
...Jangan lupa setelah membaca kasihlah Age like, love, vote, gift 😊 Biar tambah semangat 💪💪...
...Saran dan komentarnya juga di tunggu yach, biar Age bisa lebih baik lagi dalam berkarya 🥰...
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
Elena menatap wajah Merrik, mencari sebuah ketulusan dari netra hitam legam milik lelaki itu. "Bagaimana cara Kakak memperbaikinya? Hanya orang di desaku yang mengetahui pernikahan kita. Bahkan orang tua kandungku tidak tau tentang pernikahan siri itu!"
"Kita mulai dari awal lagi. Aku akan melamarmu secara resmi. Aku akan membawa orang tuaku untuk melamar. Kita akan membuat semua orang tau bahwa kita menikah, jika perlu kita siarkan ke seluruh dunia. Aku berjanji padamu!" ucap Merrik tanpa ragu.
Elena menoleh kepada Mommy-nya, Amel hanya mendengus kesal. Beralih ke Daddy-nya. "Jika kamu yakin untuk memberinya kesempatan maka lakukanlah," ucap Steven.
"Kak Merrik sungguh-sungguh?" tanya Elena lagi.
Merrik menganggukkan keras kepalanya. "Ya, aku yakin."
"Baik, aku akan beri kesempatan sekali lagi."
"Benarkah?" tanya Merrik.
"Iya."
Merrik mendekati Elena mencoba memeluknya namun di hentikan oleh Steven. "Aku tidak pernah merasa menikahkan anakku, jadi kamu tidak boleh menyentuh nya. Buktikan saja dulu ucapanmu itu." Steven tidak akan membiarkan Merrik menyentuh putrinya sampai Merrik benar-benar membuktikan ucapannya.
"Baik, aku akan membuktikannya. Aku akan menikahi Elena dengan cara yang benar." Merrik dan Elena hanya bisa saling tatap. Merrik harus bersabar untuk memeluk istrinya yang kini sudah berganti menjadi calon istri.
Merrik kembali ke hotel tempat ia menginap, sebelum berpisah ia meminta nomor telepon Elena yang baru. Saat Elena pergi dari apartemen Merrik, dia tidak membawa apa-apa termasuk ponsel.
Elena, Steven dan Amel kembali ke mansion. Amel kecewa dengan keputusan Elena yang mudah memaafkan Merrik. Pantas Merrik bisa memanfaatkan Elena, itu karena hati Elena yang terlalu lemah terhadap Merrik. Usia yang sangat dini membuatnya mudah terpengaruh, apa yang dilakukan oleh Elena hanya mengikuti kata hati saja. Ingin sekali rasanya membawa kabur Elena secara diam-diam agar Merrik tidak mengganggu anaknya lagi. Namun, ia juga tidak bisa mengabaikan pendapat Elena, dia juga berharap anaknya bahagia. Meskipun sangat kesal dengan apa yang telah Merrik lakukan pada anaknya.
"Mom," panggil Elena yang melihat Mommy-nya diam dan bermuka masam setelah pertemuannya dengan Merrik.
"Ya," jawab Amel.
"Aku minta sama Mom, untuk mencoba memaafkan, Kak Merrik."
__ADS_1
"Akan ku usahakan. Namun, jika dia berbuat yang tidak baik lagi padamu, aku tidak akan memaafkannya."
"Baik," jawab Elena. Dia hanya akan memberikan kesempatan pada Merrik sekali. Jika Merrik mengecewakan nya maka dia akan membenci Merrik selamanya.
Tanpa sengaja Amel melirik perut Elena. "Jangan beri tahu Merrik tentang kehamilanmu."
"Kenapa?" tanya Elena bingung.
"Kita lihat dulu seberapa serius dirinya. Jika dia tidak berniat serius denganmu dan tau kamu hamil, bisa jadi dia memintamu menggugurkan kandungan!" ucap Amel pedas.
"Amel!" ucap Steven setelah mendengar ucapan istrinya yang tidak baik.
"Aku bukan asal bicara! Mengingat bagaimana dulu Merrik berusaha untuk Elena meminum pil pencegah kehamilan setiap hari. Ada kemungkinan dia tidak ingin memiliki anak dari Elena."
Elena hanya terdiam, apa yang dikatakan Mommy-nya tidak salah, namun Elena yakin sekarang Merrik sudah berubah.
Setibanya di hotel, Merrik langsung menghubungi orang tuanya dan mengabarkan kabar gembira bahwa dirinya sudah di maafkan oleh Elena. Ricci dan Rose juga sangat senang, mereka menyambut gembira. Ricci menyanggupi permintaan Merrik untuk mendampingi Merrik melamar Elena. Dia dan Rose bersiap untuk ke kota B.
