Kamuflase Cinta Sang CEO

Kamuflase Cinta Sang CEO
BAB 52 Terbuka


__ADS_3

...Happy reading 🥰...


...Seperti biasa Age mau ingetin untuk dukung Age dengan cara like, masukan ke daftar favorit, bintang 5, vote , gift dan komentar ya 😊...


...Terima Kasih 🥰🥰🥰...


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


Elena menunggu kedatangan Merrik, membuka kulkas dan memasak beberapa jenis makanan lalu berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah mandi ia membuka lemari pakaiannya, semua bersih dan wangi seperti layaknya si pemilik tidak pernah meninggalkan rumah itu. Bahkan ada beberapa pakaian baru di dalam lemarinya, Elena mengambil baju tidurnya, bukan lingerie melainkan piyama yang memiliki kancing depan.


Berjalan ke meja rias, semua peralatan skin care dan make up Elena tersusun rapih dan masih tersegel. Melihat tanggal kadaluarsa yang masih lama, tampaknya Merrik rutin menggantinya. Setelah itu Elena menunggunya di depan TV. Lelah menunggu, ia tertidur di depan TV. Hingga pintu terbuka, Elena mendengar ada yang datang. “Kamu sudah pulang?” ujar Elena.


“Sedang apa kamu di sini?” tanya Merrik.


“Aku? Hanya ingin tinggal di sini saja.”


“Apa sudah melalui persetujuanku? Kamu pindah ke rumahku?"


“Ini juga rumahku!”


“Elena, aku sedang tidak bercanda. Kita sudah berpisah!”


“Kapan? Aku tidak ingat kamu bilang cerai padaku!” Merrik memang tidak pernah bilang cerai pada Elena, saat mereka berpisah pun Merrik hanya bilang mereka tidak membutuhkan surat cerai karena hanya menikah siri. Perkataan Merrik yang memiliki makna ambigu, yang Merrik sendiri sebenarnya tidak ada niatan untuk benar-benar meninggalkan Elena. “Kenapa diam? Kamu tidak dengan benar-benar ingin bercerai denganku ‘kan?” imbuh Elena.

__ADS_1


“Kamu ... " Merrik menghentikan perkataannya. "Baiklah, jika tidak mau pergi biar aku saja yang pergi!” Merrik mulai berbalik badan untuk melangkah pergi.


“Berhenti!” Langkanya terhenti oleh ucapan Elena. “Aku sudah masak, setidaknya makanlah dulu! Jangan menghindar terus! Kita selesaikan masalah kita baik-baik. Setidaknya, jika kita tidak bisa bersama, kita hidup dengan baik dan tanpa perasaan tidak enak jika bertemu.”


Merrik menatap Elena, betapa kerdilnya dia di depan Elena, usia mereka terpaut jauh. Namun, cara pandang Elena yang begitu dewasa seakan menertawakan dirinya yang bagaikan seorang pengecut. Merrik akhirnya menurunkan sedikit egonya, ia berjalan menuju meja makan. Mereka makan malam bersama, sesekali Elena akan membuka obrolan dan di balas singkat oleh Merrik.


Hingga selesai makan Merrik membuka suaranya. “Kalau kamu mau menginap di sini, silakan. Aku yang akan keluar.”


“Kenapa harus keluar, apartemen ini luas untuk dua orang.”


“Di sini hanya ada satu kamar!”


“Aku akan tidur di sofa ruang TV. Ini sudah malam, sebaiknya kamu tinggal di sini juga.”


Merrik melirik jam dinding yang menunjukan hampir jam dua belas malam, ia memang lebur hari ini hingga pulang telat. “Baiklah, tapi aku yang akan tidur di sofa.”


Di malam hari yang gelap, bayangan Elena diam-diam datang menghampiri Merrik yang tertidur di atas sofa, menatap dalam kegelapan, ragu untuk maju atau mundur. Membulatkan tekad, membuka selimut dan berbaring di samping Merrik di atas sofa yang sedang tidur miring membelakanginya, beruntung sofa mereka besar, bahkan dulu mereka sempat memadu kasih di atas sofa tersebut. Elena masih berpikir bagaimana caranya membuat Merrik kembali menjadi binatang buas seperti dulu. Sekarang Merrik bahkan menolak sentuhannya, meskipun ingin membantu mengobati, dia pun tidak bisa.


