
Arka membisikan sesuatu di telinga Elena. "Ku harap kamu suka dengan kejutanku?"
"Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Elena.
"Tidak ada alasan!" Setelah itu Arka melepaskan pelukannya dari Elena.
Semua itu terlihat jelas di mata Merrik, dia mencoba menahan amarahnya, bukan karena perusahaan di berikan untuk Elena namun karena Arka memeluk Elena dengan mesra, ingin sekali ia naik ke atas panggung dan meninju wajah Arka yang tanpa dosa. Dia menggenggam erat gelas yang ada di tangannya, menenggak isinya untuk meredakan amarahnya.
Elena dan Arka kembali disibukan dengan kegiatan peluncuran produk baru, perkenalan CEO baru dan semua itu terekam oleh media.
Di lain tempat, Amel menatap layar televisi yang ada di depannya. Mencoba menelaah apa yang sebenarnya terjadi, yang ia tahu El Sunshine adalah perusahaan milik Merrik. Dia yakin semua ini ada hubungannya dengan Merrik. Dia mematikan saluran tv, mencoba menelpon suaminya untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
...***...
Acara peluncuran produk baru selesai dengan lancar, para karyawan memberi selamat pada Elena. "Tidak kusangka sekarang kamu adalah bosnya!" ujar Daniar.
"Aku pun sama tidak menyangka seperti mu," jawab Elena.
"Pak Arka ternyata sangat mencintai mu, dia bahkan memberikan perusahaan untukmu."
Elena hanya tersenyum mendengar perkataan Daniar. "Apa kamu sudah siap?" tanya Arka yang entah kapan ada di belakang Elena.
"Sekarang?" tanya Elena.
"Tentu."
Elena dan Arka pergi meninggalkan lokasi, dengan tatapan penuh kagum dari para karyawan. Mereka menatap pasangan yang sangat serasi.
"Ah, beruntung sekali Eleanor bisa mendapatkan Pak Arka!" ucap seorang rekan kerja yg berada di samping Daniar.
"Iya, dia sangat beruntung," balas Daniar.
"Serasi banget ya mereka!"
"So sweet... perusahaan gitu loh hadiahnya."
"Semoga sampai pelaminan."
"Pasti Pak Arka sangat mencintai Eleanor!"
Bisik-bisik para karyawan terdengar di telinga Merrik, rasa panas menghinggapi hatinya. Semua orang berdoa untuk Elena dan Arka. Tidak seperti dirinya dulu saat bersama dengan Elena, hanya ada cacian yang ia terima.
__ADS_1
Merrik keluar dari gedung, ia sudah tidak menemukan Elena dan Arka. "Kemana mereka?" gumam Merrik.
Arka mengajak Elena ke suatu tempat, ia mengajak ke tepi pantai. Elena takjub dengan pemandangan di depannya. Sebuah meja di tepi pantai dengan berbagai hiasan. "Apa maksud ini semua?" tanya Elena bingung.
Arka malah tertawa. "Kamu tenang saja, aku tidak akan melamarmu!" Arka menarik kursi agar Elena duduk. "Aku mengajakmu ke sini karena memang aku persiapkan semua ini untuk melamarmu, namun itu semua tidak akan terjadi. Kita hanya makan malam saja di sini, besok sore aku akan pergi ke Australia."
"Kamu mau menetap di sana?"
"Entahlah, Ayahku dan Ayahmu berasal dari sana, kalaupun tinggal di sana tidak masalah. Siapa tahu dapat bule bermata hijau di sana!" ujar Arka dengan senyum renyah meskipun ada getir di hatinya.
"Semoga kamu mendapatkan wanita yang kamu cintai."
Arka tersenyum. "Ya, semoga saja. Aku akan mencari wanita bule yang cintanya lebih besar dariku dan tidak ingin cintaku yang lebih besar darinya."
"Kenapa?" tanya Elena bingung.
"Karena aku menginginkan anak berwajah bule. Biar si Nyonya Esti senang mendapat cucu bule!"
Elena dan Arka tertawa bersama. "Kamu masih saja mempercayai mitos itu!"
Setelah tertawa mereka terdiam. "Aku akan menyelesaikan perjodohan sebelum aku pergi. Aku akan menghadap orang tuamu."
"Arka, terima kasih."