Setelah mengabari orang tuanya, Merrik memberanikan diri menelpon Elena. Dia dilarang menemui Elena sebelum menikahinya. Tetapi, tidak ada larangan untuk mereka berkomunikasi melalui telepon.
"Hallo." Elena menyapa Merrik.
"Hai, sedang apa? Aku menelponmu yang ketiga kali dan baru kamu angkat."
"Tadi aku habis mandi."
"Oh."
"Ada apa?"
"Tidak apa, hanya rindu."
Elena tersipu mendengar ungkapan rindu Merrik. "Kita 'kan baru bertemu hari ini."
"Kurang lama, tadi hanya sebentar bertemunya! Aku masih kangen. Kamu tidak rindu?" tanya Merrik.
__ADS_1
"Tidak!" Elena langsung menjawab tanpa berpikir.
"Bohong! Pasti kamu sedang merona menahan rindu 'kan? Sekarang kamu sudah bisa berbohong yah?"
"Iya, sudah pandai berbohong! 'Kan belajar dari Kakak."
Hening, Merrik terdiam mendengar penuturan Elena. Elena pun tersadar dia salah bicara. "Kak Merrik!"
"Ya."
"Emm ...." Elena tidak melanjutkan bicaranya, dia ingin tau kapan Merrik akan melamarnya secara resmi. Jika Merrik benar-benar menikahinya secara resmi, Elena akan bilang pada Merrik tentang kehamilannya.
"Katakan saja tidak usah ragu aku akan mendengarkan."
"Apa Kakak serius akan melamarku?" tanya Elena.
"Tentu saja, aku sudah menelpon orangtuaku. Mereka akan segera datang ke sini mendampingiku melamarmu. Kamu ingin pernikahan seperti apa? Aku berencana menyiarkan langsung pernikahan kita agar seluruh dunia tau pernikahan kita."
Elena tertawa oleh perkataan Merrik, dia berpikir tentang pernikahan impiannya. "Tidak perlu diumumkan seluruh dunia, kita bukan artis internasional, Kak! Cukup orang yang kita kenal mengetahui pernikahan kita, aku ingin menjadi princess, aku suka barbie. Pernikahan di dunia barbie sangat indah. Apa Kakak setuju dengan pernikahan seperti di dunia dongeng?"
"Tentu, aku akan jadi pangerannya dan kamu akan menjadi tuan putri-nya. Kita akan naik kereta kuda." Merrik belum mewujudkan semua yang diinginkan oleh Elena, bahkan ke area bermain terbuka pun belum terlaksana. Dulu Merrik mengurung Elena di apartemen hanya untuk memuaskan hasrat dirinya hingga tidak ada waktu mewujudkan semua keinginan Elena.
Mulai saat ini, dia akan menebusnya, semua yang terucap dari mulut Elena akan dia jadikan titah untuknya. Mereka mengobrol di telepon layaknya orang berpacaran, mereka tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya. Mereka banyak mengobrol banyak hal, mulai dari lamaran dan pernikahan mereka hingga ke masalah keluarga Merrik.
Merrik juga menceritakan identitas dirinya yang asli, begitu pula dengan masalah keluarganya termasuk kematian ibu kandung Merrik dan juga perseteruannya dengan Rose. Tidak ada lagi yang ditutupi oleh Merrik.
Hari dimana Merrik melamar Elena tiba, keluarga Merrik akan tiba di kediaman Steven tepat pukul 19.00. Elena memakai dress putih selutut dengan tatanan rambut yang sederhana namun sanggup membuatnya nampak layaknya seorang nona muda.
Satu jam berlalu, belum ada tanda-tanda keluarga Merrik akan datang, di halaman tidak ada suara mobil tiba, hanya kesunyian yang ada di mansion Steven. "Kenapa mereka belum datang? Apa dia serius?" Protes Amel.
"Mungkin terjebak macet. Coba kamu hubungi Merrik." Perintah Steven pada Elena.
"Baik." Elena mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Merrik namun tidak di angkat. Elena menggelengkan kepalanya pada Steven. "Tidak aktif."
Hati Elena semakin kacau saat jam dinding menunjukkan pukul 21.00 masih belum ada suara mobil datang atau pelayan yang mengabari kedatangan Merrik. "Ada apa ini? Kakak bukan ingin meninggalkan ku 'kan?" gumam Elena dalam hati.
__ADS_1
...Salam Age Nairie 🥰🥰🥰🥰...