
Elena masih mencoba menghubungi Merrik namun belum juga terhubung. Saat akan mencoba menelponnya lagi, ponselnya berdering. Dia mengangkatnya, sedetik kemudian Elena menangis di tempat. "Elena!" Panggil Steven.
"Dad, Kak Merrik kecelakaan!"
"Apa!" ucap Steven.
Elena dan orang tuanya menuju ke rumah sakit. Sudah ada Dion, Ricci dan Rose. "Maaf terlambat memberitahumu," ucap Rose memeluk Elena.
"Dimana, Kak Merrik?" tanya Elena.
"Ada di dalam."
"Bagaimana keadaannya?" tanya Steven.
"Kalau dia sadar dalam dua hari ini maka akan baik-baik saja. Jika dalam dua hari ini tidak sadar maka ...." Rose menghentikan perkataan nya karena dipotong oleh Elena.
"Dia pasti sadar, kondisi tubuh Kak Merrik kuat!" ucap Elena.
Rose hanya tersenyum, dia harusnya bisa optimis seperti yang Elena yakini. Elena meminta izin untuk masuk kedalam ruang rawat Merrik. Orang tua Elena dan Merrik berkenalan. "Bagaimana hal ini bisa terjadi?" tanya Steven.
"Merrik pergi ke toko perhiasan untuk mengambil cincin tunangan, setelah dari toko tersebut dia mengalami kecelakaan. Kami pun baru tau satu jam lalu, karena saat itu kami menunggu di hotel!" ujar Ricci.
Elena duduk di samping tempat tidur Merrik, menggenggam tangannya sembari berdoa untuk kesembuhan Merrik.
Dua hari berlalu, Elena masih setia menunggu Merrik, tidur terduduk di samping Merrik dengan menggunakan lengan Merrik sebagai bantal. Merrik mulai menggerakkan jarinya, kesadarannya mulai pulih, merasa agak berat di lengannya. Merrik perlahan membuka matanya, dia tersenyum karena disuguhi pemandangan indah di depannya. Melihat Elena tidur di lengannya dengan pulas sudah membuat hati Merrik menghangat. Ia tidak berani menggerakkan lengannya karena takut membangunkan Elena.
Lima belas menit kemudian Elena terbangun, melihat Merrik tersenyum padanya. Dalam keadaan belum sadar sepenuhnya, Elena menepuk pipinya. "Apakah aku bermimpi?"
Elena menjerit saat Merrik mencubit pipi putih berlesung pipi milik Elena, "Apa sakit?" tanya Merrik.
"Kakak sudah sadar?" tanya Elena tidak percaya, tidak menyangka Merrik dengan cepat sadar.
"Seperti yang kamu lihat."
"Bagaimana hal ini bisa terjadi?"
"Aku sudah di jalur yang benar, sopir truk itu yang mabuk dan menabrak ku!"
"Syukur lah kalo Kakak baik-baik saja! Aku takut Kakak meninggalkan ku, aku panik saat Kakak belum datang. Eh, malah dapat kabar buruk ini. Oh ya, aku panggil dokter dulu kalau Kakak sudah sadar."
__ADS_1
Elena beranjak untuk keluar ruangan untuk memanggil dokter namun di cegah oleh Merrik. "Elena, tidak perlu keluar, tolong pencet tombol itu, nanti akan ada yang datang," ujar Merrik menunjuk tombol nurse call.
Setelah berbicara pada perawat bahwa Merrik telah sadar. Seorang dokter datang mengunjungi Merrik dan menanyakan beberapa pertanyaan. "Apa kamu bisa menggerakkan kakimu?" tanya Dokter.
"Masih berat, Dok," jawab Merrik.
Dokter menyentuh kaki Merrik. "Untuk saat ini tidak ada masalah, kemungkinan untuk bisa berjalan normal membutuhkan waktu satu sampai dua bulan, itu hal yang wajar setelah kecelakaan. Namun, kita masih perlu pemeriksaan lebih lanjut. Jika ada keluhan jangan ragu hubungi aku!" ujar Dokter.
"Baik, Dok. Untuk saat ini tidak ada keluhan." Merrik menjawab Dokter.
Dokter meninggalkan ruang rawat inap Merrik. "Syukurlah hasilnya baik," ucap Elena.
"Kamu pulanglah, istirahat yang benar, pasti selama di sini kamu tidak tidur dengan nyenyak."
"Aku mau di sini." Rajuk Elena.
"Aku tidak mau kamu lelah, setelah beristirahat kamu ke sini lagi." Bujuk Merrik.
