
Amel menangis di dalam kamarnya, Steven hanya bisa mencoba untuk menenangkannya. "Sudahlah, jangan menangis, menangis tidak akan menyelesaikan masalah. Lebih baik kita cari jalan keluarnya!" ujar Steven.
"Bagaimana aku bisa tenang? Anak kita diperlakukan bagaikan seorang tahanan! Apa salah El? Di usia yang baru menginjak tujuh belas tahun harus mengandung anak dari laki-laki brengsek! Bahkan aku sendiri mengandung El di usiaku dua puluh tujuh tahun!"
Elena sudah menceritakan kepada orang tuanya atas apa yang telah terjadi pada dirinya. Dari awal pertemuan dengan Merrik di hutan pegunungan, pernikahan siri, pil KB hingga perpisahan mereka. Tidak ada yang di tutupi oleh Elena pada orangtuanya.
Orangtuanya pun sudah memberikan bukti pada Elena bahwa mereka benar keluarga sesungguhnya. Karena itu, Elena memberanikan diri untuk menceritakan semuanya pada orangtuanya. Semua ia ceritakan dengan kepolosannya.
Steven mengambil ponselnya, menelpon bawahannya untuk mencari tau siapa yang berani memperlakukan anaknya dengan semena-mena.
Elena hanya bisa termenung di kamarnya. Memikirkan nasib kedepannya, bagaimana dia akan membesarkan anaknya sendiri tanpa suami. Apakah dia harus memberitahu Merrik tentang kehamilannya? Atau diam dalam sunyi seolah tidak memiliki suami? Apakah anaknya akan seperti dirinya yang tidak mengenal orang tuanya? Begitu banyak pemikiran yang ada di kepalanya. Terlebih lagi, dia baru mengetahui usia aslinya, selama ini dia pikir akan berulang tahun yang ke delapan belas tahun dua bulan lagi. Nyatanya, usianya baru menginjak tujuh belas tahun. Tepatnya tujuh belas tahun lewat satu bulan. Artinya saat menikah dengan Merrik masih di usia enam belas tahun. Mungkin, dulu Neneknya hanya mengira-ngira usia Elena karena postur tubuh Elena yang lebih besar. Elena memang terlihat mungil bila berdampingan dengan Merrik, namun jika di banding dengan gadis di desanya, dia lebih tinggi dari gadis-gadis di desanya. Mungkin karena itu, Neneknya membuat perkiraan umur Elena berdasar oleh postur tubuh yang lebih tinggi dari anak seusianya.
Amel masuk ke dalam kamar Elena, dia duduk di samping Elena "El, kita pergi dari sini ya?"
Elena hanya menoleh ke arah Amel. "Pindah kemana?"
"Australia, negara asal Daddy-mu." Amel ingin membawa pergi Elena, dia akan membuat Elena melupakan hal buruk dan membuka lembaran baru.
"Boleh aku minta waktu untuk berpikir?" ucap Elena.
"Ya, jangan terlalu lama memikirkannya."
"Baik."
"Sekarang kita pindah ke kota B dulu, pekerjaan Daddy-mu di sana." Steven, Amel dan Elena bertolak ke kota B, mereka tinggal di mansion milik mereka.
...*************...
Merrik masih setia menunggu Elena di rumah Elena, dia masih mengharapkan Elena tiba-tiba muncul di depannya seperti awal pertemuan mereka. Pergelangan tangan Merrik yang dihiasi gelang buatan Elena menjadi kekuatannya, dia yakin bahwa Elena masih mencintainya. Dia akan menemukan istrinya kembali.
Merrik sudah meminta bantuan Dion untuk mencari keberadaan Elena. Masih belum ada hasil, sudah tiga hari Merrik mencari keberadaan Elena, seperti ada yang menutupi jejak Elena. Sulit untuk menemukannya.
Dion datang ke desa tempat rumah Elena berada, menemui Merrik yang tinggal di rumah Elena. "Bos." Panggil Dion.
__ADS_1
"Apa sudah dapat kabar?" tanya Merrik.
"Sudah, Elena di jemput oleh dua orang dan membawanya pergi."
"Siapa?"
"Aku belum tau pasti, yang aku tau, dua orang paruh baya. Lelaki dan wanita."
"Sudah mengetahui keberadaannya?"
"Elena berada di kota B."
"Kita ke sana." ujar Merrik.
