Kamuflase Cinta Sang CEO

Kamuflase Cinta Sang CEO
BAB 46 Harga Diri Laki-laki


__ADS_3

"Aku mohon Dokter. Aku adalah istrinya, aku harus tau sebenarnya dia sakit apa.” Elena memohon lagi pada Dokter.


Dokter menatap Elena, dia tau pasti penyakit pasiennya dan tau istrinya sangat penting untuk kesembuhan pasiennya. Namun, dia tidak boleh asal memberi informasi pada orang lain karena integritasnya sebagai seorang dokter di pertaruhkan. “Maaf, tapi selama ini Tuan Merrik tidak pernah membawa istrinya.” Dokter mencoba menggali informasi terlebih dahulu pada Elena untuk memastikan benar orang di depannya adalah istri dari pasiennya.


“Iya, aku tau. Kami memiliki sedikit masalah hingga akhirnya kami berpisah selama enam tahun.” Elena melihat nama yang tertera pada jas dokter tersebut. “Ku mohon bantu aku Dokter Kyat.”


“Apa kamu Elena?” tanya sang dokter.


“Ya, aku Elena.”


“Nona. Aku minta maaf, tanpa persetujuan dari Tuan Merrik, saya tidak mungkin membocorkan informasi pasien.”


“Bukankah tujuan dari konseling happiness adalah untuk kesembuhan pasien? Aku yakin, kalian ingin semua pasien di sini sembuh bukan? Jika aku mengetahui penyakit suamiku, aku akan berusaha untuk bekerjasama dalam penyembuhannya.”


“Bagaimana jika aku memberitahu terlebih dahulu pada Tuan Merrik, jika dia setuju saya akan memberitahumu.” Dokter Kyat agak tersentuh dengan keteguhan Elena namun dia harus tetap meminta persetujuan Merrik.


“Jika dia setuju, aku tidak akan datang sendiri dan saya yakin dia tidak ingin saya mengetahui penyakitnya. Karena itu, saya datang mencarimu Dokter.” Elena menatap Dokter Kyat sejenak. “Anda tau nama saya, itu artinya pasien menceritakan tentang saya pada Anda bukan?” ucap Elena yakin. Terserah jika dirinya dibilang terlalu percaya diri, yang merasa dirinya masih sangat berharga untuk Merrik, yang ia inginkan adalah sebuah kebenaran akan penyakit Merrik dan berusaha untuk menyembuhkannya.


“Tapi …”

__ADS_1


“Saya mohon, lihatlah ketulusan saya. Saya ingin menolong orang yang saya cintai, meskipun aku dan dia sudah tidak memiliki takdir bersama kembali tapi aku berharap dia bisa hidup dengan baik.” Elena tidak dapat menahan air matanya.


Dokter Kyat melihat air mata Elena, terdapat ketulusan di dalamnya. “Baiklah.”


Dokter Kyat mengambil berkas pada lemari dibelakang meja kerjanya lalu memberikan pada Elena. Elena menerima berkas dengan nama Merrik di depannya, dengan tangan yang bergetar mulai membuka berkas dan membacanya. Dia terkejut setelah membaca isi berkas. Bagaikan sebuah suara ledakan di telinga. “Disfungsi See—ksual?” ucap Elena terbata. Mengangkat kepalanya menatap Dokter Kyat. “Apa maksudnya ini?”


“Pasien mengalami disfungsi seeksual, mungkin bagi orang awam terkenal dengan istilah putus urat syaraf namun yang sebenarnya adalah kerusakan syaraf. Pada penyebab fisik ini dikarenakan akibat kecelakaan yang di alami pasien, karena adanya cedera atau trauma yang terjadi pada tulang belakang menimbulkan gangguan saraf.”


“Apa tidak dapat disembuhkan?” tanya Elena.


“Pada beberapa kasus dapat ditangani dengan pengobatan dan konseling psikologis tetapi adapula kasus yang lebih berat sehingga perlu penanganan lebih kompleks dan Tuan Merrik sudah melakukan pengobatan dan juga konseling psikologis. Hanya saja belum membuahkan hasil, pasien pun memiliki kepercayaan diri yang rendah untuk sembuh.”


“Pasien mengalami depresi setelah mendapat vonis dari dokter tentang penyakitnya yang menyatakan tidak dapat disembuhkan dan juga pasien memiliki rasa bersalah yang cukup besar. Dia meyakini dirinya mendapatkan karma atas apa yang telah ia lakukan padamu. Depresinya semakin bertambah saat dia kehilangan dirimu. Baginya cukup melihat dirimu dari jauh namun saat dia mencari keberadaan dirimu, dia tidak menemukannya. Dan sampai saat ini, belum ada perubahan, meskipun dari hasil pemeriksaan tidak ada masalah pada fisiknya, hanya saja psikologisnya yang bermasalah hingga membuat bagian itu tidak berfungsi dan membuat dirinya tidak bisa memiliki kehidupan **** yang normal.”


