
Merrik pun dengan serius memperhatikan pemandangan indah di depannya, wajah yang dulu dengan mudahnya ia sentuh, bibir yang dulunya bisa ia gigit, kini hanya bisa dilihat dengan mencuri pandang. Diluar ruangan ada seseorang yang memperhatikan interaksi Elena dan Merrik dari pintu kaca yang tembus pandang. Ruang kerja Merrik dominan dengan dinding setengah kaca, hingga orang yang dari luar bisa melihat ke dalam ruangan.
"Ah, sepertinya aku tau siapa orangnya!" gumam Elena.
"Kamu tau bedanya, bukan?" ucap Merrik.
Elena menunjuk monitor. "Iya. Di sisi ini tidak ada detail yang aku tambahkan dan yang tau design terakhir hanya aku dan Daniar karena rencananya akan aku berikan padamu hari ini!" ucap Elena yakin. "Akan aku bawa penyusupnya padamu." tambah Elena.
"Sudah ada bukti?" tanya Merrik.
"Bukti?"
"Jangan asal menuduh sebelum ada bukti. Kita cari buktinya dulu, kita cari mulai dari CCTV."
"Baik."
"Buatkan aku kopi."
"Apa?"
"Aku tidak ingin mengantuk saat memperhatikan rekaman CCTV."
“Kenapa harus aku?” Protes Elena.
“Karena aku adalah bos-mu.”
“Aku ini designer dan bukan barista.”
Merrik menatap Elena. “Aku hanya ingin dibuatkan kopi.”
"Baiklah." Elena mengalah dan pergi ke pantry untuk membuat kopi Merrik. Bisa-bisanya dirinya mematuhi semua perkataan Merrik. Jika itu dulu, dia akan dengan senang hati melakukannya. Elena mulai mengambil cangkir dengan bibir yang dimanyunkan karena sebal. Tidak lama, sekertaris Merrik ikut datang ke pantry. “Nona Eleanor, sedang apa?” tanya Lala.
“Oh, aku diminta Pak Bastian membuat kopi,” jawab Elena.
“Kamu sering membuat kopi untuknya?” tanya Lala.
“Tidak.” Elena berkata jujur, saat masih tinggal bersama, Merrik pun tidak pernah meminta di buatkan kopi. Merrik hanya meminum kopi jika sedang berada di coffee shop saja. “Bukankah, kau sekretarisnya? Seharusnya kamu sering membuatkan dia kopi, bukan?”
“Tidak pernah minta dibuatkan kopi. Dia hanya memintaku untuk memesankan kopi di kedai kopi seberang kantor.”
__ADS_1
Elena mengerutkan dahinya. “Jangan-jangan aku salah dengar, mungkin Pak Bastian memintaku untuk memesan kopi, bukan membuatkan kopi.” Elena memegang jar berisi kopi.
“Sudah tidak apa, buatkan saja. Mungkin dia rindu kopi buatan istrinya.” Lala menunjuk jar kopi mempersilakan Elena untuk melanjutkan membuat kopi.
‘Apa Clara sering membuatkannya kopi?’ batin Elena.
“Apa Pak Bastian sudah memiliki istri dan anak?” tanya Elena sedikit penasaran.
“Bukannya kamu sudah tau tentang Pak Bastian?”
“Hahaha, aku hanya bertanya saja. Rumornya memang sudah memiliki istri tapi kalau sudah punya anak, aku tidak tau.” Elena tidak bohong, dia memang tidak tau apakah Merrik sudah memiliki anak dengan Clara.
Lala tidak menjawab pertanyaan Elena, dia memilih bertanya balik pada Elena. “Sebelum bekerja di sini, kamu kerja dimana?” tanya Lala, seperti sedang meng-interview karyawan baru.
“Aku belum pernah bekerja, lulus kuliah hanya disibukkan dengan kompetisi-kompetisi saja.” Elena menuangkan satu sendok takar bubuk kopi ke dalam portafilter pada mesin pembuat kopi.
“Aku dengar kamu menang lomba di Italia?”
“Iya,” Setelah menuangkan bubuk kopi ke portafilter, Elena memadatkan bubuk kopi menggunakan coffee tamper. Setelah bubuk kopi sudah padat, Elena memasangkan portafilter ke mesin kopi.
“Kenapa milih kerja disini? Kariermu bisa sangat cemerlang jika bekerja di luar negri.” Lala terus bertanya pada Elena.
“Keluargaku kembali ke sini dan aku pun tidak ingin jauh dari mereka.” Elena menuangkan air ke wadah sesuai kapasitas dari mesin kopi.
