Kamuflase Cinta Sang CEO

Kamuflase Cinta Sang CEO
BAB 25 Tulus Mencintai


__ADS_3

...Jangan lupa setelah membaca kasihlah Age like, love, vote, gift 😊 Biar tambah semangat 💪💪...


...Saran dan komentarnya juga di tunggu yach, biar Age bisa lebih baik lagi dalam berkarya 🥰...


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


Ricci dan Rose sedang berdiskusi di kamar tidur mereka, siapa lagi bahan diskusinya kalau bukan Merrik. "Kita harus memaksa Merrik menikahi gadis itu, jika memang benar mereka sudah melakukan hal selayaknya suami istri." Ucap Ricci.


"Kita belum mendengar sendiri dari mulut Merrik atas apa yang terjadi." ujar Rose.


"Tidak perlu mendengar dari mulutnya, dari cara mereka berinteraksi, aku tau yang sesungguhnya. Merrik itu hanya memanfaatkannya!"


"Mungkin dia serius dan tulus dengan gadis itu."


"Jika dia serius, setidaknya dia akan bilang padaku seperti yang dia lakukan dulu, dulu dia sangat membanggakan Clara. Aku ingat dia selalu membandingkan dirimu dengan Clara. Dia selalu membanggakan bahwa Clara adalah gadis yang sempurna. Cantik, pintar, dan dari kalangan atas."


"Kita tidak bisa memaksa Merrik, tidak boleh terlalu keras padanya."


"Kita terlalu mengikuti semua kemauannya. Hingga jadi anak yang pembangkang dan sekarang dia merusak seorang gadis. Kita harus memaksa Merrik bertanggung jawab." Ricci tidak ingin Merrik mengambil langkah yang salah. Dia bergegas keluar rumah.


"Kamu mau kemana?" tanya Rose.


"Ke apartemennya."


"Mau apa?"


"Aku akan memaksa anak itu menikahi Elena, aku tidak mau jika sampai Elena hamil di luar nikah!"


"Tapi jangan gunakan cara kekerasan."


"Aku akan menyelesaikan dengan caraku sendiri. Jika perlu, aku akan menceritakan tentang Melan padanya!"


"Jangan, dia akan terluka."


"Jika membuatnya terluka bisa menjadikannya manusia yang lebih baik, maka aku akan melakukannya."


"Kita bicara dengannya baik-baik dulu." Rose terdiam mengikuti setiap langkah Ricci.

__ADS_1


Apa yang di katakan Rose benar, permasalahan tidak akan selesai hanya dengan kekerasan. "Ya, akan aku coba. Kamu mau ikut?"


"Tentu, ayo kita pergi." Dua orang paruh baya tersebut menuju apartemen Merrik.


...***...


"Maaf. Aku ingin tau, ini obat apa?" tanya Elena pada petugas apotik.


"Bisa saya lihat?" Elena memberikannya pada petugas. Petugas apotik melihat obat tersebut. "Ini pil KB, pencegah kehamilan."


Elena tersentak mendengar perkataan petugas apotik, dirinya membeku, perlahan mengumpulkan kesadaran, dengan gontai berjalan keluar dari apotik.


Setelah keluar dari apotik, Elena memukul-mukul dadanya, rasa sesak menghinggapinya, seakan pasokan oksigen di sekitar menjauhinya. Akhirnya dia luruh, berjongkok di luar sudut apotik dengan isak tangisnya.


Mengingat kebelakang tentang kebaikan Merrik, pernyataan cinta yang diberikan Merrik padanya. Pembahasan tentang nama untuk calon anak-anak mereka yang disambut antusias oleh Merrik, yang kini Elena pahami sebagai kepalsuan dari Merrik. Sulitkah berdiskusi olehnya jika memang belum menginginkan anak? Tidak, sepertinya bukan itu alasannya. Jika memang Merrik belum siap memilik anak, dia bisa saja langsung berkompromi. Kecuali alasannya memang tidak ingin memiliki anak darinya.


Pikiran-pikiran tentang Merrik memenuhi otak polos Elena, mencoba mencerna apa yang telah terjadi. Kebohongan Merrik tentang pil KB yang dijadikan vitamin, larangan keluar dari apartemen dengan alasan keselamatan. dan membatasi semua pergaulannya. Apakah dia yang terlalu lugu? Masuk dalam penjara Merrik, penjaranya yang bukan terbuat dari jeruji besi, melainkan jeruji yang terbuat dari kata-kata yang meyakinkan Elena sebagai rasa cinta dari Merrik. Semua hanyalah kamuflase yang dibuat oleh lelaki bunglon, pandai berkamuflase di hadapannya, tetapi tidak ada yang tau isi hatinya berwarna apa.


