Kamuflase Cinta Sang CEO

Kamuflase Cinta Sang CEO
BAB 29 Kartu Keluarga


__ADS_3

Elena membuat gelang pasangan dari biji-bijian yang dia temui di hutan, membuat ukiran di gelang tersebut, 'MELENA' gabungan nama Merrik dan Elena, dia memakai satu di pergelangan tangannya, yang satu lagi masih diam manis di atas meja. Entah kapan sang pemilik akan menggunakannya.


Mengambil buku diary, menuliskan kisahnya dengan Merrik. Bukan kisah dalam novel yang banyak bab, Elena menulis bagaikan cerpen yang menarik. Dari awal pertemuannya hingga mereka menjadi keluarga kecil bahagia, Elena menghilangkan bagian pil pencegah kehamilan dan juga kebohongan Merrik. Bukan cerpen yang di angkat dari kisah nyata secara penuh. Cerpen yang diawali dari pertemuan mereka namun diakhiri oleh sebuah harapan kebahagiaan yang Elena buat. Bak cerita sang lelaki yang sangat mencintai wanitanya, memanjakan demi kebahagiaan sang wanita tanpa ada kebohongan. Cinta tulus sepasang pria dan wanita yang membuat cinta mereka kuat.


Elena masih belum bisa melepas dari bayangan Merrik. Hanya sebentar mereka bersama, belum sampai dua bulan namun Elena sudah menyerahkan hatinya pada Merrik dan kini dia terluka. Di isak tangisnya, ada suara ketukan pintu, Elena dengan samar mendengar suara ketukan karena bercampur dengan suara tangisannya sendiri. Dia mencoba bangkit dari duduknya, dia meyakini bahwa Merrik lah yang datang. "Pasti Kak Merrik, dia mencintai ku. Aku yakin dia akan kembali padaku! Dia pasti mau minta maaf, dia pasti sudah menyesal!" gumam Elena.


Elena berlari membuka pintu dan langsung meneriakkan. "Kak Merrik ...."


Suaranya terhenti setelah melihat di depannya, bukanlah orang yang diharapkan. "Maaf, kalian cari siapa?"


Orang yang di depan Elena hanya terpaku, menatap Elena dengan kerinduan. Sedetik kemudian wanita paruh baya itu meneteskan air mata. "Eleanor," ujar Amel.


"Bibi siapa?" tanya Elena. Dia merasa pernah bertemu dengan orang yang ada di depannya.


"Ini Mommy." Amel langsung memeluk Elena tanpa meminta persetujuan. Steven pun ikut meneteskan air mata melihat anak dan istrinya, dia bersyukur bisa menemukan anaknya yang telah lama menghilang.


Elena terdiam tanpa melepas pelukan dari Amel, meskipun masih belum mengerti dengan apa yang terjadi, dia membiarkan Amel menangis dalam pelukannya.


Elena mempersilakan Amel dan Steven masuk ke dalam rumah. Meletakan dua cangkir teh untuk tamunya. Elena merasa sedikit tidak nyaman ditatap oleh dua orang yang berada di depannya. "Sebenarnya apa maksud dari kedatangan Paman dan Bibi ?" tanya Elena canggung.


"Kami adalah orang tuamu, Eleanor," ujar Steven.


"Oh, Apa!" Elena melihat dua orang di depannya, melihat ke arah Steven, lebih condong mirip dengan pria di depannya. Warna mata yang sama dengannya.


Steven tersenyum melihat Elena, sepertinya tanpa melakukan tes DNA dia sudah yakin di depannya adalah anak kandungnya.

__ADS_1


"Kamu adalah anak kami, kami kehilanganmu saat berusia kurang dari empat tahun karena kasus penculikan." Steven mencoba memberi penjelasan.


Elena masih tidak mengerti, Neneknya tidak pernah cerita. "Maaf sebelumnya, nama saya Elena dan kata Nenek saya, orang tua saya sudah meninggal. Tunggu sebentar." Elena bergegas ke kamarnya mencari dokumen. Dia mencari akte kelahiran dan kartu keluarga, saat pencarian di ingat akan ijazah-nya yang tertinggal di apartemen Merrik. Elena teringat akan Merrik lagi, hingga meneteskan air matanya. Menyelam sambil minum air. Mengenang Merrik dan juga mencari dokumen yang dicari.


Elena kembali ke ruang tamu dengan membawa Kartu Keluarga dan juga Akte kelahiran masih dengan mata sembab dan berair. "Ini." Elena memberikan dokumen tersebut pada Steven. "Kata Nenek, orang tua saya sudah meninggal. Itu buktinya." Elena mengelap air mata.


