
Elena berdiri di belakang Merrik dan Arka, tidak berencana masuk dalam pembicaraan dua orang pria yang ada di depannya meskipun Arka dan Merrik sedang membahas tentang pekerjaan. Hingga akhirnya sampai di lantai tujuan Elena. “Permisi Pak, Arka aku duluan!” ucap Elena pada Merrik dan Arka.
Sebelum keluar lift, Arka memanggil Elena. “El, mumpung aku lagi di sini. Kita makan siang bersama ya?”
“Emm ....”
“Jangan menolak, aku akan kirimkan photo kita di taman hiburan kemarin!” ucap Arka. Merrik langsung menatap Arka.
“Baik.” Elena memikirkan Melena yang kemarin sempat menanyakan photo liburan bersama.
“Aku tidak tahu kalau kalian dekat?” tanya Merrik setelah di lift hanya tinggal Arka dan dirinya.
“Emm, cukup dekat namun belum sampai tahap pacaran. Tapi, aku yakin pasti bisa meluluhkannya!”
“Kenapa bisa yakin?”
“Yang penting restu sudah di tangan! Kemarin aku menginap dirumahnya setelah sebelumnya ke taman hiburan bersama.” Arka tersenyum mengingat kembali saat ada di taman hiburan. “Dia sangat lucu, padahal sudah dewasa namun senang sekali bermain di taman hiburan.”
Hati Merrik terasa ter-iris. Ya, taman hiburan adalah tempat yang Elena inginkan. Dulu ia sempat berjanji akan mengajak Elena pergi ke sana namun tidak pernah terlaksana karena kesibukannya dan juga, Merrik lebih senang mengurung Elena di apartemen untuk memenuhi kebutuhan biologis Merrik.
“Maksudmu tinggal bersama?” tanya Merrik ragu.
Arka tertawa. “Hanya menginap! Satu atap dengan keluarganya, karena sudah larut, Ibunya memintaku untuk menginap! Lagipula untuk apa tinggal bersama, kalau bisa menjadikannya istriku!”
“Istri?” tanya Merrik mengepalkan tangannya.
__ADS_1
“Tentu, wanita seperti itu harus segera di hak miliki. Jika tidak, akan ada orang yang mengambilnya! Wanita cantik dan baik sepertinya pasti banyak yang menyukai.”
“Tapi sepertinya dia tidak terlalu memberikan harapan padamu?”
“Aku tau dia pernah terluka hingga trauma berhubungan dengan lelaki! Namun, aku sangat yakin bisa meluluhkan dan menghilangkan traumanya. Aku akan tunjukan bahwa tidak semua pria itu brengsek!” ucap Arka tegas, dia pun prihatin dengan Elena, siapa pria yang berani menyakitinya?
Merrik yang mendengar penuturan dari Arka hanya bisa terdiam, tidak pernah menyangka Elena akan trauma dengan pria. Dia mengira Elena sudah bahagia tanpanya, Merrik merutuki dirinya yang begitu brengsek.
Pintu lift terbuka mereka beralih ke ruangan Merrik. “Kita mau bahas kerjasama kapan?” tanya Arka.
“Pagi ini saja, kita bahas dengan tim design karena mereka yang memilih emas dan aksesoris seperti apa yang akan di gunakan!” Merrik langsung meminta Jakson untuk mengatur meeting.
Meeting dimulai, pembahasan kerjasama berjalan dengan sangat lancar, mereka beristirahat sejenak dengan menikmati waktu coffee break pada pukul 10 pagi. Elena mencoba untuk mengambil teh panas yang tersedia, mengisi cangkirnya dengan teh panas saat berbalik dia bertatapan dengan Merrik, Elena hanya menganggukkan kepalanya ringan. Namun, tidak sengaja Elena tersandung kakinya sendiri yang pada saat ini menggunakan high heels cukup tinggi. “Auw ….” Jerit Elena, tangannya terkena teh panas.
“Kau tidak apa?” tanya Merrik khawatir, dia langsung memberikan sapu tangan pada tangan Elena yang terkena teh panas, membawanya ke ruang kesehatan, melepas cincin yang Elena gunakan untuk menghindari kebengkakkan jika kulit Elena melepuh lalu menyiram luka dengan air dingin. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan panas di kulit. Setelah dirasa cukup, Merrik mengoleskan gel lidah buaya pada luka untuk membantu mengurangi panas di dalam kulit. “Kita harus ke dokter!” ucap Merrik.
