Kamuflase Cinta Sang CEO

Kamuflase Cinta Sang CEO
BAB 44 Tempat Konseling Happiness


__ADS_3

Merrik mendengar Elena memanggilnya Bapak, itu sangat membuatnya terganggu. Saat awal pertemuannya dengan Elena. Dia dipanggil Paman atau Om yang membuat dirinya tampak tua.


Namun saat ini Elena memanggilnya Bapak. Merrik menyeringitkan dahinya, melihat Elena yang sudah berusia 23 tahun namun masih terlihat seperti remaja. Sedangkan dirinya sudah berumur 33 tahun. Panggilan Bapak menambah kesan tua pada dirinya. "Bisakah kamu jangan memanggilku Bapak?"


"Maaf Pak, tidak bisa. Anda adalah atasan saya, saya bawahan Anda. Semua karyawan juga memanggil Anda, Bapak." Sudah menjadi suatu hal yang wajar bawahan memanggil atasannya Bapak atau Pak terlepas dari usia si atasan.


"Baik, tapi setidaknya jika hanya ada kita kamu jangan memanggilku Bapak, itu sangat menggangu ku."


"Tidak bisa Pak, saya harus profesional dalam bekerja. Saya adalah karyawan yang memiliki integritas."


"Elena. Tolong jangan bersikap seperti ini?"


"Jadi, saya harus bagaimana? Saya di sini bekerja, jadi saya harap, Anda juga bisa bersikap profesional. Jangan mencampur adukan masalah pribadi dan pekerjaan. Terlebih kita juga tidak ada masalah pribadi, hubungan kita murni hubungan kerja."


"Baik." Merrik harus tau diri bahwa Elena terlihat jaga jarak padanya. Itu juga yang ia inginkan. Meskipun, Merrik harus puas hanya dengan melihatnya saja tanpa memiliki.


"Apakah saya sudah boleh pergi?" tanya Elena.


"Kamu bisa pikirkan lagi, apakah design kamu mau digunakan atau tidak? Jika memang tidak bisa, silakan membuat design yang lain."


"Iya, Pak. Saya permisi."


Elena benar-benar pergi keluar ruangan Merrik, melangkah menuju lift melirik Lala sekilas yang duduk di meja kerjanya. Dia hanya akan fokus dalam bekerja dan tidak akan memulai untuk urusan asmara.


Tiga hari merupakan hari yang sibuk, Elena masih terus berusaha merancang satu set perhiasan yang akan di keluarkan. Hari sabtu tiba, dia tidak pulang ke rumah karena Amel dan Steve mengajak Melena berlibur keluar negri sekaligus ada urusan bisnis.


Hal ini di manfaatkan Elena untuk mencari inspirasi. Elena pergi ke desanya, menuju rumah Neneknya dan ia tinggal saat kecil sekaligus tempat awal dia dan Merrik bertemu.


Terus melangkah hingga ia di kejutkan oleh rumah Neneknya yang sudah di renovasi. Semua dinding kayu yang rapuh sudah menjadi kayu yang kokoh. Bangunan rumah kayu yang sangat indah di pandang.


"Siapa yang membuat ini semua?" gumam Elena. Dia mengeluarkan kunci dari dalam saku celananya. Elena masih menyimpan kunci rumah Neneknya, berharap kuncinya masih sama. Elena memasukan kunci ke lubang kunci di pintu, memutarnya dan terdengar suara 'ceklek' yang menandakan kunci tersebut berfungsi membuka pintu.


Elena masuk ke dalam, melihat keadaan sekeliling, banyak yang berubah. Namun, tidak mengurangi rasa nyaman saat ia dulu tinggal. Melihat sekeliling ruang tamu lalu melangkah menuju kamarnya. Kasur, meja belajar dan lemari sudah berganti baru. "Apa Merrik yang melakukan ini semua? Tapi kenapa?" Elena duduk di ranjang kamarnya. Memikirkan kembali yang telah terjadi. Jika Merrik yang melakukan semua ini, alasannya apa?


Membuang dirinya dengan alibi kembali pada Clara. Namun, kenyataannya mereka tidak menikah. Menggunakan cincin pernikahan, sedangkan Dion bilang bahwa Merrik belum menikah. Dion bilang padanya bahwa Merrik meninggalkannya karena takut tidak akan bisa berjalan lagi.

