Kamuflase Cinta Sang CEO

Kamuflase Cinta Sang CEO
Perfect Honeymoon


__ADS_3

"Sungguh aku bahagia," jawab Elena sambil mengeratkan pelukannya pada Merrik.


Merrik mengusap punggung Elena di dalam air, mencium pundak Elena lalu melepaskan kaitan yang ada di punggung Elena dan melemparkan barang tersebut ke pinggir danau. "Apa yang Kakak lakukan?" panik Elena, air danau memang menutupi sampai ke dada namun jika dia beralih ke pinggir otomatis akan menampilkan tubuh polosnya.


"Apa? Tidak ada!" sergah Merrik.


"Kalau ada orang bagaimana? Cepat ambil!" ujar Elena memukul lengan Merrik.


Merrik malah menarik tangan Elena dan meletakkannya kebagian bawah Merrik yang tidak tertutup apapun. Sontak Elena menarik tangannya kembali. "Dasar messum!" Elena memijat keningnya, entah mengapa dia merasa Merrik bertambah tingkat kemesumannya. "Bisa tidak nggak usah berpikir yang tidak-tidak?" ucap Elena marah.


Bukannya marah karena dipukul, Merrik malah tertawa. "Tenang saja, tidak akan ada orang di sini. Jadi kita bebas berenang."


Elena mengedarkan matanya kesekeliling, benar kata Merrik, tidak ada orang di sana. "Tempat ini benar-benar tidak ada yang tahu?" tanya Elena.


"Iya." Merrik menarik Elena semakin mendekat padanya. "Jadi kita bebas berbuat apapun."


Elena mendorong Merrik. "Karena ini di tempat asing, jadi jangan macam-macam! Sudah berenang saja!"


Merrik tidak kelancaran aksinya lagi, mereka benar-benar menikmati berenang di danau dan sesekali hanya berpelukan dan berciuman.


"Kamu tunggu di sini biar aku yang ambil handuk." Merrik melarang Elena keluar dari danau karna keadaan Elena yang polos akibat ulahnya.


Merrik mengambil handuk dari tas carrier-nya dan melilitkan di pinggangnya, setelah itu mengambil untuk Elena dan merentangkan handuknya. "Setelah hitungan ketiga, kamu berdiri," ucap Merrik memberi instruksi.


Setelah memberi aba-aba, Elena bangkit keluar dari danau, dengan kecepatan secepat kilat Merrik sudah membungkus tubuh Elena. "Ganti bajumu di dalam tenda," ucap Merrik.


Elena membulatkan matanya. "Sejak kapan ada tenda di sana?" Dia benar-benar baru menyadari ada tenda di sana, saat tiba matanya sudah terpukau dengan pemandangan danau yang indah, sehingga membuatnya tidak memperhatikan sekeliling.


"Dari kita datang memang sudah ada."


"Punya pendaki lain?"


"Punya kita!"


Elena memicingkan matanya. "Jadi kamu sudah merencanakan ini ya?"


"Tentu saja, jika tidak mana mungkin aku membiarkan kamu berenang di danau tanpa busana."


"Itu 'kan ulahmu! Aku bisa pakai baju renang!"

__ADS_1


"Baju renang juga tidak boleh kalau ada orang lain yang melihat!" ujar Merrik sambil menuju ke arah Tenda dengan membawa tas carrier mereka.


"Dasar posesif!" ejek Elena. Dia mengikuti Merrik ke dalam tenda.


"Aku tidak dengar!" ucap Merrik.


"Kita makan apa untuk malam ini?" tanya Elena setelah berpakaian.


"Bakar ikan saja!"


Mereka membuat api unggun dan menikmati ikan bakar. Bukan ikan yang mereka tangkap melainkan ikan yang sudah tersedia di box ice yang berada di dalam tenda. Merrik sudah menyediakan semua, tidak perlu repot untuk mencari makanan lagi.


Malam semakin larut, kegelapan yang berselimut dingin, suara burung hantu mulai terdengar. "Sayang masuk ke dalam, yuk?" ajak Merrik.


"Kakak kenapa? Kakak takut?" goda Elena.


"Bukan, aku sudah beberapa kali mendaki seorang diri dan otomatis pernah tidur di tengah hutan sendiri. Aku juga sudah pernah mengalami hal-hal aneh, namun itu semua tidak membuatku berhenti untuk mendaki." Merrik berujar sangat santai, apa yang dia katakan sebuah kebenaran, namun maksud hati mengajak Elena masuk ke dalam tenda memiliki tujuan lain. "Kamu sendiri, apa kamu tidak takut?" tanya Merrik.


"Tidak, aku pun sering malam-malam berada di dalam hutan." Elena mengingat kembali saat dia melakukan hal bodoh dengan menangis di dalam hutan karena dicampakkan oleh Merrik. "Gelapnya hutan pernah menjadi sahabatku saat aku dicampakkan! Suara burung hantu lah yang menghiburku."


Merrik terdiam, dia tahu itu semua karena dia yang menyuruh Dion mengikuti Elena. "Maaf," ucap Merrik sungguh-sungguh.


Elena menyadari raut wajah Merrik yang berubah sedih, dia tidak ingin mengingat kembali masa lalu pahit itu. "Aku tidak takut dengan suara burung hantu, yang aku takutkan ketemu dengan pria messum!" ejek Elena menatap Merrik.


