Kamuflase Cinta Sang CEO

Kamuflase Cinta Sang CEO
BAB 62 Pembicaraan Anak dan Ayah


__ADS_3

...Jangan lupa setelah membaca kasihlah Age like, love, vote, gift 😊 Biar tambah semangat 💪💪...


...Saran dan komentarnya juga di tunggu yach, biar Age bisa lebih baik lagi dalam berkarya 🥰...


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


“Mom, kenapa seperti ini? Aku bahkan tidak tahu apapun?” tanya Elena lemah.


“Kamu hanya tinggal duduk manis,” jawab Amel santai, lalu dia berlalu meninggalkan Elena menuju ruang buku suaminya. Elena mengikuti Amel. “Mom, aku yang akan menjalani, jadi harus persetujuanku!” protes Elena.


“Persetujuanmu? Bukan karena kamu ingin kembali pada lelaki brengsek itu?” ujar Amel menatap Elena.


“Aku …,” ucapan Elena terpotong oleh Amel.


“Jangan pernah berharap kamu bisa kembali padanya, Perkataan Mommy tempo hari bukanlah gurauan semata, itu serius Elena. Kamu bukan ingin mempertimbangkan Arka untuk menjadikan dirinya suamimu namun kamu sedang mempertimbangkan bagaimana cara menolak Arka. Dari awal kamu tidak ada niatan untuk mempertimbangkan Arka!” Amel mengambil berkas di laci meja suaminya dan melemparkan pada Elena. Photo dirinya dan Merrik saat menghadiri pelelangan. “Kamu bahkan membohongi orang tuamu bahwa kamu telah kembali pada pria itu.”


“Mom … kami masih saling mencintai,” Elena meneteskan air matanya.


Amel tidak peduli dengan air mata Elena. “Dulu juga karena alasan cinta kamu menerimanya kembali, namun apa? Dia membuangmu! Dia bahkan tidak menghargai kami sebagai orang tuamu.”


“Mom, aku tahu Merrik bersalah namun semua hanyalah kesalahpahaman. Dia berniat datang menemui kalian namun aku yang melarangnya.”


“Mommy tidak peduli dengan pria itu! Jika kamu ingin bersamanya, silakan saja! Tapi tidak dengan Melena.”


“Melena anakku, Mom! Aku yang berhak atas dirinya!” Teriak Elena.


Amel menatap tidak percaya pada Elena, anak gadisnya bisa teriak saat bicara padanya.


Elena menyadari kesalahannya, menyadari dia telah salah bicara dengan nada tinggi pada Ibunya, dia menundukkan kepalanya.


“Kamu bahkan meneriakiku hanya karena laki-laki itu? Kamu hebat El.” Setelah berucap Amel pergi meninggalkan Elena.


“Bukan maksudku meneriakimu, tolong mengerti aku.”


“Aku tidak mengerti apapun, yang aku tahu dia hanyalah pria brengsek yang pengecut!” Amel menutup pintu ruang kerja Steven.


Steven melihat Amel yang keluar dari ruang kerjanya dengan wajah yang menahan marah. Dia masuk ke dalam dan melihat Elena sedang duduk dan menangis. “El,” sapa Steven.


“Dad, aku dan Merrik masih saling mencintai.” Elena mengadu, menatap Steven dengan tatapan memohon.

__ADS_1


“Daddy tidak bisa berbuat apapun. Ini sudah kesepakatan Daddy dengan Mommy.” Elena menatap bingung pada Steven.


“Saat dulu kamu kembali menerima Merrik di bandara, kamu tahu sendiri Mommy mu tidak setuju. Namun, dia mencoba menurunkan egonya untuk menerima Merrik lagi dan berakhir dengan kekecewaan. Saat itu Daddy sudah membuat keputusan untuk tidak lagi melarang Mommy-mu untuk mengatur masa depanmu. Bukankah Arka adalah pria yang baik?”


“Arka memang baik, tapi aku tidak mencintainya.”


“Apa kamu mau menerimanya begitu saja setelah kamu menderita?"


"Hidupnya juga tidak baik-baik saja selama berpisah denganku, ada sesuatu yang membuatnya harus meninggalkan ku."


"Kamu mau bilang pada Daddy, bahwa ia juga menderita?" tanya Steven.


Elena mengangguk-anggukkan kepalanya, ingin sekali ia bilang tentang penyakit Merrik pada Steven. Namun, ia tahu penyakit seperti itu adalah penyakit yang sangat memalukan bagi seorang pria, harga diri seorang pria akan jatuh jika penyakitnya diketahui orang lain.


"Ya," lirih Elena.


