
...Jangan lupa setelah baca untuk like, love, vote , gift dan komentar nya ๐๐๐...
Merrik melajukan mobilnya setelah membanting ponselnya ke dashboard, dia pergi tanpa arah hingga akhirnya dia datang ke sebuah club malam. Duduk sendiri tanpa ada yang menemani, beberapa kali wanita penghibur mendekatinya namun ia abaikan. Putaran jarum pendek jam entah sudah berapa kali melewati angka 12.
Dia hanya bisa termenung, membayangkan Elena sedang bersama Arka sedang ... dia tidak sanggup melanjutkan pikirannya. Ia memesan minuman beralkohol lalu menenggaknya, baru ingin menenggak gelas yang ke tiga, ia teringat akan janjinya pada Elena untuk tidak meminum minuman memabukkan itu lagi. Sudah selama beberapa tahun ini dia selalu menggantinya dengan kopi, ini adalah pertama kalinya ia mencoba alkohol kembali.
Dia menghentikan aksinya meminum minuman itu, bergegas kembali ke apartemen Elena. Sebelumnya, ia yang meminta Elena untuk tidak perlu berbuat apa-apa, dia lah yang akan berjuang namun kini dia lah yang seperti menyerah. Seharusnya ia tidak pergi, seharusnya ia masuk ke dalam apartemen Elena dan menarik Arka keluar apartemen.
Merrik tiba kembali ke apartemen Elena, dia lupa bisa masuk dengan memasukkan kata sandi, dia lebih memilih menggedor pintu tersebut. Gedoran yang cukup keras membangunkan tidurnya Elena. Ada rasa khawatir di hati Elena saat melihat jam yang menunjukan hampir subuh, ada yang menggedor pintu apartemen nya. Dia yakin keamanan di sini, namun gedorannya cukup mengganggu. Ia mengintip dari lubang intip, dia terkejut saat melihat suaminya lah yang datang, dia membukakan pintu. "Kami tahu sandinya, mengapa malah menggedor pintu?" tanya Elena.
Merrik seperti tidak mendengar perkataan Elena, ia langsung masuk ke dalam unit apartemen. "Di mana Arka?" tanyanya.
"Dia tidak ada di sini!" jawab Elena.
"Bohong!"
"Aku tidak bohong, kamu ini kenapa?" Elena sedikit mengendus Merrik. "Kamu minum?" tanya Elena terkejut, yang ia tahu Merrik sudah berhenti minum.
"Jadi dia sudah pergi? Setelah menghabiskan malam menggairrahkan, dia langsung pergi?" ucap Merrik sinis.
"Apa yang sedang kamu bicarakan? Aku hanya makan malam dan nonton bioskop saja, lalu dia mengantarku pulang!" bela Elena, sepertinya dia mulai paham maksud perkataan Merrik.
"Hanya mengantarmu pulang? Jelas- jelas aku melihatnya masuk, aku menunggu di bawah dan tidak melihatnya keluar setelah lebih dari empat puluh menit! Apa kamu begitu haus belaian? Karena aku tidak bisa memuaskan mu jadi kamu mencari kepuasan dari pria lain?" ucap Merrik penuh emosi. Meskipun ia tidak kuat minum dan akan cepat mabuk, namun dia masih memiliki kesadaran.
Plak! Elena menamparnya setelah Merrik puas mengeluarkan isi hatinya. "Brengssek! Apa sebegitu buruknya diriku?" Menatap Merrik tidak percaya, bahwa lelaki di depannya memandang rendah dirinya. "Aku terluka!" Elena menunjukkan betisnya.
"Arka membantu mengobati lukaku, kepalanya tiba-tiba pusing dan dia memang beristirahat sebentar disni, setelah itu dia pergi! Matamu yang mana yang melihatku tidur dengannya?" Nafas Elena menggebu.
"Merrik, seperti nya yang di katakan Mommy benar, kamu tidak akan pernah berubah. Kamu akan selalu menyakitiku dengan perkataanmu! Kamu akan terus menganggapku wanita jallang! Kamu tidak pernah percayai diriku!" Elena menarik nafasnya. "Aku rasa kita memang tidak berjodoh! Aku akan mengembalikan perusahaan mu. Setelah itu, kita hidup masing-masing seperti selama ini kita berpisah!" Elena meraih gagang pintu dan membukanya. "Pergilah!" Elena sudah sangat sakit hati dengan perkataan Merrik.
