
...Jangan lupa setelah membaca kasihlah Age like, love, vote, gift 😊 Biar tambah semangat 💪💪...
...Saran dan komentarnya juga di tunggu yach, biar Age bisa lebih baik lagi dalam berkarya 🥰...
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
Merrik terus menatap Elena yang tertidur, mengambil kotak obat dan mengobati sudut bibir Elena yang terluka karena ulahnya. Menatap sendu pada gadis yang telah ia sakiti. Merrik menarik Elena dalam pelukannya. Perlahan matanya ikut sayu dan akhirnya terlelap bersama.
Tidur Merrik tidak tenang mengingat kembali saat usianya sembilan tahun, disaat Ibunya meninggalkan rumah karena perceraian dengan Ayahnya. Merrik hanya dapat menatap Ibunya dari balik jendela, sudut matanya mengekor ke setiap gerak Ibunya, hingga Ibunya menghilang dari jangkauan pandangannya. Merrik semakin erat memeluk Elena dalam tidurnya, seakan Elena akan hilang tanpa ia sadari.
Karena tidur yang tidak nyenyak membuat Merrik terbangun dikala subuh, tidak ada yang dia lakukan selain menatap wajah Elena. Tidak pernah bosan menatap remaja di depannya, tidak terasa dua jam Merrik memandangnya.
Elena mulai mengerjapkan matanya, di depannya sudah ada Merrik yang secara intens memandangnya. Elena reflek mundur kebelakang, mencoba menjauh dari jangkauan Merrik. Dia mulai takut akan sosok Merrik, laki-laki yang selama ini ia cintai, tubuhnya mulai bergetar. Merrik melihat ketakutan di wajah Elena, sebelum Elena terjatuh dari ranjang karena berusaha untuk terus mundur. Merrik menariknya, memeluknya dengan erat, Elena menahan isak tangisnya, tidak ingin terlihat lemah. "Ssttt, jangan takut. Aku salah berbuat kasar padamu." Elena terus mencoba untuk mendorong Merrik namun apa daya, tenaganya tidak sebesar tenaga seorang laki-laki. Akhirnya ia pasrah dalam pelukan Merrik.
"Maafkan aku, maafkan aku!" lirih Merrik berulang lalu mencium kening Elena. "Tapi aku tidak akan pernah membiarkanmu dekat dengan pria lain. Apa kau mengerti?" ucap Merrik mencubit dagu Elena.
Elena menatap pria di depannya, sedikit menganggukkan kepalanya. Apakah benar laki-laki ini yang pantas ia cintai? Tidak tau apa kesalahannya, tidak sepantasnya dia diperlakukan kasar seperti ini.
"Aku bantu kamu membersihkan diri." Merrik mulai menggendong Elena masuk ke dalam kamar mandi dengan keadaan mereka yang polos. Mereka berdiri di bawah shower, Merrik mulai memandikan Elena bak boneka yang diam tanpa perlawanan. Mulai mengambil spons mandi dan menuangkan sabun cair ke atasnya, mulai menggosok punggungnya dan seluruh tubuh Elena, semua dilakukan oleh Merrik dengan lembut, sangat berbeda dari semalam. Semalam Merrik bagaikan serigala yang kelaparan, yang tidak ada hentinya memangsa buruannya.
Setelah selesai mandi Merrik memilih pakaian yang akan di pakai Elena, Elena berdiri di depan cermin, melihat banyak noda memar di tubuhnya. Merrik datang menghampirinya, membantunya memakai pakaiannya. "Aku bisa pakai sendiri." Akhirnya Elena membuka suaranya.
__ADS_1
"Sudah, biar aku bantu saja." Merrik tetap memakaikan pakaian ke tubuh Elena. Elena hanya menuruti semua perintah Merrik. Sebelumnya Elena memang patuh, bedanya adalah, sebelumnya ia patuh karena menganggap semua perkataan Merrik adalah kepeduliannya, ia mematuhinya karena rasa sayang terhadap Merrik. Namun, saat ini kepatuhannya karena dia takut akan Merrik.
Elena tidak mengerti hatinya, apakah yang ia rasakan ini bisa disebut dengan cinta? Ya, Elena tidak pernah berhubungan dengan pria lain, jadi selama ini dia hanya merasa apa yang dilakukan Merrik adalah hal yang wajar.
