
Elena menatap Merrik yang tertunduk, meyakini bahwa Merrik benar-benar sudah menyesal atas perbuatannya. “Karena butuh bantuan untuk terapi hipnotis kamu meminta bantuan Lala?” tanya Elena.
“Tidak, dia yang cerdik mengikutiku ke klinik. Entah bagaimana caranya dia bisa mencuri berkas Dokter Kyat. Setelah itu, kami membuat perjanjian. Aku membayar semua biaya kuliahnya dan dia membantuku dalam proses penyembuhan, setelah lulus dia meminta untuk bekerja menjadi sekretarisku,” ujar Merrik.
“Emm, apa selama itu tidak ada perasaan sama sekali padanya? Maksudku, kamu lebih lama mengenalnya daripada mengenalku,” tutur Elena.
“Lamanya waktu tidak bisa menentukan kemana hati kita berlabuh.” Merrik memiringkan kepalanya. “Apa kamu masih cemburu?”
“Tidak, aku tidak cemburu!” tolak Elena.
“Lalu kenapa tadi bersikap seperti itu? Akui saja jika cemburu, karena itu bagian dari cinta.”
Elena menatap Merrik dalam, mengingat kembali saat dulu Merrik marah padanya hanya karena Elena berinteraksi dengan artis idolanya. Apakah sama apa yang ia rasakan saat ini? Apakah seperti ini cinta? Tidak sudi berbagi dengan orang lain, menjadi seorang yang egois karena barang yang dimilikinya di sentuh oleh orang lain. Terkadang cinta memang membutakan seseorang, namun dari hal itu kita harus bisa mengontrol diri kita agar tetap waras. Jangan sampai suatu hal yang baik menjadi tidak baik karena kecemburuan yang meruntuhkan logika dan hati. “Ya, aku cemburu namun cemburunya aku tidak sampai melukaimu!” tukas Elena. Dia teringat perlakuan Merrik dulu yang memaksanya dengan kekerasan, hal itu sudah lama terjadi namun masih teringat jelas di kepalanya. Meskipun hatinya telah mengalahkan rasa sakitnya namun masih tersimpan dalam memori otaknya. Suatu kejadian yang terlalu membekas akan sulit untuk di lupakan.
Merrik seakan bisa membaca pikiran Elena, dia tahu dirinya hilang kontrol saat itu, dia benar-benar murka saat melihat Elena di peluk orang lain. Merrik menarik lengannya dan memasukan ke dalam dekapan. Elena sedang berpikir, kapan waktunya ia mengungkapkan keberadaan Melena. Saat ia akan berucap, ponselnya berdering. “Aku angkat telepon dulu.”
Elena mengangkat teleponnya, Ibunya lah yang menelponnya. “Iya, Mom.” Elena berbincang beberapa saat dengan Ibunya. “Besok, aku baru pulang. Hari ini sangat lelah, jadi ingin istirahat di apartemen saja.” lanjut Elena.
Merrik hanya menatap Elena, menajamkan telinganya untuk mendengar pembicaraan Elena dan Ibunya yang didominasi pembicaraan tentang Arka. “Mommy-mu sepertinya sangat setuju jika kamu bersama dengan Arka,” ucap Merrik saat Elena menutup ponselnya.
“Ya, dia memang pria yang baik. Namun, baik belum cukup jika tidak ada cinta.” Elena mengerti apa yang di rasakan oleh Merrik. “Besok aku akan pulang.” Merrik hanya menganggukkan kepalanya. “Apa kamu sudah makan?” tanya Elena mengubah topik pembicaraan.
“Belum,” jawab Merrik.
“Mau ikut aku ke swalayan? Nanti aku masakan untukmu, kebetulan yang di kulkas sudah tidak layak di makan.”
“Baik, ayo.”
Mereka pergi keluar, Elena membawa kantong sampah. “Aku buang sampah dulu, kamu ambil mobil saja dulu, ketemuan di luar saja.”
__ADS_1
“Kenapa kamu membawa kantong sampah?” tanya Merrik.
“Aku habis membersihkan isi kulkas, biar sekalian aku bawa saja. Sudah kamu ke basemen saja, kita ketemu di luar. Aku mau beli kue leker di luar gedung, kalau pakai mobil susah parkirnya. Jadi nanti setelah beli, kita bisa langsung jalan.”