__ADS_1
Merrik mulai panik, ini pertama kalinya Elena menampar dirinya, pertama kalinya juga Elena meledak dan memakinya. hanya ada keseriusan di wajah Elena. Pikirannya mulai kacau, takut jika Elena benar-benar meninggalkannya. Dia berjalan ke depan, namun bukan keluar dari apartemen melainkan mendorong pintu agar tertutup setelah itu dia mencium Elena.
Elena melebarkan matanya dan mendorong Merrik. "Brengsek!" Dia menampar Merrik lagi, dia sudah tidak ingin di permainan Merrik lagi.
"Ya, aku memang brengsek!" ujar Merrik dan kembali menyerang Elena, dia menarik tengkuk Elena dan menciumnya, Elena mencoba memberontak namun gagal. Merrik terus mencium paksa Elena, menggiringnya masuk ke dalam hingga mereka berada di ranjang kamar Elena.
Elena melihat tatapan Merrik, sama seperti saat Merrik cemburu akan Aron yang dulu memeluknya. Si serigala buas telah kembali, namun bukan begini yang di inginkan Elena untuk menyembuhkan Merrik. Dia tahu jika Merrik sedang cemburu, dia akan bermain kasar, Merrik tidak akan memberi kesempatan dirinya untuk lepas.
Bagaikan serigala kelaparan yang menggigit mangsanya erat. Merrik terus mendekap Elena, tidak memberikan kesempatan untuknya pergi. Elena mulai lelah memberontak, dia membiarkan Merrik melakukan apapun padanya.
Elena membelai rambut hitam Merrik, tidak di pungkiri, bahwa ia juga bahagia dengan kesembuhan Merrik, lambat laun dia mulai pasrah dan membiarkan Merrik berbuat sesukanya, dia mulai terhanyut dan mulai bekerja sama. Saat Merrik menciumnya, Elena membalasnya. Mereka melepaskan yang selama ini mereka tahan, hingga akhirnya terlelap. Ini adalah tidur ternyenyak Merrik selama beberapa tahun ini.
...***...
Elena mengerjapkan matanya, perlahan membuka mata nya, di depannya sudah ada wajah Merrik yang memandangnya. Elena memutar bola matanya malas. "Sudah bangun sayang?" tanya Merrik penuh senyum.
Elena menarik selimut menutupi wajahnya. "Pergi kau! Aku membencimu!"
Elena menatap Merrik. "Aku sudah menuntaskan pekerjaan ku sebagai jallang. Sekarang kamu pergilah!" usir Elena.
"Apa maksudmu?" tanya Merrik.
"Seorang jallang hanya bertugas memuaskan pelanggannya dan kamu sudah mendapatkannya, sekarang pergilah sebelum aku mengenakan charge kelebihan pemakaian!"
Merrik tahu Elena masih kesal akan dirinya, dia akan membuat Elena meredakan amarahnya. "Tidak apa kena charge, kamu pantas mendapatkan lebih, pelayananmu sangat memuaskan!" ujar Merrik mencium bibir Elena sekilas sambil tersenyum smirk.
"Dasar brengssek! Kamu masih saja menganggap ku wanita jallang!"
"Ya, aku akan tetap menjadi pria brengssek dan kamu akan tetap menjadi wanita jallang. Namun, ke jallangan mu hanya untukku dan ke brengssek kan ku hanya untukmu." Setelah berkata Merrik menyerang Elena lagi.
__ADS_1
"Lepas!" protes Elena.
"Tidak mau! Aku mau seharian di sini bersama mu!"
"Dasar gila!"
"Ya, aku sudah tergila-gila olehmu!"
"Maniak!"
"Ya, hanya denganmu!"
Elena terus memaki dan Merrik terus menjawabnya. Elena tidak seperti dulu yang hanya bisa menangis. Kini ia berani untuk memaki Merrik dan Merrik tidak keberatan akan makian dari Elena.
Terimakasih masih setia dengan kisah Merrik dan Elena ๐๐๐
Jangan lupa tinggalkan jejak ya kak
like ๐
Fav โค๏ธ
komen โ๏ธ
Gift ๐นโ
Terima kasih ๐๐๐
Salam Age Nairie ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ๐๐๐
__ADS_1
cus kepoin novel temen Age di bawah ini ๐