Kamuflase Cinta Sang CEO

Kamuflase Cinta Sang CEO
BAB 64 Melena


__ADS_3

...Jangan lupa setelah membaca kasihlah Age like, love, vote, gift 😊 Biar tambah semangat 💪💪...


...Saran dan komentarnya juga di tunggu yach, biar Age bisa lebih baik lagi dalam berkarya 🥰...


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


Merrik berucap penuh keyakinan, menyalurkan kepercayaan pada Elena. "Bisa aku bertemu Melena?" tanya Merrik yakin.


Sudah saatnya Elena mempercayai Merrik dan mulai menggantung kan dirinya pada Merrik. "Akan aku panggilkan." Elena berdiri dan berjalan menuju kamar Melena. Dia masuk ke dalam, melihat kedua orangtuanya masih bermain dengan Melena, tidak bisa di pungkiri orangtuanya begitu menyayangi Melena. Amel dan Steven melihat ke arah Elena. Steven tahu, ada yang ingin di bicarakan oleh Elena. Dia berdiri dan berjalan ke sudut kamar agar Melena tidak mendengar perbincangan mereka. Elena mengikuti, begitu pula dengan Amel. "Ada apa?" tanya Steven lembut.


"Emm ... dia ingin bertemu dengan Mel!" ucap Elena ragu, takut orang tuanya menolak.


Amel baru mau membuka mulutnya, namun terhenti oleh Steven. "Bawa lah!"


"Apa yang kamu lakukan?" protes Amel.


"Tidak bisa di pungkiri bahwa dia adalah ayah kandungnya," ujar Steven.


"Apa kamu percaya dengannya? Apa kamu tidak berpikir dia akan membawa, Mel?" ucap Amel penuh amarah.


"Aku yakin dia tidak seperti itu!" tegas Steven.

__ADS_1


"Aku menjamin tidak akan terjadi apapun. Aku tidak akan bersama dengannya tanpa restu kalian. Aku sudah putuskan untuk berpisah darinya, dan aku akan menuruti semua perkataan Mommy. Namun, biarkan Melena bertemu dengan Ayahnya." Elena memohon pada orang tuanya.


Amel seorang Ibu, ia hanya ingin kebahagian anaknya. Namun, rasa sakit yang di tinggalkan Merrik membuatnya menutup pintu maaf pada Merrik. Dia pun tidak bisa egois dengan kenyataan bahwa Melena masih memiliki Ayah kandung. "Baiklah, kalian bisa mempertemukannya." Akhirnya Amel sedikit melemah. "Dan hanya di dalam rumah!" tambah Amel.


Elena menggandeng Melena menuju ruang tamu dimana Merrik berada. Merrik melihat Anak dan Istrinya berjalan menuju dirinya, ada getar di hatinya, melihat anak yang selama ini tidak ketahui keberadaan nya, perasaan campur aduk diberi kenyataan bahwa ia memiliki seorang anak secara tiba-tiba. Seorang anak perempuan yang cantik. Dia tidak pernah mengira bahwa selama ini memiliki anak dari Elena. Mengapa selama ini tidak terpikirkan bahwa Elena bisa hamil? Saat-saat mereka sebelum terpisah, Merrik sudah tidak memberikan obat pencegah kehamilan pada Elena dan dia pun tidak pernah memakai pelindung. Dia menatap lekat pada gadis kecil yang sedang berjalan, semakin kencang debaran yang ada di hatinya. Wajah perpaduan antara dirinya dan Elena begitu jelas terlihat.


Kesalahan bodohnya selama ini telah dibayar oleh perpisahan yang menyakitkan. Seandainya dulu Merrik menurunkan ego nya sedikit saja, mungkin mereka tidak akan berpisah. Dan saat ini, ia bertekad untuk memperbaiki nya.


"Mele—na?" ucap Merrik terbata saat jarak Melena sudah berada di depannya. Dia merendahkan tubuhnya, mensejajarkan diri mereka, Merrik mengangkat tangannya untuk menyentuh putri kecilnya, tanpa sadar cairan bening turun dari mata hitam Merrik.


Melena menoleh pada Elena seperti meminta persetujuan dan juga pertanyaan siapa sebenarnya pria dewasa di depannya. Elena hanya memberi senyum sebagai jawaban dari tatapan Melena. "Om, kenapa menangis?" tanya Melena menatap Merrik.


Ingin sekali Merrik memeluk putri kecilnya, namun ia takut mengejutkannya. "Panggil aku, Daddy!" mohon Merrik.