Steven menerima dokumen tersebut, melihat kartu keluarga, dia menyeringitkan dahinya, tertera nama Ayah 'Paijo', nama Ibu 'Inem' dengan gelar Almarhum. Berbeda dengan Steven, Amel memperhatikan Elena yang menangis, begitu sayangnya kah dia dengan orang tua angkatnya yang sudah di anggapnya sebagai orang tua kandungnya? Atau Elena terharu karena bertemu dengan orang tua kandung sesungguhnya?


"Apa kamu merindukannya?" tanya Amel dengan maksud tentang Paijo dan Inem.


"Iya," jawab Elena dengan air mata memikirkan Merrik.


"Elena." Steven menghentikan obrolan Amel dam Elena yang salah mengartikan maksud dari masing-masing. "Akte dan Kartu Keluarga bisa dibuat."


"Bukannya saat membuat akte dan kartu keluarga harus dengan dokumen pendukung? dan itu harus asli, seperti surat kematian orang tuaku," ucap Elena polos.


"Tidak mungkin, Nenek bahkan tidak bisa baca, tidak mungkin bisa memalsukan." Elena tidak ingin mudah percaya dengan orang lain, terlebih dia dan neneknya bukan orang yang berkuasa, cukup baginya tertipu oleh Merrik.


Steven memijat dahinya. "Tidak tau nenekmu dengan cara apa membuat dokumen ini, dia bisa meminta bantuan orang lain. Tapi aku berterimakasih padanya, aku yakin nenekmu orang pandai, dia memikirkan masa depanmu, tanpa dokumen ini kamu tidak bisa sekolah."


"Apa kamu punya sebuah kalung dengan inisial E?" tanya Amel.


Elena berpikir sejenak. "Ada, tunggu sebentar." Elena kembali lagi ke kamar dan membawa kalung tersebut. "Ini."


Amel langsung menangis bahagia. "Kau benar anak kami, ini kalung khusus yang hanya dimiliki olehmu. Jika kamu belum percaya, kita bisa lakukan tes DNA."

__ADS_1


Elena bingung harus berbuat apa. Apakah dia harus dengan mudah percaya pada dua orang tua di depannya? Dia menatap Amel lekat, seperti telah mengenalnya. "Aku merasa tidak asing dengan Bibi."


"Tentu saja, aku ini Mommy-mu pasti ada ikatan batin diantara kita. Lagi pula kita pernah bertemu di alun-alun kota, kamu yang membantuku mengambil dompet ku yang terjatuh."


Elena batu teringat kejadian itu. "Iya aku ingat Bibi."


"Panggil aku Mommy!"


Elena hanya tersenyum, bingung harus berbuat apa. "Ikutlah dengan kami, aku akan buktikan kamu adalah anak kami," ucap Amel dan menoleh ke samping. "Sayang, apa kamu membawa dokumen dari detektif sewaan kita?"


"Tertinggal di kantor, tadi kita buru-buru ke sini!" ucap Steven.


"Ikut kami dulu, kita bisa tes DNA."


Setelah cukup lama meyakinkan Elena. Steven dan Amel berhasil membawa Elena pergi ketempat yang seharusnya di tinggali olehnya.


...**************...


Dengan hati yang menggebu Merrik melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak sabar untuk bertemu dengan pujaan hatinya. Sampailah di desa Elena, berjalan menuju rumah Elena. Mengetuk pintu rumah Elena dan memanggilnya dengan suara cukup keras. “Elena!” Tidak ada yang membukakan pintu, Merrik tidak sabar karena pintu tidak terbuka, dia mendobrak pintu tersebut. Merrik langsung masuk ke dalam mencari Elena. "Elena ... Elena ...." Terus memanggil namanya, tetap tidak di temukan orang yang di carinya.


Merrik melihat ke meja ruang tamu, dua gelas cangkir teh berdampingan. Mengambil teh tersebut, dingin. Teh-nya sudah dingin. Mencium bau teh tersebut, belum basi. Ada orang yang datang pagi atau siang ini. "Siapa yang datang?"


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


Terima kasih masih setia dengan kisah Merrik dan Elena 🙏🙏 Jangan lupa tinggalkan jejak yach like love vote gift n komentarnya di tunggu yach 🥰

__ADS_1


Age butuh banyak saran dan kritik agar lebih baik lagi dalam berkarya 😊😊😊


Salam Age Nairie 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2