Mereka menikmati hidangan yang tersedia, suasana yang romantis namun tidak begitu dengan hubungan mereka. Arka ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama Elena hari ini. "El, maukah kamu menonton bioskop denganku malam ini?" pinta Arka. Dia tidak pernah berpacaran, ingin sekali ia mencoba apa yang sering orang pacaran lakukan.
Elena melihat jam di tangannya, sudah menunjukan pukul 20:30 dia tidak enak menolak permintaan Arka, pria di depannya sudah sangat baik padanya terlebih besok dia sudah akan pergi. "Baiklah, tapi ini sudah cukup malam."
"Kita bisa nonton yang pukul 21:45 bagaimana?" usul Arka.
"Baiklah."
Mereka menuju mall terdekat, Arka mengantri membeli tiket, bisa saja ia beli secara online namun di urungkan. Disaat mengantri tiket, ponsel Elena berbunyi, panggilan dari Merrik. "Maaf, aku angkat telepon dulu."
Setelah meminta ijin dia mengangkat sambungan telepon Merrik. "Hallo."
"Kamu dimana?" tanya Merrik tanpa basa basi.
"Aku sedang bersama Arka, mau nonton film dulu."
"Untuk apa kamu bersamanya?" tanya Merrik dengan nada meninggi.
__ADS_1
"Akan aku jelaskan nanti, setelah nonton aku akan pulang. Sudah ya!" Elena menutup teleponnya dan menghampiri Arka kembali.
Mereka masuk ke ruang teater dengan popcorn dan juga softdrink di tangannya, mereka menonton film komedi, Arka sengaja memilih film lucu untuk menghibur dirinya. Mereka menikmati film tersebut, mereka layaknya seorang sahabat.
Setelah film berakhir pukul 24.00 mereka keluar dari ruang teater dan menuju ke basemen untuk mengambil mobil, karena mall sudah tutup, jajaran toko pun tutup, ada beberapa pekerja di malam hari. Ada satu toko sedang di renovasi, saat Elena dan Arka melewati toko tersebut tiba-tiba ada seorang tukang bangunan lewat membawa troli membawa kayu, rodanya terlepas, sang tukang bangunan tidak bisa menyeimbangkan beban dan akhirnya troli tersebut terlepas dan sebuah kayu dengan paku yang menancap mengenai kaki Elena.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Arka melihat kaki Elena yang terkena goresan paku.
"Tidak apa-apa." Elena melihat sedikit darah di betisnya, hari ini Elena menggunakan rok hingga terlihat betisnya yang ternoda darahnya sendiri.
Arka membawa Elena ke apartemennya karena Elena menolak di bawa ke rumah sakit. Mereka masuk ke dalam apartemen.
Merrik melihat mobil Arka yang masuk ke dalam apartemen Elena. Ya, dia menunggu Elena pulang.
"Apa kamu punya kotak obat?" tanya Arka saat berada di dalam apartemen. Arka membantu Elena mengobati luka di kaki Elena.
Setelah mengobati, Arka meminta minum pada Elena dan duduk di sofa. "El, aku numpang istirahat sebentar ya, kepalaku sedikit pusing."
"Ya." Elena ingin menolak namun ia pun tidak tega melihat Arka yang tiba-tiba pusing.
Merrik masih setia menunggu mobil Arka keluar dari apartemen namun belum juga terlihat mobil Arka meninggalkan apartemen Elena, empat puluh menit berlalu namun belum juga nampak mobil Arka keluar.
Merrik mengirim pesan pada Elena.
Merrik : [Kamu dimana?]
Elena : [Aku di apartemen]
Merrik : [Sendiri?]
Elena : [Ya]
Merrik melempar ponselnya. "Pembohong!" ujar Merrik penuh kemarahan. Pikiran Merrik melayang kemana-mana, ragu untuk masuk atau tidak mengingat dia sendiri tidak bisa memberikan nafkah batin pada Elena.
Elena tidak bohong, tepat setelah Arka keluar dari unit apartemen nya, dia mendapat pesan dari Merrik.
Terimakasih masih setia mengikuti kisah Merrik dan Elena 🙏🙏🙏🙏🙏
Jangan lupa like, love, vote n tabur bunganya 😊
Salam Age Nairie 🥰🥰🥰
__ADS_1
Cus kepoin novel temen Age di bawah ini 👇