Kamuflase Cinta Sang CEO

Kamuflase Cinta Sang CEO
BAB 22 Kemurkaan Merrik


__ADS_3

Merrik menarik paksa Elena hingga masuk ke dalam mobil. "Kak, kenapa bicara seperti itu pada orang tuamu? Tidak sepantasnya Kakak bicara seperti itu!" ujar Elena.


Merrik hanya diam mendengar ocehan Elena, dia tidak mau tersulut emosi yang akan membuatnya lepas kendali yang akan berakibat menyakiti Elena. Merrik lebih memilih menjalankan mobilnya. "Kak, kenapa diam saja? Kakak harusnya meminta maaf pada orang tua Kakak, tidak semua orang beruntung seperti Kakak. Lihat aku, aku bahkan tidak pernah melihat wajah kedua orangtuaku. Seharusnya Kakak bersyukur karena masih memiliki orang tua."


"Bisakah kau diam!" Bentak Merrik dengan suara keras. Elena langsung tersentak mendengar kemarahan Merrik, dia langsung menundukkan kepalanya, rasa takut menguasai dirinya, seperti awal kenal dengan Merrik, terlalu mengintimidasi, matanya mulai berkaca-kaca, sekali kedipan akan menumpahkan cairan bening. Tubuhnya mulai bergetar, ini adalah pertama kalinya Merrik membentaknya. Merrik selau bersikap baik padanya selama mereka berumah tangga.


Merrik melihat Elena yang bergetar. Dia menghentikan mobilnya di tepi jalan lalu menghadap ke arah Elena dan memeluknya. "Maafkan aku. Pikiran ku kacau, bisakah kau tidak bertanya apapun dulu padaku?" Hati Elena sedikit tenang setelah mendapatkan pelukan dari Merrik, dia hanya menganggukkan kepalanya sedikit yang menandakan dia mengerti.


Mereka kembali ke apartemen dalam diam. "Mandilah, pasti kamu lelah." Titah Merrik.


"Iya," jawab Elena sambil berjalan ke kamar tidur, meletakan tas dan ponselnya di atas meja, setelah itu berlalu menuju ke kamar mandi.


Merrik menuju balkon, mengambil satu putung rokok, menyalakannya namun tidak di hisap. Pikirannya sedang kacau, melihat wajah kekecewaan pada orang tuanya membuat dirinya senang dan juga sedih secara bersamaan.


Merrik kembali ke kamarnya, Elena masih di dalam kamar mandi. Ponsel Elena bergetar dan mengeluarkan suara dering ponsel. Merrik beralih menuju ke arah meja. "Siapa malam-malam menelponnya!" ucap Merrik.


Merrik mengambil ponsel Elena yang berada di atas meja, berniat memeriksa siapa yang menelpon, belum sempat diangkat, dering ponsel berhenti. Merrik melihat notifikasi, Michele yang menelpon Elena. Ingin meletakan kembali, namun Merrik menghentikan geraknya setelah tertarik melihat notifikasi obrolan chat. "Elena, aku sudah kirim video-mu dengan Aron di Instagram." Merrik membaca isi pesan dari Michele.


"Aron?" geram Merrik. Setelah itu beralih membuka Instagram milik Elena. Matanya nanar melihat isi Instagram milik Elena, ada notifikasi follback dari Aron. Beralih ke video yang dikirim oleh Michele yang memperlihatkan Elena berada di atas panggung, ikut bernyanyi dengan wajah yang bahagia. Kekesalannya bertambah saat melihat di akhir video Elena sedang dipeluk lelaki lain.


Membuncah sudah kemarahan Merrik, marah karena hari ini melihat Rose, wanita yang paling di bencinya dan sekarang melihat Elena di peluk lelaki lain. Dengan mudahnya Elena rela disentuh laki-laki lain, itulah yang dipikirkan oleh Merrik. Dia merremas erat ponsel Elena. Kebetulan sekali bertepatan dengan Elena yang masuk ke dalam kamar tidur setelah mandi, hanya melilitkan sebuah handuk ditubuhnya karena lupa membawa pakaian ganti.


Merrik dengan tatapan tajam menatap Elena, tatapan yang Elena belum pernah lihat sebelumnya. "Bersama siapa saja kamu hari ini?" tanya Merrik.


"A—ku 'kan sudah ijin dengan Kakak, hari ini aku bersama dengan Michele ke mall."


"Kamu bilang tidak ada pria bukan?"


"Iya. Aku hanya dengan Michele."

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan di sana?"


"Tidak ada." Elena merasa tidak melakukan kesalahan apapun.


"Dasar pembohong!" Merrik menunjukan ponsel Elena yang menampilkan video dirinya bersama Aron.


"Oh, ini. Ini acara meet and greet Kak."


"Lalu apa maksudnya?"


"Aku dan Michele salah satu fansnya."


