
Elena masih meratapi nasibnya, meskipun sudah tidak terlalu banyak menangis, nafsu makannya berkurang, tidurnya tidak nyenyak.
Usia kandungan Elena sudah memasuki usia 17 minggu, selama itu pula kediaman Steven tidak ada tawa. Rencana untuk pindah harus di tunda, karena hasil pemeriksaan kehamilan menyatakan kandungan Elena lemah, menunggu janin cukup kuat untuk bisa naik pesawat.
Setelah perpisahan dengan Merrik, Elena tidak mengetahui kabar Merrik, dia pun sudah tidak ingin tau kabar lelaki itu. Namun, masih sangat menyesakan dada.
Elena membuka laptopnya, mencoba untuk bangkit, dia harus bisa memulai hidupnya. Saat membuka email, terdapat email dari Michele, menanyakan kabarnya karena hilang tiba-tiba. Elena menangis setelah membaca email dari Michele, seharusnya dia sedang kuliah, bersenda gurau bersama teman-teman nya, bukannya menangis karena patah hati, terlebih dia akan menjadi ibu tunggal. Elena membalas singkat email Michele, mengabari bahwa ia berhenti kuliah, bertemu orang tua kandung dan akan pindah ke Australia. Tentu dengan menghilangkan fakta tentang kehamilannya.
"Apa kamu sudah siap? Dokter sudah membolehkan kamu berpergian!" ucap Amel pada Elena.
"Iya Mom."
Steven, Amel dan Elena bertolak ke Perancis dengan jet pribadi, Negara dimana Elena dilahirkan. "Mom, bukannya kita akan ke Australia?" tanya Elena bingung, kenapa sekarang mereka ada di Paris.
"Daddy-mu punya usaha di bebagai tempat, saat ini, dia akan fokus yang di Paris. Lagipula ini tempat awal aku dan Daddy menetap saat baru menikah, sampai melahirkan dirimu." Amel tidak bohong, Paris adalah kota dimana ia melahirkan Elena. Namun, yang tidak di ketahui Elena, selama ini, Merrik mencoba diam-diam mencari tahu tentang kabar Elena. Steven menutup rapat informasi, hingga Merrik tidak mengetahui kabar tentang Elena, sengaja menyebar informasi bahwa mereka pindah ke Australia.
Steven tidak mengerti jalan pikiran Merrik, jika dia sudah melepas Elena, mengapa masih mencari informasi tentang anaknya. Steven sudah setuju dengan Amel untuk menghapus nama Merrik dari ingatan mereka.
...*********...
"Informasi yang kita dapat, mereka pergi ke Australia. Namun, tidak ada tanda-tanda mereka di sana," ucap Dion berdiri dibelakang Merrik yang duduk di atas kursi roda.
"Berhenti mencari, orang tua Elena pasti menutup semua informasi!" ucap Merrik. Saat ini dia sudah mulai bisa berjalan meskipun belum bisa berjalan terlalu lama.
Setelah perpisahan Merrik dan Elena. Ricci dan Rose begitu kecewa dengan keputusan Merrik yang meninggalkan Elena hanya karena tidak bisa berjalan.
"Merrik, jika kamu mencintai Elena kenapa kamu melepasnya? Setelah melepasnya malah diam-diam ingin mengetahui kabarnya! Lihat dirimu sekarang, kamu sudah mulai bisa berjalan. Kau seperti orang bodoh! Bagai seorang penguntit yang hanya ingin melihat idolanya dari jauh!" Dion menasehati sebagai teman hingga terlontar makian untuk Merrik.
"Dia pantas mendapat pria yang lebih baik dariku," ucap Merrik.
__ADS_1
Dion melirik sinis pada Merrik. "Aku rasa kamu benar. Elena pantas mendapat pria yang jauh lebih baik darimu. Dia cantik dan muda, masih banyak hal indah yang bisa ia gapai. Keputusanmu sudah tepat melepaskannya. Setidaknya dia sudah tidak terlibat oleh pria dewasa yang labil seperti dirimu! Usia memang tidak bisa untuk melihat kedewasaan seseorang!" Dion pergi meninggalkan Merrik sendiri tanpa menunggu reaksi dari Merrik.