"Tidak ada! Hanya ada suami messum!" ucap Elena tertawa.


Merrik menarik lengan Elena, dia langsung membawanya ke tenda lalu membuka tasnya dan mengeluarkan sepotong pakaian. "Pakai ini." Merrik menaruh ke tangan Elena setelah itu dia keluar dari dalam tenda.


"Bisa-bisanya dia menyiapkan ini!" gumam Elena. Dia menarik ke atas gaun biru muda yang tipis. "Aneh-aneh saja!" gerutu Elena namun tetap menggunakannya.


Setelah beberapa saat, Merrik masuk ke dalam tenda, dia melihat Elena sedang tidur menyamping dengan menopang kepalanya dengan telapak tangan. "Hai, suami!" ucap Elena menggoda.


Merrik tidak berkedip melihat Elena seperti itu. Kali ini, Elena bagai iblis yang menggoda, dengan pakaian tipis yang menerawang, suara sensasional dan juga wajah cantik alami tanpa riasan yang membuatnya terlihat bagai gadis polos namun menggoda iman.


Merrik langsung menerjang Elena bagai binatang buas. Dinas kehutannan sedang melakukan tugasnya dengan sangat sempurna. Suasana malam yang gelap dan mencengkam tidak bisa memprovokasi dua sejoli yang ada di dalam tenda untuk berhenti beraktivitas.


Seakan tidak peduli mereka sedang berada dimana, mereka sibuk dengan saling menggoda, menyentuh dan saling memberi kenikmatan. Suasana menjadi hangat, di luar ada api unggun yang menghangatkan, di dalam tenda sedang ada latihan fisik yang menguras tenaga hingga membuat suasana menjadi semakin panas.


"Apa kita boleh mengotori tempat ini dengan perbuatan kita?" tanya Elena masih dengan nafas yang tersengal karena baru selesai dengan dinas malamnya.

__ADS_1


"Kita tidak mengotori tempat ini karena kita sah suami istri." Merrik masih tidak melepas dekapan nya pada Elena meskipun mereka telah usai melakukan dinas malam mereka.


"Besok pagi kita lanjutkan pendakian sampai ke puncak 'kan?" tanya Elena.


"Iya, boleh!" Merrik akan mewujudkan semua permintaan Elena selama itu masih dalam batas kewajaran.


Keesok harinya mereka benar-benar melakukan pendakian untuk mencapai puncak, mereka bertemu dengan beberapa pendaki lainnya. Elena terkejut mendengar cerita para pendaki lain yang tidak bisa pergi di secret lake karena ada orang-orang yang berjaga dan mengarahkan jalur lain untuk menuju puncak. Dia sudah menduga bahwa semua itu adalah ulah suaminya.


"Kamu tidak boleh seperti itu? Danau itu bukan milik kita, jadi siapapun boleh kesana!" ujar Elena. Mereka sedang berada di hamparan bunga Edelweiss.


"Aku tidak merugikan siapapun, Dion sudah mendapatkan perizinan dan kini sudah bisa dinikmati oleh pendaki lain." Merrik memetik satu bunga Edelweiss dan menyelipkan di telinga Elena lalu mencium keningnya cukup lama. "Semoga cinta kita abadi seperti legenda bunga Edelweis ini."


"Aku yakin cinta kita tulus, karena selama ini, tidak ada orang lain di hati kita dan kuharap seterusnya seperti ini."


Merrik menarik Elena dalam pelukannya. "Kak, bukankah kita tidak boleh memetik bunga Edelweiss?"


"Hanya setangkai, aku rasa tidak apa-apa."


"Tapi tidak mematahkan legenda keabadiannya 'kan?" Elena memberi jarak pelukan erat mereka.


"Maksudmu?" tanya Merrik menatap Elena.


"Aku takut karena Kakak memetik bunga ini, cinta kita malah jadi tidak abadi."


Merrik malah terkekeh. "Tidak ada seperti itu, abadi atau tidak tergantung dari diri kita sendiri." Merrik membingkai wajah Elena. "Yang jelas, aku sangat-sangat mencintaimu."


Elena tersenyum. "Aku pun sangat-sangat mencintaimu! Terima kasih telah memberikan perfect honeymoon ini!" jawab Elena tidak kalah antusias.


Merrik mulai mencium Elena, dua sejoli yang saling mencintai, berciuman penuh kasih di hamparan indahnya Edelweiss, berharap cinta mereka akan abadi seperti makna dari bunga tersebut.


...💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖...


...Hai, kembali lagi dengan Age Nairie... Mudah2an masih ada yang inget ya 🤭...


Lama ya nunggu boncapnya? Eh, klo ada yang nungguin itu juga 😁 Memang baru bisa melanjutkan sih karena ada sesuatu yang harus Age kerjakan dalam Real Life 🙏🙏🙏


...Semoga suka dengan Bonus Chapternya yach 🥰🥰🥰...


...Salam Age Nairie.. 😘😘😘😘🥰🥰🥰🥰🥰...

__ADS_1


...Love sekebon buat kalian 😘😘😘😘😘😘...


...Terima kasih masih mau mengikuti kisah Merrik dan Elena 🙏🙏🙏...


__ADS_2