"Kamu menyukai nya?" tanya Merrik menelisik.


"Tentu, dia idola remaja putri."


"I—tu, bukan seperti itu Kak, kejadiannya terlalu cepat, tiba-tiba saja Aron memelukku."


"Tapi kamu menyukai pelukan itu 'kan? Apa kamu serendah itu?"


"Tidak seperti itu Kak, itu hanya interaksi idol dan fans saja." Bela Elena.


"Interaksi? Jika dia mendekatimu maka kamu dengan suka rela menyerahkan dirimu padanya?"


"Tidak, Kak."


"Bohong! Jika dia bersedia denganmu, pasti kamu akan pergi dengannya. Dia terkenal dan juga lebih kaya dariku, kamu pasti meninggalkan diriku yang hanya merupakan pegawai kantoran biasa!" ucap Merrik emosi.


"Tidak, Kak." Elena mulai meneteskan air mata, hatinya lemah, sedikit bentakan cukup membuat pertahanan dirinya luruh. Usia yang sangat belia membuatnya tidak cukup kuat menghadapi tuduhan Merrik.

__ADS_1


"Apa ini sifat aslimu Elena? Kamu akan mencari pria kaya untuk kemewahan?"


"Tidak. Aku hanya menyukaimu Kak." Air mata Elena jatuh tanpa ada jeda untuk berhenti.


"Dasar pembual! Kamu akan lari pada lelaki itu bukan, jika dia menawarkan cintanya padamu?" Merrik mendekatkan dirinya pada Elena. "Aku akan membuat dirimu tidak akan bisa meninggalkan ku!"


Merrik langsung mencengkram erat lengan Elena, menarik handuk yang terlilit dan mendorongnya ke ranjang. Merrik langsung menindih dan mencium Elena dengan kasar, bahkan Merrik menghiisap kuat dan menggigit bibir Elena, hingga mengeluarkan sedikit cairan merah di sudut bibirnya.


Elena panik, ketakutannya melebihi apa yang ia rasakan pada saat pertemuannya di hutan pegunungan. Elena mencoba melawan Merrik, dia seperti melihat orang lain pada diri Merrik. Merrik merasakan penolakan dari Elena, membuatnya semakin murka, dia membisikan di telinga Elena. "Aku akan membuat pria lain jijik untuk menyentuhmu! Kau tidak akan pernah bisa menjalin hubungan dengan pria lain." Perkataan Merrik yang akan terpatri pada Elena untuk kedepannya.


Merrik terus mencumbu Elena. Elena terus berteriak dan memukul Merrik. "Lepas Kak! Kamu menyakitiku!" ucap Elena dengan tangisan.


Merrik seperti tidak mendengar apa yang Elena katakan, dia meneruskan aksinya, membuat tanda merah kebiruan disekujur tubuh Elena dengan mulutnya, merremass kuat bagian tubuh tertentu, memperlakukan Elena dengan sangat kasar. Merrik tidak suka berbagi. Dia akan menyimpan Elena untuk dirinya sendiri.


Seketika Elena mengingat kembali perkataan Michele. Pacarmu itu posesif akut. Terlalu banyak aturan dalam hubungan kalian. Kau bebas melakukan apapun tanpa harus meminta ijin. Kalau aku jadi kamu, mungkin aku akan segera minta putus.


Merrik terus saja melakukan aksinya, menanam benih sangat dalam, pertama kalinya memaksa Elena melayaninya, lengkap dengan perlakuan kasarnya. Merrik takut kehilangan Elena, selalu berpikir Elena akan meninggalkannya jika bertemu pria yang lebih kaya darinya. Suatu kekhawatiran yang tidak semestinya di rasakan oleh Merrik, dia tidak percaya akan ketulusan Elena. Dia selalu merasa, bahwa dialah yang berhak mencampakkan gadis miskin yang mencari keuntungan. Menolak rasa cinta yang ada didalam dirinya hanya demi sebuah ego untuk menyakiti.


Sampai akhirnya, Elena menutup matanya, tidak tau tertidur ataupun pingsan. Merrik menatap Elena dengan rasa bersalah, mengapa ia bisa melakukan perbuatan bejjat seperti ini? Melihat bibir Elena yang selama ini menjadi candunya, menjadi berubah bentuk, bibirnya membengkak karena ulahnya, sedikit darah di sudut bibirnya. Lehernya penuh tanda merah kebiruan, tanda tersebut terus ada hingga kebawah. Merrik berbisik ditelinganya. "Aku mencintaimu."


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


Jangan lupa like, love, vote dan komentarnya yach 🙏🙏🙏🙏


Jika suka dengan cerita ini, boleh banget loch rekomendasi kan pada kerabat, teman atau keluarga 😊😊😊


Kawal terus Cerita Merrik dan Elena yang sebentar lagi akan terbongkar nya kepalsuan Merrik 😊


Salam Age Nairie 🥰 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2