“Sejak kapan dia mulai terapi di sini? Benar-benar tidak ada hasil selama terapi?” tanya Elena dengan air mata masih berlinang.


“Sudah lima tahun setengah, sampai saat ini masih belum membuahkan hasil, karena ini bukan hanya masalah yang bisa di atasi oleh obat. Ini masalah psikologis. Dia merasa apa yang telah ia lakukan padamu adalah suatu tindakan seorang bajjingan yang menggunakan dirimu sebagi pemuasnya saja, terlebih saat ia tau usiamu masih 16 tahun saat menikah dengannya. Dia merasa tidak pantas bersanding dengan dirimu, dia merasa Tuhan sedang menghukumnya atas tindakannya. “


“Anda tau semua masalah kami?”

__ADS_1


Dokter Kyat menganggukkan kepalanya. “Tentu aku tau, aku adalah dokter psikologisnya. Aku bersedia memberitahumu karena aku harap kamu bisa bekerja sama dalam penyembuhannya. Jika kamu bisa menunjukan padanya bahwa kamu tidak keberatan atas apa yang terjadi padanya dan dengan sabar memacunya keluar dari bayangan kelam, kemungkinan penyakitnya memiliki harapan untuk sembuh. Harga diri pria seperti emas, jadi saya minta padamu berpura-puralah tidak tau tentang penyakitnya. Hal ini tidak boleh mengatakan padanya secara langsung, bantulah dia selangkah demi selangkah untuk berkata jujur padamu.”


Elena keluar dari tepat konseling dengan langkah yang lemah, dia tidak kembali ke kantor melainkan kembali ke apartemennya dan termenung. Sekarang ia tau alasan Merrik melepaskannya, dia tau Merrik mengharapkan dia bahagia dengan orang lain. Seandainya Elena dulu tidak gegabah dengan langsung pergi darinya. Dulu ia masih belia, masih menerima dengan mentah apa yang di sodorkan padanya. Harga diri seorang lelaki sangat tinggi, terlebih Merrik merupakan lelaki yang mementingkan harga diri, mana mungkin dirinya cerita pada orang lain tentang penyakitnya. Merrik bagai binatang buas saat bersamanya, kalau sudah tidak bisa melakukan hal itu, mana mungkin sanggup menghadapi wanita yang ia cintai, ini adalah masalah harga diri yang sangat penting bagi seorang pria.


Setelah memikirkan dengan matang, Elena bertekad untuk menyelamatkan Merrik. Bagaimanapun ia ikut andil terhadap apa yang terjadi pada Merrik. Elena selalu merasa dirinyalah yang paling menderita, namun ternyata Merrik juga sangat menderita, selain penyakitnya, dia juga mengalami depresi berat. Memiliki penyakit tapi tidak bisa mengatakan pada siapapun, menyimpan semua penderitaan sendiri. Menerima cacian dari semua orang.


Sekarang wanita yang di cintai Merrik telah kembali, tetapi tidak bisa menggapainya dan hanya bisa bersembunyi, perasaan minder pasti menghinggapinya. Memilih hidup di dalam penjara yang gelap dan tidak ingin wanita yang dicintai bersama dengannya hanya karena rasa kasihan padanya. Merrik masih belum bisa mengendalikan perasaannya pada Elena, tanpa sadar ia masih sangat peduli dengan Elena.


Keesok paginya di kantor, Elena tidak sengaja bertemu dengan Merrik di lift. Tidak biasanya Merrik datang menggunakan lift karyawan. “Kemarin, kenapa izin?” tanya Merrik.


“Oh, hanya sedikit tidak enak badan,” jawab Elena.


“Apa yang sakit? Sudah ke dokter?” tanya Merrik menoleh ke arah Elena.


“Sudah tidak apa-apa.” Elena menatap Merrik, Elena melihat kerutan di dahi Merrik, mengira orang lain tidak akan tau penderitaannya, sebenarnya asalkan ada hati, hanya dengan satu tatapan sudah bisa menyadarinya.


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


...Jangan lupa like, love,vote, gift nya.. Di tunggu komentarnya 😊😊...

__ADS_1


...Salam Age Nairie 🥰🥰🥰🥰😘😘😘😘...


__ADS_2