
Elena mendongak, menatap Merrik. “Tidak bisa.”
“Kenapa?” tanya Merrik.
“Kamu pasti akan di usir Mommy, dia sangat membencimu!” ucap Elena tertunduk.
“Karena itu, aku harus bisa meluluhkan hatinya.”
“Dengan cara apa?”
“Apapun caranya, akan aku lakukan.”
Elena mengusap wajahnya. “Tolong beri aku waktu, akan aku jelaskan secara perlahan pada Mommy.” Elena menatap Merrik dengan memberi keyakinan.
“Baik, minggu depan aku akan menemui orang tuamu.”
“Bisakah kamu tidak memberiku batas waktu? Bisakah tidak memberiku tekanan?” protes Elena.
Merrik menyadari kesalahannya, dia tidak bisa terburu-buru, terlebih lagi saat ini Elena sedang mencoba membatunya. Bagaimana jika memang tidak bisa disembuhkan? Apakah dia akan tetap mempertahankan Elena? “Baiklah.” Merrik mencoba bersabar.
Merrik harus merelakan Elena masuk ke dalam mobil Arka, dia percaya pada istrinya tidak akan menghianatinya. Sepanjang perjalanan, seperti biasa, Arka akan banyak berceloteh pada Elena. Dia sering menyempatkan diri setelah pulang kerja bertemu dengan Melena. Banyak bahasan tentang Melena, Elena mendengarkan semua cerita Arka tanpa menyela ceritanya, Arka sangat antusias bercerita tentang Melena. Seharusnya Merrik lah yang dekat dengan Melena bukannya Arka. Sampai tiba di rumah, Elena membuka suaranya. “Arka, ada yang ingin aku bicarakan.”
Arka melihat mimik wajah Elena yang serius. Arka takut Elena menolaknya. “Kita bicara nanti saja, orang di dalam pasti sedang menunggu kita.” Arka langsung keluar dari mobil dan memutarinya untuk membuka pintu mobil Elena. Mereka masuk ke dalam rumah, sudah ada para anggota keluarga berkumpul. Melena langsung memeluk Arka. Elena yang melihat pun begitu miris, bahkan ayah kandungnya tidak mengetahui keberadaannya. Mereka semua bercengkrama dengan hangat hingga Arka pamit untuk pulang. Elena pergi menidurkan Melena, Amel menghampirinya. “Bagaimana? Apa kamu akan menerima Arka?”
“Mom, aku belum bisa,” ucap Elena tertunduk.
“Kenapa? Apa kamu masih mencintai lelaki brengsek itu?” tanya Amel. Elena tahu pasti siapa yang di maksud Mommy-nya. Elena hanya tertunduk, tidak bisa menjawab pertanyaan Mommy-nya. “Lupakan pria brengsek itu, El.”
“Bagaimana jika selama ini kita salah menilainya? Bagaimana pun dia Ayah dari Melena.” ucap Elena.
__ADS_1
“Kamu sudah di sakiti dua kali, apa kamu mau memaafkannya? Apa Melena selama ini kekurangan kasih sayang?” cecar Amel. Dia menelisik Elena, naluri seorang Ibu selalu tepat. “Kau bertemu dengannya?”
Elena menoleh, menatap Ibunya. Diam tanpa suara, Amel yakin Elena telah bertemu Merrik. “Buang jauh-jauh perasaanmu terhadap laki-laki itu. Sampai kapanpun aku tidak akan memaafkan lelaki brengsek itu! Kamu jangan lupa bahwa dia telah membuangmu seperti sampah!”
“Mom, bagaimana jika selama ini dia menderita? Bagaimana jika selama ini, dia tidak benar-benar ingin melepasku?”
“Jika dia seorang lelaki, dia tidak akan menghindar dari masalahnya. Dia akan hadapi apapun bersamamu dan bukannya memilih pergi dengan cara yang pengecut! Dan jika ia menderita selama ini, aku harap dia menderita untuk selamanya!” ucap Amel tegas, setelah itu berdiri untuk keluar dari kamar Melena. Saat diambang pintu Amel berhenti dan berkata, “Jika kamu memilih bersama lelaki itu, maka pintu ini terbuka untukmu pergi, aku tidak akan mengakui dirimu sebagai anakku dan jangan harap bisa membawa Melena pergi dari sini!”
Amel berkata tanpa melihat Elena. Memberikan sebuah ultimatum pada putrinya bahwa ia tidak sedang bercanda. Setelah itu, ia pergi meninggalkan Elena di dalam kamar. Hatinya sudah mati untuk memaafkan Merrik. Anak yang selama ini dia sayangi, harus disakiti oleh seorang laki-laki. Karena Elena di culik, membuat Amel dan Steven tidak berencana memiliki anak lagi sebelum Elena di temukan. Namun, saat mereka menemukan Elena sudah berusia 17 tahun. Sehingga Amel sudah tidak ada keinginan untuk memberi Elena adik, terlebih putrinya tersebut sudah hamil saat ditemukan di usia muda.
