
Elena melirik sedikit pada Merrik, yang di lirik sedang asik meminum cairan yang ada di gelasnya. "Menurutmu apa gadis seperti diriku tidak akan ada yang mengejar?" ucap Elena pada Arka.
Arka mengencangkan wajahnya, tidak menyangka gadis di depannya bukan gadis yang polos dan pemalu. "Kalau dilihat dari penampilanmu tentu banyak yang mengejarmu."
"Seperti nya kamu sudah tau jawabannya," ucap Elena menarik satu alisnya.
"Banyak yang mengejar bukan berarti kamu sudah punya pacar, biasanya gadis sepertimu menyeleksi pria lebih ketat." Arka semakin tertarik pada Elena.
"Ya, kau benar. Aku sangat selektif memilih pria, karena kebanyakan pria hanya mengambil keuntungan dari seorang wanita!"
"Dari banyaknya pria brenngsek bukan berarti tidak ada sama sekali pria yang tulus pada wanita. Pasti diantara jutaan pria ada satu yang baik." Arka tidak setuju jika semua pria disamaratakan.
"Benar. Namun, sulit membedakan antara ketulusan dan kepalsuan." Elena mengambil minumnya lalu menenggaknya.
Arka menatap Elena, wanita yang ceria namun terlihat rapuh. "Boleh aku mengejarmu?" tanya Arka langsung di depan umum.
"Wow, pertama bertemu langsung mengutarakan maksud!" ucap salah satu pria yang duduk satu meja dengan mereka. Semua mata tertuju pada Arka dan bergantian kearah Elena.
Merrik pun menghentikan minumnya, dia berdiri dan pamit pada semua orang yang ada di meja. "Masih ada yang harus saya kerjakan. Saya permisi dulu."
Tanpa menunggu jawaban, Merrik pergi meninggalkan ruangan. Terlihat sangat dingin, namun siapa yang tau di dalam hatinya sedang terbakar.
Elena sedikit menatap kepergian Merrik. 'Apa ini sifat aslinya?' batin Elena.
Tidak ada jawaban dari Elena, Arka membuka mulutnya lagi. "Tidak perlu menjawab ku, karena aku berencana mengejarmu bahkan tanpa izinmu." Arka tersenyum pada Elena.
__ADS_1
Acara telah selesai, para tamu meninggalkan tempat acara, begitupun dengan Elena. Dia menuju pintu keluar, entah dari mana sudah ada Arka di sampingnya. "Mau aku antar pulang?" Tawar Arka.
"Terima kasih, aku bawa mobil sendiri." Elena menolak dengan sopan. Selain dia memang membawa mobil, dia juga tidak ingin memberi harapan pada orang lain. Hubungannya dengan Merrik membuat dirinya trauma akan laki-laki. Dulu Merrik juga bersikap baik padanya dan akhirnya dia yang terluka.
Elena kembali ke apartemennya, memikirkan apakah dia harus resign dari pekerjaannya. Jika ia berhenti, apakah Merrik akan menganggapnya masih mencintainya? Terlalu lelah berpikir hingga ia terlelap.
Keesok paginya Elena berangkat kerja, memutuskan untuk tetap bekerja, tujuan awalnya adalah menjadi designer yang hebat, selama ia bekerja tidak pernah bertemu dengan Merrik, maka ia putuskan untuk tetap menjalankan pekerjaan secara profesional.
Memakai pakaian berwarna putih dan hitam. Kemeja hitam dengan motif bintik-bintik putih kecil dipadu padankan dengan celana putih, tidak lupa memakai sepatu high heels-nya berwarna hitam dan tas selempang kerja kecil selaras dengan pakaian yang ia gunakan.
Semua pakaian yang dikenakan adalah pilihannya dan sesuai dengan seleranya. Berbeda dengan dulu yang selalu patuh memakai apa yang Merrik pilih sesuai dengan apa yang diinginkan lelaki itu. Kini dia bebas, dia siap menjalani harinya, bebas melakukan apapun keinginannya.
"Eleanor, jangan lupa kita ada meeting sore ini," ucap Resti seorang manager pemasaran.
"Baik," ucap Elena.
Sore menjelang beberapa divisi yang berkaitan datang dalam meeting produk baru, Elena yang sebagai kepala designer pun menghadirinya di temani 2 designer di bawahnya. Semua duduk di tempat yang sudah di sediakan.
