Kamuflase Cinta Sang CEO

Kamuflase Cinta Sang CEO
BAB 78 Perjanjian Pranikah


__ADS_3

“Apa yang bisa kamu tawarkan untuk jaminannya?” tanya Amel.


“Aku … akan memberikan hidupku untuk Elena. Jika aku menyakitinya, aku rela jika Mommy membunuhku!” ucap Merrik serius.


“Cih, apa untungnya aku mengambil nyawamu! Aku hanya akan di penjara!”


“Lalu Mommy mau apa sebagai jaminan?”


“Aku mau semua aset mu atas nama Eleanor!” ucap Amel tegas.


Merrik tersenyum, tanpa diminta dia pasti akan memberikan semua hartanya untuk Elena. “Tidak masalah bagiku!” ucap Merrik pasti.


“Jangan senang dulu! Masih ada lagi,” imbuh Amel.


“Apa itu?” tanya Merrik.


Amel memajukan tubuhnya mendekati Merrik. “Jika kamu menyakitinya, aku tidak akan membunuhmu. Namun, aku akan mengambil sumber kebahagiaanmu!”


Merrik tampak bingung. “Maksud Mommy akan memisahkan aku dengan Elena dan Melena lagi?”


“Kalau itu pasti! Aku akan membuat perjanjian pra nikah untukmu dan El.”


“Perjanjian pranikah seperti apa?” Merrik pernah mendengar tentang perjanjian pra nikah, banyak pula temannya yang melakukan itu untuk memisahkan harta istri dan harta suami.


“Ya, jika kamu menyakiti El, kamu harus menceraikannya dan semua harta dan hak asuh anak akan di berikan pada Eleanor,” ucap Amel pasti dan melanjutkan perkataannya. “Dan masih ada lagi! Setelah perceraian, kamu harus di kebiri! Itu akan masuk ke dalam perjanjian pranikah!”Amel menatap tajam Merrik, menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut menantunya.


“Apa? Kebiri?” ucap Merrik sedikit terkejut dengan permintaan Amel.


“Kenapa, kamu takut? Kamu tidak akan takut jika tidak ada keinginan untuk selingkuh atau menyakiti putriku lagi!”


Merrik menatap Amel. “Baik, aku setuju!” ucap Merrik pasti. Amel tidak tahu apa yang terjadi dengan Merrik sebelumnya. Tanpa di kebiri pun, dia sudah melewati masa kehancuran dirinya sebagai seorang laki-laki dan Elena lah yang menolongnya keluar dari kegelapan tersebut. “Aku akan membuat perjanjian pranikah sesuai dengan yang Mommy katakan tanpa mengurangi sedikitpun!” ujar Merrik.


Amel yang melirik Merrik, dia tidak menyangka bahwa Merrik akan menyetujui permintaannya tanpa berpikir panjang terlebih dulu. Perkataan asal Amel disetujui oleh Merrik dengan mudah. Dia berkata seperti itu karena mengingat kembali Elena pernah di perlakukan seperti budak nafsunya Merrik. Karena itu, dia berkata tentang kebiri, berpikir itu akan membuat orang-orang seperti Merrik jera. “Apa kamu yakin dengan perkataanmu itu?” tanya Amel.

__ADS_1


“Ya,” jawab Merrik tanpa ragu.


...***...


Ricci dan Rose pamit setelah acara barbeque selesai. Semua mengantar mereka sampai ke mobil. “Merrik, apa kamu tidak pulang bersama dengan orang tua mu?” tanya Amel.


“Tidak! Sampai acara pernikahan aku tidak akan meninggalkan rumah ini,” ujar Merrik tanpa malu.


Semua mata menatap jengah pada Merrik yang tidak tahu malu. Merrik tidak peduli dianggap tidak tahu mau, biarlah mereka memiliki pemikirannya sendiri. Yang orang lain tidak tahu adalah ada rasa kekhawatiran dari diri Merrik sendiri. Dia trauma akan kejadian masa lalu, kecelakaan pada saat lamaran yang membuatnya berpisah dari Elena dan kini membuatnya lebih berhati-hati. Meskipun, apa yang terjadi adalah takdir Tuhan.


“Apa kamu bahagia?” tanya Merrik saat mereka berada di taman belakang setelah mengantar Ricci dan Rose pulang.


“Tentu,” jawab Elena tersipu. Terkadang sifat malu-malu Elena masih ada di dirinya.


Merrik menatap Elena, dia menyukai setiap ekspresi wajah Elena. Tiba-tiba Merrik berdiri, lalu berlutut dengan satu kaki. Mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dari saku celananya, membuka kotak tersebut dan berkata, “Apakah kamu mau menikah denganku?” tanya Merrik.