"Apa kamu benar bisa menerima dirinya?"


"Ya,"


"Rela tidak akan bisa memiliki anak lagi?"


"Daddy tahu masalah Merrik."


"Apa yang Daddy tahu?"


"Semuanya."


"Maksud Daddy?" Elena menatap Steven penuh tanya.


"Saat itu Merrik diam-diam selalu mencari informasi tentang mu, Daddy dan Mommy sengaja menutup semua akses termasuk kehamilanmu."


Ya, Elena sudah tahu tentang itu, orang tua nya menutup akses namun yang Elena tidak tahu, orang tua nya mengetahui tentang penyakit Merrik. "Daddy sempat curiga mengapa dia melepasmu tapi tetap ingin tahu dirimu. Saat itu, Daddy tidak ada keinginan mencari tahu, namun rasa penasaran Daddy terlalu besar. Saat kita sudah di Paris, detektif suruhan Daddy melaporkan tentang keadaannya."


"Kenapa Daddy tidak bilang aku?" tanya Elena dengan kekecewaan.


"Kami melihatmu sudah bisa memulai hidup baru dengan baik, hidup bahagia dengan Melena. Aku pun sebagai Daddy-mu menginginkan yang terbaik untukmu."


"Dad, tapi itu tindakan egois! Seharusnya Daddy bilang padaku."

__ADS_1


"Siapa yang menginginkan anaknya hanya hidup dengan seseorang yang sudah pasti tidak bisa memberikan kebahagian."


"Tapi bagaimana jika bersama dengannya adalah kebahagianku?" ujar Elena.


"Mungkin kau sangat mencintainya, lalu bagaimana jika keadaannya dibalik? Apa dia bisa menerimamu, jika kamu yang sakit?" tanya Steven berbalik. "Apakah dia akan setia padamu? Ataukah dia akan mencari wanita lain? Mungkin juga kamu akan di madu." tambah Steven.


Elena diam sejenak, bagaimana jika dia yang tidak bisa memberikan nafkah batin. Apakah Merrik akan meninggalkan nya? Sedangkan, ia tahu seperti apa kebutuhan batin untuk Merrik sebelumnya.


"Kenapa kamu diam? Apakah kamu masih meragukan cintanya?" tanya Steven.


"Tidak, aku yakin dia juga akan setia padaku. Daddy jangan lupa, bahwa ia rela pergi meninggalkan ku demi kebahagiaanku. Selama berpisah dariku, dia tidak pernah melupakanku." Elena menatap Steven. "Apa Mommy juga tahu penyakit Merrik?"


"Jika Mommy-mu tahu, mungkin dia akan membuat pesta besar-besaran untuk merayakan penderitaan Merrik." Jelas Steven. "Daddy tidak memberitahu Mommy-mu, Daddy juga seorang pria."


Steven terdiam, sebagai orang tua ia menginginkan yang terbaik untuk anaknya. "Daddy tidak bisa membantumu, jika kamu merasa Merrik pantas untukmu, maka biarkanlah ia yang berjuang, Daddy akan merestui kalian jika Mommy merestui."


"Apa kalian yang mengatur acara lamaran ini?" tanya Elena.


"Ya," jawab Steven jujur.


"Apa Daddy pikir Arka akan menerima perjodohan ini jika aku bilang tidak bisa mencintainya?"


"Daddy tidak bisa menjawab itu namun Aku yakin, Arka adalah pria yang bijak."


"Jika aku yang tetap menolak perjodohan ini?"


Steven menatap Elena dalam. "Daddy yakin kamu sudah dewasa, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan.


Steven pergi meninggalkan Elena, dia sudah tidak ingin mencampuri urusan anaknya. Dia hanya ingin Elena membuka matanya, bahwa ia adalah seorang perempuan yang akan menjadi Ratu dalam rumah tangga. Dia tidak pantas mengemis cinta, dia lah yang seharusnya di perjuangkan dan bukan memperjuangkan. Steven ingin melihat seberapa kuat perjuangan Merrik.


Elena menatap kepergian Steven, memikirkan maksud diri perkataannya.


...Daddy tidak bisa membantumu, jika kamu merasa Merrik pantas untukmu, maka biarkanlah ia yang berjuang, Daddy akan merestui kalian jika Mommy merestui....


Elena mengambil ponselnya, mencari nomor yang akan ia hubungi. Tidak perlu menunggu lama untuk terhubung. "Hallo," terdengar suara dari seberang telepon.


Salam Age Nairie 🥰 🥰🥰


Rekomendasi Novel teman Age hari ini, cus kepoin 👇

__ADS_1



__ADS_2