Hampir semua orang yang mengetahui kisah Merrik dan Elena pasti akan membenci Merrik, laki-laki itu pantas untuk tidak bahagia. Semua cacian, sindiran dan kutukan harus diterima oleh Merrik. Bagaikan peran antagonis yang wajib untuk dibenci oleh seluruh penonton. Merrik menerima itu semua, karena menang semua itu salahnya. Memendam sendiri penderitaannya agar orang lain tidak ada yang tau.
...********...
Elena berjalan keluar dari tempat pengambilan bagasi menuju pintu keluar, dimana banyak orang yang menunggu kedatangan penumpang yang turun dari pesawat. Enam tahun sudah hidupnya lepas dari Merrik. Hari ini, dia kembali ke mansion milik ayahnya di kota B, mereka telah kembali setahun setengah setelah Elena lulus kuliah. Namun, dalam setahun ini Elena disibukan dengan berbagai macam lomba design perhiasan. Kali ini, ia menang dari ajang lomba yang diselenggarakan di Itali.
Penampilan Elena semakin dewasa dengan bertambahnya usia, kecantikan nya semakin terpancar, tidak akan ada yang mengira bahwa dirinya sudah menjadi ibu. Dengan memakai jaket jeans slim dengan kaos tanpa lengan di dalamnya, dipadukan dengan celana jeans dan sepatu boots menambah kesan muda pada dirinya, belum lagi kacamata hitam menghiasi wajahnya, Elena memeluk anak kecil yang berdiri di samping Amel. "Mommy kangen kamu." Elena mencium seluruh wajah Melena. Gadis kecil hasil dari buah cintanya bersama Merrik.
Setelah puas mencium anaknya, Elena memeluk Amel. "Mommy bangga padamu telah berhasil memenangkan lomba!" ucap Amel bangga pada Elena.
"Terimakasih Mom."
"Ayo kita pulang." Ajak Amel
"Grandma, aku boleh ikut lain kali jika Mommy lomba lagi?" tanya Melena.
"Yeah, asik!" ujar Melena dengan tawa.
Mereka kembali ke Mansion, sudah tidak ada tangisan dari Elena. Amel berhasil membuat Elena menjadi wanita yang tegas, dalam mendidik Melena pun terlihat Elena mengajarkan Melena untuk bersikap tegas dan kuat.
"Apa kamu mulai mencari pekerjaan?" tanya Amel.
"Aku mengikuti kompetisi merancang untuk model perhiasan Asia, aku mendaftarkan di internet dan masuk dalam semi final. Tiga hari lagi akan diadakan finalnya."
"Dimana?" tanya Amel.
"Di kota A, Mom, tidak jauh dari sini. Aku tidak berniat bekerja di luar negeri, tidak ingin berpisah dari kalian!" ucap Elena merentangkan tangan memeluk Melena.
__ADS_1
"Kamu bisa bekerja di kantor Daddy. Tidak perlu kerja dengan orang lain."
"Mom, usaha Daddy bukan di bidangku, mana mungkin aku kerja di kantor Daddy."
"Kalau begitu kamu bisa minta kucuran dana untuk membuka perusahaanmu sendiri."
"Aku ini designer perhiasan. Aku akan bergabung dengan perusahaan perhiasan terlebih dulu agar bertemu banyak teman designer, Mom. Setelah itu, akan aku pertimbangan untuk menghabiskan uang Daddy!" ujar Elena sambil tertawa.
Tiga hari kemudian, Elena berpartisipasi pada putaran final di El Shunshine Group. Dia memarkirkan mobilnya di basemen.
"Jakson, apa semua kontestan yang lulus semi final sudah hadir semua?" tanya Merrik pada Jakson.
"Tinggal satu kontestan lagi, Pak."
"Tinggal lima menit, jika belum datang maka diskualifikasi saja. Orang tidak tepat waktu untuk apa dipertahankan."
"Tapi, nona Eleanor sangat berprestasi, dia baru saja memenangkan lomba di Itali."
"Masih ada tiga menit lagi." Merrik terdiam. "Siapa kamu bilang?"
"Nona Eleanor," jawab Jakson.
"Beri aku CV-nya!"
Jakson mengambil berkas dan memberikan apa yang Merrik mau. "Ini, Pak."
Merrik menerima CV tersebut, tangannya bergetar melihat photo di CV tersebut.
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1
Salam Age Nairie 🥰🥰🥰🥰