
Elena terkapar, dia tidur telungkup, lemah akibat perbuatan Merrik. Entah berapa kali mereka melepas rindu hari ini. Merrik bermain di punggung polos Elena, menyusuri dari pundak hingga pinggang dan terus ke bawah. "Jangan sentuh aku!" ujar Elena geram. Rasa sedih menghampirinya saat mengetahui penyakit Merrik namun sekarang, rasa sedih itu berbalik pada dirinya, mengasihani dirinya sendiri menghadapi serangan binatang buas berwujud manusia.
Merrik malah mendekatkan dirinya pada Elena, tidak peduli dengan perintah Elena untuk tidak menyentuhnya. "Sayang!" panggil Merrik, dia senang memanggil Elena dengan sebutan sayang, tidak seperti dulu yang menahan geli saat mengucapkan kata sayang. Dia membalikan Elena hingga mereka berhadapan, Merrik mencium keningnya. "Sudah jangan marah lagi."
Elena masih dalam mode marah, dia memicingkan matanya, bagaimana tidak marah, ini bukan hari libur namun ia tidak bisa bekerja karena terikat oleh Merrik di atas ranjang. "Ini bukan hari libur! Baru saja kemarin dinobatkan sebagai CEO, tapi aku sudah bolos kerja!" protes Elena.
Merrik hanya terkekeh. "Kantor sudah tidak sibuk, kamu pun tidak perlu mendesign perhiasan dalam waktu dekat ini. Produk baru sudah di luncurkan hanya tinggal menunggu hasil penjualan saja dan aku sudah meminta Jakson untuk mengurus urusan kantor."
Elena membulatkan matanya. "Memang kamu CEO-nya berani-beraninya memerintah Jakson!"
Merrik tidak tersinggung sama sekali, ia hanya tertawa. "Iya, aku sudah lupa bahwa aku sudah menjadi pengangguran!" Merrik menarik lengan Elena, mengecup beberapa kali dari punggung tangan terus menjelajah ke pundak Elena. "Aku lapar!" ucap Elena.
"Biar aku pesan makan." Merrik mengambil ponselnya dan memesan makanan, dia tidak berniat membawa Elena untuk keluar makan. Dia sudah berencana hanya menghabiskan hari mereka di dalam apartemen.
Elena bangkit dari tidurnya, melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 12 siang. Dia berdecak, mengutuk Merrik di dalam hatinya yang menyerangnya tanpa ampun.
"Kamu mau kemana?" tanya Merrik saat melihat Elena berdiri.
"Mandi."
"Ikut."
Elena menoleh dan memberi tatapan tajam. "Berani kamu mengikutiku, aku akan mengambil pisau dapur untuk memotong sumber kenikmatanmu!" ucap Elena penuh penekanan.
"Kamu masuklah, aku harus menunggu makanan datang!" ujar Merrik kaku, dia tidak menyangka gadis polos yang selalu takluk padanya sekarang sudah bisa mengancamnya dan juga memakinya.
Elena menatap dirinya di cermin, hanya menghembuskan nafasnya pelan, dia tahu ini akan terjadi, dia tidak tahu harus memakai pakaian seperti apa untuk menutup bekas perbuatan Merrik pada tubuhnya.
Merrik membuka pintu apartemen saat pesanan makanan mereka tiba. Menyusunnya rapi di atas meja, mengetuk pintu kamar mandi. "Sayang makanan sudah tiba!" teriak Merrik.
Elena keluar kamar mandi, melihat Merrik sudah duduk di meja makan. "Kamu tidak mandi dulu?" tanya Elena.
"Tidak, aku sudah lapar, makan dulu saja! Sini, kamu juga lapar 'kan?" Merrik menarik kursi agar Elena duduk.
__ADS_1
Mereka makan dalam diam, terkadang saling tatap. Merrik seperti tidak tahu malu yang selalu melempar senyum pada Elena. "Kenapa dari tadi senyum terus? Ada yang lucu kah?"
"Tidak, aku hanya bahagia!"
"Bahagia karena apa? Karena pelayananku memuaskan? Kamu harus membayar mahal untuk itu, apalagi aku di booking seharian!" ejek Elena, dia masih kesal dengan perkataan Merrik semalam yang menganggap nya haus belaian.
Merrik mendekatkan diri pada Elena dan memeluknya, dia tahu Elena masih sakit hati karena perkataanya. "Aku akan membayar dengan seluruh hidupku, aku akan memperjuangkan dirimu. Maafkan perkataan ku yang semalam, aku akan gila jika melihatmu dengan pria lain! Bukan aku tidak percaya akan cintamu, namun aku tidak percaya pada pria lain."