“Lukanya cukup parah! Aku akan balut sementara.” Merrik membalut daerah yang terkena teh panas dengan kassa steril. Merrik langsung menarik Elena untuk pergi ke rumah sakit. Elena hanya bisa mengikuti perintah Merrik. Hingga tibalah di rumah sakit, perban Elena di ganti oleh dokter, tidak ada luka parah yang di alami. “Sudah ku bilang tidak perlu ke rumah sakit, ini hanya luka kecil!” Protes Elena.
“Kecil atau besar sama saja, setidaknya sudah di tangani oleh dokter.” Mereka berjalan keluar dari ruang tindakan medis. Berjalan dari lobby rumah sakit kembali menuju kantor.
“El!” Panggil Arka.
“Arka,” ucap Elena.
“Kamu tidak apa?” Arka menyentuh tangan Elena dan memeriksa keadaannya. “Tadi kamu tidak kembali lagi setelah mengambil teh, kebetulan ada OB yang bilang kamu terkena air panas dan di bawa ke rumah sakit, jadi aku langsung berlari ke sini!” Arka masih memegang tangan Elena. Hal itu tidak luput dari pandangan Merrik.
__ADS_1
“Lukanya sudah di obati oleh dokter! Hanya luka ringan.” Merrik masuk ke dalam pembicaraan Arka dan Elena dengan harapan Arka melepas tangannya pada tubuh Elena.
“Syukurlah jika tidak apa.” Arka melihat jam di tangannya. “Sudah mau memasuki jam makan siang, bagaimana kalau kita sekalian lunch saja?” tanya Arka pada Elena.
“Ide bagus, aku juga sudah lapar! Kita makan di restoran jepang saja.” Merrik melangkah mendahului Arka dan Elena, tanpa persetujuan dari mereka Merrik ikut bergabung. Sampailah di restoran Jepang. Merrik memesan berbagai macam jenis makanan. Arka seperti takut akan kehilangan Elena, entah mengapa ia merasa seperti itu, dia duduk di samping Elena. “Makanlah.” Arka memberikan sepotong sushi dengan menggunakan sumpit dan di sodorkan ke mulut Elena.
“Aku bisa sendiri,” tolak Elena.
“Sudah makan saja, dengan punggung tanganmu yang terbalut pasti sulit menggunakan sumpit!”
Dengan pasrah Melena membuka mulutnya, sepotong sushi mendarat di dalam mulut Elena.
Ujung mata Elena melirik sedikit ke arah Merrik, terlihat jelas bahwa Merrik sendang menahan emosinya. Apakah sudah saatnya dia membatu penyembuhan Merrik? Bukan maksud Elena memanfaatkan Arka, hanya kebetulan Arka mendekatinya. Dia pun tidak ingin memberi harapan pada Arka. Pikiran Elena bercabang, ingin membatu Merrik namun tidak pula ingin menyakiti Arka.
Arka tetap memaksa menyuapi Elena hingga Elena merasa kenyang. Ponsel Arka berdering, dia mengangkatnya. "Eleanor, aku harus pergi, ada sedikit masalah di kantorku. Kamu bawa saja mobil ku, aku akan naik taxi.”
“Tidak perlu, kamu membutuhkan mobil agar cepat sampai ke kantor bukan?” tolak Elena.
Arka beralih ke Merrik dengan enggan meminta bantuan pada Merrik. “Bisa kamu beri tumpangan pada Eleanor? Hari ini kami berangkat bersama, jadi El tidak membawa mobilnya.”
“Tentu!” ucap Merrik tersenyum tipis.
“Aku pergi dulu ya!” Arka mengelus rambut Elena. “jika rindu telepon saja!” lanjut Arka tersenyum, lalu bangkit berdiri, berjalan keluar dari restoran. Langkahnya terhenti dan menoleh lagi kebelakang menatap Elena. Dia enggan untuk pergi namun perusahaan membutuhkannya.
Merrik melihat perlakuan Arka pada Elena, membuatnya menggenggam erat sumpit di tangannya, dulu ia juga sering mengelus surai indah Elena. “Apa kamu menerimanya?” tanya Merrik setelah Arka benar-benar sudah pergi.
__ADS_1
“Sedang aku pertimbangkan!” ucap Elena datar, dia ingin melihat reaksi Merrik.