Tanpa membuang waktu, Merrik langsung bertolak ke kota B, ingin menjemput kembali istrinya, dia ingin membawa pulang istrinya. Ada rasa bahagia mendengar keberadaan Elena. Namun, ada rasa kekhawatiran di hatinya, dia tidak tau siapa yang bersama Elena. Baik atau buruk kah?
Merrik tiba di depan Mansion, menatap takjub pada bangunan di depannya. Pikiran Merrik kacau, tidak tau apa yang terjadi pada Elena. Perdagangan manusia atau kah Elena menemukan keluarganya? Merrik bisa berspekulasi tentang keluarga Elena, dia pernah merasa ada yang ganjil dengan asal usul Elena. Wajah yang berbeda dari penduduk desa dan warna netra yang berbeda cukup untuk membuatnya curiga.
"Biarkan dia masuk."
Steven sengaja membuat celah agar Elena ditemukan, dia sudah mendapat info semua tentang Merrik. Dia ingin melihat sendiri orang yang merusak anaknya. Dia telah mengetahui bahwa Merrik juga bukan dari keluarga sembarangan. Bisnis keluarganya juga termasuk yang terbesar. Tetapi kenapa dia memperlakukan Elena seperti itu? Bahkan dari cerita Elena, Merrik hanyalah karyawan biasa.
Merrik masuk ke dalam ruang tamu. Dia dipersilakan untuk masuk. Elena tidak ada di ruang tamu, Steven sudah bekerjasama dengan Amel, Amel bertugas untuk menemani Elena di taman belakang. Mereka tidak berniat mempertemukan Elena dengan Merrik.
Steven berjalan menuju ke arah Merrik. Dia berdiri di depan Merrik. "Anda siapa?" tanya Steven.
Merrik menatap Steven, dia agak terkejut dengan wajah Steven yang mirip dengan wajah Elena versi pria. "Saya Merrik, saya ingin bertemu dengan Elena."
"Maaf, di sini tidak ada yang bernama Elena." Steven tidak bohong, anaknya bernama Elanor.
"Aku tidak tau siapa Anda? Dan aku juga tidak tau apa tujuan Anda membawa Elena pergi? Anda tidak perlu berbohong pada saya, saya tau Anda membawa pergi Elena."
"Sudah kukatakan, bahwa tidak ada nama Elena di rumah ini."
__ADS_1
Merrik tersenyum kecut. "Anda masih saja berkilah! Jelas Anda yang membawa pergi Elena dari rumahnya yang di pegunungan."
"Saya tidak membawa pergi, saya hanya mengambil apa yang saya punya."
"Apa maksud Anda?" tanya Merrik bingung.
"Saya hanya membawa anak gadis saya ketempat asalnya."
Merrik terkejut mendengar penuturan Steven. Meskipun dia sudah menduganya saat melihat wajah Steven. "Anda Ayah Elena?"
"Aku, Ayah gadis yang tinggal di pegunungan."
"Boleh aku bertemu Elena?" ucap Merrik. Ada kelegaan di hati Merrik bahwa Elena dibawa pergi oleh keluarganya.
"Atas dasar apa aku mempertemukan kalian?" tanya Steven
"Aku suaminya!" ucap Merrik tegas.
"Aku tidak ingat, pernah menikahkan anakku!" Steven masih tidak ingin dengan mudahnya Merrik bertemu dengan Elena.
"Kami sudah menikah," ucap Merrik.
"Apa buktinya jika kalian sudah menikah?" Steven mulai teringat cerita Elena tentang pernikahan siri mereka. Merrik bukan orang miskin yang tidak mampu membayar biaya dokumen pernikahan. Kecuali ada maksud hanya untuk memanfaatkan anaknya. Steven mencoba untuk menahan emosinya, bagaimanapun dia sebagai orang tua tidak bisa melindungi anaknya sendiri. Seandainya dia bisa melindungi Elena, tidak mungkin anaknya tinggal di desa terpencil itu dan tidak mungkin bertemu dengan pria brengsek di depannya ini.
"Aku tau kami belum meresmikan pernikahan kami, tapi kami benar-benar pasangan suami-istri."
"Apakah ada seorang suami yang dengan teganya menyebut istrinya jallang? Apakah ada seorang suami yang tega meracuni istrinya?" ucap Amel yang tiba-tiba datang ke ruang tamu dengan kemarahan yang jelas terpancar.
...πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ...
Jangan lupa tinggalkan jejak πβ€οΈπΉvote dan komentarnya ππππ
Salam Age Nairie π₯°π₯°π₯°π₯°
__ADS_1