__ADS_1


Otaknya berpikir dengan apa yang selama ini terjadi. Begitu pula dengan perkataan Lala yang bilang bahwa selama ini dialah yang membantu Merrik dan Elena hanya akan melukai Merrik saja jika masih di sekeliling nya. Elena melebarkan matanya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Elena. "Apa jangan-jangan ...." Lamunan Elena terhenti setelah mendengar pintu ruang tamu terbuka. Ia langsung menuju ke arah ruang tamu.


Merrik terkejut melihat Elena yang ke luar dari kamar tidur. Saat dia sampai, ada sedikit kekhawatiran jika ada maling yang datang karena saat memasukan kunci, ternyata pintu sudah tidak terkunci.


Mata mereka bertemu. "Elena! Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Merrik.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu! Kenapa kamu melakukan semua ini? Ini adalah rumah Nenekku!" ucap Elena.


Merrik bingung harus menjawab apa pada Elena. "Emm, aku hanya berbaik hati memperbaiki rumah ini. Saat aku datang ke sini, rumah ini sudah tidak laya. Maka dari itu aku renovasi."


"Wah dermawan sekali. Seharusnya kamu mendirikan yayasan untuk renovasi semua rumah tidak layak huni."


"Ide bagus, akan aku pikirkan! Karena kamu sudah di sini, rumah ini kembali padamu." Merrik memberikan kunci cadangan pada Elena.


Elena menerima kunci tersebut. "Ya." Elena tidak ada keinginan untuk mengatakan terima kasih pada Merrik.


"Kalau begitu aku pergi dulu," pamit Merrik.


"Ya."


Setelah itu melajukan mobilnya ke arah kota. Tidak lama kepergian Merrik dari rumah Nenek Elena. Elena pun pergi menuju mobilnya. Melihat mobil Merrik yang masih terparkir. Elena menghentikan langkahnya, menunggu Merrik pergi, baru dia akan pergi. Dia lakukan untuk menghindari bertemu kembali.


Merrik melajukan mobilnya, terus menjalankan ke tempat tujuan. Tanpa sadar Elena melajukan mobilnya mengikuti arah mobil Merrik melaju. Elena mengikuti dengan jaga jarak aman tanpa sepengetahuan Merrik.


Mobil Merrik berhenti di tempat tujuan, dia masuk ke dalam sebuah klinik namun memiliki bangunan seperti rumah yang nyaman. Merrik turun dari mobilnya dan melangkah masuk ke dalam klinik.


Elena melihat dari dalam mobilnya. Heran dengan tempat yang Merrik kunjungi. "Mengapa dia datang ke tempat konseling psikologi?" gumam Elena.


Elena masih menatap tempat yang memiliki papan reklame bertulis Konseling Psikologi Happiness. Memikirkan perlakuan Merrik selama ini yang masih sangat peduli dengannya namun memiliki sikap yang dingin padanya.


Mengambil ponselnya dan menelpon Dion. "Hallo, Kak Dion!"


"Ada apa Elena?" jawab Dion di seberang ponsel.

__ADS_1


"Apa masih ada masalah dengan kesehatan Merrik?" tanya Elena.


"Tidak ada. Setahuku dia benar-benar sudah sembuh. Kamu lihat sendiri 'kan dia bisa berjalan dengan normal?"


"Maksudku, apa ada penyakit lainnya?"


"Setelah kecelakaan itu, dia lebih tertutup padaku. Dia jarang bercerita banyak padaku."


"Baiklah."


"Memang ada apa?"


"Tidak apa. Aku hanya ingin tau kenapa sifatnya berubah."


"Aku akan coba mencari tau!" ucap Dion.


"Baik, terima kasih."


Elena menutup teleponnya dan memutuskan untuk pergi dari tempat itu sebelum ketahuan menguntit Merrik. Pikiran Elena bercabang, banyak yang ia pikirkan.


Tidak lama setelah Elena pergi, ada taxi yang berhenti di depan tempat konseling. Keluar seorang wanita muda. Lala turun dari taxi dan masuk ke dalam klinik.


Keesokan harinya, Elena kembali ke tempat konseling tersebut. Dia putuskan untuk mencari tau yang sebenarnya terjadi. Namun, setelah ia sampai tempat itu tutup di hari minggu. Elena harus memupuskan niatannya dan memulai kembali mencari tahu esok hari.


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya kak


like 👍


Fav ❤️


komen ✉️


Gift 🌹☕

__ADS_1


Terima kasih 🙏🙏🙏


Salam Age Nairie 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2