Yang terpenting adalah membuat Merrik bisa kembali menjalani hidup yang normal, kembali berani menghadapi kehidupan layaknya seorang pria sejati. Apa harus membuatnya mabuk alkohol? Dulu Merrik mencoba menodainya karena pengaruh alkohol. Tidak! Elena sendiri yang memintanya berhenti menyentuh minuman memabukkan itu, tidak mungkin sekarang dirinya meminta bantuan minuman itu.


Menggunakan cara apa? Elena pusing memikirkan cara, beranjak untuk pergi namum tiba-tiba Merrik berbalik badan dan menarik lengan Elena. Hingga Elena kembali berbaring dengan Merrik di atasnya.


Elena terkejut, membuka mata begitu besar menatap Merrik, dia gugup dengan bangunnya Merrik secara tiba-tiba, tidak tau apa yang harus ia lakukan dengan terbata berkata, “Ka—mu sudah bangun?”

__ADS_1


Merrik menarik tali di atas meja samping sofa, seketika lampu dengan cahaya redup menyinari keduanya. “Sedang apa kamu di sini?”


“Aku takut tidur sendiri, jadi aku ke sini!”


“Bukankah selama ini tidur sendiri?”


“Iya. Namun, selama tinggal di apartemen ini aku tidak pernah tidur sendiri!” Elena tidak bohong, Merrik selalu tidur bersamanya bahkan di hari pertama mereka pindah ke apartemen dari desa. Merrik tidak pernah membiarkan Elena tidur sendiri, bahkan dinas pun Elena di ajak olehnya.


“Kenapa kamu seperti ini? Saat kita bertemu kembali kamu menjauhiku!” Merrik memicingkan matanya, mencoba mencari tau. “Apa kamu mengetahui sesuatu?” tanyanya.


Elena langsung menggelengkan kepala keras, demi tidak menjatuhkan harga diri Merrik sebagai laki-laki dia rela berbohong. “Apakah ada yang harus aku ketahui?”


Merrik menoleh kesamping dan bangkit untuk duduk. “Tidak ada, kamu masuklah ke kamar!”


Elena merendahkan dirinya sendiri, dia langsung memeluk Merrik dari belakang. “Tidak mau! Aku mau tidur bersamamu, sudah lama kita berpisah, apa kamu tidak ingin melakukan hal yang sering kita lakukan dulu?” Elena mengigit bibir bawahnya, memohon pada seorang pria untuk di tiduri. Dia ingin Merrik bicara langsung tentang penyakitnya dan bisa membantu Merrik dengan terbuka untuk penyembuhannya. Ada hal yang sebaiknya dikatakan sendiri daripada harus menanyakan dan itu yang diinginkan Elena.


“Elena, perasaan kita sudah tidak seperti dulu!” ujar Merrik.


“Perasaan kita masih sama seperti dulu. Kamu masih menggunakan gelang ini!” Elena menarik lengan Merrik yang masih menggunakan gelang buatannya dan membalikan badan Merrik hingga mereka berhadapan. “Kamu masih menyimpan pakaian dan semua perlengkapanku.” Elena menghembuskan nafasnya pelan. “Dan ini cincin pertunangan kita bukan?” Elena menyentuh cincin yang digunakan oleh Merrik.


Merrik hanya bisa menunduk. Elena mendekatinya, mulai mencium Merrik perlahan dari pipi, dagu hingga ke bibir yang sexy, dari bibir terus naik ke hidung dan berkahir ke mata yang tertutup. Elena merasakan cairan yang keluar dari mata Merrik, rasa air mata yang pahit untuk menerima kenyataan.


“Elena, tolong menyerahlah, aku bukan diriku yang dulu. Aku bukan pria normal lagi, aku sudah tidak bisa melakukan ….”

__ADS_1


Elena membeku, harus memiliki seberapa besar keberanian untuk bisa mengatakan suatu ketidak keberdayaan, Merrik merendahkan harga diri serendah-rendahnya sebagai seorang laki-laki, akhirnya dia terbuka mengatakan penyakitnya. Elena tidak tega melihat itu semua, lidahnya bagai terkunci hingga tidak dapat mengeluarkan kata-kata.


...Salam Age Nairie 🥰🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2