Merrik datang di temani oleh Jakson dan satu orang wanita muda yang dikenal sebagai sekretaris Merrik. Merrik duduk di kursi utama, disampingnya ada Jakson dan di belakang ada Lala, si sekretaris Merrik yang otomatis menjadi notulen rapat hari ini. "Kita mulai rapat hari ini," ucap Merrik.
Rapat di mulai dan membahas produk baru yang akan mereka keluarkan, Elena mempresentasikan di depan umum hasil kolaborasi rancangannya bersama para designer di bawahnya. Mereka bekerja sangat profesional, Elena dan Merrik serius dengan meeting mereka. Hingga, akhirnya di tentukan sebuah model set perhiasan yang akan dikeluarkan sebagai produk baru. Meskipun ada sedikit revisi dari Merrik, hal itu tidak jadi masalah bagi Elena. Dia akan membuat sesuai dengan permintaan Perusahaan.
Meeting selesai, semua orang mulai meninggalkan tempat. Dua rekan Elena pergi meninggalkan tempat terlebih dulu, Elena membereskan buku sketsanya. Ruangan menjadi sunyi, tersisa Elena yang memegang perutnya kesakitan karena nyeri haid.
Dia merutuki kenapa ia menggunakan celana putih hari ini! Dia lupa akan tanggal menstruasinya yang kini datang tanpa memberi aba-aba. Lebih diperparah, Elena meninggalkan ponselnya di meja kerjanya hingga tidak bisa meminta bantuan rekan kerjanya dan mungkin sudah pada pulang kerja karena memang jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.
__ADS_1
Dia khawatir jika ia berdiri maka akan ada bercak merah yang menghiasi celana putihnya. Dia hanya berharap ada petugas kebersihan yang datang. Dia bisa meminta bantuan petugas kebersihan tersebut.
Ruang meeting berada satu lantai dengan ruangan Merrik, karena permintaan Merrik, mereka meeting di lantai tersebut. Tidak banyak karyawan di lantai 28 karena memang khusus ruangan CEO. Merrik masih ada di ruangannya. Jakson dan Lala sudah di izinkan pulang. Ya, para bawahannya sudah terbiasa pulang terlebih dahulu sebelum Merrik pulang karena Merrik lebih senang menghabiskan lebih banyak waktu di kantor.
Belum ada petugas kebersihan yang datang, Elena semakin gelisah. Merrik keluar dari ruangannya, melihat ke arah ruang meeting yang lampunya masih menyala. Dindingnya terbuat dari kaca, setengah kaca yang diberi pelapis, tampak hanya siluet dari luar jika ada orang di dalamnya.
Hatinya tergerak untuk masuk kedalam ruangan tersebut setelah melihat siluet seorang wanita. Merrik membuka pintu, melihat Elena yang masih duduk di tempat awal meeting tadi. "Kau belum pulang?" tanya Merrik.
"Sebentar lagi akan pulang." Elena tidak sudi jika harus meminta bantuan Merrik.
"Oke." Merrik meninggalkan ruangan, tiba-tiba dia teringat akan malam pertama mereka, malam dimana dia berhasil mengambil kesucian gadis itu, malam dimana Elena meminta pakaian dalam karena basah.
Merrik kembali ke ruangan, melihat Elena memegang perut dan menggunakan celana putih. Dia mendekat dan melepas jasnya. "Bangunlah, kamu bisa menggunakan ini." Merrik menyodorkan jas-nya.
Dengan terpaksa Elena menerima jas Merrik dan melilitkan di pinggangnya hingga menutupi bagian belakang bokonngnya.
"Aku antar kamu pulang," ucap Merrik.
"Aku bisa pulang sendiri."
"Dengan keadaan seperti ini? Wajah pucat dan menahan sakit di perut?" tanya Merrik mengerutkan dahi.
Elena tidak menjawab, dia tidak ingin terlibat dengan Merrik lagi, jika terlalu sering bersamanya, Elena takut keberadaan Melena akan diketahui.
Tidak ada jawaban dari Elena. "Aku hanya akan mengantarmu pulang, tidak ada maksud lain," tambah Merrik. Elena menoleh kearah Merrik, tatapan Mereka bertemu.
__ADS_1
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
...Salam Age Nairie 🥰🥰🥰🥰...