Elena membalas pelukan Merrik, ia tahu bahwa cinta Merrik sangat besar untuknya. Hanya saja, dia tidak tahan jika Merrik dilanda cemburu. "Aku tahu kamu mencintaiku, tapi sungguh aku membencimu jika sedang cemburu buta, kamu akan mengeluarkan kata-kata menyakitkan untukku, kamu bahkan menuduhku haus akan belaian! Sekarang lihat, siapa yang sebenarnya haus belaian!" cibir Elena.
"Iya, maaf ya. Aku janji tidak akan mengulangi nya lagi. Aku tidak akan berkata kasar padamu." Merrik berpikir sejenak, teringat akan Melena. "Kamu juga jangan berkata kasar lagi, tidak cocok denganmu! Kita sudah menjadi orang tua, aku akan berusaha menjadi Daddy yang baik untuk Melena begitupun denganmu."
Elena mengeratkan pelukannya pada Merrik, begitulah Elena, dia akan mudah memaafkan Merrik. Namun, dia bertekad pada dirinya sendiri tidak akan membiarkan Merrik semena-mena padanya. Merrik mulai menciumnya kembali, menggendong Elena ke arah ranjang. "Kau mau apa?" tanya Elena saat sudah mendarat di atas kasur.
"Mau apa lagi? Tentu saja aku rapel kegiatan kita yang tertunda bertahun-tahun lalu!" ucap Merrik santai dan Elena hanya memutar bola matanya.
Merrik benar-benar seperti balas dendam, melepaskan semua yang ingin ia lakukan pada Elena hingga matahari mulai menunduk meninggalkan sedikit cahaya di senja. Ponsel Elena berbunyi. "Hentikan, ponselku berdering!" ucap Elena dengan Merrik masih melekat padanya.
Elena mengangkat sambungan telepon dari Arka. "Halo, Arka!"
"El, hari ini penerbanganku, aku ingin pamit padamu." Arka menghembuskan nafasnya pelan. "Sungguh aku masih merindukanmu," imbuh Arka.
Merrik mendengar Arka merindukan istrinya, hatinya geram dengan sengaja dia menghentak Elena. Elena menahan sakit, ingin berteriak namun dia tahan, dia hanya memberi tatapan tajam pada Merrik. Merrik tidak peduli dan melanjutkan kegiatannya tanpa suara.
Arka melanjutkan bicaranya. "Pagi ini aku sudah menemui orang tuamu dan menjelaskan semuanya. Mereka memahaminya, aku sudah tidak punya hutang apapun padamu dan Bastian. Tentang kalian bersama atau tidak sudah bukan urusanku."
"Arka, aku tidak tahu harus berkata apa padamu. Hanya bisa berterimakasih padamu."
"Sudahlah, doakan saja diriku bertemu dengan wanita yang tepat."
"Tentu," ucap Elena.
"Baik, selamat tinggal Eleanor."
__ADS_1
Sebelum memutuskan sambungan telepon, Merrik mengambil ponsel Elena. "Terima kasih telah menepati janjimu! Dan jika ingin bertemu dengan wanita yang tepat, kau harus terlebih dahulu membuang rasa rindumu pada istri orang!" imbuh Merrik setelah itu menutup sambungan telepon.
"Kenapa kamu seperti itu pada Arka?" tanya Elena.
"Karena dia berani-beraninya merindukanmu!" balas Merrik.
"Seharusnya kamu berterima kasih padanya! Jika tidak, mungkin aku sudah menikah dengannya."
"Memangnya kamu tidak mendengar aku sudah berterima kasih padanya?"
"Iya, dengar tapi tidak perlu kamu memperingati nya seperti itu! Kamu harus ingat, masih ada Nyonya Amel yang harus kamu luluhkan!" terang Elena.
Merrik terdiam, yang dikatakan Elena benar, dia belum meluluhkan hati mertuanya.
Terimakasih masih setia dengan kisah Merrik dan Elena ๐๐๐
Targetnya tamat di Bab 70 tapi tenyata pas ngetik masih ada beberapa part yang belum terselesaikan.. Tak apa ya nambah beberapa bab lagi ๐
Jangan lupa tinggalkan jejak ya kak
like ๐
Fav โค๏ธ
komen โ๏ธ
Gift ๐นโ
Terima kasih ๐๐๐
Salam Age Nairie ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ๐๐๐
cus kepoin novel temen Age di bawah ini ๐
__ADS_1