“Apa aku punya pilihan Ya atau Tidak?” tanya Elena balik.


“Tidak ada pilihan, hanya boleh berkata, Ya! Ini hanya formalitas agar setidaknya kamu merasakan rasanya dilamar oleh seorang pria berlutut dengan satu kaki seperti di film-film.”


Merrik hanya terkekeh. “Ulurkan tanganmu?”


Elena mengulurkan tangannya, Merrik menyematkan cincin yang sudah lama ia simpan ke jari Elena.


Elena memandang cincin tersebut, lalu tersenyum. Tidak menyangka akhirnya dirinya bisa bersatu dengan Merrik. “Aku Eleanor Pedrova menerima lamaranmu, Merrik Sebastian Harvey.”


Merrik tersenyum mendengar perkataan Elena, dia berdiri dari berlutut dan menarik Elena, hingga mereka berdua berdiri, meskipun Elena menggunakan sepatu hak tinggi namun masih kalah tinggi dengan Merrik. Merrik sedikit menunduk untuk mensejajarkan diri mereka. Elena tahu maksud Merrik, dia mendorong Merrik. “Apa yang kamu lakukan? Jangan mengulangi kesalahan yang sama!” ucap Elena kesal dan Merrik hanya bisa tersenyum, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Hari-hari berjalan semestinya, Merrik masih belum pergi meninggalkan rumah Steven, dia memulai membangun bisnisnya tanpa keluar rumah. Meminta bantuan Dion selama membangun Melena Toys, Merrik saat ini memiliki ruang kerjanya sendiri di kediaman Steven. “Merrik makan dulu,” ucap Amel mengantar cemilan ke ruang kerja Merrik.


“Iya Mom,” ucap Merrik tersenyum.


Amel hanya menggelengkan kepalanya, Merrik hanya menghabiskan diri di rumahnya tanpa mau keluar dari rumah, bukankah seharusnya perempuan yang dipingit sebelum menikah? Bahkan sang calon mempelai perempuannya masih sibuk beraktivitas diluar rumah. Jika yang tidak tahu, mungkin Merrik lah yang dianggap anak Steven dan Amel sesungguhnya.

__ADS_1


Persiapan berjalan seperti semestinya, namun yang Elena bingungkan mengapa tidak ada tanda-tanda persiapan pernikahan mereka. Dia sudah bertanya pada Merrik, namun jawabannya hanya sudah ada yang mengatur. Elena akhirnya hanya mempercayai perkataan Merrik. Selama hari menjelang pernikahan tidak ada kontak fisik berarti dari Merrik dan Elena, Merrik benar-benar menahan diri.


“Kemana Melena dan yang lainnya?” tanya Elena saat tiba di rumah kamis sore.


“Oh, sedang menghadiri pernikahan anak teman Mommy, kemungkinan Jum’at sore baru pulang,” ujar Merrik santai di depan laptopnya. “Kamu pulang hari ini? Bukannya jum’at baru pulang?”


“Oh, aku kurang enak badan, jadi ku putuskan untuk pulang hari ini.”


Merrik langsung menghampiri Elena. “Apa yang kurang enak badan? Ayo kita ke dokter.”


“Tidak perlu, aku hanya pusing dan mual saja, istirahat sebentar juga akan baikan. Aku ke kamar dulu ya.” Elena pergi meninggalkan Merrik sendiri.


Merrik mengejarnya. “Benar tidak apa? Kamu pusing dan mual, apakah kamu ….” Ucap Merrik terhenti.


“Apa yang kamu pikirkan? Aku tidak hamil!” Elena memutuskan omongan Merrik.


“Oh, ku kira yang sebelumnya jadi!”


“Tidak mungkin aku hamil!” ucap Elena.


“Tidak mungkin? Kenapa? Apa kamu minum pil KB?”


Elena hanya ingin mempermainkan Merrik, saat berhubungan dengan Merrik ada niatan untuk meminum obat pencegah kehamilan namun ia urungkan. “Iya,” lirih Elena menunduk seperti merasa bersalah.


Merrik langsung menarik Elena ke dalam kamar Elena. “Apa yang kamu lakukan?” tanya Elena panik.


“Memberimu pelajaran!” ucap Merrik sambil menutup pintu kamar dan mendorong Elena ke tempat tidur.


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


...Jangan lupa dukung Age dengan cara like, love,vote, gift nya.. Di tunggu komentarnya 😊😊😊😊😊😊...


...Salam Age Nairie 🥰🥰🥰🥰😘😘😘😘...

__ADS_1


Cus Kepoin novel temen Age 👇



__ADS_2