"Kita sarapan dulu ya?" ucap Merrik.
"Biar aku buat sarapan."
"Tidak perlu, aku sudah pesan bubur."
Mereka sarapan bubur hangat namun suasana tidak sehangat sebelumnya, suasana menjadi dingin. Merrik membuang bungkus bubur ke dapur, melihat isi tempat sampah yang penuh. "Apakah Bi Tanti tidak datang?" tanya Merrik pada Elena.
"Aku lupa memberitahu Kakak, Bi Tanti sudah ijin padaku tidak dapat bekerja selama tiga hari karena anaknya sedang dirawat di rumah sakit. Pekerjaan rumah biar aku yang lakukan."
Elena beranjak menuju dapur untuk membersihkan area dapur terlebih dahulu. Langkahnya terhenti saat Merrik menarik lengannya. "Jangan lakukan, biar aku suruh orang untuk melakukannya. Tugasmu hanya melayaniku saja."
Merrik langsung menggendong Elena kembali ke kamar, mata Elena membulat, ketakutan menghampirinya kembali, takut akan hal semalam terulang kembali. Merrik meletakan Elena di atas ranjang. "Tenanglah. Aku akan melakukan dengan lembut dan kamu akan menikmati seperti biasanya."
"Kak, semalam kita sudah melakukannya. Aku tidak mau lagi." Netra-nya menatap Merrik memohon.
"Kenapa kalau semalam kita sudah melakukannya? Dari kamu bangun tidur aku sudah ingin melakukannya tapi ku urungkan karena kamu butuh makan. Jadi sekarang kita lakukan apa yang sudah sering kita lakukan yah?"
__ADS_1
"Kak, aku masih lelah."
"Kalau masih lelah, cukup diam saja. Biar aku menyelesaikannya. Jangan tolak aku Elena!"
Merrik mulai mencium setiap inci bagian tubuh Elena, semua ia lakukan dengan lembut, hingga lambat laun Elena ikut menikmati nya. Sabtu mereka hanya dihabiskan di dalam kamar, entah berapa kali Merrik menanam benih pada Elena hari ini. Mereka sampai melewatkan jam makan siang mereka.
Hingga pukul lima sore perut Elena mulai lapar. "Perutmu bunyi!" ucap Merrik tersenyum manis pada Elena. "Aku pesan makanan dulu."
"Tidak usah pesan, biar aku yang masak saja, di kulkas aku lihat masih banyak bahan makanan. Jika tidak di masak akan membusuk."
Elena bangkit untuk duduk, dia merasakan lengket ditubuhnya dan beberapa bagian yang masih kurang nyaman. Merrik memandang punggung polos Elena, dia ikut bangkit dan memeluk Elena dari belakang. "Maafkan aku ya, aku tidak akan mengulangi seperti yang semalam." Elena cukup tersentuh dengan permintaan maaf Merrik. "Aku mandi sebentar, setelah itu aku akan masak makan malam."
Elena beranjak pergi, tidak butuh lama untuk mandi, Elena mulai menyibukkan dirinya di dapur, membuat beberapa hidangan di dapur. Hingga akhirnya masakannya selesai di buat. Karena Merrik enggan turun dari ranjang, Elena mengantarkan makanan ke dalam kamar. Mereka menghabiskan makanan di atas ranjang. "Habis ini main lagi ya?" ujar Merrik.
Elena hanya memberi senyum, membawa bekas piring kotor ke dapur. Mengambil kantong plastik besar dan memindahkan kantong plastik kecil sampah yang ada di tempat sampah ke dalam kantung plastik besar. Sayang kantong plastik kecil bolong di bagian bawah, sampah berserakan ke lantai, Elena terdiam memandang lantai. Bukan malas membersihkan sampah yang berserakan, matanya terfokus pada tablet berwarna kuning yang ikut tercecer di lantai.
Elena mengambilnya dengan tubuh yang bergetar, memastikan tablet tersebut sama atau tidak dengan vitamin yang dia beli kemarin. Kenyataannya tablet tersebut sama dengan yang dia beli. "Apa maksud semua ini?" gumam Elena.
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
Salam Age Nairie 🥰🥰🥰
__ADS_1