"Baiklah aku akan pulang." Elena mencium bibir Merrik sekilas namun Merrik menarik tengkuk Elena untuk memperdalam ciuman mereka. Posisi Elena berada di atas Merrik yang belum bisa bangkit dari tempat tidur.
Setelah cukup puas, Merrik melepas ciuman yang sudah sangat ia rindukan. "Aku akan memberi kejutan pada Kakak di hari pernikahan kita nanti." Bisik Elena di telinga Merrik. Dia kembali ke mansion orang tuanya. Setelah kepergian Elena, Dion masuk ke ruangan Merrik untuk bergantian menjaga Merrik. "Bagaimana keadaanmu?" tanya Dion.
"Ada masalah?" tanya Dion.
"Tidak, hanya saja tadi belum selesai pemeriksaan. Oh ya, bagaimana sopir truk itu?"
"Sudah ditangani pihak berwajib."
"Lalu cincinku?" Merrik kehilangan cincin yang akan di berikan untuk Elena saat terjadinya kecelakaan.
"Belum aku temukan. Akan aku cari lagi nanti."
"Cari sekarang. Bagaimana dengan ponselku?"
"Ini ponselmu." Dion mengeluarkan ponsel dari saku celana dan memberikan pada Merrik . "Aku akan mencari cincin itu, tapi setidaknya aku akan pergi setelah dokter datang."
Merrik sebenarnya tidak masalah jika cincin itu hilang, dia tidak kekurangan uang untuk membeli semobil perhiasan. Dia hanya tidak ingin Dion mengetahui pembicaraannya dengan dokter.
Dion memanggil dokter, dokter datang menemui Merrik di temani oleh seorang suster. Dion pamit setelah melihat dokter datang. "Ada apa? Apa kamu merasakan sesuatu?" tanya Dokter.
__ADS_1
"Bisa aku bicara hanya denganmu saja?" ucap Merrik.
"Tentu." Dokter meminta suster tersebut meninggalkan mereka.
Setelah suster pergi, Merrik membuka pembicaraan. "Aku ingin melakukan pemeriksaan menyeluruh sekarang tapi jangan ada yang tau."
"Bukankah kamu bilang tadi tidak ada keluhan?" tanya Dokter.
"Ya, sebagian besar tidak ada keluhan, hanya saja aku merasakan sesuatu."
"Baik." Dokter sudah mengerti yang dimaksud oleh Merrik.
...********...
Setelah melakukan pemeriksaan, Merrik mengeluarkan ponsel, dia menelpon Clara. "Hallo," ucap Clara setelah sambungan terhubung.
"Clara, kamu ingin maaf ku bukan?"
"Ya ... Tunggu! Ada apa ini? Ini tidak seperti dirimu yang mudah memaafkan kesalahan orang lain!"
"Akan ku jelaskan nanti, datanglah ke sini sekarang. Akan aku kirim alamatnya padamu."
Merrik menutup ponselnya. Menatap atap, tidak menyangka akan terjadi hal buruk padanya. Dia harus melepas Elena secepatnya. Mungkin ini karma untuk dirinya yang telah berbuat jahat pada Elena. Elena berhak memiliki kebahagiannya sendiri.
Keesok paginya Elena datang ke rumah sakit bersama dengan Amel. "El, Mommy ke toilet dulu. Kamu masuk dulu ke ruangan Merrik, nanti Mommy menyusul."
"Baik." Elena pergi menuju ruangan Merrik dengan keranjang buah di tangannya. Senyum merekah menghiasi bibirnya, semalam ia cukup tidur, sehingga menampilkan wajah yang sangat cerah.
Elena membuka pintu, terkejut saat ia membuka pintu, kakinya seperti tertimbun semen hingga tidak dapat digerakkan, matanya menatap tidak percaya pada orang yang dicintainya sedang mencium wanita lain. Elena menjatuhkan keranjang buahnya, apel dan jeruk berhamburan ke lantai.
Suara buah yang jatuh dari keranjang berhasil menghentikan kegiatan dua orang tersebut. Merrik dan Clara sama-sama menatap ke arah Elena.
"Elena, maafkan aku. Aku putuskan untuk kembali lagi pada Merrik!" ucap Clara menunduk dan meneteskan air mata. Permintaan maaf yang tulus dari Clara, bukan karena dia menciumnya, karena memang mereka tidak benar-benar berciuman. Permintaan maaf yang lebih ke penyesalan karena ikut masuk dalam skenario Merrik.
...πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ...
Jangan lupa like, love, vote, gift π Biar Age tambah semangat πͺπͺ
Saran dan komentarnya juga di tunggu yach, biar Age bisa lebih baik lagi dalam berkarya π₯°
__ADS_1
Salam Age Nairie π₯°π₯°π₯°