Cukup lama Elena berjongkok di sudut apotik, lokasi yang jarang di lewati orang membuatnya tidak ada yang menghampiri nya walau hanya untuk sekedar bertanya mengapa dia menangis tersedu.


Saat itu kamu protes untuk meminumnya, dan meminta untuk mengkonsumsinya seminggu sekali, jadi kupikir lebih baik hentikan saja konsumsinya jika itu bisa membuatmu lebih baik.


Aku sudah meminumnya, sekarang tinggal menunggu gairahku meningkat agar kamu bisa melihatnya sendiri!


Perkataan Merrik berkeliling di atas kepalanya. Banyak pertanyaan dan juga kebingungan yang di rasakan. Apakah Merrik sudah menyadari kesalahannya? Apakah Merrik tulus mencintainya? Jika Merrik tidak mencintainya mengapa Merrik menggagalkan dirinya meminum pil KB tersebut. Dengan rasa cinta yang masih ada di hati Elena, dia mencoba meyakinkan dirinya bahwa Merrik juga mencintainya.


Elena masih sibuk dalam pemikirannya sendiri, masih setia berjongkok di sudut apotik. Beruntung dia masih belia sehingga tidak memiliki penyakit osteoporosis yang akan membuatnya sakit jika berjongkok terlalu lama.


Hingga akhirnya kedua orang tua Merrik sampai di unit apartemen, Elena masih di sudut apotik dengan isak tangisnya.


Bel berbunyi, Merrik beralih menuju pintu, Merrik mengira Elena telah kembali dari membeli garam. Ingin sekali dia memarahinya karena keluar apartemen tanpa ijinnya. Merrik membuka pintu dan berkata, "Apa kamu lupa dengan password apartemen?"


Hanya satu kalimat pertanyaan yang ditujukan kepada Elena, namun yang di luar pintu bukan gadis yang dirindukannya. "Kenapa kalian datang ke sini?" Merrik tidak berniat memberikan kedua paruh baya tersebut masuk.


"Dimana Elena?" ucap Ricci.


"Untuk apa mencarinya?" tanya Merrik.

__ADS_1


"Kami ingin bicara padamu dan juga dengan Elena. Lebih baik bicara di dalam."


"Tidak ada yang perlu dibicarakan! Lagi pula, aku tidak terima tamu!" Merrik melirik sedikit ke arah Rose.


"Kami bukan tamu, kita bicara di dalam saja."


"Bicara saja disini. Jangan terlalu lama."


"Biarkan Elena mendengar juga."


"Dia sedang tidak ada di rumah."


"Baiklah, kedatangan Ayah kesini memintamu untuk menikahi Elena, jika kamu tulus padanya maka segeralah menikahinya."


"Siapa yang bilang aku akan menikah dengannya?"


"Merrik, kamu sudah tinggal bersama, sudah seharusnya kamu menikahinya."


"Memang kenapa jika tinggal bersama? Aku tidak berniat menikahinya."


"Lalu, kamu tidak berniat untuk menikah?"


"Aku pasti akan menikah, kamu tenang saja, aku akan memberikan keturunan untukmu tapi bukan dari gadis rendahan. Aku akan menikah dengan perempuan yang sekelas dengan kita!" ujar Merrik dengan melirik Rose yang menunduk di samping Ricci.


"Lalu bagaimana dengan Elena? Kamu sudah merusaknya!" geram Ricci.


"Ayah tenang saja, bukan aku yang merusaknya, tapi dirinya sendiri. Jika bukan aku, pasti dia akan mencari pria lain untuk mengejar kekayaan." Perkataan Merrik untuk menyindir Rose.


"Kalau kamu tidak tulus dengannya maka lepaskan dia. Memang kamu anggap dia apa?" Ricci sudah lepas kendali, ingin sekali menampar darah dagingnya ini.


"Siapa Elena bagiku? Dia hanyalah seorang jallang yang kupelihara. Aku belum berniat melepasnya saat ini, karena servisnya memuaskan! Tapi, Ayah tenang saja. Aku tidak akan terlena dengan jallang terlalu lama, aku tidak akan menikahi jallangku sendiri seperti apa yang telah Ayah lakukan dengan menikahi simpanan Ayah!" ucapan Merrik memang ia tujukan pada Rose, dia menganggap rose adalah simpanan Ayahnya yang naik tingkat menjadi seorang Nyonya.


Ricci baru saja akan membantah ucapan Merrik. Namun, belum juga bersuara sudah ada yang berbicara. Elena keluar dari balik tembok. "Apa yang Kakak bilang tadi bohong 'kan?" tanya Elena dengan mata yang membengkak dan berurai air mata. Baru juga meyakinkan dirinya bahwa Merrik tulus mencintainya namun kenyataannya tidak sesuai dengan harapannya.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


Salam Age Nairie 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2