Merrik tidak kuat lagi, dia langsung menarik Melena dalam pelukannya tanpa meminta persetujuan dari gadis kecil itu. Ya, Merrik masih sama, melakukan tindakan seperti kehendaknya tanpa meminta persetujuan. "Aku Daddy-mu, maafkan Daddy yang selama ini pergi tapa kabar." Perkataan bagaikan sebuah penyesalan.


Melena hanya diam di dalam pelukan hangat Ayahnya, umur yang masih kecil tidak memutuskan ikatan batin diantara mereka. Seperti sudah paham akan keadaan, gadis kecil itu mengusap lembut punggung Merrik seolah menenangkan. "Daddy, jangan menangis lagi!" Usapan lembut Melena tidak membuatnya berhenti menangis melainkan membuatnya menangis lebih kencang. Perlahan tangisan tersebut menjadi sesak di dada, tangisan yang menjadi guguan. Memeluk lebih erat gadis kecil di depannya.


Melena mencoba merenggangkan pelukan mereka di saat merasa pelukan Merrik sudah cukup lama, memberi jarak diantara mereka agar bisa saling tatap. Melena mengangkat tangannya dan mengusap air mata di pipi Merrik. "Jangan menangis lagi," ucap polos Melena


"Maafkan Daddy, maafkan Daddy!" Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya. Merrik menundukkan kepalanya tidak berani menatap putri kecilnya. Betapa banyak kerugian yang selama ini dia terima. Disaat pria lain menanti kelahiran dari istri tercintanya, disaat mengelus perut buncit istrinya, disaat direpotkan oleh permintaan aneh istri yang sedang mengidam. Memanjakan istrinya yang sedang hamil, menemani detik-detik melahirkan. Itu semua tidak di rasakan oleh Merrik.

__ADS_1


Menimang anak yang baru lahir, terbangun karena tangisan bayi di tengah malam, membeli perlengkapan bayi bersama. Itu semua tidak di rasakan oleh Merrik. Beruntung sebelum mereka berpisah sempat membicarakan tentang nama anak. Setidaknya Merrik memiliki andil dalam nama anaknya.


"Kenapa selama ini Daddy baru datang?" tanya Melena polos.


Elena baru ingin memberi penjelasan namun Merrik terlebih dahulu membuka suara. "Maafkan Daddy yang terlambat menemukanmu. Daddy janji kita tidak akan berpisah lagi." Merrik melimpahkan semua kesalahan pada dirinya. Meskipun Elena yang menyembunyikan keberadaan Melena, tidak di pungkiri awal dari petaka ini berasal darinya.


Tanpa sadar Amel meneteskan air matanya, dia dan Steven berdiri di pojok ruangan, bagikan sedang menonton sebuah drama keluarga yang sedang beradegan mengharukan. Pertemuan antara Ayah dan anak yang telah lama berpisah. Namun, hal itu tidak cukup untuk Amel memaafkan Merrik.


Merrik di beri waktu untuk bercengkrama dengan Melena, mereka bermain bersama bahkan mereka makan malam bersama. Ya, orang tua Elena masih memiliki adab dalam menerima tamu, hingga akhirnya Merrik di persilahkan untuk pulang. Di persilahkan bukan ijin untuk pulang, di enggan untuk meninggalkan Melena, ingin sekali ia tidur dengan mendekap putri kecilnya. Namun, ia harus bersabar, sudah boleh di pertemukan adalah awal yang baik. Dia akan perlahan mencoba masuk ke dalam keluarga ini.


Merrik keluar dari mansion mewah milik Steven, ponselnya berdering. Jakson melaporkan apa yang Merrik perintahkan untuknya.


Merrik mengemudikan mobilnya, mencari nomor yang akan ia hubungi. Sambungan terhubung, Merrik langsung berkata, "Aku akan memenuhi semua keinginan mu dan ku harap kamu memenuhi janjimu!"


"Aku belum bisa memenuhi semua janjiku jika apa yang aku inginkan belum terpenuhi. Aku hanya bisa mengulur waktu sampai kamu menyelesaikan urusan kita!" ucap seseorang di seberang telepon dan langsung memutuskan sambungan telepon.


Merrik menggenggam erat stir mobil, dia harus segera menyelesaikan sebelum Elena terlepas darinya.


Kawal terus Cerita Merrik dan Elena 😊


Salam Age Nairie 🥰 🥰🥰

__ADS_1


Rekomendasi Novel teman Age hari ini, cus kepoin 👇



__ADS_2