamil anaknya lagi?” ucap Amel tidak percaya.
Elena hanya membelalakan matanya. Berbeda dengan Merrik, dia tahu mertuanya sedang salah paham. “Tentu saja, siapa lagi yang bisa menghamilinya, dia pasti akan hamil anakku lagi!” ucap Merrik pasti, dia tidak ingin berbohong, hubungan mereka memang sudah di tahap itu.
“Tidak, aku tidak hamil!” bela Elena dengan mengangkat tangannya, dia menatap tajam Merrik yang asal bicara meskipun ia tahu bahwa yang di katakan Merrik memang benar. “Kamu jangan asal bicara!” protes Elena pada Merrik.
“Cepat atau lambat kamu pasti akan hamil lagi, kita sudah melakukannya berulang kali!” terang Merrik.
“Bisakah kamu tutup mulutmu!” kesal Elena. Tidak menyangka Merrik bisa sebodoh itu, yang ia tahu Merrik adalah pria yang cerdas.
__ADS_1
Terkadang jika dihadapkan oleh perpisahan, ketakutan akan kehilangan orang yang di cintai akan menghilangkan pikiran waras dan saat inilah yang dirasakan oleh Merrik.
Steven dan Amel memijat kepala mereka masing-masing melihat pertengakaran antara Elena dan Merrik.
“Sudah, berhenti membuat keributan! El, pergilah ke kamar mu!” perintah Steven.
Elena dengan kaku mematuhi perkataan Ayahnya, dia pergi meninggalkan ruang tamu. “Kamu juga masuklah ke kamar!” perintah Steven ke Amel.
“Tapi ….”
“Masuklah, ada yang ingin ku bicarakan dengan Merrik.” Dengan enggan Amel meninggalkan Steven dengan Merrik.
“Duduklah di kursi!” ucap Steven pada Merrik yang masih berlutut.
Merrik mematuhi perkataan Steven, ia berdiri dari berlutut dan pindah ke kursi. “Apa kamu sebodoh ini Merrik?” ucap Steven.
Merrik bingung dengan perkataan dari Steven. “Maksud Om?” tanya Merrik bingung.
Steven menghembuskan nafasnya pelan saat mendengar Merrik memanggilnya Om. “Kamu memanggil Amel Mommy sedangkan aku Om! Apa kamu tidak menganggapku mertuamu?” protes Steven, baginya apa yang dialami dan dilakukan Merrik sudah membuktikan bahwa lelaki ini serius dengan anaknya.
“Apa? Ya?” Merrik bingung berkata apa. “Maksud Om, sudah merestui ku?”
“Maaf,” ujar Merrik penuh penyesalan, dia tahu terkadang dirinya tidak bisa mengontrol dirinya jika berhadapan dengan Elena, karena alasan itu juga mereka bisa sampai tahap ini. Jika bukan karena Merrik yang tidak bisa mengontrol nafsunya, tidak mungkin mereka hingga sampai di sini.
Steven memikirkan perkataan Merrik yang bilang cepat atau lambat pasti Elena akan hamil lagi. Apakah Merrik sudah sembuh dari penyakitnya? Steven ingin bertanya langsung namun dia urungkan mengingat harga diri lelaki sangatlah tinggi. “Kamu bilang kalian sudah melakukannya? Apa kamu yakin bisa memberikan adik untuk Melena?” tanya Steven.
“Tentu!” jawab Merrik pasti.
“Kamu yakin bisa membahagiakan Eleanor … lahir dan batin?” Steven ingin memastikan dugaannya bahwa Merrik telah sembuh.
“Ya, aku bisa memberikan nafkah lahir dan batin,” jawabnya lagi sangat yakin.
“Baiklah, aku setuju jika El hamil lagi!” Steven mengingat kembali saat Elena hamil Melena yang tidak seperti wanita kebanyakan.
“Maksud Dad, aku harus menghamili Elena dulu?” tanya Merrik ragu.
“Kalau seperti itu akan membuat Amel semakin murka padamu!” dengus Steven. “Aku akan coba membujuk Amel, namun kamu juga harus tetap berusaha meluluhkannya.
__ADS_1
“Baik Dad,” ujar Merrik tersenyum.
...***...
Merrik masih setia tinggal di rumah Steven, layaknya dia lah sang anak dari Steven dan Amel karena lebih banyak dia yang di rumah, sedangkan Elena kembali bekerja.
Merrik masih terus membuntuti Amel, dia akan membantu Amel memasak di dapur, terkadang Merrik lah yang memberi tips dalam memasak. Meskipun masih dalam obrolan yang datar. “Kapan kamu akan pergi dari rumah ini?” tanya Amel.
“Aku tidak punya tempat tujuan, jadi mungkin akan seterusnya tinggal di sini!” jawab Merrik santai.
“Dasar tidak tahu malu!” cibir Amel.
...***...
Hari terus berganti, hari jum’at pun tiba, Elena pulang saat matahari sudah tidak menampakan diri. Setibanya di rumah, dia di kejutkan dengan banyak orang di taman yang sedang melakukan pesta barbeque. ‘Ada apa ini?’ batin Elena.
Lebih terkejut lagi saat melihat siapa saja yang sedang bercengkrama, Ayahnya sedang berbincang dengan sangat serius dengan Ayah Merrik, Ricci, mereka mengobrol sambil memanggang daging. Matanya beralih, melihat Merrik yang sedang asik bermain kembang api dengan Melena. Ibunya yang keras kepala dengan senyum mengembang mengobrol dengan mertuanya, ya mertua perempuannya Rose. Elena mengucek matanya, memastikan pandangan matanya tidak salah lihat. Apakah dia yang terlalu lelah bekerja hingga tampaklah fatamorgana dua keluarga yang saling harmonis? Tidak mungkin semua ini terjadi, sebelum pergi bekerja pada hari senin, Ibunya masih bersikap dingin pada Merrik, terlebih lagi saat mereka kepergok berciuman di dapur. Tidak hanya Merrik yang menjadi sasaran kemarahan Ibunya melainkan dirinya sebagi anak pun terkena amarah dari Ibunya. “Apa yang sebenarnya terjadi?” gumam Elena.
Dia mencoba terus melangkahkan kakinya, mendekat pada kumpulan orang-orang tersayangnya. Memastikan pandangan di depan matanya adalah nyata. Semakin Elena melangkah, kumpulan orang yang sedang berpesta menoleh ke arah Elena dan memberikan senyuman hangat.
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
...Apakah Elena bermimpi saat melihat keharmonisan dua keluarga di depan matanya? Ataukah semua ini nyata?...
...Tungguin besok ya…....
...Jangan lupa dukung Age dengan cara like, love,vote, gift nya.. Di tunggu komentarnya 😊😊😊😊😊😊...
...Salam Age Nairie 🥰🥰🥰🥰😘😘😘😘...
...Terima kasih masih setia dengan Merrik dan Elena,...
...Kenapa ini belum abis-abis sih? Duh Age juga bingung pas ngetik kenapa belum kelar juga padahal ending sudah ada di otak untuk menulis kata END tapi pas mulai jari ini berselancar masih merasa ada yang kurang…...
...Beri masukkan donk tamatnya suka sampai menikah apa selesai di lamaran? Jangan minta konflik ya, udah tinggal happy-happy aja…...
Cus kepoin novel teman Age dibawah ini 👇
__ADS_1