Merrik pergi ke basemen mengambil mobil, Elena menunggu di luar gedung apartemen, menghampiri tukang leker dan membelinya. Tidak lama, Merrik berhenti di samping Elena, dia langsung masuk ke dalam mobil Merrik, dan seperti biasa Merrik akan langsung mencium Elena begitu masuk ke dalam mobil. “Ih, kebiasaan!” protes Elena mengelap bibirnya. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat mereka.
“Apa yang harus aku lakukan?” gumam Arka lesu. Dia datang ke kantor Elena dan mendapat informasi bahwa Elena sudah pulang jadi dia datang ke apartemennya. Tanpa sengaja dia melihat Elena sedang membeli leker. Namun, karena kondisi yang tidak bisa parkir di pinggir jalan, Arka memarkirkan mobilnya di depan sebuah mini market. Dia berjalan menuju Elena, namun sayang, sebelum sampai menuju Elena, ada mobil yang ia kenal dan berhenti tepat di samping Elena. Kaca mobil yang tembus pandang terlihat sangat jelas dari luar siapa orang yang di dalamnya dan juga ciuman singkat Merrik pada Elena.
Merrik melajukan mobilnya dengan sesekali melihat ke arah Elena yang cemberut. “Lain kali jangan cium aku di dalam mobil, mobil kamu ini kacanya terlihat dari luar. Bagaimana kalau abang tukang leker itu lihat?”
“Biarkan saja,” jawab Merrik santai.
Mereka tiba di swalayan, membeli bahan-bahan yang akan di masak, dari keperluan dapur hingga membeli camilan, saat memilih keripik kentang ada seorang anak kecil menghampiri Elena. “Kakak, bisa ambilkan aku satu yang warna hijau?” pinta gadis kecil sambil menunjuk ke atas.
“Oke.” Elena mencoba mengambil snack yang diinginkan gadis tersebut namun Merrik terlebih dahulu membantu gadis kecil tersebut.
“Ini untukmu,” ujar Merrik.
Merrik mencubit pipi gadis tersebut dengan gemas. “Kamu memanggilku Paman dan memanggilnya Kakak?” Tunjuk Merrik pada Elena. “Aku ini suaminya, jika kamu panggil aku Paman, seharusnya kamu memanggilnya Bibi.” Elena hanya menarik sudut bibirnya keatas melihat interaksi Merrik dan gadis kecil tersebut, senyumnya menurun seketika mengingat Melena. Merrik harus tahu keberadaan Melena, hanya saja belum menemukan waktu yang tepat.
Merrik bermalam di apartemen Elena, sabtu pagi, Elena pulang ke rumah orang tuanya. “Aku pergi dulu,” pamit Elena sebelum keluar dari pintu apartemennya.
“Benar tidak mau di antar?” tanya Merrik.
“Tunggu selesai peluncuran produk baru, kau boleh menghadap orang tuaku. Setelah itu aku akan berhenti dari perusahaan milikmu.”
“Kenapa berhenti?” ucap Marrik panik.
“Karena perusahaan melarang hubungan asmara sesama rekan kerja,” ujar Elena tersenyum.
__ADS_1
Merrik tersenyum, menarik Elena dan mencium keningnya. Elena menatap lekat pada Merrik, entah mengapa perasaannya tidak enak. Dia berjinjit dan mencium bibir Merrik, ciuman penuh antusias seakan merupakan ciuman perpisahan. Setelah cukup lama, Elena melepaskan ciuman mereka dan berbalik meninggalkan Merrik.
***
Elena tiba di rumahnya, sudah di sambut dengan Melena. “Mommy.”
Elena memeluk Melena. “Anak Mommy, tambah cantik saja.” Puji Elena.
Mereka masuk ke dalam rumah, Elena sudah merasa ada yang aneh di rumahnya, seperti akan diadakan pesta sederhana. “Mom,” sapa Elena pada Amel.
“Kamu sudah pulang?” ujar Amel.
“Ada apa ini Mom? Kenapa rumah di dekor seperti ini?” tanya Elena.
“Besok keluarga Arka datang untuk melamarmu!” ujar Amel santai.
“Apa!”
...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...
...Jangan lupa like, love, vote dan komentarnya berikan banyak masukan untuk Age yach 🙏🙏🙏🙏...
...Jika suka dengan cerita ini, boleh banget loch rekomendasi kan pada kerabat, teman atau keluarga 😊😊😊...
...Kawal terus Cerita Merrik dan Elena 😊...
...Salam Age Nairie 🥰 🥰🥰...
Rekomendasi Novel teman Age hari ini, cus kepoin 👇
__ADS_1