“Aku kuliah di Paris.” Elena menjawab setiap pertanyaan Lala, masih dengan aktifitasnya membuat kopi. Menyalakan mesin kopi dan menunggu proses brewing, air kopi mengalir keluar dari portafilter ke cangkir yang Elena siapkan. Elena menekan tombol stop saat cangkir sudah penuh.
“Kamu sudah menikah?” tanya Lala.
Elena terdiam, mencoba berpura-pura untuk tidak mendengar. Dikatakan sudah menikah benar adanya, sudah cerai pun benar. Namun, tidak ada bukti apapun, surat nikah atau surat cerai tidak ada. Pernikahan mereka tak diakui negara. Elena mengambil kopi yang sudah jadi, mengambil gula aren untuk dimasukan ke dalam cangkir. “Cukup satu sendok teh gulanya, Elena.”
“Baik," ucap Elena "Apa kamu bilang?” tanya Elena heran dengan panggilan Lala, semua di kantor akan memanggil dengan nama Eleanor. Semenjak tinggal bersama orang tua kandungnya, Elena resmi berganti nama sesuai nama aslinya.
‘Mengapa dia memanggilku Elena?’ batin Elena.
“Pak Bastian tidak suka terlalu manis, jadi satu sendok teh sudah cukup. Elena!” ucap Lala dengan menekankan kata Elena. Lala melihat diamnya Elena. “Kenapa diam? Kamu heran kenapa aku memanggilmu Elena?” tanya Lala dengan santai.
“Kenapa kamu memanggilku Elena? Namaku Eleanor.”
Lala melirik sekilas pada Elena. “Selama ini aku hanya mendengar tentangmu! Dan saat ini, aku melihat di depan mataku sendiri.”
__ADS_1
“Kamu tau tentangku?” tanya Elena dengan suara sedikit terbata.
“Ya, aku tahu kamu istrinya.”
“Siapa yang memberitahumu?” tanya Elena menatap Lala.
“Tidak penting siapa yang memberitahuku. Tapi, saranku lebih baik kamu menjauh dari Pak Bastian.”
“Aku tidak mengerti maksudmu!” Mencoba mengalihkan pandangan.
“Jika sudah memutuskan pergi maka jangan kembali lagi! Itu hanya akan membuka luka lama. Tidak ada yang perlu dimulai kembali."
Siapa yang meninggalkan dan siapa yang ditinggalkan? Lala berbicara seolah Elena lah yang bersalah. “Aku tidak mengerti perkataanmu! Apapun yang terjadi antara aku dengannya tidak perlu kamu yang mengurus!” ucap Elena tegas.
“Itu akan menyakitinya.”
“Kamu tidak tau apapun! Terlebih tentang siapa yang tersakiti!”
“Jangan pikir hanya kamu yang tersakiti, dia juga tersakiti!” tegas Lala.
“Apa kamu menyukainya?” tanya Elena.
“Ya, aku menyukainya, dia orang yang aku kagumi. Meskipun aku tau, dia tidak akan bisa bersamaku. Tapi selama ini, akulah yang menolongnya dan kau sudah meninggalkannya selama enam tahun. Maka, biar saja seperti itu.”
Elena kesal ada orang lain yang mengetahui masa lalunya. Dia bahkan tidak pernah membicarakan hubungannya dengan Merrik pada Michele yang jelas teman dekatnya.
"Kamu tidak perlu khawatir karena aku tidak berniat kembali padanya." Elena meninggalkan Lala sendiri dengan membawa cangkir berisi kopi dan menuju ke ruangan Merrik.
Lala melihat kepergian Elena. "Ada atau tidak dirimu, aku juga tidak akan pernah bisa bersama Bastian!" gumam Lala tanpa di dengar Elena.
Elena masuk ke ruangan Merrik, meletakan kopi di atas meja kerja Merrik. “Silakan kopinya, Pak. Jika sudah tidak ada yang diperlukan, saya pamit undur diri.”
Merrik melihat wajah tidak bahagia pada Elena, meskipun mereka hanya bersama kurang dari tiga bulan. Namun, Merrik hafal dengan segala mimik Elena. “Ada apa? Sebelum membuat kopi kamu tidak seperti ini?”
“Tidak, ada. Boleh saya pergi?” Elena hendak keluar ruangan.
"Katakan padaku ada apa, Elena?" ujar Merrik.
Elena menoleh. "Namaku Eleanor. Sepertinya aku sudah jelas mencantumkan namaku di CV-ku!" Setelah berkata Elena pergi meninggalkan ruangan Merrik dan kembali ke ruangannya. Dia berencana akan resign setelah penyusup ditangkap dan produk baru telah rampung.
__ADS_1
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
...Salam Age Nairie 🥰🥰🥰🥰...