Elena naik ke ranjang Melena dan memeluknya, pikirannya kacau, bagaimana caranya dia membuat Mommy-nya luluh. Yang dikatakan Mommy-nya memang benar, Merrik telah menorehkan luka dua kali pada hati Elena. Namun, apadaya hati Elena masih mencintai Merrik, entah karena Merrik laki-laki pertama untuknya ataukah memang cinta sejatinya. Elena terus termenung dengan air mata yang menetes. Disaat termenung ponselnya berbunyi ada pesan dari Merrik, Elena hanya melirik sepintas, membaca pesan singkat dari notifikasi tanpa membuka aplikasi chat dan tanpa ada keinginan membalas chat dari Merrik. Air matanya semakin deras mengalir.
Keesok paginya, Amel menelpon Arka menanyakan apakah ada pria yang dekat dengan Elena selama ini. Informasi yang Amel dapat dari Arka, ada seorang pengagum rahasia yang memberikan Elena bunga mawar. Arka tidak bercerita tentang Merrik karena dia sama sekali tidak menaruh curiga pada Merrik yang selalu menjaga jarak dan tidak pernah melepas cincin pernikahannya.
Hari senin tiba, saatnya kembali ke rutinitas kerja. Elena pamit pada orang tuanya. “Lebih baik kamu berhenti kerja, Ayahmu akan mengucurkan dana untukmu membuka usahamu!” ucap Amel saat Elena akan masuk ke dalam mobil.
Elena hanya tersenyum,tidak membalas Mommy-nya, dia tidak mungkin langsung menolak saran dari Amel, dia bukan seorang anak yang tidak paham akan sopan santun, bagaimana pun Amel sangat tulus menyayanginya, Mommy-nya hanya ingin yang terbaik untuk dirinya.
Merrik menatapnya, tatapannya ke bibir Elena. “Kenapa tidak membalas pesanku?”
“Aku tidak lihat ponselku.”
“Bagaimana hasilnya? Apa kamu sudah menolak Arka?”
“Belum ada kesempatan untuk menolaknya. Namun, aku memang tidak pernah memberinya harapan.”
Merrik mengepalkan tangannya, dia tidak suka terlalu lama berurusan dengan pria yang menyukai istrinya. “Buatkan aku kopi.”
Elena mendecak. “Bisakah kamu tidak berlagak seperti seorang Tiran? Setidaknya katakan tolong sebelum meminta bantuan!” protes Elena.
__ADS_1
Merrik melihat kemarahan Elena, tidak menyangka gadis kecilnya bisa meluapkan emosi padanya. Ya, selama ini dirinya lah yang selalu semena-mena, Elena bersedia menerimanya kembali saja sudah merupakan suatu keberuntungan. Merrik tidak akan membuang kesempatan kali ini, dia yang akan mengejar Elena. “Tolong buatkan aku kopi, istriku.”
Elena pergi ke pantry untuk membuat kopi, belum selesai membuat kopi, Merrik menyusulnya dan menutup rapat pintu pantry. “Kenapa ikut menyusul ke sini?” tanya Elena.
Merrik tidak menjawab Elena, dia langsung menarik Elena dan mulai menciumnya, sejak tadi dia menatap bibir yang membuat candu namun kantornya memiliki ruang setengah kaca yang terlihat dari luar. Setelah puas Merrik melepasnya.
“Apa kamu ingin?” tanya Elena. Elena akan bekerja sama kapanpun jika Merrik ingin mencobanya. Namun, Merrik hanya menggeleng. “Aku hanya ingin menciummu.”
...***...
“Pak, orang yang memberi bunga mawar kepada Nona Eleanor sudah di temukan.” Jakson memberi laporan pada Merrik beserta bukti-bukti pemesanan bunga pada toko bunga yang tidak terlalu jauh dari kantor.
“Bawa orangnya ke sini.”
“Baik.” Jakson pamit undur diri memenuhi perintah Merrik.
Tidak lama, Jakson datang membawa seorang pria kehadapan Merrik.
“Pagi, Pak. Bapak memanggil saya?” tanya pria itu.
“Kenapa kamu mengirim bunga mawar pada Eleanor?” tanya Merrik. Pria itu tersentak, tidak menyangka ada yang mengetahui aksinya.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Jangan lupa like, love, vote, gift 😊 Biar Age tambah semangat 💪💪
Saran dan komentarnya juga di tunggu yach, biar Age bisa lebih baik lagi dalam berkarya 🥰
Salam Age Nairie 🥰🥰🥰
__ADS_1
Jangan lupa yang belum baca , SAMUDRA NAYNA silakan mampir ya.. Ih, nggak bosen promo novel sendiri.. Iya, emang nggak tau malu nih Age.. 🤭
Mohon maaf ya belum bisa up lebih banyak 🙏🙏🙏🙏